
Suasana menjadi hening. Bian malah mengeluarkan ponselnya.
"Mau menelepon?" tanya Wafa.
Bian menggeleng. "Tidak," jawabnya.
"Lalu?" tanya Wafa lagi
"Saya lagi mau searching tentang perasaan yang saat ini saya rasakan," jawab Bian lagi. Pria ini begitu sibuk dengan ponselnya.
Wafa menjadi semakin heran dengan duda kaya itu. Tak habis pikir dengan yang dilakukannya, akhirnya Wafa menyarankan supaya dirinya yang menyetir dan segera pulang ke rumah.
"Saya saja yang menyetir. Pak Bian bisa tolong turun, biarkan saya yang mengemudi," usul Wafa.
Bian menatap Wafa.
"Ada apa? Kenapa tatapannya seperti itu? Apa yang ada di artikelnya? Apa Pak Bian mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan?" Wafa menjadi waspada.
Bian masih menatap Wafa. Tak lama setelah itu, dia mengatakan, "Tidak ada jawabannya. Saya saja yang menyetir. Ayo, kita pulang."
Wafa mengangguk pelan, lega mendengarnya karena ia sudah mulai merasa jika gelagat Bian aneh. Meski begitu, tetap saja Wafa masih biasa saja. Tidak takut, ataupun jadi ilfeel dengan Bian.
Sebelum mereka pulang, Wafa berkeinginan mau bertemu dengan Grietta. Tapi Bian mengatakan jika Grietta sedang mengikuti les. Jari tangan Wafa terus mengetuk-ngetuk tasnya. Memantapkan hati untuk bertanya pada Bian masalah les Grietta itu.
"Kenapa? Ada yang ingin kamu tanyakan pada saya?" tanya Bian, sudah peka lebih dulu.
Pria itu kembali melirik ke jari tangan Wafa. "Sepertinya sedang ingin bertanya. Apakah kamu mau bertanya? Tanya saja jika iya," imbuhnya.
Di situlah Wafa protes tentang les yang banyak sekali untuk anak seusia Grietta. "Anak sekecil Grietta, kenapa jadwal lesnya begitu padat, Pak Bian?" tanyanya.
"Anak seusianya itu seharusnya sedang bermain sambil belajar, bukan belajar dan belajar terus belajar. Apa Bapak tidak kasihan dengan otak dan tenaga Grietta?" lanjut Wafa.
__ADS_1
"Saya rasa, Bapak sudah memaksa putri Bapak sendiri supaya terus belajar. Ih, Bapak, ih. Kejam sekali, sangat kejam!" protes Wafa.
Bian menyangkal apa yang dikatakan oleh Wafa, dia malah merasa apa yang dilakukannya sudah benar. Duda tampan ini juga menegaskan jika dirinya melakukan apa yang sudah seharusnya ia lakukan untuk putrinya.
"Saya hanya ingin dia menjadi wanita yang hebat dimasa depan. Lalu, apa masalahnya?" ketus Bian.
"Hah? Ini saja Bapak masih bertanya masalahnya apa?" Wafa seolah tercengang dengan ucapan Bian. "Hello, Pak Bian yang terhormat, dia masih berusia 6 tahun. Untuk apa les dari jam dia keluar sekolah sampai malam? Kapan dia memiliki waktu untuk menyenangkan diri sendiri?" Wafa sampai geregetan.
Bian kembali meminggirkan mobilnya, kemudian mematikan mesinnya.
Kini, mereka malah terlibat cekcok lucu seperti suami istri yang mempermasalahkan seorang anak. Ujung²nya, malah Wafa yang kesal karena Bian mempertegas bahwa dia yang paling tahu putrinya, dan mengatakan Wafa tidak berpengalaman karena belum punya anak.
Jelas saja Wafa kesal, karena Bian bahkan lupa bahwa Wafa memiliki banyak anak di yayasan.
"Eh, apa lagi ini? Kenapa berhenti?" tanya Wafa.
Bian berusaha sabar, pria itu masih mempertahankan sikap dinginnya terhadap Wafa. "Maksud kamu apa? Saya ayah yang kejam gitu?" tanyanya.
"Ini kenapa berhenti? Kenapa berhenti lagi!" Wafa sudah mulai kesal. "Astaghfirullah hal'adzim, aku harus sabar," gumamnya.
"Berhenti memanggil saya dengan sebutan Bapak, jika kamu memanggil Zaka saja dengan sebutan Tuan, Wafa!" protes Bian, sampai memotong ucapan Wafa.
