Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Fitnah


__ADS_3

"Subuhan kesiangan, sarapan kesiangan, bahkan semuanya juga berantakan jadwalnya. Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Nduk?" tegur pak kyai. Beliau juga bertanya pada Putri bungsunya itu tentang apa yang terjadi padanya.


"Alhamdulillah, tidak ada apa-apa kok, Abi," jawab Wafa makan terburu-buru. "Hanya tidak bisa tidur aja semalam," sambungnya.


"Lalu, kemarin pagi yang datang kemarin itu asistennya Pak Bian, 'kan? Untuk apa dia datang kemari meminta data-data milikmu?" tanya pak kyai penasaran.


Benar saja pak kyai bertanya, sebab beliau lah orang pertama yang menyambut kedatangannya Zaka Yang. Beliau juga yang mengumpulkan surat-surat berisikan data diri Wafa. Bagi Wafa juga, memang tidak ada baiknya jika berbohong kepada orang tua. Dia pun mengungkapkan kejujuran.


"Pak Bian ingin mengajakku dan juga Inneke ke negaranya. Tapi Abi jangan salah paham dulu, semua itu juga demi Grietta, akan ada upacara peringatan kematiannya ayahnya Pak Bian, jadi—" penjelasan Wafa terjeda karena Zira ikut sarapan.


"Ada apa? Kenapa jadi diam? Santai saja, aku tidak akan menguping pembicaraan kamu dan paman Kyai," celetuk Zira, sibuk mengambil nasi.


Pak kyai menatap putri bungsunya itu dengan tatapan yang beda dari sebelumnya. Wafa juga yakin jika pak kyai kutang setuju dengan ajakan Bian itu. Kedua bola matanya sudah terbaca jelas bahwa Wafa percaya ayahnya tidak memberikan izin.


"Semuanya terserah kamu. Karena kamu tidak ke sana sendiri, dengan sahabatmu itu ... Abi akan memberikanmu izin," ucap pak kyai setelah menatapnya dengan serius. "Abi percaya padamu." imbuhnya.


Wafa terdiam. Sementara Zira benar-benar tidak ingin tahu menahu tentang apa yang dibicarakan oleh kedua orang yang berada di sisinya sampai ia pun hanya fokus pada sarapannya.


Tapi tiba-tiba saja Pak Kyai selesai begitu saja sarapannya, kemudian masuk ke kamarnya.


'Aku sangat yakin jika api tidak sepenuhnya menyetujui ajakan dari Pak Bian ini. Tapi Abi tidak sampai hati saja jika sampai membuat Grietta tidak ikut dalam acara penting, makanya Abi memberiku izin,' batin Wafa.


Sedang dalam harunya suasana hati, Wafa terganggu dengan suara makannya Zira.


Bug!


Wafa menepuk punggung Zira.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal'adzim! Wafa!" teriak Zira.


"Hish, kamu apa-apaan, sih? Ini ayam kalau lompat, terbang, ngambang ke udara, bagaimana? Sayang, 'kan? Makanan dari mulut kalau keluar lagi udah nggak boleh dimakan!" seru Zira, dengan kekesalannya.


"Jika tidak mau hal seperti ini terulang kembali, maka perhatikan caramu ketika makan. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!" pamit Wafa, sebelumnya ia memberi pengarahan terlebih dulu pada adik sepupunya itu.


Zira tidak melawan karena apa yang dikatakan oleh Wafa ada benarnya. Makan itu memang tidak boleh sampai bersuara, tapi makanan yang sudah keluar dari mulut tidak bisa lagi dimakan. Hal itu pasti akan membuat Zira jijik sendiri.


Wafa terburu-buru pergi ke kampusnya. Gegara semalam tidak bisa tidur nyenyak, Ia sampai kesiangan dalam melakukan semua rutinitas pagi harinya.


"Allahu Akbar, beruntung saja semuanya terbawa. Andai saja ada salah satu dari buku yang tertinggal? Bisa gawat ini," gumamnya sambil berjalan.


Bug!


Ketika berjalan, Wafa tak sengaja bertabrakan dengan seorang mahasiswi yang membawa jus pagi itu. Tak sengaja jus tersebut menumpahi pakaian yang Wafa kenakan.


"Seharusnya saya minta maaf karena jalan tidak lihat-lihat. Jus buah kamu jadi tumpah, bagaimana jika saya menggantinya?" sahut Wafa, masih sambil membersihkan tumpahan jus di rok plisketnya.


