
"Mbak mau nanya hal lain, kok,"
"Nanya apa?"
"Kamu kenal Pak Bian Hutomo itu, darimana?" tanya Sari.
Tiba-tiba tangan Wafa terhenti saat membasuh piring. Wafa tidak mau menjawab juga. Jadinya, dia tidak menyelesaikan pekerjaannya dan langsung masuk ke kamarnya.
"Loh, Wafa!"
"Wafa!"
"Kamu kenapa?"
Wafa hanya belum mau bercerita saja dengan kakaknya. Jadi, dia lebih memilih untuk menghindar saja. Wafa terus membolak-balikkan tubuhnya di ranjang. "Huh, aku pusing sekali. Aku lelah malam ini. Pengen tidur dengan tenang, ya Allah ..."
Tidak lama kemudian, Wafa mendapat pesan dari Bian jika dirinya mau ke Tiongkok malam itu juga mengajak Grietta bersamanya selama dua mingguan. Wafa pun sedikit terkejut karena tidak tahu alasan mereka pergi, tapi di pamiti seperti itu.
[Loh, Pak. Memang ada hal apa? Kenapa mendadak sekali? Apakah ada yang terjadi dengan Grietta?] - pesan dari Wafa.
Sayangnya pesan dari Wafa tidak kunjung dibalas oleh Bian. Sampai Wafa ketiduran karena menunggu balasan pesan Bian.
***
Keesokan harinya, keluarga Ustadz Zamil kembali datang untuk membahas masalah pernikahan. Hari itu, Wafa terlihat tidak semangat karena Grietta dan Bian kembali ke negaranya sampai dua minggu. Sementara itu, Wafa juga tidak semangat untuk ke kampus karena memang sudah malas kuliah.
"Ada apa ini? Kenapa Mbak Sari masak lagi-lagi? Mau ada acara apa memangnya?" tanya Wafa saat bangun tidur di waktu sebelum subuh.
"Keluarga Ustadz Zamil mau datang pagi ini," jawab Sari.
"Lagi? Ada acara apa?" tanya Wafa lagi.
"Mau membahas pernikahan. Katanya tiga hari lagi mereka ingin segera menikahkan Ustadz Zamil dengan Mbakmu," sahut Pak Kyai yang sudah mau bersiap ke masjid.
Deg!
Jantung Wafa memang berdebar. Tapi tidak sesakit ketika lamaran kemarin. Entah kenapa, Wafa hanya merasa tidak merasa terluka saja dan malah kepikiran dengan Bian.
"Oh, tak kira ada acara apa. Nanti aku bantu makan saja lah. Hari aku malas sekali mau melakukan apapun. Jadi, aku ngikut saja, oke?" Wafa pergi begitu saja menuju kamar mandi.
Hal itu membuat Pak Kyai menatap dengan tatapan yang sedih. Sari semakin yakin jika ada hal yang disembunyikan oleh ayah dan adiknya. "Abi terlihat sedih. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan mereka berdua?" batin Sari.
***
Tiga hari lagi memang akan ada acara pernikahan di dalam pesantren. Antara santriwati dan santri putra yang memang sudah siap untuk menikah. Hal itu membuat seluruh penghuni pesantren menjadi sibuk.
Ketika Dari sampai di dapur umum, dia tidak sengaja mendengar percakapan antara santriwati dengan santriwati lain secara berbisik-bisik di samping dapur umum pesantren.
"Kamu tahu, tidak? Mbak Wafa itu sebenarnya sukanya sama Ustadz Zamil, tau!" ungkap salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Ya Allah, astaghfirullah hal'adzim. Kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Bagaimana jika yang kamu katakan ini adalah sebuah gosip belaka? Melah gawat kalau Mbak Sari mendengarnya,"
"Halah, jika Mbak Sari itu mendengar apa yang kita bicarakan saat ini, ya biarkan saja lah! Lagi pula, Mbak Wafa ini, masa anak pemilik pesantren ... bertingkah seperti itu, sih? Sangat tidak mencerminkan sebagai seorang anak Kyai," celetuk dari seorang gadis yang tidak menyukai Wafa.
"Sttt, jaga omongan kamu itu, astaghfirullah hal'adzim. Mbak Sari ini kan, putri sulung. Jadi wajar jika dimanjakan karena bisa meneruskan mengelola pesantren ini. Kalau Mbak Wafa, biarlah dia mau bertingkah seperti apa,"
Sari telah mendengar semuanya dan merasa tidak enak hati kepada Wafa. Dimana dirinya malah ingin menikah dengan pria yang disukai adiknya sejak adiknya masih anak-anak.
