Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Siapa Diri?


__ADS_3

Setelah selesai diba'an, Wafa terkapar lemas di aula santri perempuan. Haus, lelah dan juga ngantuk menyerang. Akhirnya Wafa tertidur pulas sampai tidak terpikirkan dengan kontraknya dengan Bian.


Malam yang sama di rumah Bian, dia juga sedang memandangi foto Wafa yang dia curi ketika Wafa makan lahap kemarin malam. Bian terus saja tersenyum saat melihat foto itu.


"Di sisi imutnya memang tiada yang bisa mengalahkannya. Bahkan, kucing Grietta di rumah sama saja kalah imut dengan wajah Wafa,"


"Gadis ini sepertinya mencuri hatiku. Tapi, bagaimana caranya supaya aku bisa mendekatinya selain menggunakan kontrak itu?" Bian bergumam.


Tiba-tiba, Bian tersenyum lagi. Teringat dengan waktu ketika jam makan siang. Saat sampai di kantor pagi tadi, Zaka Yang memberikan tas bekal yang disiapkan oleh Wafa kepadanya. Ekspresi Bian ini masih sama. Ketus, tidak peduli, tanpa ekspresi dan seperti tidak menginginkan bekal tersebut.


Akan tetapi, ketika waktu makan siang tiba, Bian langsung membuka bekal dari Wafa dan melihat betapa indahnya hiasan pada makanan tersebut. Bian jadi semangat makan siang, sampai menolak ajakan makan siang dari kliennya. Pada dasarnya, Bian ini memang orang yang tahu terima kasih. Dia pun meminta asisten pribadinya untuk mengirim uang ke rekening yayasan.


***


Beberapa kegiatan kampus akan ditiadakan sebentar karena pihak kampus kebetulan ada acara keagamaan di kampus dengan menghadirkan seorang Kyai dan ustadz-ustadz muda yang ada di Kota.


"Eh, kamu Wafa, bukan? Kamu dari fakultas pendidikan agama Islam, 'kan? Kenalin aku Lastri, dari fakultas pertanian," Wafa dikagetkan dengan munculnya gadis lucu bernama Lastri.


Tidak ada yang tahu jika Wafa tetap melanjutkan pendidikannya di agama Islam. Meski dirinya juga ambil ke jurusan lain dan harus mengikuti ospek lagi. Wafa ini sebenarnya penuh rahasia dan penuh kejutan. Tapi karena dirinya memiliki sikap yang random, tak banyak orang yang tahu tentangnya lebih dalam lagi kecuali sahabatnya, Inneke. Itu saja Inneke tidak tahu semuanya.


"Lastri? Kok, kamu kenal saya? Apakah sebelumnya, kita pernah saling mengenal?" tanya Wafa, dia takut jika dirinya yang melupakan perkenalan itu.


"Aku temannya Kristian, hehehe. Kamu pasti kenal," jawab Lastri girang sekali. "Kata dia, aku yang belum memiliki banyak teman ini harus mencari kamu. Kristian juga mengatakan bahwa kamu adalah orang yang baik dan pastinya akan menerima aku sebagai teman kamu. Apa itu benar?" tanyanya.


Tengg ....


Seperti ada bunyi Cymbal.


Alat ini memiliki dua buah alat yang sepasang dan menghasilkan sebuah suara jika keduanya diayun dan bertemu. Pada permainan Drumband alat ini digunakan oleh dua orang dalam grup. Alat musik ini sangat nyaring ketika dimainkan akan menghasilkan suara yang khas seperti logam yang bertemu jadi satu.

__ADS_1


"Owalah, iya. Ayo kita berteman." Wafa tetap bersikap baik meski dirinya sebenarnya enggan memiliki circle di kampus. Dia takut saja jika pendidikan terganggu dengan hal lain. Meski memang dirinya sudah tergoda dengan penawaran yang Bian lakukan melalui kontrak.


Akan tetapi, orang akan membutuhkan orang lain di kemudian hari di saat dirinya sedang kesulitan. Jadi, dengan senang hati, Wafa menerima Lastri sebagai temannya.


"Oh, iya. Memangnya ada sambutan apa? Lalu, kenapa cuma fakultas pendidikan agama Islam dan pertanian saja yang diundang ke acara sambutan ini?" Wafa ingin tahu.


"Dengar dari beberapa mahasiswa, akan ada kajian, lalu juga ada dakwah dari ustadz muda, begitu. Tapi katanya beliau juga memiliki anak yang kuliah di sini. Huh, Kakak sepupunya saja rupawan, apalagi adiknya," jelas Lastri.


"Oh, iya satu lagi. Kyai ini juga seorang duda dengan dua anak perempuan. Satunya sudah menikah, yang bungsu baru yang kuliah di kampus ini." imbuh Lastri dengan penjelasannya.


