
"Wafa, Mbak ingin bertanya sesuatu boleh?" tanya Sari.
Wafa mengangguk.
"Maksud dari ucapan kamu, yang dimana Abi tahu tentang Ustadz Zamil itu ... apa, ya?" tanya Sari.
Deg!
Seketika jantung Wafa terhenti. Tapi, wajah Wafa masih terlihat biasa saja karena memang itu yang harus dia lakukan. Berpikir kembali, bagaimana cara menjawab pertanyaan kakaknya itu.
"Tidak, itu hanya keceplosan di saat aku kesal saja. Tidak ada maksud lain, kok," jawab Wafa.
"Tapi kamu sedang berbohong saat ini. Kamu jawab jujur saja, Wafa. Apa kamu menyukai Ustadz Zamil?" tanya Sari lagi.
Tidak ada jawaban dari Wafa. Dia hanya diam saja tanpa memandang wajah kakaknya. Mau bagaimana lagi, apapun yang akan Wafa katakan, itu tidak akan merubah takdir karena memang Ustadz Zamil sudah melamar Sari. Wafa berpikir jika memang itu sudah menjadi keputusan Ustadz Zamil juga.
"Kak, aku—"
Belum juga mengatakan sesuatu, ponsel Wafa sudah berdering. Telepon itu dari Bian. Nomornya ternyata sudah di save oleh Wafa, jadi gadis itu langsung tahu jika yang menelponnya adalah Bian.
"Ngapain dia nelpon aku malam-malam?" batin Wafa sedikit gugup. "Sebentar, Kak. Aku mau angkat telponnya," lanjutnya minta izin kepada kakaknya.
Sari mengangguk, kemudian keluar dari kamar Wafa dengan raut wajah yang murung. Dia masih curiga dengan kata-kata adiknya yang diucapkan ketika marah kepada Kyai. "Ada hal yang janggal. Hatiku juga masih belum tenang. Apakah nanti aku harus bertanya lagi?" gumamnya.
"Ya Allah, kenapa aku merasa jika Wafa ini mulai berubah?" imbuhnya dengan mengusap-usap dadanya.
Tak lama kemudian, Sari dikejutkan oleh Wafa yang tiba-tiba keluar dengan terburu-buru. "Astaghfirullah hal'adzim, Wafa!" serunya.
"Aku pamit dulu. Ada kepentingan mendadak. Tolong pamitin ke Abi, ya?" ujar Wafa, sembari mencium tangan Sari. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" serunya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Loh, Wafa! Kamu mau kemana? Wafa!"
Sari pun bingung sendiri mengapa adiknya pergi buru-buru seperti itu. Dia pun mengejar Wafa sampai ke pintu. "Wafa, kamu mau kemana, sih? Ini sudah malam, loh! Abi bisa marahin kamu lagi nanti. Wafa!"
Meski Sari berteriak sampai suaranya habis pun, tetap saja Wafa tidak mempedulikannya. Gadis berusia 20 tahunan itu berlari menuju gerbang pesantren. Memanggil Pak Imin, tukang ojek langganannya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pak Imin. Antar saya ke perumahan yang waktu itu lagi, ya," ujar Wafa.
"Haduh, tidak beres ini, tidak beres! Kenapa Mbak Wafa selalu melibatkan saya, sih?" Pak Imin pun ada pemikiran mau menolak.
"Pak, tolonglah antar saya. Ini penting banget, loh!" seru Wafa, sampai memohon.
"Tidak, Mbak Wafa. Pak Imin minta maaf sekali, ya. Waktu itu saja, Pak Imin di usir dari perumahan itu. Nanti pasti kena usir lagi. Pak Imin nggak mau, ah!" tolak pria paruh baya itu.
Bagaikan sumbu kompor yang disulut api, Wafa pun kesal dengan Pak Imin. Pipinya yang putih itu sampai memerah karena kekesalannya. "Pak Imin, kita sudah tidak BESTFRIEND lagi! Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" kesalnya.
"Lah, marah to, Mbak Wafa?"
Wafa akhirnya jalan kaki menuju jalan raya besar. Pak Imin juga tidak ada niatan mau menyusul. Pak Imin sudah berjanji dengan Pak Kyai, jika dirinya tidak boleh membantu Wafa berbuat nakal lagi. Memang sebelumnya, Wafa ini adalah anak yang usil dan selalu saja berbuat nakal sampai Pak Kyai saja pusing sendiri.
Masih ingat ketika Wafa dihukum untuk menyalin dan mengaji surah Al-Kafirun sampai 24 jam karena mengintip santri putra sedang mandi. Wafa kecil juga selalu saja berbuat ulah sampai membuat Kyai pusing sendiri. Tapi, dibalik perilaku Wafa yang bebas, semuanya karena sejak kecil Wafa tidak terdidik adanya seorang ibu. Lalu, ayahnya juga hanya fokus dengan kakaknya saja. Jadi, Wafa seperti anak yang bebas tanpa arahan. Meskipun Wafa seorang Ning, tapi tetap saja Wafa selalu berbuat masalah.