Bayi besar itu merajuk karena Wafa tidak bisa menyebut sebutan Bian sesuai dengan keinginannya. Bian maunya hanya dipanggil nama saja, atau bahkan pernah memberikan saran supaya dipanggil 'Mas' tapi Wafa yang belum bisa terbiasa, tidak mau belajar memanggil Bian dengan sebutan yang ia inginkan.
"Bapak dan Tuan apakah ada bedanya?" suara Wafa kembali ke setelan awal, dimana ia adalah seorang gadis yang anggun, bertutur kata lembut dan bijaksana.
Seperti ketika dirinya bersama dengan Ustadz Zamil dan Ustadz Lana. Akan tetapi, bagi Wafa, bisa bicara santai dengan Bian, membuatnya merasa nyaman. Makanya ia selalu mengeluarkan sisi lain dari dirinya yang terkenal lemah lembut.
"Baiklah, baiklah. Mulai saat ini, saya akan memanggil Bapak dengan sebutan Mas!" Wafa mengalah.
"Nah!" seru Bian setuju.
__ADS_1
"Tapi kalau saya sedang dalam mood baik. Untuk sekarang, saya belum bisa," sahut Wafa.
Bian jadi kesal. "Loh, kenapa bisa seperti itu?" Protesnya.
"Ya bisa saja, dong!" Wafa menjawab. "Astaghfirullah hal'adzim, astaghfirullah hal'adzim." sebutnya lirih.
"Cukup Pak Bian. Masalah panggil memanggil ini biarkan nanti waktu yang menentukan. Kita kembali ke meeting awal," pinta Wafa dengan suara normalnya, sudah tidak kesal pada Bian.
Mendengar itu, membuat Bian menahan tawa.
"Apa ada yang lucu? Kenapa Pak Bian seperti menahan tawa?" Wafa merasa tidak terima.
"Hahaha, hahaha," keluarlah tawa Bian. Tawa itu terdengar begitu sangat puas. Sampai membuat guava sendiri bingung karena tidak tahu apa yang yang Bian tertawakan.
Hanya bisa membiarkan duda kaya itu tertawa, Wafa menatap ke luar jendela dan melihat ada anak kecil yang sedang berjualan bunga mawar. Wafa pun menurunkan kaca mobilnya.
"Assalamu'alaikum, Kak. Perkenalkan nama saya Aisha, usia saya 9 tahun. Saya di sini mau menjual bunga dan mohon jika ada ... bisa kakak bersedekah atau menyisihkan receh ataupun koin pada adik saya yang namanya Furqon Hadi. Dia berusia 5 tahun, sedang berjuang melawan penyakitnya. Koin atau seribu rupiah dari kakak, bisa membantu kami untuk meringankan biaya rumah sakit," ucap gadis kecil penjual bunga bernama Aisha.
Senyuman manis nan tulus gadis itu mampu mengetuk hati Wafa.
"Adik kamu sakit apa?" tanya Wafa, sembari membuka pintu mobilnya. Wafa meraih tangan gadis kecil itu, kemudian membelai kepalanya.
"Adik saya sakit cancer, Kak. Saya kurang tahu jelas sakitnya apa, tapi jika kakak mau tahu, bisa cari informasi di rumah sakit Harapan. Adik saya dirawat disana," jawab Aisha.
Wafa menundukkan kepala, kemudian kembali memandang gadis itu. "Dimana kedua orang tuamu?" tanyanya.
"Alhamdulillah masih ada, Kak. Ibu bekerja di luar negeri, ayah bekerja sebagai tukang kebun di rumah orang. Tapi karena kata ayah adik saya sakit cancer, jadinya semua biaya tidak bisa di klaim menggunakan jaminan, Kak. Jadi saya mau membantu ayah, dengan menjual bunga ini," celetuk gadis kecil itu.
"MasyaAllah, Nak. Melihat kamu yang begitu gigih dan tulus berjuang demi membantu orang tua, Kakak merindukan Kakaknya kakak. Dia persis seperti kamu," Wafa menyentil hidung Aisha.
"Baiklah, kakak akan membeli dan berdonasi untuk adikmu. Tunggu sebentar, Kakak akan men—" rupanya Wafa tidak memiliki uang tunai yang cukup.
__ADS_1
Di dompet kecilnya, hanya ada yang lembaran lima ribuan. Yang dimana untuk membeli sekuntum mawar Aisha saja juga tidak cukup. Bian yang sadar jika wanita yang sudah banyak berjasa baginya mau berbuat baik, ia merogoh sakunya dan memberikan dompetnya pada Wafa.
Apakah Wafa menerimanya?