
Perjalanan ke pesantren dari yayasan tidak membutuhkan waktu lama. Sampai di rumah, orang rumah juga masih berada di pesantren, jadi Wafa aman pagi itu.
"Alhamdulillah, Abi dan mbak Sari masih di pesantren. Aku harus bergegas nih. Takutnya mereka pulang, malah aku ketahuan belum apa-apa," batin Wafa.
Ketika Wafa mengambil langkah dengan hati-hati, rupanya Sari ada di samping dinding kamar Wafa yang memang sebelah kamar Wafa itu ruang tamu.
"Baru pulang?" tanya Sari melipat tangannya. Sudah sangat jelas apa yang Sari isyaratkan saat itu.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, mbak …" salam Wafa, gugup.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Kamu dari mana saja? Pulang jam segini, apakah baik jika anak gadis jam segini pulang?"
Meski Sari selalu berbicara dengan nada lembut, tapi pagi itu terdengar begitu tegas karena Wafa memang melakukan kesalahan. Pergi semalam tidak pamit dan pulang pagi. Hal itu adalah contoh buruk bagi seorang gadis desa seperti Wafa. Apalagi, Wafa banyak sekali yang menjadikan dirinya motivasi.
"Wafa, jawab mbak, dong!" tegas Sari.
"Nginep di yayasan, Mbak," jawab Wafa menundukkan kepalanya.
"Sebelum itu, kamu kemana?" Sari seolah tahu apa saja yang dilakukan adiknya itu.
"Wafa, Wa-Wafa hanya …."
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Kyai.
"Abi belum tahu hal ini. Cepat masuk, dan jelaskan kepada mbak nanti setelah kamu beres kuliah. Jangan kabur, paham?" tegas Sari.
Wafa hanya mengangguk pelan.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Abi sudah pulang?" sambut Sari, langsung berubah 180 derajat wajahnya kala menyambut kedatangan Kyai.
Meski Sari selalu tegas dengan Wafa, tetap saja Sari sangat menyayangi Wafa dengan tulus. Bahkan Sari tidak pernah merasa iri hati kepada Wafa sedikitpun. Ya, bagaimana mau iri jika Kyai saja selalu mau nomor satukan Sari sebelum Wafa.
__ADS_1
Sejak kecil, Wafa selalu mengalah dengan apa yang Kyai berikan kepadanya. Bukan masalah adil dan tidak adil. Hanya saja, memang Sari selalu diperhatikan secara khusus. Tubuhnya yang lemah memang harus dijaga. Berbeda dengan Wafa. Fisiknya begitu kuat sampai dirinya jarang sekali sakit.
Dulunya, Wafa adalah seorang gadis yang aktif. Hanya saja, setelah menjadi seorang remaja, Sari selalu menuntut jika adiknya itu harus bersikap lebih santun lagi. Supaya mencerminkan bahwa dirinya adalah seorang anak Kyai. Sari sendiri sebenarnya juga memiliki sikap yang konyol juga. Tapi, karena harus dituntut anggun sebagai putri seorang priyayi, jadi dia harus bersikap lemah lembut di depan siapapun.
"Mbak Sari tahu aku pergi. Tapi kenapa dia selalu saja menyembunyikan kesalahan yang aku lakukan? Cara Mbak Sari melindungiku ini tidaklah baik," batin Wafa.
"Hm, biarkan saja lah. Pagi ini aku harus segera sampai kampus. Kalau tidak terburu-buru, aku ingin sekali mengapa Ustadz Zamil. Sayangnya, aku harus segera berangkat," celetuk Wafa, sibuk membenarkan jilbabnya.
Wafa mengagumi ustadz Zamil sejak dirinya masih menjadi muridnya. Ustadz Zamil ini usianya hampir kepala tiga juga. Beliau sudah nyantri sejak usianya 10 tahun di pesantren tersebut. Tubuhnya yang gagah dan juga ilmu agamanya yang bagus membuat Wafa mengaguminya.
"Wafa, kamu sudah mau berangkat?" tanya Kyai duduk tenang di ruang tengah.
"Abi sudah kembali dari masjid? Hehe, pagi ini Wafa ada kuliah pagi. Jadi harus cepat-cepat sampai kampus. Sarapan pagi ini bapak nggak bisa menemani Abi. Jadi, Abi sarapannya dengan Mbak Sari saja ya …" ucap Wafa manis.
