
Lagi-lagi kekesalan Inneke membuat Zaka Yang pasrah. Dengan tenang dan lembut, pria yang berprofesi sebagai asisten pribadi ini mempertanyakan posisi Inneke saat itu. Tentu saja Inneke menjelaskan jika dirinya sedang menjalani perawatan rutinnya di sebuah salon ternama di Kota itu.
"Baiklah, kamu naik apa kesana?" tanya Zaka Yang masih dengan kesabarannya.
'Mobil,' jawab Inneke dengan santai.
"Mobil? Mobil darimana? Hmm, jika kamu sudah mengendarai mobil sendiri, mengapa masih memintaku untuk menjemputmu, wahai tuan putri?" lanjut Zaka Yang, menahan diri.
'Mobil yang aku sewa tiba-tiba mogok. Entah kenapa mati begitu saja ketika aku terburu-buru ingin pulang melihat keadaan sahabatku—Wafa tercinta.'
Inneke beralasan karena mobilnya sedang di bengkel dan jika memesan taksi akan lama jadi dia meminta bantuan Zaka Yang mengantarkannya. "Sungguh merepotkan—" desis Zaka Yang, menahan amarah.
Pria ini padahal sangat lelah karena pekerjaannya bertambah terus ketika Bian mulai meradang dengan kisah cintanya. Tak ingin mendengar suara Inneke yang terus mengganggunya, Zaka Yang pun menyetujui untuk menjemput Inneke saat itu.
"Posisimu ada di mana?" tanya Zaka Yang. "Aku akan berpamitan dulu dengan klien, setelah itu aku akan menjemputmu. Kirim saja alamat dimana posisimu berada."
Tuut... tuut ....
Telepon terputus. Zaka Yang sengaja memutus telepon karena tak ingin lagi berdebat. Segera pria ini menemui klien dan meminta maaf karena harus pamit terlebih dahulu.
"Tuan, mengapa terlalu terburu-buru. Apakah Tuan muda Huang yang memintamu?" tanya klien.
"Bukan. Tapi ini menyangkut hidup dan mati saya sendiri. Ini hanyalah masalah pribadi, Tuan. Sangat penting dan saya—" ucapan Zaka Yang terhenti, tidak mungkin baginya mengungkapkan jika di kepalanya saat ini hanya ada nama Inneke saja.
"Ah, Tuan. Sudahlah, saya hanya menggoda anda saja. Silahkan jika anda mau pergi terlebih dahulu. Saya juga akan pergi karena masih ada urusan."
Keduanya saling berjabat tangan, lalu keluar bersamaan dari cafe itu. Segera Zaka Yang memacu mobilnya dan menuju ke alamat yang sudah Inneke kirimkan padanya.
"Wanita ini benar-benar membuat kepalaku hampir meledak saja. Lalu, bisa-bisanya aku juga kalah padanya,"
"Nasib sial apa yang aku miliki ini. Huft, kenapa aku selalu mematuhi ucapannya. Jelas sekali kalau aku juga tidak suka bertemu dengannya lama-lama."
Selama di perjalanan, Zaka Yang terus saja mengumpat tentang Inneke. Padahal jika Zaka Yang terus saja menyebut nama wanita itu, malah akan membuat perasaannya semakin besar kepadanya, seperti nama keramat dalam hidupnya saat ini.
__ADS_1
Drrttt ....
Drrttt ....
Ponsel kembali berdering. Inneke kembali menelepon karena memang jarak antara cafe sampai salon dimana dia menjalani perawatan cukup jauh. Jadi membutuhkan waktu sekitar 45 menit supaya sampai ke sana.
"Lihat wanita menyebalkan ini. Dia menelepon lagi, sedangkan aku juga sudah ada di belakangnya. Sungguh merepotkan!"
"Wanita gila, wanita bodoh, konyol, menyebalkan!" umpat Zaka Yang.
Zaka Yang menjawab telepon dari Inneke.
'Kau sampai dimana, woy! Apakah jarak dari kantor sampai ke salon ini sangat jauh seperti kutub utara dan juga kutub Selatan?' kesal Inneke.
"Hei, tak bisakah kau berhenti mengomel dan melihat bahwa aku sudah ada di belakangmu?" sahut Zaka Yang ketus.
Inneke menoleh. Alih-alih seperti drama Korea atau Bollywood yang ketika sang kekasih datang kemudian menoleh dengan iringan musik yang romantis, yang ini malah dramatis karena tatapan Inneke sudah menunjukkan jika dirinya sudah siap berdebat.
'Haih, lihatlah dia. Aku rasa wanita ini sudah siap ingin melahapku. Wajahnya yang seperti hantu mengerikan ini membuatku merinding saja!' gumam Zaka Yang dalam hati.
