
Klek~
Suara pintu terbuka. Dokter pun keluar dan mencari-cari di mana pihak keluarga dari pasiennya. "Keluarga dari Nyonya Mutaqia?" panggilnya.
"Di sini, Dok!"
Wafa dan Inneke langsung mengangkat tangannya, seolah mereka sedang ingin menjawab pertanyaan dari guru.
"Saya baru ingat jika pasien sudah tidak punya orang tua atau keluarga kandung. Jadi, saya akan mengatakan di sini juga. Pasir atas nama Nyonya Mutaqia, sudah menghembuskan napas terakhirnya sekitar 2 menit yang lalu. Kami juga sudah mengupayakan yang terbaik. Tapi tetap saja Allah berkehendak lain. Jadi, turut berduka cita atas meninggalnya Nyonya Mutaqia. Semoga kalian diberi ketabahan atas kepergiannya," ucap dokter.
"Kabar baiknya, putra dari Nyonya Mutaqia sudah bisa dibawa pulang besok. Bayinya sangat sehat dan sempurna."
Bagai sambaran petir kata-kata dokter tersebut. Inneke dan Wafa hanya bisa terdiam. Sungguh singkatnya pertemuan mereka di gempuran perpisahan bertahun-tahun lamanya. Qia juga pergi meninggalkan dua anak yang masih sangat kecil. Tak terasa air mata turun membasahi pipi Wafa dan Inneke malam itu. Keduanya langsung duduk, tertunduk lesu.
Di situasi itu, Bian baru saja datang dan melihat kedua gadis di depannya sedang menangis, tapi tanpa bersuara. Bian pun langsung paham dengan apa yang terjadi. Pria berusia 30 tahun itu duduk di sisi Wafa dengan pelan. Sedetik kemudian, Wafa baru bisa menangis mengeluarkan suara. Membuat Inneke semakin merasa bersalah karena dirinya belum sempat meminta maaf karena telah marah kepada Qia.
Hati Bian memang beku untuk hal kasih sayang. Tapi malam itu, melihat tangis Wafa membuat hatinya sangat terluka. Ingin sekali baginya untuk pemeluk gadis manis itu. Tapi namun apalah dayanya, tembok mereka terlalu tinggi sehingga Bian tidak bisa menyentuh Wafa.
"Sebenarnya malam ini aku ingin dia ke rumahku untuk menenangkan Putriku. Tapi melihat situasi ini, aku tidak boleh egois. Saat ini anak dari sahabatnya dan juga bayi itu sangat memerlukan Wafa," batin Bian.
"Kalian tunggu di sini. Aku akan menelpon asistenku untuk mengurus administrasinya. Apakah kalian bisa mengurus pemakaman untuk teman kalian itu?" usul Bian.
__ADS_1
"Iya, kami akan membawa jenazah Qia pulang ke kampung halamannya supaya bisa dimakamkan di dekat makam kedua orang tuanya," jawab Wafa lirih.
"Aku akan mengurus suami dan keluarganya itu. Mereka bertanggung jawab atas meninggalnya Qia. Karena ini bukan murni tangan Tuhan saja yang membuat Qia pergi. Tapi juga karena suami dan keluarganya yang kejam itu," Inneke sampai gemetar kala mengatakannya.
"Kita akan urus hal itu bersama besok setelah pemakaman Qia selesai, Ke. Aku akan menghubungi Abi dan Mbak Sari supaya bisa membantu kita," sahut Wafa menenangkan Inneke yang tersulut emosi.
Inneke pun mengangguk. Dia berjalan menuju IGD dan ingin melihat Qia sebentar. Sementara Wafa, dia ingin bicara dengan Bian sebelum asisten pribadinya datang. Bian pun mengiyakan dan mereka mulai bicara di luar.
"Pak Bian, sebelumnya saya berterima kasih karena Bapak mau membantu kami mengurus semuanya. Tapi saya juga harus meminta maaf atas ketidaktahuan pengurus yayasan saya dan juga saya minta maaf karena tidak bisa menemui Grietta malam ini," ucap Wafa dengan menundukkan kepala.