"Mbak Sari juga sudah mau kembali ke luar negeri, 'kan? Jadi Wafa tidak ingin mengganggu kebersamaan kalian. Assallamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamit Wafa dengan mencium tangan Kyai dan Sari.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh."
"Abi, bukankah selama ini Abi itu terlalu perhatian dengan Sari. Wafa juga anak Abi, 'kan? Kenapa Abi selalu tegas kepadanya, tapi tidak dengan Sari?" tanya Sari dengan lembut.
"MasyaAllah, Nduk. Abi juga menyayangi adikmu. Tapi sikap adikmu ini selalu saja membuat Abi sedikit kesal. Jadi harus tegas dengannya," ucap Kyai.
"Tapi kan Abi sudah mempasrahkan Wafa kepada Sari untuk mendisiplinkannya. Kenapa Abi masih saja memarahi Wafa setiap saat? Bukankah itu sama saja Abi tidak mempercayai Sari?" lanjut Sari.
Apa yang dikatakan Sari memang ada benarnya. Kyai sudah menyerahkan tanggung jawab Wafa kepada Sari untuk disiplinkan. Tapi Kyai masih saja ikut campur jika Wafa melakukan kesalahan selalu ikut menghukum. Sari hanya takut Wafa memiliki dendam kepada Kyai meski hal itu tidak mungkin. Tapi Sari memang merasa jika Kyai terlalu memanjakan dirinya tapi tidak dengan Wafa.
"Abi ini paham agama. Tapi masih saja selalu memperlakukan Putrinya dengan cara tidak adil. Aku tidak pernah dimarahi, tapi Wafa … bahkan dia selalu dipaksa untuk menjadi sempurna seperti almarhumah Umi," batin Sari.
Ketika di depan gerbang pesantren, tak sengaja Wafa menabrak bahu Ustadz Zamil. Saat itu dirinya sedang asyik mengotak-atik ponselnya karena baterainya hampir habis.
"Haduh, malah lupa cas ini. Bagaimana jika Inneke menelponku?" gumam Wafa.
__ADS_1
BRUK!
Suara beberapa buku yang Ustadz Zamil bawa terjatuh.
"Yah, hp jatuh. Retak dah ini layar," Wafa mengusap-usap ponselnya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Ustadz Zamil.
Mendengar suara yang tak asing baginya itu membuat Wafa langsung gugup. Wafa menatap Ustadz Zamil yang saat itu masih melihat dirinya.
"Wa-wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, U-Ustadz ngapain di depan gerbang?" tanya Wafa.
Ustadz Zamil tersenyum. Tanpa menjawab beliau jongkok dan memungut buku-buku yang jatuh. "Hm, sepertinya kamu terlalu asik bermain ponsel. Sampai-sampai ada saya sebesar ini bisa kamu tabrak," ucapnya.
"Maaf, karena saya terburu-buru, Ustadz. Ada kelas pagi, jadi harus segera pergi. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, maaf tidak bisa membantu!"
Sebenarnya masih ada waktu bagi Bapak membantu Ustadz Zamil. Tapi karena gugup dan deg-degan jadinya Wafa tidak bisa membantu Ustadz Zamil. Dia memilih pergi tanpa menatap mata pria yang ia kagumi itu.
"Dia sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Tapi sayang tidak bisa dimiliki karena dia adalah anak dari guruku sendiri," batin Ustadz Zamil.
"Assalamu'alaikum, Ustadz. Kenapa berantakan seperti ini, biarkan saya membantu," ucap Sari tiba-tiba datang.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Dek Sari, kapan kamu pulang?"
"Alhamdulillah kemarin. Tapi akan berangkat lagi tidak lama ini," jawab Sari.
"Oh, bagaimana kabar kamu?"
"Alhamdulillah baik, Ustadz. Ustadz sendiri bagaimana?"
Mereka berdua mengobrol sambil merapikan buku-buku yang dijatuhkan oleh Ustadz Zamil. Tidak sengaja Ibu dari Ustadz Zamil itu lewat sehabis membeli sayuran. Melihat putranya akrab dengan Sari, putri kebanggaan Kyai, membuat Ibu Ustadz Zamil tertarik untuk menyaksikan Sari sebagai menantunya.
__ADS_1
Beliau menganggap bahwa Sari sangat cocok untuk menjadi pendamping putranya. Padahal Ustadz Zamil ternyata juga menyimpan perasaan terhadap Wafa. Wafa akan jadi sad girl sebelum memulai perjalanan cintanya.