Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Si Bawel Inneke


__ADS_3

Pria memiliki tubuh tegap gagah itu duduk di kursi dan terus memandangi Wafa yang masih terbaring di ranjang. Sementara menunggu dokter datang, Bian meminta asistennya untuk membawa Inneke keluar dari kamar.


Hanya dengan berkontak mata saja, Zaka Yang sudah mengerti apa yang Tuannya katakan. Membawa Inneke bersamanya sebenarnya malas sekali melakukannya. Namun, tidak mungkin ia tolak perintah dari Tuannya itu.


"Ayo, kau ikutlah denganku," bisik Zaka Yang menarik lengan Inneke.


"Mau kemana kita?" tanya Inneke ikut berbisik.


Pria dengan profesi sebagai asisten pribadi itu membawa Inneke ke dapur. Memintanya untuk duduk di samping meja makan dan menunggunya kembali setelah membuatkan minuman untuk Bian.


"Tetaplah disini, aku akan segera kembali untuk menyajikan teh ini pada Tuan Ji Xie. Patuhilah, ini apartemen Tuan Bian, bukan milik Nona Wafa. Jadi kamu harus patuh dengan peraturan rumah ini, mengerti?" tegas Zaka Yang.


"Hei, mengerti tidak?!" Zaka Yang gemas sendiri karena Inneke hanya diam menatapnya dengan tatapan seperti jijik.


Inneke juga malah membuang muka. Sambil makan kuaci, gadis itu menatap Zaka Yang dari kejauhan. Pria itu memang memiliki penampilan yang lumayan oke dalam pandangan mata Inneke. Tapi tidak tahu kenapa Inneke selalu saja mengajaknya berdebat di saat bertemu.


'Cih! Dasar orang tua. Sukanya ngomel terus tanpa pengertian hati seorang anak muda!' keluh Inneke.


"Semakin yakin saja jika dia tidak akan bertemu dengan pasangan hidupnya."


Inneke terus saja menggerutu untuk Zaka Yang. Gadis itu seperti memiliki dendam kesumat kepadanya. Setelah beberapa menit kemudian, asisten Zaka Yang ini kembali.


"Kenapa lama sekali, hanya mengantar teh saja. Apakah membutuhkan waktu lama?" tanya Inneke begitu ketus.


"Dokter baru saja datang. Jadi aku diminta untuk membuatkan satu cangkir lagi. Tunggulah disini, aku akan segera kembali," jawab Zaka Yang, lembut.


Mendengar ucapan yang lembut dari mulut sang asisten tampan, membuat Inneke menatapnya dengan berbeda. Seperti ada sesuatu, tapi tidak tahu apa itu. Gadis itu tidak lagi memikirkan perasaan yang mengganggu pikirannya dan mulai bermain game di ponselnya.


Zaka Yang kembali. "Hei, bagaimana keadaannya? Apa kata dokter?" tanya Inneke, menunjukkan rasa kekhawatirannya.

__ADS_1


"Dokter baru ingin memeriksa. Sebelumnya dokter dan Tuan Ji Xie yang sedang berbicara hal lain sebelum melakukan pemeriksaan terhadap, Nona Wafa," jawab Zaka Yang, duduk dan menyajikan teh hangat untuk Inneke.


"Shhh, bisa-bisanya Tuanmu itu malah mengobrol dulu dengan dokter. Wafa kan sedang sakit, harusnya langsung diperiksa saja, dong!" kata Inneke dengan ketus.


Zaka Yang mengangkat kedua bahunya, tanda jika dia juga tidak tahu apapun. Tak hanya secangkir teh saja yang dihidangkan, ada beberapa makanan ringan juga yang pria lajang ini berikan pada Inneke.


***


Di kamar, Bian sedang menyaksikan Wafa diperiksa oleh dokter yang ia panggil. Tatapan mata Bian menunjukkan bahwa pria ini sangat mengkhawatirkan keadaannya. Jari jemari Bian saja juga tidak bisa diam saja. Begitu sabar menunggu hasil pemeriksaan yang sedang dokter lakukan.


"Apa ada yang serius, dok?" tanya Bian ketika melihat dokter melepaskan stetoskopnya.


Dokter mengatakan jika Wafa hanya kelelahan dan banyak pikiran karena itu membuatnya demam. Dokter juga meminta Bian supaya menjaga istirahat Wafa dengan cukup.


"Kelelahan?" tanya Bian ragu. "Apa hanya itu saja? Tidak ada hal lainnya lagi?" imbuhnya.


