Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Mayumi Melongo


__ADS_3

Acara dimulai


Sambutan demi sambutan yang dilakukan oleh dari pihak kampus telah usai. Begitu juga materi-materi pun juga telah berlalu. Kini, Pak Kyai juga dipanggil oleh pengisi acara untuk memberikan sambutan penting setelah acara.


"Mari kita sambut seseorang yang sangat berpengaruh di kampus ini. Yakni, donatur besar kita, Kyai Muhadi dan keponakannya, Mas Reyhan, Nurul Huda!"


Semua orang bertepuk tangan menyambut Pak Kyai dan Reyhan untuk maju. Nama Muhadi yang di sebut, membuat Wafa sedikit terkejut. Sebab, nama bapaknya sendiri yang diketahui bukan Muhadi. "Eh, kenapa jadi Muhadi? Nama Abi kan ...." ucapannya terhenti saat melihat Ayahnya naik ke panggung.


"Wafa, bukankah itu Ayah kamu, ya?" bisik Ferdian.


Sementara itu, Wafa hanya diam saja memperhatikan Pak Kyai yang saat itu memberi sambutannya. Wafa larut dalam kata-kata yang indah dari Pak Kyai ketika memberi tausiyah juga. Namun, dengan santainya malah Pak Kyai menyebut nama Wafa sebagai anaknya.


"Oh ya, Putri tercinta saya juga kuliah di sini. Dia mengambil dua jurusan, yakin jurusan kedokteran tahun pertama, dan juga melanjutkan pendidikannya jurusan agama Islam. Sebentar lagi lulus S1," ungkap Pak Kyai.


"Benar begitu, Pak Kyai?" tanya MC.


"Iya, betul. Dia adalah Putri kesayangan saya. Saya selalu memanggilnya dengan nama depannya saja, Wafa," jelas pak Kyai.


"Masya Allah, Kalau boleh tahu ... Siapa nama Putrinya Pak Kyai ini?" tanya MC lagi.


"Namanya adalah Wafa Thahirah. Usianya masih 20 tahun dan masih sendiri, hehehe," sahut Pak Kyai bangga. Bagaimana tidak bangga, Wafa memang sangat berprestasi. Semua orang tahu tentang putri kedua pesantren Nurul Huda, tapi belum pernah bertemu secara langsung karena Wafa juga sukanya ngilang.


"Apa? Wafa? Wafa dia?" Mayumi langsung tanggap.

__ADS_1


"Nggak mungkin!' lanjut Mayumi tidak percaya. "Wafa di kampus ini pasti banyak," imbuhnya.


"Tapi, Yang. Bukankah nama Wafa Thahirah itu cuma ada saya, ya? Ya—hanya Wafa itu," bahkan Dani saja sampai menunjuk Wafa.


Seketika, wajah Wafa menjadi tanpa ekspresi. Dia masih kesal karena ayahnya malah menyebut namanya dengan jelas. Bahkan, Pak Kyai juga meminta Wafa maju ke depan juga. Hal itu akan membuat dirinya terlihat dan akan sulit untuk menghindari perhatian pada mahasiswa yang menatapnya.


Langkah kaki Wafa menuju depan panggung seakan sangat berat sekali melangkah. Terlihat Reyhan hanya tersenyum menahan tawa karena Pak Kyai memanggilnya. Kakak sepupu yang satu ini memang sangat suka sekali menertawakan Wafa.


"Itu kan yang di kabarkan dekat sama senior Ferdian? Wah duduknya saja berdampingan tadi. Beruntung banget mereka, pasangan yang serasi kalau menikah," bisik salah satu mahasiswi di sana.


"Haduh, menikah dari mana? Yang aku ketahui tentang pesantren, mereka ini menikah dengan adanya perjodohan. Pasti Wafa ini juga sudah dijodohkan," bisik yang lainnya.


Suasana menjadi hening. Beberapa mahasiswa juga terlihat sedang berbisik-bisik. Hal itu membuat Wafa kesal kepada Reyhan karena tidak bisa membuat ayahnya untuk tidak melibatkan dirinya. Sedangkan Reyhan sangat tahu sekali, bahwa Wafa tidak mau ada yang tahu jika dirinya adalah anak dari seorang Kyai.


"Iya, orang tuanya pemilik pesantren yang ada di pertigaan jalan itu. Yang halamannya sangat luas sekali. Bahkan, mobil saja memiliki banyak model dan semuanya keluaran terbaru," ungkap Ferdian.


