Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Ceting Berkat Inneke


__ADS_3

'Kenapa hatiku sakit, ya? Rasanya tidak enak seprti ini.' batin Wafa. 'Astaghfirullah, jangan seperti ini. Kontrak, ada kontrak diantara kalian. Tolong jangan menggunakan hatimu, Wafa?'


Perasaan yang aneh kembali menyerang. Wafa mencoba untuk menenangkan diri supaya tidak larut dalam perasaan yang akan membuatnya terluka suatu saat nanti. Sementara Bian masih fokus menyetir karena memang tak ada lagi yang harus dibahas.


Di sisi lain, Inneke dan Zaka Yang baru saja membeli dari luar. Mereka berdua juga baru saja selesai belanja sedikit karena tahu Wafa akan pulang bersama dengan Wafa membawa makanan.


"Wanita ternyata dimana-mana sama saja. Belanja pun kebanyakan keperluan diri sendiri, bahkan kamu membeli baju banyak sekali. Ingat, kamu hanya akan berada disini 3 hari saja dan ini saja sudah berkurang satu hari!" Zaka Yang sampai menggelengkan kepala, heran saja dengan tingkah Inneke.


"Biarlah, suka hati aku lah! Apa urusanmu?" ketus Inneke.


Helaan nafas kasar terdengar, Zaka Yang tak habis pikir saja.


"Kamu ini kenapa? Apa salahnya jika aku membeli banyak pakaian?" hardik Inneke.


"Kamu tidak mengatakan padaku, jika di sini sedang cuacanya seperti ini? Semua pakaian yang kubawa, hanya cocok di musim panas saja, jomblo berkaratan, ceting berkat!" kesalnya.


"Tiada waktu tanpa perdebatan jika bersamanya. Menghadapinya lebih sulit dibandingkan dengan menangani masalah perusahaan," umpat Zaka Yang lirih.


"Kenapa kau bergeming seperti itu? Tak terima dengan pernyataanku? Dasar pria!" ketus Inneke.


Ting~ Tong~


Bel berbunyi, Inneke meminta Zaka Yang untuk membukakan pintunya. Sedikit tidak terima karena terus diperintah oleh gadis kecil, tapi tetap saja dilakukan meski dengan keterpaksaan.


"Sial, aku benar-benar sudah menjadi pengawal pribadinya saja. Kenapa juga aku menerimanya?" gumam Zaka Yang.


Klek!


Ternyata yang datang adalah malaikat kecil Bian dan Wafa. Gadis itu berubah senyum lebarnya ketika yang membuka pintu adalah Zaka Yang.


"Nona muda, se—" baru saja Zaka Yang menyapanya, Grietta langsung menerobos masuk.


Gadis kecil itu mencari Wafa tentunya. Sayangnya memang Wafa belum pulang. Dia hanya melihat Inneke yang duduk di sofa dengan raut wajahnya yang ditekuk. Grietta pun menghampirinya. Gadis itu menepuk lembut pundak Inneke.


Tuk tuk ...

__ADS_1


"(Apa yang terjadi?)" seolah Grietta menanyakan itu pada Inneke.


"Eh, kamu sudah kembali lagi? Kemarilah peluk lah diriku yang sedang rapuh ini," Inneke merentangkan tangannya, dan Grietta pun memeluknya.


Masih heran saja Inneke pada gadis cilik itu tentang dirinya yang menyembunyikan kebenaran tentang kenyataan jika dia sudah bicara. Namun apa boleh buat, Inneke hanya menjadi pendamping Wafa saja di sana. Tak ingin dia sampai mencampuri urusan orang lain dan lebih memilih mencari kenyamanan diri sendiri saja.


"Kamu cantik sekali hari ini. Lihat garis senyum yang ada di bibirmu ini, apa kamu bahagia bertemu dengan sanak keluargamu disini?" Inneke salah menebak.


Grietta langsung melepaskan pelukannya tangan Inneke yang merangkul di pinggang kecilnya itu.


"Eh, ada apa? Apakah aku membicarakan kesalahan? Mengapa raut wajahmu langsung sedih seperti itu?" Inneke menyentuh dagu Grietta.


"(Dimana Mama Wafa?)" Grietta mengedipkan mata, mengangkat kedua bahunya dan juga tangannya. Jadi telapak tangannya keatas kan, matanya menoleh kesana-kemari.


"Kau cari siapa?" tanya Inneke masih belum peka.


"(Mama Wafa!)" Grietta menyentuh kepalanya, seolah dia sedang menunjukkan jika dirinya mengenakan jilbab.


