
"Sudahlah, Putriku terlihat bahagia. Jarang sekali aku melihatnya seperti itu." Bian akhirnya menyerah.
Sementara itu, Inneke sedang mencari keberadaan Qia lagi. Masih penasaran dengan kehidupan Qia yang misterius. Dengan mengendarai mobil berwarna putihnya, Inneke sampai di tempat Qia berjualan setiap harinya.
"Hoalah, kalau siang, ternyata dia mangkal di sana? Huft, demi Wafa ini. Aku rela begini!" Inneke sebenarnya masih kesal dengan Qia yang pergi tanpa kabar.
Belum juga Inneke turun dari mobilnya, dia melihat ada seorang pria yang kasar terhadap Qia. Dagangan sahabat masa lalunya itu di obrak-abrik dan diambil uangnya. Inneke melihat itu dengan mata kepalanya sendiri. "Buset dah! Siapa tuh lakik? Main obrak-abrik saja!" serunya.
Tidak mau terlibat dalam masalah apapun, Inneke turun setelah pria yang kasar itu pergi. Melihat sahabat lamanya menangis kala pria kasar itu pergi, Inneke menjadi tidak tega. Dia segera turun setelah pria kasar itu pergi.
"Pakailah ini. Biarkan anakmu bermain bersamaku dulu. Tenangkan pikiran dan batin kamu," ucap Inneke memberikan satu wadah tisu berukuran medium.
"Sayang, yuk, main dengan Tante. Biarkan Ibumu membereskan semua ini dulu, ya ...." Inneke begitu keibuan kala mengajak putri dari sahabat lamanya itu menjauh sebentar dari tempat ibunya berjualan.
Inneke mengajak Sabrina, putri dari Qia, sahabat lamanya itu untuk menjauh sebentar untuk memberikan waktu untuk Qia menenangkan diri. Inneke sungguh tidak tega melihat Qia saat itu.
"Tante, Tante ini temannya Ibu, ya?" tanya Sabrina.
"I-iya, Sayang," jawab Inneke gugup. "Um, kalau boleh tahu ... laki-laki tadi itu siapa, ya? Kamu tahu, tidak?" Inneke memberanikan diri untuk bertanya kepada Sabrina tentang pria yang kasar terhadap ibunya itu.
Sabrina pun menunduk. "Laki-laki itu ... Bapak, Tante. Bapak saya," jawabnya lemas.
"Hah?" Inneke pun terkejut. "Bapak? Bapak kandung kamu?"
Sabrina mengangguk pelan.
"Ya Tuhan. Bapak kamu? Kenapa dia kasar sekali kepada Ibumu, heh!" saking terkejutnya, Inneke sampai lupa jika dirinya bicara dengan anak kecil berusia 6 tahun.
Sabrina hanya diam menunduk saja. Sedikit tahu tentang masalah kedua orangtuanya, tapi juga belum paham dengan apa yang terjadi saat itu. Gadis kecil itu juga tidak bersekolah. Setiap pagi harus membantu ibunya menyiapkan dagangan dan juga berdagang. Tidak ada waktu lagi untuk bersekolah.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, kamu sekolah di mana?" tanya Inneke mencoba untuk menghibur hati Sabrina.
"Saya tidak sekolah, Tante," jawab Sabrina lirih.
"Buset ini anak. Ngapa bahasanya baku gini, sih, sama aku?" batin Inneke. "Um, kenapa kamu bicaranya baku seperti ini, sih? Kamu sebut dirimu sendiri aku saja, tidak apa-apa," lanjut Inneke.
Sabrina menatap Inneke. "Baiklah, Tante. Aku akan bicara dengan Tante seperti bicara dengan temanku," celetuk Sabrina.
Setelah berbincang-bincang dan membiarkan Qia menenangkan diri, Inneke pun membawa Sabrina kembali kepada ibunya. Terlihat Qia sedang menunduk lemas dan sesekali meneteskan air mata.
"Ibu ...." panggil Sabrina.
"Sabrina? Kamu ... Inneke?"
"Ke, kamu di sini?" tanya Qia.
"Lu pikir yang tadi narik tangan anak lu, siapa? Huh, kamu maksudku," sahut Inneke kesal.
"Qia, apa pria yang tadi itu adalah suamimu?" tanya Inneke.
Qia mengangguk.
"Dia sepertinya pria yang kasar. Kenapa kamu menikahi pria seperti itu?" lanjut Inneke.
Qia hanya menunduk.