"Pasien hanya kelelahan saja. Dia juga telat makan, bahkan juga dehidrasi. Apakah akhir-akhir ini pasien melakukan pekerjaan yang berat?" dokter pun bertanya.


Bian menggelengkan kepala. "Aku juga tidak tahu, dokter. Tapi apakah memang tidak ada yang bahaya? Suhu tubuhnya sangat panas sekali. Takutnya ..."


"Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Pasien akan baik-baik saja. Tapi jika panasnya tidak turun juga, Tuan bisa membawanya ke rumah sakit untuk tindakan lebih lanjut,"


Bian menganggukkan kepala, tanda bahwa dirinya mengerti apa yang dokter jelaskan. Dokter juga tidak memberi obat karena memang hasil pemeriksaannya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dokter hanya meminta untuk terus mengompres kening Sakna, dan memastikan kalau istirahatnya cukup.


Setelah berbincang sebentar, Bian meminta Zaka Yang untuk mengantar dokter sampai di depan pintu. Sementara Bian sedang menjelaskan kondisi Wafa pada Inneke yang saat itu sudah sangat penasaran.


"Tuan, bagaimana keadaan Wafa? Apa kata dokter?" tanya Inneke sudah tidak sabar.


"Dia baik-baik saja. Dokter mengatakan bahwa dia hanya kelelahan dan memintanya untuk istirahat yang cukup," jelas Bian.

__ADS_1


"Syukurlah jika dia tidak kenapa-kenapa. Aku jadi lega mendengar. Jantungku hampir saja lepas ketika mendengar bahwa dia tidak sadarkan diri tadi," ucap Inneke lirih.


"Tapi dia baru tiba di sini sekitar 2 malam. Kenapa sampai kelelahan dan dehidrasi? Semalam pun dia juga tidur lebih awal," Inneke jadi bingung.


Tak hanya Inneke saja yang bingung, bahkan Bian pun heran mengapa Wafa sampai drop seperti itu. Bian menyebutnya karena tubuh wafat terkejut sebab perubahan cuaca. Tapi Bian juga ingin mencari tahu apa yang membuat Wafa sampai ngedrop seperti itu.


Mereka berdua sedang menatap Wafa penuh kasihan. Tak lupa Bian juga melakukan apa yang dokter minta supaya mengompres kening Wafa dengan sabar sampai panasnya turun.


"Apa boleh seperti ini? Kenapa dokter tidak memberinya obat?" tanya Inneke masih khawatir.


"Dokter menyarankan jika sampai besok belum turun, barulah membawanya ke rumah sakit," jawab Bian lirih.


"Heh, memangnya kenapa harus menunggu sampai besok? Kenapa tidak sekarang saja?"


Inneke yang bawel itu tidak mungkin Bian sabar menghadapinya. Beruntung saja ada yang masuk dan menjawab pertanyaan gadis itu.


"Kamu ini kenapa bawel sekali? Dokter sudah mengatakan seperti itu, apa kamu meragukan kemampuan dokter yang sudah menjadi langganannya, Tuan Ji Xie?" jelas Zaka Yang, baru saja masuk ke kamar.


"Hilih, hanya bertanya dan usul saja, kok!" tentu saja tidak bisa disebut Inneke, jika tidak banyak protesnya.


Bian sampai mendehem. Sudah diberi peringatan untuk mereka berdua supaya tidak berdebat lagi. Kemudian meminta maaf untuk mengantar Inneke pulang lebih dulu. Tentu saja Inneke menolak dan kekeh ingin membawa Wafa pulang ke apartemen sendiri.


"Loh, kenapa mesti aku yang harus pulang? Wafa juga harus ikut bersamamu dong, turun," protes Inneke.


"Aku ingin merawatnya. Percayalah padaku, aku akan mengurusnya dengan baik tanpa menyentuh seinci kulitnya sedikitpun," Bian bersungguh-sungguh.


Inneke hanya masih ragu dengan perlakuan Bian pada sahabatnya, meskipun Bian adalah pria dia tidak mungkin meninggalkan Wafa, tidak ada yang tahu jika Bian berubah aneh-aneh pada sahabatnya itu. Otak kotor Inneke memang sangat cepat jika memikirkan hal seperti itu.


Inneke pun bersikeras ingin tetap tinggal jika Wafa masih ada di apartemen Bian. Membuat Bian dan Zaka Yang hanya bisa menghela nafas ketika menghadapi Inneke.

__ADS_1


__ADS_2