Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Perkara Sarapan


__ADS_3

Malam itu juga sebelum tidur, Inneke dan Wafa belajar bahasa Mandarin secara lisan sedikit demi sedikit. Mereka belajar kosakata yang digunakan secara umum ketika mengobrol saja. Setidaknya mereka akan paham dengan apa yang diucapkan lawan bicaranya nanti meski harus menjawabnya dengan berbahasa Inggris.


"Ya Allah, ternyata bahasa Mandarin itu susah sekali. Bahkan satu bahasa saja banyak arti, kemudian nada bicara juga membedakan arti, Allahu Akbar ...." Wafa mulai mengeluh.


"Kau baru belajar saat ini. Pantas jika kamu mengeluh dan belum bisa-bisa," sahut Inneke. "Lha, aku? Kau lihat aku, lihatlah, Wafa!" tangan Inneke mencengkeram bahu Wafa supaya melihat dirinya.


"Aku sudah terlahir dalam lingkup etnis Tionghoa. Tapi sejak dulu aku tidak bisa berbahasa Mandarin. Sepertinya aku memang orang yang sangat bodoh, deh?" terlihat sekali wajah pasrah dari Inneke.


Wafa pun menghela nafas panjangnya. Ia pun akhirnya menyerah dan tertidur di sofa ruang tengah bersama dengan sahabatnya. Kedua gadis muda itu sudah berusaha keras, tapi hasilnya memang tidak memuaskan.


Sebelum subuh, Wafa terbangun karena dikejutkan dengan suara alarm shalat subuh di ponselnya. Sadar jika dia berada di negara yang muslimnya minoritas, Wafa berinisiatif memasang alarm sesuai dengan waktu disana.


"Alhamdulillah, sudah waktunya shalat subuh,"


"Lebih baik aku mandi dulu. Setelah itu baru shalat dan beberes apartemen ini."


Gadis yang selalu bisa menyesuaikan diri ini segera menunaikan kewajibannya. Pertama kalinya berada di tempat asing, membuat Wafa sedikit bingung mau shalatnya di mana. Beruntung saja kamarnya luas, jadi ia shalat di pinggir ranjang.


"Ya Allah, kiblatnya kenapa terhalang kasur, sih?"


"Jika shalatnya di sana, langsung menghadap ke pintu. Enaknya shalat di sebelah mana, ya?"


Sebelumnya ia shalat di ruangan kosong, tapi semalam setelah shalat isya, ruangan itu digunakan dikunci oleh Zaka Yang dan kuncinya di bawa. Jadi Wafa harus memindahkan kasur dan menata ulang kamarnya supaya bisa digunakan untuk beribadah.


***


Wafa malah ketiduran setelah shalat subuh, ia dibangunkan oleh Inneke dengan gedoran pintu yang membuatnya terkejut.


"Woy, Wafa!"


"Bangun, woy!"


"Kamu mau bangun jam berapa? Ini sudah jam sembilan, apa kau tidak mau sarapan juga?"

__ADS_1


"Wafa!"


Tok ... tok .... tok ...


Tangan jahil Inneke terus mengetuk pintu dengan kasar.


"Wafa, jangan kebo, ya! Ini dah siang juga," sambung Inneke.


Klek~


Pintu kamar terbuka. Nampak wajah datar Wafa yang menunjukkan ekspresi kesal karena cara membangunkan ala Inneke. "Iyaa, aku sudah dengar saat kamu membangunkan aku di ketukan yang pertama. Mengapa kamu malah semakin heboh, sih?"


"Hish, ini jam berapa, lihat jam!" tunjuk Inneke ke arah arlojinya.


"Aku kesiangan, maaf," ucap Wafa lirih.


"Ayo, kemarilah. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu." Inneke menarik tangan Wafa dan membawanya ke dapur dengan semangat.


Langkah kakinya Inneke yang terburu-buru membuat Wafa beberapa kali tersandung. "Ke, memangnya ada apa? Kenapa kamu menarikku seperti ini? Aduh!" keluh gadis itu.


Inneke memutar bola matanya, ia berbalik dan menunjukkan ada sepucuk surat dari orang yang membawa makanan tersebut. Setelah menemukan surat itu, segera Inneke memberikannya pada sahabatnya. "Ambil dan baca sendiri." perintahnya.


Tangan Wafa perlahan menerima surat kecil tersebut. Inneke mengatakan jika dirinya belum membuka karena surat itu ditujukan pada Wafa. Jadi, ia tidak tahu apa yang tertulis di surat tersebut.


"Surat apa ini?" tanya Wafa dengan suara lembutnya.