"Sebenarnya aku masih marah sama kamu. Sejak lulus SMP, kamu tiba-tiba ngilang gitu saja dan sekarang udah nikah punya anak umur 6 tahun tapi sama sekali tidak cerita kepada aku dan juga Wafa. Padahal kami ini kan juga sahabatmu, Qia," celetuk Inneke.
"Tapi melihat perlakuan suamimu tadi, membuatku sedih. Kenapa kamu mau menikah dengan pria yang kasar seperti itu. Apa kamu bahagia dengan pria itu? Tapi kenapa anak kamu tuh nggak sekolah, Qia? Kenapa?" Inneke mulai menangis.
__ADS_1
Tidak tahan melihat nasib sahabatnya yang tidak seberuntung itu. Melihat Inneke menangis, Qia pun memeluknya. Meminta maaf karena dirinya benar-benar tidak tahu saat itu harus berbuat apa selain menikah dengan pria yang saat ini sudah menjadi suaminya.
"Maksudnya gimana?" tanya Inneke. "Kamu terpaksa nikah sama pria itu?"
Qia mengangguk. "Almarhum Ibuku memiliki hutang dengan orang tua suamiku. Karena ibuku waktu itu meninggal dan meninggalkan hutang banyak, akhirnya aku dipaksa menikah dengan suamiku itu," jelasnya.
"Sampai sekarang aku belum bisa melunasi hutang-hutang Ibuku. Setiap harinya aku selalu diperlakukan kasar oleh suamiku. Sabrina belum bisa sekolah karena dia tidak memiliki akte kelahiran,"
"Jangankan akta kelahiran. Bahkan namanya saja tidak tertera dalam kartu keluarga siapapun," Qia sampai sesak hati kala menceritakan pengalamannya.
Qia pun menangis tersedu-sedu. Tidak peduli jika putri kecilnya masih ada di sisinya. Inneke menjadi tidak tega. Dia kembali memeluk Qia dengan erat. Inneke juga mau minta maaf karena sudah kesal padanya tanpa sebab.
"Kenapa kamu tidak meminta pisah saja dengan suamimu? Aku kesal tadi melihatnya memperlakukanmu seperti itu, Qia!" kekesalan Inneke belum juga reda.
"Bagaimana aku mau minta pisah dengan suamiku kalau hutang hutang Ibuku belum lunas," jawab Qia.
"Lalu, apa kamu tega mempertaruhkan masa depan anakmu seperti ini? Dia sampai belum punya akte sampai sekarang? Anjir, selama 6 tahun kamu ngapain aja kenapa tidak diurus, Qia?" Inneke games.
"Ke, gimana aku mau mengurusnya, kalau hidup aku ini sepenuhnya untuk mencari uang supaya bisa segera melunasi hutang-hutang almarhumah Ibuku," jelas Qia.
Inneke pun menepuk keningnya. Apalagi melihat perut Qia yang besar karena kehamilannya yang sudah memasuki usia 8 bulan. Gadis gaul itu berpikir jika suaminya pasti pria yang mesum yang hanya menggauli istrinya tanpa berpikir ekonomi mereka jika suatu saat memiliki anak lagi.
"Tapi kamu hamil. Suamimu ini ... Huh, pengen aku jitak saja sekerasnya!" kesal Inneke.
Qia hanya menunduk. Kemudian, menceritakan segalanya tentang hidupnya kepada Inneke. Qia juga berpesan kepada sahabat lamanya itu untuk tidak menceritakan kisah hidupnya kepada Wafa. Sebab, Qia sangat tahu bagaimana sifat Wafa. "Jika Wafa sampai tahu hal ini, dia pasti tidak akan tinggal diam. Aku tidak ingin merepotkan dia lagi. Apalagi, aku mendengar jika dia memiliki anak masuk banyak sekali. Itu pasti tidak mudah baginya," pesan Qia.
"Sebenarnya aku datang ke sini itu juga demi Wafa. Aku masih marah kepadamu, karena kamu menghilang begitu saja dari kami," ungkap Inneke.
"Tapi setelah mengetahui segalanya, aku minta maaf karena tidak ada disampingmu ketika kamu merasa kesulitan menjalani hidup," sambung Inneke merentangkan tangannya. "maukah kamu memaafkan aku?"
__ADS_1
Tidak ada hal yang bisa Qia jawab lagi selain menangis dan menangis. Kini, ibu satu anak dan sedang hamil lagi itu menangis di pelukan sahabatnya.