Wafa sama sekali tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Lastri. Tetap saja Wafa tidak mau bertanya lagi kepada Lastri karena takut semakin bingung. Dia pun mengikuti langkah Lastri yang mengajaknya ke aula besar milik kampus. Ketika berada di depan aula, Wafa terkejut bukan main.


Gadis berparas ayu ini melihat banner dengan wajah Pak Kyai, Abinya dan juga kakak sepupunya yang bernama Reyhan.


"Abi, Mas Reyhan? Lah, Kok?" Wafa sampai tidak tahu harus berkomentar apa. "Ngapain juga wajah mereka ada di sini?" batinnya.


"Jangan-jangan ... Kyai yang memiliki dua putri itu adalah Abi. lalu, salah satu ustadz muda yang hadir juga, adalah Mas Reyhan?"


"Loh, Wafa! Ayo, kita masuk. Sudah banyak teman-teman kita yang di dalam," Lastri menarik tangan Wafa.


Sudah terlanjur masuk, Wafa tidak mungkin keluar meninggalkan aula begitu saja. Bagaimanapun, dia tidak mau membuat Lastri bertanya-tanya lagi. Ada rahasia yang harus ditutupi oleh Wafa. Yakni, hati dirinya.


"Lastri," panggil Wafa lirih.


"Iya, ada apa?"


"Bagaimana jika kita duduknya di belakang saja? Sepertinya aku akan kesulitan membaca layar proyeksi nanti karena aku ti—" belum juga Wafa mengatakan usulnya, Lastri sudah menyela.


"Ah, emoh! Di belakang malah nanti tidak kedengaran," sahut Lastri.

__ADS_1


Mau tidak mau, Wafa hanya pasrah saja. Soalnya, Lastri juga tidak mau dipaksa juga. Mengenai identitasnya, Wafa sudah pasrah saja. Padahal dia hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian semua orang di kampus.


***


Tak lama kemudian, mahasiswa mahasiswi dari dua fakultas itu hadir. Kursi yang tersedia juga sudah hampir penuh. Bahkan Ferdian, Dani, Mayumi dan Lalita pun juga hadir. Mereka duduk di samping Wafa. Terutama Mayumi yang sengaja mendekati Wafa karena ingin berbuat hal buruk lagi padanya.


"Eh si miskin. Sudah punya temen nih?" tanya Mayumi dengan ketus. "Cih, temannya miskin juga. Mana penampilanya culun pula!" sindirnya.


Wafa sama sekali tidak menanggapinya.


Terlihat Dani juga memperlakukan Wafa dengan ramah sampai menyapanya. Laki-laki apa hanya diam dan fokus menatap ke arah depan takutnya Pak Kyai atau Abinya langsung menyapanya.


Sementara Ferdian, dia memilih untuk duduk di samping Wafa persis. Membuat Wafa mulai canggung dengan adanya Ferdian disampingnya. Masih teringat sangat jelas bagaimana ketika Ferdian menyelamatkan dirinya dari dua mahasiswa nakal yang dikirim oleh Mayumi.


"Apa kabar?" tanya Ferdian basa-basi.


"Alhamdulillah, baik," jawab Wafa.


"Kalau boleh tahu, laki-laki yang bersamamu kemarin itu siapa?" tanya Ferdian lagi.


"Teman." jawab Wafa singkat.


Ferdian merasa sedih karena Wafa selain jauh darinya, juga semakin acuh dengannya sampai tidak tahu harus bagaimana lagi memikirkan cara supaya bisa dekat lagi dengan Wafa seperti sebelumnya. Kisah mereka sebenarnya tidak sedekat itu. Ferdian saja yang merasa akrab dengan Wafa.


Ternyata, Ferdian ini sengaja mengikuti jadwal dan memantau Wafa. Jadi setiap Wafa ada di mana saja, pasti akan bertemu dengan Ferdian karena memang dia tahu akan kemana gadis yang disukainya itu.


Pertemuan terus terjadi diantara keduanya ketika Wafa masih menjadi salah satu santri di luar kota. Sampai pada akhirnya, Wafa terbiasa dengan kehadiran Ferdian yang terus menemuinya. Tapi saat itu memang Wafa sendiri tidak pernah menganggap Ferdian ini sebagai temannya ataupun orang yang dekat dengannya. Hanya orang yang berlalu dan mampir sejenak dalam kisah hidupnya.


"Banner yang ada di depan itu foto Kakak sepupumu dan juga Abimu 'kan?" bisik Ferdian. "Apa kamu sudah siap terbongkar identitas kamu yang sebenarnya?" lanjutnya.

__ADS_1


"Bukan urusan kamu!" jawab Wafa ketus.


__ADS_2