Inneke menggelengkan. "Surat itu untukmu. Aku tidak berani membukanya." jawabnya. "Lebih baik kamu baca dulu surat itu dan aku akan memindahkan makanan ini ke meja. Kita makan di ruang tengah, hm?" imbuhnya.


"Makanan ini bukan kamu yang masak?" tanya Wafa.


"Iya, aku belanja pagi-pagi sekali menggunakan uang hasil ngepet, kemudian memasak sendirian. Ah, ada lagi, aku bahkan membeli rantang mahal seperti ini juga. Apa kamu senang?" jawab Inneke, tentunya dia sedang kesal.


"Apa belek di matamu itu sangat besar, sampai tidak bisa melihatku yang masih mengenakan piyama? Hello, yang mulia Wafa, aku juga tidak bisa masak, bagaimana mungkin aku masak, uh!" akhirnya kekesalan Inneke memuncak.

__ADS_1


"Pergilah dan baca suratmu. Jangan menggangguku! Huft, saat ini aku sudah kelaparan. Awas!"


Inneke segera membawa semua makanan itu ke ruang tengah. Tak lupa ia juga membawa piring serta mangkuk untuk memindahkan lauk lauknya.


Wafa pun segera membuka surat kecil itu, ia berjalan ke ruang tengah dan mulai membacanya. Perlahan surat tersebut dibuka dan ....


"Selamat pagi, maaf saya kesiangan mengirim sarapan untukmu dan temanmu. Tenang saja, makanan itu halal untuk dimakan. Saya sengaja menyewa tenaga masak dari orang timur supaya bisa memasak untukmu. Wafa, bersiaplah setelah sarapan. Saya akan menjemputmu jam 11 nanti. Selamat menikmati sarapannya."


Benar, surat itu dari Bian. Ia sampai membayar chef dari orang timur tengah langsung hanya demi Wafa. Bian menjaga makanan Wafa selama ada di Tiongkok. Sesuai dengan arahan Rayhan—kakak sepupu Wafa, jika ia memiliki kenalan khusus di Tiongkok sana, seorang chef dari timur tengah.


"Apa ini makanan dari Pak Bian?" tanya Wafa ketika Inneke selesai menyiapkan semua makanannya.


Inneke duduk dulu. Gadis itu juga menyiapkan teh hijau untuk sahabatnya. "Haih, menurutmu dari mana lagi?" jawabnya. "Apa kamu sudah membaca suratnya? Apa yang tertulis dari surat itu?" tanyanya penasaran.


Tatapan mata Wafa langsung membuat Inneke mengerti. "Ah, sudahlah. Jika memang itu ... rahasia kamu tidak perlu mengatakannya. Ayo, kita makan!" ujarnya.


"Kamu tidak menelepon Pak Bian atau asistennya untuk mengirim kita makanan, 'kan?" tanya Wafa dengan penuh kecurigaan. Tentu saja bukan karena Wafa tidak percaya yang benci pada sahabatnya. Dia hanya tidak mau saja sampai merepotkan Bian lagi.


Inneke langsung meletakkan telapak tangannya di dada. "Astaga, Wafa. Ck, ck, ck, rupanya aku sekriminal itu pikiranmu," katanya. "Bodoh! Mana mungkin aku seperti itu!" teriaknya.


"Aku tidak miskin, bahkan untuk membelikan kamu makanan dan membiayai dirimu di sini saja, aku juga mampu!" ketus Inneke melipat kedua tangannya.


Wafa memberikan surat kecil itu, tapi Inneke tidak tahu maksudnya. "Apa?" tanyanya dengan raut wajah yang menyulut.


"Ambil surat ini dan kamu bisa membacanya sendiri," kata Wafa, memberikan secarik kertas tersebut.


"Yakin?" Inneke memastikan lagi. "Kamu yakin ini bukan kata-kata rahasia?" tanyanya.


Anggukan kepala Wafa itu sebagai tanda jika ia mengijinkan sahabatnya membaca surat dari Bian. Kemudian Wafa juga minta maaf karena telah berkata buruk pada Inneke.


"Tidak seharusnya aku berkata seperti tadi. Maafkan aku, Inneke," ucap Wafa.


"Santai sajalah. Kita sudah bersahabat sejak lama, aku tahu kalau kamu juga tidak ada maksud buruk dengan mengatakan itu. Semuanya hanya candaan belaka, iya, 'kan?" sahut Inneke dengan senyuman.

__ADS_1


Senyuman itu dibalas dengan tulus oleh Wafa. Keduanya pun saling berpelukan. Makna persahabatan bagi mereka sangat mahal, jadi mereka tak ingin ada masalah sedikit saja.


__ADS_2