Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Belanja


__ADS_3

"Ada apa? Apa kamu berubah pikiran? Apa perhiasan yang ini tidak cantik?" tanya Bian.


"Pak ... um, Mas ... saya hanya merasa tidak enak hati saja. Ini acara peringatan kematian, mengapa saya harus berpakaian seperti hendak menghadiri sebuah pesta?" Wafa memberanikan diri bertanya.


Bian menunduk, memang tidak hanya acara peringatan kematian saja yang harus Wafa hadiri. Ada acara yang benar-benar Bian sangat membutuhkan Wafa untuk menemaninya.


"Pilihlah dulu perhiasan mana yang ingin kamu kenakan malam nanti. Setelah ini saya akan menjawab pertanyaan kamu," bisik Bian.


Wafa mengangguk. Ia memilih perhiasan yang sewarna dengan gaunnya, tapi warnanya jauh lebih terang dari gaun yang akan ia kenakan malam nanti. Setelah itu, Bian juga meminta A-Wei untuk menyiapkan sepatu yang cocok juga untuk gadisnya, Bian meminta yang hak-nya tidak terlalu tinggi.


Semua persiapan yang hendak Wafa kenakan malam nanti sudah teratasi. Untuk menjawab pertanyaan Wafa sebelumnya, Bian mengajaknya makan siang dulu di restoran muslim yang Bian cari selama semalaman di internet. Tentu juga dengan bantuan asisten dan sekretarisnya.


"Bagaimana, apa kamu puas dengan makanannya? Ini kali pertama bagi saya datang kemari, jadi tidak tahu bagaimana rasanya sebelumnya," tanya Bian basa-basi.


"Alhamdulillah, yang penting makanan halal bagi saya, itu sudah sangat Alhamdulillah," jawab Wafa.


"Al ... Al apa?" tanya Bian.


"Alhamdulillah ...." sahut Wafa.


"Artinya apa itu?" tanya Bian penasaran.


"Alhamdulillah artinya segala puji bagi Allah, atau dapat dilengkapi menjadi ucapan Alhamdulillahi Rabbil 'Aalamiin artinya segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Artinya ya bersyukur," jelas Wafa dengan senyuman.


Bian mengangguk-angguk.


"Apa ada masjid di kota ini?" tanya Wafa.


Raut wajah Bian seolah mengartikan bahwa dia tidak paham apa yang dikatakan Wafa. Meski memang agama Islam semua orang tahu, tetap saja Bian yang tidak paham apapun tentang Islam.

__ADS_1


"Masjid adalah tempat beribadah. Bahasa Inggrisnya, mosque. Pak Bi ... maksudnya saya, Mas Bian pasti tahu kan?" meski harus gugup menyebut panggilan itu, tetap saja Wafa melakukannya.


Bian mengangguk, ia mengangkat tangannya meminta bill pada pelayan restoran. Segera mengajak Wafa mencari tempat ibadahnya yang memang kebetulan tak jauh dari lokasi mereka makan. Kawasan itu memang kawasan orang muslim, jadi pasti akan mudah mendapatkan apa yang Wafa cari, meski sangat jauh dari Kota tempat apartemen mereka.


"Ini yang namanya masjid?" tanya Bian, memandangi gedung yang ada lafadz Allah. "Saya pikir gedung ini adalah museum. Rupanya masjid, ya ...."


"Silahkan, kamu beribadah dulu. Saya akan menunggumu disini saja. Saya merasa tidak enak hati pada Tuhanmu karena sudah menunda waktu ibadahmu," Bian mempersilahkan dengan senyuman.


Seperti ada hembusan angin yang menerpa wajah Wafa kala itu. Bagi Wafa, karakter Bian memang karakter pria yang sangat jarang ditemui. Tidak memaksa kehendak, tidak grusa-grusu, juga tidak pernah berpikir buruk.


"Terima kasih karena Bapak ... Mas Bian, sudah mempersilahkan saya untuk beribadah. Saya masuk dulu ...." ucap Wafa lirih, kemudian masuk ke dalam masjid tersebut.


Bian menatap langkah Wafa sampai gadis itu tak lagi terlihat. Duda kaya ini juga tidak tahu mengapa dirinya bisa sebaik itu pada Wafa. "Apa kau yang menarikku padanya? Apa kau ingin aku mengejarnya? Bagaimana caranya?" tanya Bian memandangi lafadz Allah yang terpasang di masjid itu.


"Aku bisa baik seperti ini bukan hanya sekedar dia baik kepada putriku. Bagaimana caraku bisa mengetahui bahwa aku benar-benar menyukainya? Sedangkan kami hanya dua orang yang saling mencari keuntungan yang terikat dalam sebuah kontrak," gumam Bian lirih.


