
Membaca pesan itu, membuat suasana hatinya menjadi bimbang. Baru saja berdoa supaya Bian tidak cepat-cepat pulang, malah Wafa menerima pesan singkat dari pria bertubuh tinggi itu.
Tidak ada alasan lain bagi Wafa menahan Grietta, pada intinya memang Bian yang lebih berhak atas gadis kecil itu. Saat Ustadz Lana kembali, ia melihat Wafa dalam keadaan murung. Ia pun menyapa, "Assalamualaikum," salamnya.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, Ustadz," jawab Wafa sedikit terkejut.
"Kenapa kamu terlihat murung seperti itu, Wafa? Apakah ada yang mengganggumu?" tanya Ustadz Lana.
Wafa mengirimkan ulang pesan dari Bian pada Ustadz Lana.
Deg!
Bahkan Ustadz Lana saja merasa tidak senang dengan kembalinya Bian dari luar negeri. Sadar diri jika dia akan kehilangan dua orang yang telah membuat hari-harinya selama satu bulan jauh lebih bahagia. Wafa adalah wanita yang dicintai olehnya, sementara Grietta adalah gadis kecil yang telah mengubah warna dalam hidupnya.
"Wafa ap—"
"Nana!"
Belum juga Ustadz Lana bertanya pada Wafa, si kecil Grietta sudah memanggilnya. Pria ini tak bisa mengabaikan Grietta. "Iya, Sayang. Ada apa?" tanyanya, berjongkok di depan Grietta.
"Lapar," gadis kecil itu mengusap perutnya.
Ustad Lana menoleh ke arah Wafa, kemudian tersenyum. "Apa kamu juga lapar?" tanyanya.
Wafa membalas dengan mengangguk. "Sangat lapar. Ayo, kita cari makan dulu!" ajaknya.
__ADS_1
"Yeay! Makan!" sorak Grietta bahagia.
Kasih sayang dari ayahnya tidak pernah didapatkan oleh Grietta. Tapi gadis kecil itu mendapatkan kasih sayang orang tua malah dari orang lain, yakni Wafa dan Ustadz Lana yang di mana mereka bukanlah sepasang suami istri tapi mampu memberikan kasih sayang itu adanya.
Malam itu Mereka terlihat bahagia sekali, sama persis seperti satu keluarga kecil yang tengah dilanda bahagia. Ustadz Lana memang belum pernah memiliki seorang anak, tapi dia begitu mencintai Grietta tanpa syarat, karena hatinya telah terketuk oleh gadis kecil nan manis seperti Grietta.
"Nana," panggilnya.
"Iya, Grietta, ada apa? Makannya pelan-pelan saja, lihatlah ... ujung bibirmu ada sup jagungnya. Biarkan Nana membersihkannya," ucap Ustadz Lana, mengelap sisa sup yang ada di sudut bibir mungil Grietta.
Seharusnya perlakuan lembut Ustadz Lana bisa membuat haru hatinya Wafa. Tapi rupanya tidak, Wafa terus menganggap Ustadz Lana sebagai sahabat saja. Meski dirinya tahu, bahwa tidak ada kata sahabat yang abadi di antara hubungan laki-laki dan perempuan.
'Ustadz Lana begitu perhatian dengan Grietta. Seharusnya aku merasa terharu dan jatuh cinta padanya. Bukankah pria seperti ini, yang banyak sekali diidamkan pada kaum hawa? Tapi kenapa tidak denganku? Aku juga mendambakan seorang laki-laki seperti Ustadz Lana, tapi kenapa aku tidak bisa jatuh cinta padanya? Sebaliknya aku malah terus kepikiran dengan Pak Bian.' batin Wafa.
Terlihat begitu telatennya Ustadz Lana menyuapi Grietta. Senyum Grietta juga terus terukir di bibirnya ketika bersama dengan Ustadz Lana. Seakan Ustadz Lana ini malah terlihat seperti ayah dikandungnya Grietta.
"Apa dia sudah tidur?" tanya Ustadz Lana ketika Wafa keluar dari mobil.
"Dia baru saja tidur. Pasti sangat melelahkan karena hari ini dia banyak sekali bermain bersama denganmu, Ustadz," sahut Wafa.
"Lalu, bagaimana tanggapan kamu tentang kepulangannya Pak Bian. Apakah Wafa memiliki perasaan yang peka terhadap Papanya yang mau pulang?" tanya Ustadz Lana kembali.