"Lalu, dia bagaikan anak tunggal karena Kakak perempuannya sudah menikah. Yang saat ini duduk dengan Pak Kyai Muhadi, dia adalah Kakak sepupunya. Dia sangat tegas dan juga lugas. Dia adalah orang yang Mayumi pikir adalah pacarnya Wafa yang miskin itu," imbuh Ferdian dengan menceritakan semuanya tentang Wafa.


"Lu tahu dari mana semua itu, Kak Ferdi?" tanya Mayumi, mulai gugup tapi tetap berusaha tenang supaya tidak merasa bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja ketika mendengar bahwa Wafa adalah seorang putri dari pesantren. Apalagi pesantren ini sangat terkenal.


"Hari pertama ospek, gue mengantar dia pulang. Sebenarnya gue hanya mengantar sampai jalan raya sana. Gue penasaran saja dimana rumah dia karena waktu itu dia turun di tengah-tengah jalan," sahut Ferdian.


Laki-laki berusia 27 tahun ini menceritakan pengalaman dirinya masuk ke pesantren tersebut. Meski di luar terlihat sangat sederhana rumahnya, tapi di dalam furniturenya terlihat begitu wah dan mahal. Pesantren yang dimiliki oleh Pak Kyai memang bukan pesantren negeri atau yang besar-besar pada umumnya. Tapi memang pesantren itu sangat terkenal.

__ADS_1


"Lah, terus kenapa kamu diam saja, Kak Ferdi. Kenapa kamu diam saja ketika kita—" Mayumi menghela nafas panjang.


"Hash, nggak seru saja kalau lu tahu kebenarannya. Sudahlah, lagipula juga sudah terbongkar. Lebih baik lu cari informasi sendiri saja," ketus Ferdian, memalingkan wajahnya.


"Jijik banget sih. Jangan-jangan lu naksir lagi sama tuh cewek. Apa sih, yang lu lihat dari si Wafa ini?" Mayumi mulai kesal.


"Kalau gue memang suka sama dia, memangnya kenapa? Masalah buat lu?" Ferdian hanya mengimbangi gaya bicaranya Mayumi saja.


"Sakit lu! Gue sama elu!" Setelah mengucapkan kebenciannya kepada Ferdian, Mayumi pergi bersama dengan Lalita meninggalkan acara.


Setelah menghadapi kekanak-kanakannya Mayumi, Ferdian harus menanggapi Dani yang juga menyukai Wafa. Dani terus menatapnya dengan tatapan sinis. Bagaimana tidak, perjanjian mereka untuk merebutkan hati Wafa juga masih berjalan. Tapi Dani malah menyadari jika Ferdian telah tahu segalanya tentang Wafa.


"Lu tau semuanya, tapi lu masih terima tantangan dari gue? Apa lu nggak ngerti dengan sistem pesantren yang menikahkan anak-anaknya menggunakan metode perjodohan?" tanya Dani.


"Gue tau—" jawab Ferdian singkat.


"Kalau lu tahu, kenapa lu nggak batalin saja kesepakatan kita waktu itu? Kalau gue akan mundur saja, Wafa tidak mungkin gue gapai. Lu ambil saja dia, gue udah nggak tertarik lagi." Dani merasa kecewa.


Ferdian juga mengatakan jika dirinya tidak mungkin mengejar cinta Wafa. Dia masih teringat dengan seorang pria yang bersama dengan Wafa ketika di restoran kemarin. Ferdian ini sangat yakin bahwa pria yang saat itu bersama dengan Wafa bukanlah anggota keluarga dari pesantrennya Wafa. Malahan, Ferdian menyangka jika pria itu adalah calon suaminya Wafa atau orang yang sudah dijodohkan dengannya.


"Sebenarnya gue mau mundur. Entah kenapa gua merasa jika gue juga nggak bisa ngegapai cintanya Wafa. Apalagi dia kemarin jalan sama orang yang benar-benar seperti orang yang tahu agama," ungkap Ferdian.


"Tapi setelah dipikir-pikir, tidak ada salahnya jika gue tetap maju. Terserah mau hasilnya bagaimana, gue akan terima dengan lapang dada jika kalah. Selagi janur kuning belum melengkung dan belum ada kata sah, maka Wafa masih bisa diperjuangkan." sambung Ferdian, sambil menatap Wafa dengan bangga.

__ADS_1


Rasa suka Ferdian terhadap Wafa sudah naik ke tingkat perasaan cinta. Namun, Ferdian juga tidak mau memaksa. Pria berusia 27 tahun ini hanya ikut alur yang Tuhan berikan kepadanya.


__ADS_2