
Selama bermain di timezone, Wafa tidak terlihat terlalu senang. Ia tahu bahwa Grietta sudah mau pulang dan tidak tahu akan bertemu dengannya lagi atau tidak.
"Tuan Zaka Yang bilang, sementara Grietta akan kembali ke Tiongkok. Apa benar adanya itu? Bagaimana jika benar?' batin Wafa.
Sekitar seminggu yang lalu, Zaka Yang memang tidak sengaja, atau keceplosan mengatakan jika Grietta harus pulang dulu ke Tiongkok karena ada upacara peringatan kematian kakeknya, ayah kandung Bian. Memang tidak langsung pulang setelah Bian kembali, tapi memang ada pembicaraan jika Grietta harus hadir dalam peringatan tersebut.
Sampai saat itu, Wafa masih kepikiran jika dia tidak lagi bisa bertemu dengan Grietta. Seperti sebelumnya, Grietta pulang ke negaranya terlalu lama sampai membuatnya rindu. Wafa begitu tersiksa dengan kerinduan itu.
"Kakak!"
"Kakak Wafa!"
Teriakan Sabrina memecah lamunan Wafa. Gadis kecil itu menghampirinya dan bertanya mengapa Wafa diam saja. "Ada apa? Apakah ada sesuatu yang sedang Kakak pikirkan?" tanyanya.
"Sabrina, kakak baik-baik saja, kok," jawab Wafa.
Tak lupa Wafa menyentil hidung Sabrina, "kamu ini, pintar sekali berbicara." katanya.
Sabrina terkekeh, sudah terbiasa baginya bicara seperti itu. Putri dari almarhumah sahabatnya itu menarik tangan Wafa, kemudian ikut serta mengajaknya bermain.
"Apa yang kamu lamunan, Wafa?" tanya Ustadz Lana berbisik.
Wafa menggelengkan kepalanya, "tidak ada." jawabnya singkat.
'Andai saja kamu mau menceritakan segalanya padaku, Wafa. Saya pasti akan menjadi pria paling beruntung karena dipercaya olehmu.' batin Ustadz Lana.
Masih saja belum selesai dengan perasaan hatinya, Ustadz Lana begitu ingin memiliki Wafa sebagai pendamping hidupnya.
Setelah puas bermain, Wafa mengajak Grietta dan Sabrina makan bersama. Kali itu, makannya ditentukan oleh kedua anak manis itu. Sabrina ingin makan pedas, lalu Grietta ingin makan yang segar-segar. Akhirnya Ustadz Lana yang bingung mau memutuskan makan dimana, bisa memutuskan dengan cepat. Yakni, makan di restoran Jepang.
"Sushi untuk Grietta, lalu udon untuk Sabrina, bagaimana?" usulan Ustadz Lana.
"Benar sekali. Sushi segar, udon yang pedas. Cocok sekali untuk kalian berdua," sahut Wafa dengan senyumannya.
"Yeay!" sorak kedua gadis kecil itu.
Pergilah mereka ke restoran Jepang yang ada di dekat pusat perbelan. Baru sampai di sana, Grietta mengajak Sabrina untuk segera memesan. "Ayo, aku sudah lapar!" serunya.
__ADS_1
"Sabar, Grietta. Kakak masih ada di belakang, bagaimana kalau kita hilang?" kata Sabrina khawatir.
"Mama, Nana, pasti kesini!" sahut Grietta dengan menggoyangkan telapak tangannya, yang berartikan tidak mungkin bagi keduanya tersesat.
Sebab saat itu mereka sudah berada di restoran Jepang. Grietta sudah memiliki pengalaman makan di restoran seperti itu, tapi Sabrina—dia masih belum berpengalaman.
"Kenapa kamu selalu memanggil Kakak dengan sebutan Mama? Lalu, memanggil Ustadz Lana sebagai Nana? Bukankah kamu sudah bisa bicara dengan baik? Seharusnya kamu bicara dengan baik, Grietta!" Sabrina menegur cara memanggilnya Grietta terhadap Wafa dan Ustadz Lana.
Mendengar itu, seketika Grietta menghempaskan genggaman tangannya terhadap Sabrina. Gadis kecil itu kesal karena ada saja yang mengkritik cara memanggil dirinya.
"Kenapa? Apa kamu marah?" tanya Sabrina.
Grietta melipat kedua tangannya, kemudian memalingkan muka dari Sabrina.
"Astaghfirullah hal'adzim, ayolah. Aku hanya mengatakan kebenaran saja. Kenapa kamu harus marah, Grietta?" ucap Sabrina.