Inneke semakin tidak mengerti karena pada saat itu, Grietta malah tersenyum, kemudian lepas lagi senyumnya, tersenyum lagi dan lepas lagi. Wanita calon hakim ini menyipitkan matanya yang sudah sipit.


Assalamualaikum~


Suara dan merdu itu terdengar begitu menyejukkan hati gadis kecil dan juga gadis calon hakim yang saat itu masih duduk berdua di sofa.


"Noh, lihat Mamamu dah balik. Kau tanya saja padanya apa yang mau kau tanyakan tadi, oke?" tunjuk Inneke.


Grietta yang terlanjur bete memasang wajah sinis pada Inneke. 'Tante Inneke sangat bodoh!' batinnya kesal.


Malaikat kecil pembawa kebahagiaan Wafa itu langsung memeluk tubuh Mama angkatnya. Pelukan dengan bumbu kerinduan itu membuat suasana menjadi hangat.


"Apa kabar cantik?" tanya Wafa, begitu melepaskan pelukan Grietta dan membelai wajahnya.


Grietta tersenyum, mengangguk semangat.


Senyum Wafa langsung pudar. 'Lagi-lagi dia masih menyembunyikan kebenaran tentang dirinya yang sudah bisa bicara. Akan lebih baik jika aku nanti memberinya nasihatnya,' gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"Grietta, sapa dulu Papamu, Nak," pinta Wafa.


Baik Grietta maupun Bian hanya diam tanpa saling menatap. Bian pergi melewati dua gadisnya sambil menyentuh kepala Grietta. Sementara Grietta sendiri menunduk sedih, merasa jika ayahnya benar-benar tidak menyayanginya.


"Mas Bian, istirahat dulu. Saya akan menguatkan anda secangkir teh," dalam keheningan, Wafa mengatakan itu.


Mendengar Wafa memanggil Bian dengan sebutan Mas, tentu saja membuat sang sahabat dan asisten pribadinya Bian yang masih ada di sana melongo dan menatapnya. Pengasuh Grietta mana tahu, jadi dia hanya diam saja.


"Kenapa?" tanya Wafa, begitu melihat respon dari kedua orang itu padanya.


"Woah, Daebak! Kamu memanggilnya dengan sebutan Mas, sedang dengan Ustadz Lana—aku tidak bisa berkata apa-apa kali ini," kata Inneke, masih menganga mulutnya.


"Kamu juga kenapa menatapku seperti itu, Tuan Zaka?" Wafa semakin tidak nyaman dengan tatapan asisten pribadi Bian itu.


"Um ... sa-saya ...."


"Duduklah bersamaku!" perintah Bian, menghentikan Zaka Yang menghentikan ucapannya kala hendak memberikan penjelasan pada Wafa.


Merasa bahagia karena Wafa telah memanggilnya dengan sebutan itu di depan orang lain, Bian menjadi senyum-senyum sendiri, bahkan ia sampai menggigit bibir bawahnya dan kembali berusaha menyembunyikan kepuasan hatinya. Sementara Wafa mengajak Grietta, pengasuhnya dan Inneke membantu mengeluarkan semua barang-barang yang telah ia beli bersama Bian.


"Tuan, apakah anda—" lagi-lagi setiap perkataan pria yang berprofesi sebagai asisten pribadi ini terhenti karena Tuannya.


"Hei, setelah kita pulang ke Indonesia nanti, tambahkan saldo yang ditransfer ke yayasan milik Wafa, oke?" perintahnya.


Tanpa bertanya apa alasan Bian menambah saldo yang ditransfer ke rekening yayasan milik Wafa, pria itu langsung menyanggupi perintah dari Tuannya.


"Ah, iya. Lihatlah, aku menambahkan bonus juga di saldomu. Terima kasih karena kau telah mengajak sahabatnya Wafa jalan-jalan, sehingga dia tidak mengganggu Wafa," imbuh Bian.


Zaka Yang langsung cek notifikasi dari rekening banknya. Terkejut karen Bian memberikan bonus sebesar gajinya saat itu.


'Ya Tuhan, Tuan sedang bahagia, aku tidak boleh membuat suasana hatinya buruk. Ini sangat menguntungkan selama aku kerja bersamanya bertahun-tahun lamanya,' batin Zaka Yang.


'Hmm, kira-kira apa ya, jangan buat Tuan begitu bahagia hari ini? Semoga saja awet sampai kembali lagi nanti ke Indonesia,' seorang Zaka Yang saja sampai sebahagia itu melihat Tuannya tersenyum-senyum terus di sisinya.


Ketika sedang di suasana bahagia, terdengar suara benda yang pecah dari dapur.

__ADS_1


Tarrr!!!


__ADS_2