Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Berpasrah


__ADS_3

Begitu Inneke menutup pintu, Wafa langsung memeluknya dan menangis di bahunya. Gadis itu menangis sesenggukan di bahu sahabatnya. Sudah seperti biasanya memang keduanya melakukan itu ketika masing-masing memiliki masalah pribadi. Tak ada rahasia diantara mereka berdua.


Setelah beberapa menit, barulah Wafa melepas pelukannya.


"Sudah?" tanya Inneke.


Wafa mengangguk, menyeka air matanya.


"Katakan padaku, apa kau ingin cerita sekarang?" tanya Inneke lagi.


Wafa menggelengkan kepala. "Aku belum bisa cerita detail. Tapi, Ke—sepertinya aku sudah menyerah tentang kontrak yang aku tanda tangan yang bersama dengan Pak Bian," ungkapnya.


"Maksudnya?" tanya Inneke.


Ingin mengatakan pada sahabatnya saja begitu sulit bagi Wafa.


"Pak Bian sudah tahu kalau Grietta sudah bisa bicara. Bahkan mental Grietta juga perlahan sudah terbentuk. Semuanya berjalan dengan baik, Ke," ungkap Wafa, dengan tatapan ke depan.


"Lalu, apa masalahnya? Bukankah itu baik?" tanya Inneke masih bingung.


Putri seorang kyai itu menunduk, menjadikan sahabatnya semakin bingung karenanya. "Fa, ada apa?" Inneke menyentuh bahunya.


"Aku tidak tahu kenapa aku merasa sedih. Seharusnya aku bahagia karena aku menyelesaikan pekerjaanku dengan baik. Tapi aku takut, Aku tidak akan bertemu lagi denganmu Grietta," jawab Wafa lirih.


Dari ucapan Wafa, Inneke sudah langsung tahu maksudnya. Diantara calon hakim dan pengacara itu memandang wajah sahabatnya. 'Aku tahu perasaanmu, Wafa. Kamu jatuh cinta dengan Pak Bian. Kamu bukan takut kehilangan Grietta, tapi kamu takut berpisah dengan Bian saja.' batinnya.


***


Acara malam telah tiba. Setelah shalat isya', Wafa sudah duduk menunggu kedatangan gaun yang sudah dipesan siang hari tadi. Gadis ini terus duduk dengan tidak tenang.


"Heh, kenapa belum bersiap? Acaranya kita setengah jam lagi dimulai, kenapa masih bengong saja di sini?" tegur Inneke, melihat sahabatnya tengah kebingungan.


"Sebaiknya kamu duluan saja. Apakah kamu juga sudah mempersiapkan semuanya?" karena gugup, Wafa malah mengembalikan pertanyaan dari Inneke.


Alis tebal Inneke langsung naik ke atas, persis seperti bulan sabit. "Eh, tuan putri! Kamu sepertinya—ah, sudahlah. Aku akan merias wajahku dulu, bye!" belum sempat bicara, Inneke malah sudah kesal lebih dulu.


Ting~ Tong~


Suara bel membuat keduanya terkejut.


"Siapa yang datang di jam segini? Dia apa tidak tahu jika putri raja sepertiku hendak bersiap diri?" Inneke bergumam.

__ADS_1


Plak!


Satu pukulan kecil dari Wafa pada Inneke.


"Heh, kenapa? Tak terima?" cetus Inneke. "Aku ini memang seorang putri raja—dalam mimpiku," imbuhnya lirih.


"Terserah padamu sajalah. Asalkan kamu bahagia, aku juga akan bahagia. Hmm, aku akan membuka pintunya dulu," sahut Wafa beranjak dari sofa.


Sebelum membuka pintu, Wafa melihat siapa dulu yang berkunjung melalu layar kecil yang ada sebelah pintu.


"Halo, dengan siapa dan mau bertemu dengan siapa?" tanya Wafa, menggunakan bahasa Inggris.


Saat itu orang datang ada sekitar delapan orang. Tiga orang berdiri di depan, masing-masing membawa barang dengan dibungkus wadah berwarna hitam.


"Saya asisten Tuan Edrick, saya datang membawa gaun yang sudah dipesan oleh Tuan muda Huang," ucap seorang wanita dengan rambut yang disanggul ke atas.


"Kalau saya dari jewelry Jasmine shop Nona A-Wei. Nona muda Huang, kami datang sesuai dengan tugas yang sudah diberikan pada kami dari Nona A-Wei," sahut perempuan dengan rambut lurus sebahu.


"Perkenalkan nama saya Yun, saya adalah MUA yang Tuan muda Huang percayakan untuk merias wajah dari Nona muda Huang," timpal wanita yang berdiri paling ujung.


Menanggapi ketiga wanita itu, Wafa dan Inneke sampai terdiam.


"Wah, hebat sekali Pak Bian ini. Dia sungguh luar biasa, Wafa, luar biasa!" Inneke sampai menepuk-nepuk punggung Wafa.