Sebelum sampai di apartemen milik Bian yang baru saja dihuni, antara Inneke dan juga Zaka Yang masih saja berdebat dari lobby sampai ke lift yang membawa mereka ke lantai atas. Inneke terus saja mengomel tiada henti.
"Seharusnya begitu kamu mendengar kabar jika Wafa tak sadarkan diri, kamu langsung telepon dan menjemputku. Untuk apa harus menunggu lama mengantarku ke sini?" protes Inneke.
"Apa kamu memang sengaja ingin membuat Tuan Bian-mu itu menghabiskan waktu berduaan saja dengan Wafa? Sengaja, hah!" Inneke mulai berpikiran buruk.
"Tunggu, jangan-jangan ... Wafa tidak sadarkan diri karena di paksa oleh Tuan Bian, Tuan Ji Xie-mu itu? Oh, astaga, asisten Zaka Yang!"
"Woy, setidaknya jawab salah satu dari pertanyaanku!"
Di saat Inneke terus mengomel dengan membicarakan keburukan tentang Bian yang belum tentu benar, Zaka Yang hanya diam saja karena sudah lelah berdebat dengannya. Tatapan Zaka Yang hanya lurus ke depan, seolah sedang sendirian saja.
'Berani dia mengabaikan aku? Aku akan membuat perhitungan dengannya,' batin Inneke.
__ADS_1
Keluarlah mereka dari lift dan tiba di lantai apartemen Bian hang baru. Ketika Zaka Yang membuka pintu, memang dia tahu pin pintu apartemen Bian, Inneke tiba-tiba menarik bahu Zaka Yang dan menggigit telinganya.
"Aw, kau berani menggigitku?" Zaka Yang tersentak dengan apa yang dilakukan gadis itu padanya.
Inneke malah menyulut, "Itu hukumanmu karena sudah mengabaikan aku. Huft, pria menyebalkan!"
Perdebatan di mulai. Zaka Yang yang tidak terima digigit telinganya protes dan menggigit tangan Inneke sebagai gantinya.
"Sakit, jomblo berkarat!" Inneke menepis.
Bekas gigitan Zaka Yang sangat jelas sampai membuat rasa yang tidak biasa di lengan Inneke. Sementara sang asisten malah membuang muka seolah kejadian penggigitan itu tidak pernah terjadi.
"Kau, benar-benar menguji kesabaranku. Aku akan membuatmu lembek seperti bubur bayi!"
"Aku yang akan membuatmu lembek seperti bubur bayi!"
Keduanya berdebat hebat. Sampai membuat telinga Bian sakit karena suara mereka juga tidak pelan. Sang pemilik apartemen yang melihat dua orang tengah bertengkar mencoba memperingati dengan mengatakan jika Wafa sedang sakit.
"Jika kalian tidak bisa diam, maka pisau dapur ini bisa jadi melayang di bibir kalian masing-masing. Kebetulan pisaunya ada dua, kalian mau?" Bian menghentikan perdebatan Inneke dan Zaka Yang.
Tentu saja mendengar ucapan duda kaya itu, keduanya jadi diam.
"Wafa sedang sakit. Dia demam dan membutuhkan ketenangan untuk istirahat. Jika mulut kalian berdua tidak bisa diam, aku yang akan membuat kalian diam. Apa kalian bersedia?" lanjut Bian kesal.
"Tidak, tidak, Tuan. Kami akan diam dan tenang." kata Zaka Yang dan Inneke bersamaan.
"Baguslah jika kalian tahu diri. Sakna sekarang sedang membutuhkan istirahat. Jadi jaga sikap kalian, jangan sampai mengganggunya, mengerti?"
Kedua perusuh itu mengangguk paham. Inneke yang menyadari hal itu pun segera mendekat ke arah Wafa, dia memeriksa dahi sahabatnya, ternyata benar jika sahabatnya sedang demam.
"Astaga, panas sekali. Sebenarnya dia kenapa?" tanya Inneke lirih, dia begitu khawatir.
Terlihat Inneke sangat khawatir pada Wafa. "Pak Bian, apa tidak sebaiknya kita membawa Wafa ke rumah sakit? Aku khawatir padanya, bagaimana jika sakitnya serius?"
__ADS_1
"Saranmu memang bagus. Tapi membawanya ke rumah sakit, itu tidak perlu. Aku sudah memanggil dokter untuk datang ke sini," ucapnya dengan angkuh.
Tatapan Inneke langsung berubah. 'Ck, sangat jelas sekali asistennya itu juga sangat angkuh. Tuannya saja modelnya seperti ini. Huft, pria memang sulit dimengerti. Semoga kalian kalau makan mie instan, bumbunya tidak ada di dalam kemasan!' batinnya melirik ke arah Inneke dengan sinis.