Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Bertiga Seperti Keluarga


__ADS_3

'Ekspresi wajah Grietta menunjukkan bahwa dia tidak menyukai jika saat ini pergi les piano. Apakah dia merasa terpaksa melakukan semua les dan bimbingan belajar lainnya?' batin Wafa.


"Hei, kenapa murung? Memangnya Grietta tidak ingin berangkat les piano?" tanya Wafa penasaran. "Nanti kalau Papa bertanya, kakak harus jawab apa jika kamu tidak mau pergi ke tempat les?" imbuhnya.


Grietta masih menunduk. Sebenarnya Wafa jadi tidak tega jika harus memaksanya. Bagaimanapun juga, anak seusianya belum bisa jika harus dipaksa-paksa. Tapi karena Wafa juga tidak berani melanggar jadwal yang sudah menjadi rutinitas bagi Grietta, dia pun menggunakan cara lain supaya gadis kecil itu mau ke tempat lesnya.


"Hmm, bagaimana jika hari ini Grietta tetap les dulu. Terus nanti pulangnya kita bermain bersama. Bukankah Grietta akan menginap di rumah kakak?" Wafa sedang membujuk Grietta.


Awalnya Grietta tidak merespon. Tapi ketika di ulangi lagi cara Wafa membujuk, akhirnya Grietta setuju dan semangat pergi ke tempat lesnya.


"Yeay! Grietta mau, ya?" Wafa menjadi tenang. "Kalau begitu, Let's go!" serunya.


Hari itu sengaja Wafa tidak mau diantar oleh supir dari rumah Bian. Ia benar-benar mau merawat Grietta tanpa ada bantuan lain lagi dari Bian. Bahkan, sudah disiapkan pengasuh saja untuk membantu Wafa, ditolak oleh Wafa.


Ketika sedang menunggu taksi atau angkutan umum di pinggir jalan, Wafa dan Grietta dihampiri oleh Ustadz Lana yang pada saat itu baru kembali dari urusannya. Ustadz Lana menghentikan mobilnya tepat di depan mereka berdua.


"Assalamu'alaikum, kalian mau kemana?" tanya Ustadz Lana, ketika turun dari mobilnya.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, Ustadz," jawab Wafa. "Um, kami mau ke alamat ini. Grietta ada les piano hari ini." jelasnya.


Ustadz Lana melihat kearah Grietta. Pria berperawakan tenang ini menyapa Grietta dengan senyuman hangat. "Halo, kamu pasti yang namanya Grietta, ya? Kak Wafa sudah menceritakan tentang kamu," Ustadz Lana mencoba berkenalan dengan Grietta.


Saat itu, terlihat Grietta ketakutan ketika Ustadz Lana mendekatinya. Gadis kecil itu memeluk Wafa dari belakang kakinya, seolah sedang meminta perlindungan. Ustadz Lana pun menatap Wafa dan Wafa meminta pria santun itu untuk tenang.


"Sayang, kamu jangan takut. Kakak ini adalah teman Kak Wafa. Temannya Kak Wafa, bisa dong jadi temannya Grietta juga?" kelembutan Wafa ketika bicara dengan Grietta membuat Ustadz Lana semakin menyukainya.


Gadis kecil itu melihat ke arah Ustadz Lana setelah mendapat penjelasan dari Wafa. Tatapan waspada dari Grietta menurun, dia tersenyum pada Ustadz Lana dan mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Melihat respon itu, Wafa langsung terharu. Ternyata Grietta tidak lagi takut dengan orang asing.


"Ustadz," lirih Wafa, menunjuk tangan Grietta yang mengajaknya salaman.


"Oh, iya. Halo, Grietta. Panggil saja Kak Lana, kakak temannya Kak Wafa. Mohon Grietta mau juga berteman dengan Kakak, ya ...." sahut Ustadz Lana, menerima salaman dari Grietta.


Ustadz Lana dan Wafa sama-sama memiliki hati lembut ketika menghadapi seorang anak kecil. Itu sebabnya Grietta sendiri juga langsung bisa akrab dengan Ustadz Lana.


"Mama?" sebut Grietta.


Suaranya yang lirih itu terdengar merdu.


"Mama?" tanya Ustadz Lana, melihat Wafa dan masih belum paham dengan sebutan itu.