Memang selama pertemuannya dengan Bian, Wafa tidak pernah langsung memandang wajah sang duda ketika berbicara. Meskipun Wafa memiliki sikap yang random, banyak tingkah dan juga banyak bicara, meskipun berperilaku lembut, tapi tetap saja dia tahu aturan tentang seorang wanita dan perempuan dalam ajaran agama Islam.
"Tapi karena ada insiden seperti ini, saya juga tidak bisa egois. Bisakah kamu membuat video atau rekaman suara untuk Putri saya? Supaya dia tahu bahwa Papinya juga sudah berusaha—um, kamu paham maksud saya, tidak?" imbuh Bian sedikit bingung juga memilah kata-kata.
Wafa tersenyum tipis. "Saya sangat paham betul dengan apa yang Pak Bian katakan. Segera mungkin saya akan mengirimkan video rekaman untuk Grietta." ucapnya.
Malam itu, meskipun suasana sedang berduka Tapi keadaan juga sangat hangat. Kepergian Qia memang membuat Wafa dan Inneke sedih. Tapi mereka juga tidak terus bersedih secara terus-menerus karena ada dua anak Qia yang harus dipikirkan setelah kepergian Qia. Apalagi, hadirnya Bian malam itu membuat Wafa menjadi jauh lebih tenang. Wafa sendiri juga bingung dengan perasaannya.
Pertemuan singkat mereka, mana mungkin langsung membuat keduanya memiliki perasaan. Akan tetapi, rasa nyaman memang sudah terjalin diantara keduanya. Seorang pria yang perhatian jika sudah nyaman dan juga seorang wanita yang baru saja patah hati. Bertemu dalam sebuah pertemuan yang tak terduga.
Pemakaman Qia dilakukan malam itu juga dengan bantuan Kyai dan Mbak Sari. Qia dimakamkan di sebelah makam kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Wafa dan Pak Bian juga ikut serta dalam pemakaman tersebut. Sementara Inneke, di temani eh Zaka Yang, asisten pribadi Bian, masih berada di ruang kantor polisi untuk mengajukan laporan yang ditunjukkan oleh suami dan mertua almarhumah Qia.
__ADS_1
"Bu, ini surat kelahiran bayi dari Nyonya Qia. Lalu ini adalah surat kematian Nyonya Qia. Mohon diperiksa lebih dulu, ya ...." ucap pihak administrasi.
"Terima kasih," ucap Inneke.
Melihat dua surat di tangannya, membuat Inneke tidak kuasa membayangkan betapa sakitnya anaknya kelak karena tahu Ibunya meninggal di saat dirinya pertama kali melihat dunia. Baik Qia dan bayinya sama-sama belum bertemu saat itu. Setelah lahir, bayinya langsung di inkubator. Sementara Qia, belum sadarkan diri sampai ia meninggal.
"Nona, Anda tidak perlu larut dalam kesedihan. Saya tidak tahu harus berkata apa untuk menghibur Anda. Kepergian seseorang yang dekat dengan kita memang adalah hal yang sangat menyakitkan. Apalagi bukti nyatanya kelahiran dan kematian terjadi dalam satu hari. Mari, kita segera ke kantor polisi untuk melapor," ucap Zaka Yang.
Inneke yang sebelumnya selalu blak-blakan, bicara juga kasar, malam itu hanya diam seribu bahasa sejak keluar rumah sakit dan perjalanan ke kantor polisi. Susana itu membuat Zaka Yang canggung.
"Nona, apa Anda tidak mau mengatakan apapun?" tanya Zaka Yang memecah keheningan.
Inneke menggelengkan kepala.
"Tuan Muda mengatakan jika sahabat Nona Wafa ini sangat cerewet. Tapi kenapa malam ini, dia terlihat ... Ah, apa yang aku pikirkan ini? Dia sedang berduka. Mana mungkin mau—"
"AWAS!" teriak Inneke.
Ciiiittt ....
Decit gesekan ban mobil dengan aspal terdengar seperti mengiris hati. Hampir saja Zaka Yang menabrak seseorang yang menyebrang sembarangan di sana. Beruntung saja mobil mewah milik Bian ini sangat terawat. Sehingga bisa mengerem dengan tepat, atau akan terjadi kecelakaan jika mobil itu remnya tidak berfungsi dengan baik.
__ADS_1