Kontrak itu lagi-lagi menyadarkan tujuan awalnya. Memang keuntungan yang perolehan oleh Bian dan Wafa dengan kontrak itu. Meski dengan adanya kontrak, Wafa tetap tulus mengurus Grietta, begitu juga dengan Bian yang tulus menjadi donatur si yayasan Wafa.


"Sudah?" tanya Bian, ketika itu berdiri di samping mobilnya.


Wafa mengangguk. "Apa saya lama?" tanyanya.


"Tidak, waktu memang berharga. Namun kamu jauh lebih berharga bagi saya," ucap Bian lirih.


"Eh?" gadis berusia 20 tahun itu sampai memerah pipinya karena ucapan Bian. "Maksudnya ... maksudnya apa ya?" tanyanya.


Bian yang salah tingkah dengan ucapannya sendiri pun menunjuk pintu mobil. "Masuklah!" perintahnya dengan gugup.


Ketika di dalam mobil, suasana menjadi senyap. Mereka kembali ke pusat kota untuk membeli sayuran dan persediaan makanan lainnya di supermarket.

__ADS_1


"Kita mau belanja?" tanya Wafa begitu turun.


"Bukan, kita mau mencangkul." sahut Bian, memakai kaca mata hitamnya. "Sudah tahu di supermarket, masih saja bedanya. Ayo!" ucapnya.


Wafa menjadi heran dengan tingkah duda satu itu. Penampilannya yang menawan membuat beberapa wanita yang dilaluinya memperhatikan setiap langkahnya. Sungguh Wafa merasa jika dirinya sedang berjalan bersama seorang bintang saja.


"Kau lihat-lihat saja dulu, aku akan mengambil troli," perintah duda kaya itu. Tentu saja Wafa hanya bisa mematuhi ucapannya.


Ketika mengambil troli, Bian sedikit mengumpat. "Huft, baru kali ini aku repot sendiri. Datang ke supermarket, mengambil troli, keliling berbelanja. Padahal semua itu belum pernah aku lakukan sendiri!"


Seorang Tuan muda kaya raya seperti Bian tentu saja tidak pernah turun ke supermarket hanya untuk berbelanja kebutuhan rumah. Semua sudah dilakukan oleh pelayan rumah, dan ia hanya mengeluarkan uang saja.


"Apa yang ingin kamu beli?" tanya Bian, menghampiri Wafa yang saat itu terus membaca setiap produk yang ia ambil.


"Saya sedang memastikan apakah bahan yang akan saya ambil, bebas dari alkohol, minyak bebei, dan sejenisnya yang tidak boleh saya konsumsi," jawab Wafa, fokus membaca komposisi setiap produk yang ia ambil meski tidak paham tulisannya.


Bian menghela nafas pelan. "Kamu tenang saja, Wafa. Supermarket ini, menurut riset yang saya baca di internet, memang banyak sekali dikunjungi oleh orang sepertimu. Ayo, segeralah membeli sesuatu, saya sudah mulai tidak nyaman." jelasnya.


Memang benar apa yang dikatakan Bian. Di setiap negara asia pasti akan ada toko yang dimana toko tersebut banyak yang aman dikonsumsi oleh orang muslim. Bahkan di Korea yang banyak orang agnostik saja, di daerah Itaewon ada toko yang memang menjual produk dari perusahaan Indonesia. Apalagi di Tiongkok yang penduduknya masih banyak dijumpai orang muslimnya.


Mereka berbelanja seperti pasangan suami istri. Memilih dan memilah semua perlengkapan dapur serta kebutuhan dapur dan lainnya. Rencananya, Bian menginginkan Wafa tinggal di Tiongkok selama tiga hari. Jadi tetap harus membeli peralatan dapur.


"Bagaimana dengan ini? Untuk menggoreng telur, apakah bisa?" Bian mengambil teflon yang berukuran sangat besar.


Wafa pun tertawa dibuatnya. Tawa Wafa itu membuat Bian merajuk karena tidak memberinya penjelasan, tapi malah menertawakan. "Kamu meledek? Saya akan marah padamu, Wafa!" kesalnya.


"Hehe, maaf, Mas. Tapi Mas memang lucu sekali, bagaimana mungkin menggoreng telur menggunakan teflon sebesar itu?" Wafa masih menahan tawanya.


Bian pun meletakkan kembali teflon tersebut, kemudian menyembunyikan diri karena malu. Mereka kembali membeli peralatan yang lainnya. Tapi ketika mereka sedang asik berbelanja, tiba-tiba seorang wanita memanggil Bian dengan panggilan yang berbeda.

__ADS_1


"JiJi!"


__ADS_2