Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Kehamilan Sari


__ADS_3

Sari baru saja selesai sholat ashar, usai merapikan mukena—dia lantas keluar kamar untuk menemui sang suami. Berjalan pelan sambil memegangi perutnya yang terasa tidak nyaman, Sari pun duduk di samping Ustadz Zamil.


"Ustadz?" panggilnya dengan lembut.


"Iya, ada apa, Dek?" sahut ustadz Zamil diiringi senyuman tipis.


"Malam ini Ustadz ada acara atau tidak?" Sari bertanya, tapi merasa tidak enak hati karena khawatir mengganggu laki-laki itu.


"Nggak ada. Memangnya kenapa, Dek?" tanya ustadz Zamil


"Sari ingin ke rumah abi. Tapi … kalau Ustadz lagi tidak sibuk," ungkap istrinya.


Ustadz Zamil pun melempar senyuman lebar menatap Sari yang kini justru menundukkan kepalanya. "Bisa, Dek. Mau sekarang ke rumah abi-nya?"


"Iya, Ustadz. Tiba-tiba aku kangen sama abi," kata wanita itu.


Sari senang sekali karena suaminya mengangguk tanda setuju. Mereka pun langsung berangkat ke rumah pak kyai karena penampilan sepasang suami istri itu pun sudah rapi. Suasana sore hari ini terasa begitu nyaman. Langit cerah, tapi udaranya tidak panas. Pun tidak dingin.


Perjalanan mereka berdua tentunya aman karena ustadz Zamil mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang saja. Sari jadi heran, mengapa suaminya mengemudi dengan pelan seperti itu. Ia terus menatap ustadz Zamil sambil mengernyitkan kening.


"Kenapa menatapku seperti itu, Dek?" tegur ustadz Zamil saat menyadarinya.


"E-ee … kenapa laju mobil ini pelan sekali, Ustadz?" tanya Sari kemudian.


"Demi kenyamanan kamu," jawab sang suami.


"Tapi Sari juga nyaman-nyaman saja, kok, kalau misalkan lebih dipercepat," katanya, "ooh, apa karena Sari lagi hamil?"


"Iya, saya takut kamu tidak nyaman nanti. Makanya pelan seperti ini saja, sambil menikmati perjalanan," ungkap ustadz.


"Terima kasih, Ustadz." Sari benar-benar dibuat melayang dengan perlakuan suaminya.


Sari menyentuh kedua pipinya yang terasa lebih hangat. Dia tahu jika saat ini pipi itu sedang merah merona karena salah tingkah atas sikap manis ustadz Zamil.


Ketika sudah setengah perjalanan, ustadz Zamil memberhentikan mobilnya di depan sebuah toko oleh-oleh. "Mau ikut turun atau menunggu di sini saja, Dek?" tanyanya menatap lembut Sari.


"Tidak usah membeli sesuatu untuk abi, Ustadz," cegah Sari yang sudah mengerti maksud suami.


"Tidak apa. Ayo kita turun. Biar nanti kamu juga beli apa yang lagi kamu pengen," ujar laki-laki tampan itu.

__ADS_1


Sebenarnya Sari merasa tidak enak hati jika ustadz Zamil selaku sebaik itu dengan keluarganya. Namun, dia juga tidak ingin melarang saat seseorang ingin berbuat baik.


"Ayo, Ustadz," jawab Sari pada akhirnya tetap setuju.


Penjaga toko menyambut ramah keduanya. Ustadz Zamil mengambil keranjang belanja, lalu mempersilahkan Sari memilih sesuatu yang pantas untuk diberikan untuk ayahnya.


Tidak butuh waktu lama—keranjang tersebut telah dipenuhi dengan makanan ringan serta beberapa macam kue kering. Usai membayar, mereka melanjutkan perjalanan.


Sesampainya di rumah pak kyai, ustadz Zamil bergegas membukakan pintu mobil untuk sang istri. Betapa romantisnya laki-laki itu meskipun sebenarnya belum tumbuh cinta di hati untuk Sari.


"Alhamdulillah, kalian datang, Nak?" Seketika Sari dan ustadz Zamil menoleh.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, Abi." Sari langsung mengucap salam.


"Assalamu'alaikum, Abi," sambung sang menantu.


"Waalaikumsalam … Abi senang sekali kalian datang." Pak Kyai tersenyum lebar ketika anak dan menantu menyalaminya.


"Sari juga kangen sekali sama Abi," ungkapnya.


"Iya, Abi juga, Nduk. Ayo kita masuk. Kita ngobrol di dalam saja karena sudah petang," ajak beliau.