Grietta memeluk Wafa dengan erat.


Barulah Ustadz Lana paham. "Tidak masalah jika dia mau memanggil kamu dengan sebutan Mama. Bukankah kamu juga sudah memiliki banyak anak asuh, jadi seperti tidak asing juga jika ada anak kecil yang memanggilmu dengan sebutan Mama," sahutnya.


'Iya, benar. Benar adanya jika aku memiliki banyak anak asuh di yayasan. Tapi mereka semua memanggilku dengan sebutan Kakak. Hanya Grietta saja yang memanggilku dengan sebutan Mama, dan entah mengapa hatiku selalu bergetar ketika gadis kecil ini memanggilku dengan sebutan Mama.' batin Wafa.


"Um, kita bisa berangkat sekarang? Saya akan antar kalian sampai ke tempat tujuan dan pulangnya nanti saya juga akan antar kalian sampai rumah," ujar Ustadz Lana.


"Iya, Ustadz. Grietta, ayo!" Wafa menggenggam tangan kecil Grietta.


Mereka masuk ke mobil dan segera menuju tempat dimana Grietta les piano. Selama di perjalanan, tidak ada rasa sedikitpun kewaspadaan dari Grietta. Gadis kecil itu nampak nyaman duduk di samping Wafa.


***

__ADS_1


Les akan dilakukan selama satu jam. Wafa dan Ustadz Lana menunggu di ruang tunggu dengan beberapa orang tua juga di sana yang sedang menunggu putra-putrinya les musik lainnya. Ada juga yang diantar oleh pengasuh mereka.


"Wafa," panggil Ustadz Lana.


"Hm, iya?" sahut Wafa.


"Kenapa saya merasa jika Grietta terlihat tidak senang ketika masuk ke kelas tadi. Apakah ada keterpaksaan dalam les ini?" tanya Ustadz Lana.


Wafa terdiam. Ya ternyata Ustadz Lana berpikiran yang sama dengan Wafa. "Sebenarnya saya juga merasakan itu. Tapi jika saya protes ataupun bertanya kepada Papanya, bukankah itu sama saja saya ikut campur dalam urusan hubungan ayah dan anak ini?" ucapnya.


"Tapi ada baiknya juga hal ini dibicarakan kembali. Mengingat Grietta masih kecil dan belum waktunya saja menerima les-les sebanyak ini." Ustadz Lana juga tahu jadwal les Grietta setelah Wafa kasih tahu.


Wafa akan memikirkan kembali bagaimana cara bicara dengan Bian. Wafa juga belum tahu, apa alasan Bian memberikan les sebanyak itu pada gadis kecil seperti Grietta, sampai gadis kecil itu tidak memiliki waktu luang untuk bermain selayaknya anak-anak pada umumnya.


Pulang dari les piano, Wafa dan Ustadz Lana membawa Grietta ke sebuah pusat perbelanjaan yang dimana di sana ada timezone. Sengaja Wafa mengajak Gritta ke sana karena tidak ingin melihat gadis itu terus murung sejak keluar dari kelas piano.


"Sudah di tukar, kita akan main sepuasnya hari ini, ayo!" Ustadz Lana pun menjadi seperti bukan Ustadz lagi saat itu.


Ketiganya terlihat begitu bahagia bermain bersama. Menghabiskan sisa waktu hari itu di timezone dan menonton film di bioskop. Kemudian, ditutup dengan makan ice cream sesuai dengan janji Wafa.


"Ice cream coklat," ucap Grietta dengan logat Chinesenya.


Wafa dan Ustadz Lana sampai terkejut dengan ucapan Grietta. Mereka berdua sampai tidak menyangka jika Grietta akan secepat itu bisa bicara lagi.


"Kamu mau ice cream coklat? Boleh sekali, sebentar Kak Lana mau pesankan lagi untukmu, ya ...." Ustadz Lana malah seperti ayahnya yang sangat antusias sekali karena anaknya baru bisa bicara.


Ice cream coklat sudah dibelikan oleh Ustadz Lana. Tapi sesuai dengan apa yang tertulis di dalam catatannya Bian untuk putrinya, Wafa mengingatkan kepada Grietta untuk tidak makan banyak ice cream hari itu.

__ADS_1


__ADS_2