Grietta semakin membuang muka. Hal itu membuat Sabrina kesal juga. Ia merasa benar, tapi Grietta tidak mau memahaminya. "Kamu begitu, aku jadi ikut kesal juga. Aku kan, berkata benar. Memanggil Kakak dengan sebutan Mama tidak cocok, apalagi memanggil Ustadz Lana dengan sebutan Nana, itu tidak sopan!" serunya.
"Sabrina nakal!"
"Aku benci dengan Sabrina!"
"Sabrina menyebalkan!"
"Eh, eh, ada apa ini? Kenapa saling membuang muka seperti ini?" Wafa datang tepat waktu sebelum kedua anak itu cosplay jadi reog.
Ustadz Lana menyarankan tempat duduk yang ada di pojok supaya Wafa bisa memberikan nasihat pada kedua anak itu. Sementara dirinya ingin ke toilet sebentar karena tiba-tiba terasa ingin membuang hajat.
"Apa?"
"Ustadz ...
"Ustadz Lana!"
"Hish, teganya kamu meninggalkan saya. Ustadz!" Wafa teriak tapi berbisik, jadi mana Ustadz Lana dengar karena pria itu sudah lari duluan.
Apa yang ia tahan sudah tidak bisa ditahan lagi dan harus segera dikeluarkan. Jadi bukan tidak peduli, tapi Ustadz Lana memang harus pergi saat itu juga. Wafa pun mengajak Grietta dan Sabrina untuk duduk lebih dulu. Awalnya kedua anak itu tidak mau karena masih bermusuhan, tapi karena kelembutan Wafa dengan tutur katanya itu Grietta dan Sabrina mau duduk juga.
__ADS_1
"Baiklah, ayo, katakan apa yang membuat kalian harus bertengkar seperti ini?" tanya Wafa.
Krik .... krik ....
Grietta dan Sabrina masih membuang muka meski duduk berdampingan.
"Oke, tidak ada yang boleh memesan makanan sebelum kalian berdua berbaikan. Akan aku tunggu kalian bicara," Wafa mulai menaikkan nada bicaranya.
Kedua bocah itu masih saja di posisinya.
Bug!
Wafa meletakkan menu makanan dengan sedikit keras sampai kedua anak itu menatapnya terkejut.
"Grietta, Mama akan marah kalau kamu bersikap kurang baik seperti ini. Teriak-teriak di depan umum itu sangat buruk," tutur Wafa. "Sabrina, Kakak juga tidak suka dengan perilakumu yang memaksakan orang lain. Grietta mau memanggil Kakak dan Ustadz Lana dengan sebutan apapun itu haknya. Kamu harus menghormati hak orang lain itu," lanjutnya.
"Kalian berdua sama-sama salah, jadi harus sama-sama saling minta maaf. Jangan sampai kalian kelaparan hanya karena tidak mau minta maaf!" tegas Wafa.
"Assalamu'alaikum," Ustadz Lana akhirnya datang.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ini juga, Ustadz lama sekali ke toiletnya, duduk dan bantu saya membereskan anak-anak ini!" Bahkan Ustadz Lana pun kena semburan Wafa.
"Jadi, apa ini masalahnya?" tanya Ustadz Lana.
Wafa mengerutkan keningnya, "ini lagi. Apakah tadi tidak melihat?" desisnya.
"Si cantik Grietta, marah-marah sambil berteriak sampai membuat pengunjung menoleh ke arahnya. Kemudian si cerdas Sabrina, dia memaksa Grietta untuk memanggil kita berdua sesuai dengan dirinya memanggil kita," jelas Wafa, menggertakkan gigi karena Ustadz Lana tidak paham-paham.
Ustadz Lana meminta maaf pada Wafa karena kurang peka. Ia bahkan meminta maaf di depan Grietta dan Sabrina supaya bisa dijadikan contoh untuk kedua gadis kecil itu.
"Oh, begitu. Baiklah ... maafkan saya, Wafa. Saya tidak peka dengan kejadian ini," ucap Ustadz Lana.
Helaan nafas panjang, dikeluarkan dari hidung Wafa. Ia pun juga berusaha untuk menenangkan diri. "Saya juga minta maaf karena menjawab pertanyaan Ustadz dengan kesal." ucapnya.
Sabrina dan Grietta saling memandang. Meski masih terlihat sekali jika keduanya sama-sama kesal, apa yang dilakukan Ustadz Lana dan Wafa rupanya meluluhkan amarah mereka.
Lalu, apa yang hendak Wafa dan Ustadz Lana lakukan supaya kedua anak itu berbaikan?
__ADS_1