"Oh, astaga. Ya Tuhan lihatlah ciptaan-Mu ini. Dia begitu plin-plan. Tadi saja manggilnya udah Mas, Mes, Mas, Mes romantis sekali. Sekarang?" Inneke heran sendiri dengan Wafa. "Buka dulu, kamu buka dulu saja pintunya, Wafa!"


Menjadi Inneke memang tidak mudah. Ketidakjelasan Wafa membuat gadis itu pusing sendiri.


Begitu pintu dibuka, kedelapan wanita itu langsung masuk. Mereka tak memberi waktu Wafa bicara, langsung ingin segera menyiapkan Wafa secepat mungkin sebelum Bian datang.


"Eh, ada apa ini? Kalian mau membawaku kemana?" Wafa terkejut ketika dua wanita dari belakang perias menarik kedua lengannya.


"Nona, tunjukkan dimana kamar anda?" tanyanya.


"Untuk apa?" tanya Wafa masih bingung.


"Jawab saja, Nona. Kami sudah tidak memiliki banyak waktu lagi. Jika Tuan muda Huang sampai datang kesini dan melihat anda belum siap, maka nyawa kami yang menjadi taruhannya," ucap asisten pribadi Edrick.


Mendengar itu, Inneke langsung menyentuh lehernya. Tidak ingin sampai terkena masalah, Inneke langsung menunjukkan dimana kamar Wafa berada.


"Hish, pengkhianat!" desis Wafa, lirih.

__ADS_1


"Bodo amat! Aku tidak urusan!" balas Inneke, seakan-akan mereka sedang teriak.


'Astaghfirullah hal'adzim. Apa-apaan semua ini?' batin Wafa.


Anak tunggal dari kyai ternama ini hanya bisa pasrah dalam keadaan. Mereka semua bekerja dengan cepat dan melakukan pekerjaannya dengan baik.


"Wah, kulit Nona ini sangat sehat. Make up yang saya bawa langsung bisa nge-set seluruh wajah anda, Nona!" seru perias terkenal itu.


"Hmm, biasa saja. Mungkin karena saya jarang dandan saja jadi ... ya seperti ini," sahut Wafa. 'Ya Allah, aku pickme tidak, sih? Astaghfirullah hal'adzim, maafkan hambamu ini jika ucapanku salah ....' ucapnya dalam hati.


"Tuan muda Huang dan Nona sama-sama beruntung menjadi pasangan. Alat make up ini semuanya baru, beliau telah menghabiskan banyak uang untuk membeli satu set make up seperti ini," ungkap perias wajah.


"Tak hanya make up anda saja, Nona. Bahkan gaun yang Tuan muda Huang beli untuk Nona muda Huang juga sangat indah, tentunya harga pun ikut indah," celetuk asisten Edrick.


"Perhiasan ini juga sangat indah. Cocok sekali dengan gaun serta bentuk wajah Nona muda Huang. Sangat cantik!" pegawai jewelry Jasmine shop saja juga tidak mau kalah memuji kecantikan Wafa.


Tak bisa membalas apa yang mereka katakan, Wafa hanya tersenyum meski terpaksa. Demikian dengan senyum tipis yang bisa membuat semua orang yang sedang melayaninya merasa puas.


'Ini sejak kapan aku menjadi Nona muda Huang? Jika Abi sampai tahu, habislah sudah ....' keluh Wafa dalam hati.


"Nona, silahkan anda membuka mata. Kami sudah selesai,"


Perlahan Wafa membuka matanya dan terkejut melihat dirinya sendiri. Seorang perempuan yang jarang memakai riasan, sekali berhias diri malah membuat pangling.


'MasyaAllah, tabarakallah. Apakah ini aku?' batin Wafa.


Inneke yang baru masuk saja sampai takjub melihat kecantikan Wafa mengenakan gaun tersebut. Inneke mengatakan jika Wafa adalah wanita yang beruntung, bisa mendapatkan perlakuan istimewa dari pria seperti Bian.


"Kalian semua boleh keluar dulu, jika bisa? Saya ingin bicara berdua saja dengan sahabat saya," pinta Wafa.


"Tentu saja, Nona. Privasi anda, kami tidak akan mengganggu. Kami akan menunggu anda diluar, selamat tinggal."


Delapan orang yang sebelumnya mengerubunginya sudah pergi. Wafa merasa sedikit lega dan bisa bernafas dengan tenang karena ruangan seperti banyak sekali udara segar yang masuk.


"Wah, Wafa. Kamu cantik sekali," sanjung Inneke, mengangkat kedua jempol tangannya. "Gaun sederhana, riasan natural, perhatian sederhana tapi mewah. Wah, kamu sudah sangat cocok sekali menjadi orang kaya raya, Wafa," imbuhnya, menggelengkan kepala karena heran.


"MasyaAllah, aamiin Allahumma aamiin. Aku hanya bisa mengaminkan saja, Ke. Kamu juga cantik, kok!" sahut Wafa, menyentuh bahu sahabatnya.


Tok ... tok ....


"Nona, maaf mengganggu waktu anda. Tuan muda Huang sudah datang dan menunggu anda di ruang tamu, Nona." kata asisten pribadi Edrick.

__ADS_1


Bian menjemputnya.


__ADS_2