Sari dan abinya pun menunggu. Ketika Zamil kembali dengan menenteng tas belanja yang penuh dengan makanan, seketika pak kyai tertawa kecil. "Kamu itu kebiasaan sekali membawa makanan sebanyak ini, Mil. Sudah berkali-kali Abi katakan kalau tidak usah repot-repot begini," tegur pak kyai.


"Tidak repot, Abi." Ustadz Zamil menyahuti.


"Ya sudah ayo masuk saja. Dingin di luar," ajak beliau lagi.


Zamil lantas menaruh oleh-oleh di ruang tengah, lalu kembali ke ruang tamu di mana istri dan mertuanya duduk. "Abi apa kabar?" tanyanya.


"Alhamdulillah, sehat sekali, seperti yang kalian lihat. Hmmm … Abi merasa sangat senang melihat kalian berdua saling mengasihi seperti ini. Terima kasih ya, Nak, kamu sudah memperlakukan Sari dengan sangat baik," ucap sang kyai.


Senyuman ustadz Zamil begitu teduh. Ia pun berkata, "Saya juga bersyukur sekali, Abi dan keluarga ini telah menyambut saya dengan begitu baik. Terutama Dek Sari—istri berakhlak mulia yang selalu menghormati saya."


"MasyaAllah, Tabarakallah. Semoga selalu dikelilingi kebahagiaan, ketentraman dan rasa syukur di dalam keluarga kecil kalian." Doa kyai begitu tulus untuk putri dan menantunya.


"Aamiin, terima kasih, Bi. Kami punya kabar baik untuk Abi," ucap Sari seraya melirik ustadz Zamil.


"Kabar baik apa, Nduk?" tanya abinya begitu penasaran.

__ADS_1


"Ustadz saja yang menyampaikan," pinta Sari dengan senyuman malu-malu.


"Abi, kami pun merasa sangat bersyukur karena Allah telah mempercayakan rahim Dek Sari untuk ditempati seorang bayi," jelas ustadz Zamil kemudian.


"Sari hamil?" tanya pak kyai sedikit terkejut.


Namun, setelahnya beliau tersenyum lebar saat Sari dan ustadz Zamil mengangguk. "Alhamdulillah. MasyaAllah. Sudah berapa Minggu usianya?"


"Baru empat Minggu, Bi." Sari menjawab.


Kebetulan ada sebuah mobil yang berhenti di halaman depan sehingga obrolan mereka terjeda sejenak.


"Siapa yang datang itu?" tanya pak kyai sambil menoleh ke pintu masuk.


"Assalamualaikum," sapa seorang laki-laki.


"Waalaikumsalam." Semua orang menjawab kompak.


"Wah, Nak Lana. Silahkan masuk, Nak." Pak kyai mempersilahkan.


Sari dan ustadz Zamil pun tersenyum sembari menyalami laki-laki itu. Ustadz Lana sempat bingung dan gugup karena kedatangannya ingin menemui Wafa.


"Duduk dulu," perintah pak kyai.


"Iya, Kyai. Maaf … saya mau menemui Wafa apa dia di rumah?" tanyanya.


"Wafa-nya sedang pergi sama Pak Bian. Mungkin sebentar lagi pulang karena tadi izin keluar tidak lama," jawab pak kyai.


"Saya kira—Wafa di rumah," lirihnya seraya tersenyum tipis.


Ustadz Zamil tampak menatap ustadz Lana dengan tatapan tak suka. Sebab ia juga masih memiliki perasaan dengan Wafa, yang harus terkubur dalam-dalam karena merasa dirinya tidak pantas dengan perempuan itu.


Mereka pun melanjutkan obrolan di mana Sari terlihat asyik curhat dengan sang Abi, sedangkan ustadz Zamil dan ustadz Lana mengobrol di tempat berbeda yaitu di gazebo taman depan.


"Bagaimana hubungan Ustadz Lana dengan Wafa?" tanya ustadz Zamil.


"Saya sendiri tidak mengerti arah hubungan ini, Ustadz Zamil." Ustadz Lana tersenyum kecut.


"Wafa adalah gadis yang sangat baik, cantik, pintar, ramah kepada siapapun. Meskipun terkadang seperti anak yang tidak bisa diatur. Namun, semua laki-laki pasti akan terpesona padanya karena memang memiliki sesuatu yang menarik," jelas ustadz Zamil.

__ADS_1


Ustadz Zamil terus menerus menceritakan masa kecilnya Wafa. Sebagai guru ngaji Wafa dulu, ustadz Zamil seperti menunjukkan bahwa dirinya memang menyukai Wafa.


__ADS_2