"Itu tandanya Mbak Wafa cemburu. Kalau suka, bilang saja suka. Kenapa pura-pura tidak peduli seperti itu? Ustadz Zamil beneran hilang nanti, barulah menyesal!" celetuk Mbak Nur yang baru saja mendengar gumaman Wafa sedang kesal karena pernikahan kakaknya dipercepat.
"Tahu apa sih, kamu, Mbak! Memangnya kamu pernah suka atau jatuh cinta itu sama orang lain?" ketus Wafa.
"Halah, dibilangin ngeyel banget," sahut Mbak Nur, duduk di sebelah Wafa. "Mbak Wafa ini suka, kan, sama Ustadz Zamil sejak lama? Ngaku saja lah! Ungkapkan ngono, loh! Bukankah waktu itu, Ustadz Zamil pernah ajak Mbak Wafa serius, ya?" lanjutnya.
"Kenapa nggak Mbak Wafa pikirkan saja? Mau permen?" Mbak Nur menawarkan Wafa permen rasa cherry kesukaannya.
Wafa hanya diam saja. Tatapannya terus ke arah lurus memandangi hal yang tidak pasti. Hantunya terus berdebar, perasaannya sungguh tidak tenang. Membuatnya terlihat gelisah.
"Cinta itu memang tidak tahu kapan datangnya, Mbak. Tapi aku yakin, kalau Mbak Wafa ini memang menyukai Ustadz Zamil," lanjut Muslih dengan percaya diri.
"Sok tahu kamu. Siapa juga yang suka dengan Ustadz Zamil," Wafa masih menyangkalnya. Tapi padahal Wafa selalu cerita apapun tentang Ustadz Zamil kepada Mbak Nur.
"Halah, masih saja begitu. Hmm, sudahlah. Saya tak pergi dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamit Mbak Nur, meninggalkan Wafa dengan kegelisahannya.
Lagi-lagi Wafa hanya diam saja. Dia tidak ingin memikirkan hal yang seharusnya belum ia pikirkan. Masuk di fakultas yang tidak sesuai dengannya, membuatnya pusing. Apalagi, saat ini harus memikirkan kegelisahan yang dirinya saja belum tahu mengapa.
"Huft, ternyata menuju dewasa itu tidak enak. Banyak yang harus dipikirkan juga! Bagaimana bisa aku menghadapi dunia dewasa nanti, ya?" gumam Wafa, merebahkan tubuhnya di sembarang tempat.
***
Suara adzan subuh sudah berkumandang. Seperti biasa jika tidak ada halangan keluarga kecil ini selalu menyempatkan sholat subuh di masjid. Meski Wafa sekarang sangat susah diberitahu, tetap saja jika melaksanakan kewajibannya, ia tidak pernah telat.
Usai pulang dari masjid, "Nanti, kalian mau ke mana?" tanya Zira ketus. Zira ini adalah adik sepupu Wafa yang sudah dianggap seperti adik kandung sendiri.
"Tahu Ustadz Zamil, nggak?" sahut Dian, temannya.
Zira mengangguk.
"Nah, dia mau nikah hari ini. Wafa dan aku juga diundang. Maka dari itu, kita mau datang," jelas Dian.
"Buset, Ustadz Zamil? Ustadz yang rumahnya paling pojok itu? Kampung sebelah?" tanya Zira menjadi heboh. "Kak, bukankah kamu naksir dengannya? Aku pikir hubungan kalian istimewa ... ternyata epribadeh, cin—" ucapan Zira terputus karena mulutnya dibungkam oleh Wafa yang ada di sampingnya kala itu.
Ustadz Zamil adalah salah satu santri di pesantren di pesantren milik ayahnya Wafa. Usianya terpaut 8 tahun dengan Wafa. Waktu itu, Wafa memang memiliki perasaan dengan Ustadz Zamil tersebut.
Namun, ketika cintanya mulai merekah, rupanya Ustadz Zamil ini sudah dijodohkan dengan wanita lain. Cinta dalam diamnya hanya Wafa sendiri yang merasakan. Ternyata, wanita lain ini adalah kakaknya sendiri. Tapi sebelumnya, memang sudah dijodohkan sebelum Ibu dari Ustadz Zamil memergoki Ustadz Zamil sendiri sedang tersenyum dengan Sari.
Mengapa Dian dan Zira bisa tahu perasaannya? Sebab, Wafa memang hanya cerita kepada dua saudaranya itu. Meski Zira selalu memberi kode kepada Ustadz Zamil tentang perasaan Wafa, tetap saja Ustadz Zamil tidak pernah meresponnya.
***
__ADS_1
Persiapan pernikahan sudah mau dimulai. Wafa juga telah membungkus kado untuk pernikahan Ustadz Zamil dengan kakaknya. Masih dalam hati yang terluka, Wafa membungkus kado tersebut dengan melamun.