Sambil melangkah, Wafa terus saja mengomel tentang Pak Imin yang tidak mau mengantarnya. "Menyebalkan sekali, Pak Imin ini. Kenapa juga tidak mau mengantarku? Padahal kan juga ini masih jam segini, belum malam banget!"
Akan tetapi, di depan jalan raya sana, rupanya ada Bian yang sudah menunggu. Tampilan santai Bian ini membuat Wafa sedikit tertarik. Pasalnya, tampilannya seperti idol Korea yang tampan tapi ada sentuhan cantiknya.
"Hilih, malam-malam begini kenapa dia pakai kaca mata hitam, sih? Apakah masih kurang gelap?" gumam Wafa dalam hati.
"Kenapa lama sekali? Apa tidak ada yang bisa mengantarmu datang ke sini?" tanya Bian, menyambut kedatangan Wafa.
__ADS_1
"Anda sudah melihat saya datang kemari dengan jalan kaki, 'kan? Apakah masih perlu di tanya lagi, ha?" ketus Wafa. Wafa terbawa emosi saat itu.
Ternyata, Wafa terburu-buru keluar karena Bian mengatakan jika Grietta demam dan baru saja diperiksa. Demamnya sangat tinggi dan terus menyebut nama Wafa. Baru kali itu juga, Bian mendengar Grietta bicara.
"Apa yang terjadi setelah saya pulang? Mengapa Grietta bisa demam tinggi sampai 40 derajat Celcius? Beruntung saja Grietta tidak kejang!" tanya Wafa, merasa khawatir dengan keadaan gadis kecil kesayangan barunya itu.
"Harusnya kamu bertanya kepada pengasuh di yayasan kamu itu. Diberi makan apa Putriku sampai keracunan makanan seperti itu," sahut Bian.
"Maksudnya?" tanya Wafa menjadi panik.
"Putriku mengalami alergi. Di bibir dan lehernya terdapat ruam. Dokter mengatakan itu disebabkan oleh alergi karena makanan. Grietta alergi kecambah, coba kamu tanyakan kepada pengasuh yayasan. Apakah hari ini, Grietta ada makan kecambah?" jelas Bian dengan pelan.
Awalnya, Bian memang hendak marah besar karena orang yang bekerja dengan Wafa menyebabkan putrinya sakit. Tapi, ketika melihat Wafa di depan matanya, emosi itu seketika reda dan malah sekarang masih bisa bicara dengan manis nan lembut. Bahkan Bian sendiri juga tidak tahu mengapa dirinya bisa seperti itu kepada seorang wanita. Diketahui, selama berpisah dengan istrinya dulu, Bian tidak pernah dekat dengan wanita manapun atau sampai memperlakukan dengan istimewa seperti perlakuannya kepada Wafa.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mbak Nur. Mbak, saya mau tanya sebentar, boleh?" Wafa menelpon Mbak Nur.
"Em, tadi pas Grietta saya tinggal, Grietta makan apa saja, ya?" tanya Wafa. Pertanyaannya masih hati-hati karena tidak mau juga sampai menyinggung perasaan Mbak Nur.
"Nasi dengan sayur, Mbak," jawab Mbak Nur.
"Kalau boleh tahu, sayur apa yang Grietta makan ketika di yayasan?" lanjut Wafa.
"Sayur sup tahu, Mbak. Memangnya kenapa, ya?" jelas Mbak Nur.
"Um, coba tanya ke Mbak Vita. Hari ini dia bikin gorengan atau camilan apa, nggak?" Wafa masih berhati-hati ketika bertanya.
Tanpa bertanya lagi, Mbak Nur langsung bertanya kepada Vita tentang camilan apa yang dia buat hari itu. Sebab, memang selama Vita ada di yayasan, Vita lah yang selalu membuat camilan untuk anak-anak.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mbak Wafa. Ini Vita sudah menjawab, kalau hari ini dia buat tahu isi saja. Memangnya ada apa, ya, Mbak?" Mbak Nur jadi penasaran, setelah bertanya kepada Vita.
__ADS_1
"Boleh tahu, isi dari tahu itu apa saja, tidak?" tanya Wafa lagi.
Jantung Wafa sudah berdenyut-denyut panik ketika mendengar kata tahu isi. Dalam pikirannya, tahu isi juga menggunakan kecambah, tauge atau sejenisnya selain wortel dan kol. Lalu, apakah memang karena camilan yang Vita buat, sehingga membuat Grietta sakit?