"Eh, tidak perlu!" tolak mahasiswi itu. "sebenarnya ini juga jus sudah aku minum. Sebaiknya kamu bersikap saja di toilet. Aku sedang terburu-buru juga, jadi Apakah tidak apa-apa jika aku pergi duluan?" katanya.


Wafa mengangguk dengan senyuman. Ia memang harus membersihkan roknya dulu, kebetulan masih ada waktu sedikit untuk masuk ke kelas. Ketika di toilet, Wafa malah tidak sengaja bertemu dengan Mayumi yang saat itu sedang menangis.


"Kamu kenapa?" tanya Wafa sambil membasahi tumpahan jus di roknya menggunakan air. "Kenapa kamu menangis?" lanjutnya, mengelap dengan tisu.


"Bukan urusanmu!" jawab Mayumi ketus.


"Aku hanya bertanya saja karena kamu sedang menangis. Jika pun orang lain yang ada di posisiku saat ini pasti dia juga akan bertanya. Kenapa harus jawabnya sewa seperti itu, tak bisakah kamu lembut sedikit ketika bicara padaku?" ucap Wafa lirih.

__ADS_1


Mayumi terdiam. Saat itu Mayumi berada di jalan buntu—pemikirannya. Karena memang tidak ada orang lain yang bisa diajak bicara, akhirnya Mayumi menceritakan apa yang saat itu tengah ia alami.


Rupanya Mayumi sedang hamil mengandung anaknya Dani. Mayumi sudah hamil 3 bulan. Dani tidak mau bertanggung jawab dan malah memilih untuk putus. Mayumi tidak sadar menceritakan segalanya kepada Wafa secara detail.


'Naudzubillah,' batin Wafa. "Jika sudah seperti itu, kamu harus bagaimana? Biar bagaimanapun juga kandunganmu sudah memasuki 3 bulan, pastinya tidak kenapa lagi bakal kelihatan jelas," ujar Wafa dengan lirih.


"Aku bingung, Wafa! Dani si pria brengsek itu tidak mau bertanggung jawab, dan aku ha—" ungkapan Mayumi terhenti ketika ada mahasiswa lainnya masuk ke toilet.


Tidak mau semua orang tahu, Mayumi dengan pemikirannya yang licik itu malah meneriaki Wafa, di mana dia malah menuduh bahwa Wafa-lah yang hamil karena kebetulan tespek itu ada ditangannya Wafa.


"Astaga, Wafa! Kamu hamil?" teriak Mayumi, segera menghapus air matanya.


"Wafa, siapa ayah dari bayi yang kamu kandung ini?" Mayumi memeluk Wafa, sekaligus memberikan tespek miliknya dengan paksa.


"Mayumi kamu jangan fitnah, ya!" tegas Wafa.


"OMG, apa aku tidak salah dengar apa yang dikatakan Mayumi barusan? Gadis solehah ini sedang hamil?"


"Benar, aku pun mendengarnya. Oh, astaga, aku tidak menyangka. Berita mengejutkan sekali ini!"


Beberapa mahasiswi yang baru masuk itu malah bergeming tentang kehamilan Wafa yang di mana itu hanyalah sebuah fitnah.


"Kalian percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Mayumi?" tanya Wafa pada mereka. "Asal kalian ketahui saja, aku tidak hamil!" tegasnya.


"Bagaimana mungkin kamu tidak hamil kalau tespek itu ada di tanganmu saat ini, Wafa?" Mayumi mulai kompor.


Meski Wafa sudah menyangkal tetap saja rumor hamilnya itu tersebar di seluruh kampus. Mayumi tersenyum puas karena ia bisa membuat Wafa malu meski ia tidak harus berusaha semaksimal. Wafa segera keluar dari toilet dan pergi ke kelasnya.

__ADS_1


Berita fitnah kehamilan Wafa sudah tersebar luas di kampus. Kini, gadis berusia 20 tahun itu sedang menjadi bahan perbincangan beberapa mahasiswa di sana. Awalnya Wafa tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh semua orang terhadapnya karena apa yang mereka tuduhkan itu semuanya tidak benar. Namun, semakin lama fitnah-fitnah itu semakin bertambah dan banyak sekali cerita versi orang lain tentang kehamilan dirinya.


__ADS_2