"Jangan melamun, nanti bungkusnya jadi jelek. Sini, biarkan aku yang bungkus kado itu!" tegur Dian meminta kado itu dari tangan Wafa.
"Hm, jodoh itu tidak ada yang tau, Dian. Siapa yang mendamba, dan siapa yang mendapatkannya," ucap Wafa dengan helaan nafas panjang.
"Iso nyawang tapi ra iso nduweni. Huft, ngenes ndes. Tresno pancen ra kudu duweni, sista. Sabar, ya." celetuk Zira menepuk-nepuk pundak Wafa.
(Bisa memandang, tapi tidak bisa memiliki. Cinta memang tidak harus memiliki)
Wafa dan Dian menatap pakaian yang dipakai Zira pagi itu. Terlihat rapi, dan anggun memakai gamis berwarna biru muda dengan sepatu berwarna putih. Bisanya, Zira ini susah sekali diminta memakai gamis. Wafa, Zira dan Dian lahir di tahun yang sama. Tapi mereka masih saudara yang mengharuskan mereka memanggil kakak untuk yang tua.
"Ngampus apa mau kondangan? Kenapa pakai gamis?" tanya Wafa.
"Ikut kondangan lah. Siapa tau ada yang butuh bahuku," jawab Wafa dengan santai dan ada kandungannya meledek.
Wafa berdiri, kemudian meminta Zira untuk pergi ke kampus. Namun, Zira menolak pergi ke kampus karena ingin ikut dengannya menyaksikan pernikahan Sari dan Ustadz Zamil. Wafa pun menjadi kesal, ia pun mengurungkan niatnya untuk menghadiri pernikahan Ustadz Zamil.
"Kok, gitu? Wafa, aku udah siapa-siapa, loh. Masa nggak jadi pergi, sih?" protes Dian.
"Kalau kamu mau pergi, pergi aja sana sendiri! Dan untukmu, kuliah!" bentak Wafa dengan menunjuk wajah Zira.
Hatinya sedang kacau, dan Zira menambah emosi di hatinya. Zira juga ingin sekali bisa pergi bersama dengan saudara-saudaranya. Namun, situasi memang sedang tidak tepat bagi Zira untuk ikut campur.
"Zira, ganti baju dan segera ke kampus," pinta Dian dengan lembut.
"Iya, Dian Dion."
Zira menurut dengan rasa bersalah. Ketika melintas di depan pintu kamar Wafa, ia menghentikan langkahnya seraya bergumam, "Kenapa kamu selalu marah denganku, Wafa? Waktu kecil, kamu tidak seperti ini denganku."
Waktu memang mengubah semuanya. Semua orang pasti menua, tapi nggak semua orang menjadi dewasa pada saat bertambahnya usia.
Kedewasaan tidak dilihat dari segi usia, karena yang menjadikan tolak ukur sebuah kedewasaan adalah kemampuan untuk memiliki pola pikir yang matang. Namun, memang begitulah Wafa, semakin tinggi ilmunya, ia akan semakin merendah dan lebih hati-hati dalam mengutarakan perasaannya.
"Aku salah jika membentak Dian dan Zira. Hatiku memang sedang sakit dengan pernikahan Ustadz Zamil, tapi—"
"Ya Allah, waktu itu ... ingin sekali aku mengatakan perasaan ini. Namun apa daya, lidah seketika menjadi kelu, kaku tak bergerak. Malu juga adalah halangan terbesarku," gumam Wafa dengan tangan yang tidak tenang.
"Ustadz Zamil, jika memang memendam rasa padamu begitu sulit dan menyakitkan, mengapa hatiku enggan menyerah hingga detik ini. Bahkan di hari pernikahanmu pula, aku masih berharap acara itu gagal," batin Wafa.
"Astaghfirullah hal'adzim. Ada apa denganku? Kenapa aku berdoa sejahat itu?"
Wafa terus gelisah dengan hatinya. Sisi kedewasaannya berhasil mengalahkan egonya. Ia pun keluar dari kamarnya dan menanyakan dimana Zira berada.
"Di mana, Zira?" tanya Wafa kepada Dian.
"Udah berangkat ke kampus, ada apa?" Dian masih sibuk membungkus kado tersebut.
"Aku minta maaf telah membentakmu, Dian. Aku juga menyesal membentak Zira. Haih, aku terlalu egois dengan rasaku," ucap Wafa dengan wajah lesu. "Andai saja, aku berani menyatakan saat itu--"
__ADS_1
Tiba-tiba Inneke menyentuh kepala Wafa dengan lembut. Kemudian memberi pengertian, jika memang dirinya itu tak seharusnya bersedih karena cintanya, nafsu dunia.
Panjang gak tuh