Wafa terdiam, yang menunjukkan kepalanya karena bingung juga harus menjawab pertanyaan dari Ustadz Lana yang bagaimana. Wafa tidak ingin melukai hati kecilnya Grietta dengan mengirimnya pulang setelah ayahnya kembali.
"Bagaimana kalau Pak Bian saja yang menjemputnya kemari? Dengan begitu ... Bukankah Grietta atau tidak akan salah paham kepadamu?" usul Ustadz Lana.
"Apa yang Ustadz usulkan ini ... sebenarnya juga sudah saya pikirkan. Tapi hati kecil saya yang menolak berpisah Grietta," ungkap Wafa.
__ADS_1
"Anak-anak asuh yang ada di yayasan memang banyak. Tapi entah kenapa Grietta ini sangat berbeda. Si kecil ini seperti cahaya dalam hidup saya, Ustadz,"
"Saya ingat sekali dengan pertemuan pertama saya dengan Grietta. Saya dibuat jatuh cinta dengan anak itu sama saya tidak sadar bahwa saya juga Ibu sambung bagi anak-anak di yayasan. Meski dia tidak bisa berbicara saat itu, tapi saya selalu menganggapnya sebagai anak yang normal pada umumnya,"
"Sebenarnya saya tidak pernah keberatan jika Pak Bian mengambil kembali putrinya. Bagaimanapun juga Grietta adalah anaknya Pak Bian. Tapi entah kenapa, saya merasakan bahwa saya tidak akan bertemu lagi dengan Grietta,"
"Ada rasa ketakutan tersendiri ketika Pak Bian mengatakan bahwa beliau akan tiba besok." tukas Wafa.
Ustadz Lana hanya bisa mendengar curahan hatinya Wafa tanpa bisa memberikan solusi karena memang itu adalah urusan pribadinya Wafa dengan Pak Bian. Jika Wafa saja yang memang ada kontrak pekerjaan dengan Pak Bian tidak bisa mempertahankan Grietta di sisinya, apalagi dirinya yang bukan siapapun bagi gadis kecil itu.
"Kalau begitu, kita sebagai orang yang lebih dewasa harus bisa merangkai kata-kata yang tepat ketika Grietta harus pulang," tutur Ustadz Lana.
"Benar, Ustadz." Wafa menyetujuinya.
Setelah mengobrol begitu lama, Ustadz Lana pun mengajak Wafa pulang. Sementara Grietta sudah tertidur pulas di jok belakang.
***
Di tengah malam, Wafa tidak bisa tidur karena terus memikirkan bagaimana kata-kata yang tepat supaya bisa membuat Grietta mengerti jika besok dia harus pulang bersama dengan Papanya.
"Aku harus meminta pendapat dari Inneke. Semoga saja dia belum tidur. Kulihat dua hari lalu dia sedang kesal karena Grietta merusakkan piano miliknya," gumam Wafa.
Segera Wafa mengambil ponselnya. Mencari nama kontak sahabatnya dan menelepon. Dua kali Wafa menelepon, tidak ada jawaban dari Inneke. Tetap tidak membuat Wafa menyerah, dia terus menelepon Inneke sampai gadis penuh dengan kehebohan itu menjawabnya.
'Bangk*! Anj*r lu Wafa! Ngapain sih, malam-malam telepon terus? Ngganggu tau!' calon pengacara ini langsung mengamuk.
"Astaghfirullah hal'adzim, astaghfirullah hal'adzim," ucap Wafa. "Semakin lama bibir kamu kotor banget sih, Ke? Menyebalkan, mengotori telingaku saja," katanya.
__ADS_1
'Heh, kalau mau ceramah, besok saja. Katakan apa yang ingin kamu katakan sampai menelponku malam-malam seperti ini. Ini tengah malam, loh, Wafa, si Wafa, cantik ....'
Wafa pun menceritakan segalanya tentang keadaannya saat itu. Barulah Inneke bisa berpikir untuk membantu sahabatnya dengan kepintarannya. Inneke menyuruh Wafa untuk jujur pada Grietta dan menceritakan bagaimana nyamannya Grietta ketika tinggal di pesantren pada Bian. Dengan harapan pasangan ayah dan anak ini bisa saling memahami satu sama lain.