Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Suapan Pertama


__ADS_3

Membangunkan Grietta, ternyata sangat mudah. Hanya mengecup pipinya saja, Grietta langsung menggerakkan tubuhnya sebagai tanda bahwa dirinya sudah bangun.


"Selamat pagi, cantik. Ayo, cuci muka, gosok gigi, setelah itu sarapan," ucap Wafa, membangunkan Grietta dengan kelembutannya. "Mandinya nanti saja." bisiknya lagi.


Gadis kecil itu menganga, dia seakan tak percaya orang yang berada di depannya itu. Bahkan, Grietta sampai memiringkan kepala seperti anak kucing karena masih memastikan jika yang di depannya itu adalah Wafa.


"Hei, kenapa? Mengapa kamu menatap Kakak sampai seperti itu? Ayo, segera bangun dan langsung mandi, oke? Setelah itu, sarapan bersama dengan Papimu." ujar Wafa.


Grietta tersenyum sampai kelihatan giginya. Kemudian memeluk Wafa dengan erat. Rupanya gadis kecil itu masih saja tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Makanya, dia memeluk Wafa supaya tahu, dirinya sedang bermimpi atau tidaknya.


"Eh, cantik sekali Tuan Putriku ini. Terus tersenyum seperti ini, ya. Kakak suka sekali lihat senyummu ini. Nanti, Kakak akan menghiasi rambut kamu. Pagi ini, Kakak adalah milikmu, oke?" Wafa menyentil hidung Grietta dan membuat Grietta semakin senang.


Dari balik pintu, Bian melihat sikap Wafa terhadap putrinya. Selama hidup, belum pernah ada yang membuat Grietta bisa tersenyum sampai terlihat giginya seperti itu. Bahkan, ketika Grietta bayi saja, ibu kandungnya tidak pernah mengurusnya karena selalu pergi pagi pulang malam.


"Senyum Putriku ternyata sangat manis. Putriku terlihat cantik ketika tersenyum seperti itu. Wafa, kamu sungguh wanita yang sangat berbeda. Apa di kemudian hari nanti, aku bisa menemukan wanita seperti dirimu dalam versi agamaku?" batin Bian.


"Aku adalah seorang agnostik. Tapi seluruh keluarga beragama Buddha. Nenek dan Kakeknya Grietta dari pihak Ibu beragama Kristen. Apa mereka bisa menerimamu jika nanti aku bisa jatuh cinta padamu?"


"Wafa, mengapa kita harus berbeda seperti ini?"


Bian sadar jika dirinya berharap Wafa dalam versi yang lain. Bian hanya ingin mencari Ibu yang baik untuk Grietta. Tetapi, Bian juga ingin mencintai Ibu sambung Grietta nanti. Berbeda dengan Wafa, melihat latar belakang keluarganya membuat Bian terlalu sulit untuk maju.


Setelah selesai mengurus Grietta, Wafa mengajak gadis kecil itu turun untuk sarapan. Semua sudah disiapkan oleh Wafa dengan dibantu pelayan rumah.


"Dimana Pak Bian dan Tuan Zaka?" tanya Wafa kepada pelayan yang masih ada di sana.


"Masih berada di ruang kerja, Nona," jawabnya.

__ADS_1


"Tolong kamu panggilkan mereka, ya. Saya mau sarapan bersama dengan mereka juga." perintah Wafa dengan lembut.


Ekspresi dari pelayan itu terlihat gugup secara tiba-tiba. Membuat Wafa heran. "Ada apa? Mengapa kamu terlihat gugup? Apa mereka selalu marah kepadamu, sehingga kamu menjadi takut?" tanyanya.


Pelayan itu menjelaskan jika Bian dan Zaka Yang tidak pernah sarapan di rumah meski hanya minum kopi atau teh. Pelayan itu juga mengatakan jika Bian tidak suka dengan sarapan yang berminyak, seperti telur dadar yang dibuat oleh Wafa.


"Huh, kamu panggil saja mereka. Katakan jika aku yang memintanya," lanjut Wafa.


"Biar saya saja yang memanggil Tuan Bian. Nona, silahkan Anda sarapan dulu," pelayan lain datang dan menawarkan diri untuk melakukan tugas pelayan yang sebelumnya diperintahkan oleh Wafa.


"Terima kasih, ya ...." ucap Wafa ramah.


Wafa ini memang ramah kepada siapapun. Selalu saja bisa menempatkan diri dengan baik. Sudah terbiasa baginya menghadapi banyak sekali sikap manusia yang penuh warna. Pengalaman dirinya yang memiliki banyak anak asuh juga bisa membuatnya bisa menebak dan tahu sikap orang lain.


Di ruang kerja.


"Tuan, Nona Wafa meminta Anda dan Tuan Zaka ke ruang makan," ucap Ying Lie.


Klek~


Pintu dibuka oleh Zaka Yang. "Katakan kepada Nona Wafa, kami akan segera datang," ucapnya.


"Baik, Tuan. Saya permisi dulu." Ying Lie kembali ke dapur.


Perasaan hati Ying Lie, menjadi sedikit terkejut karena tidak biasanya Bian dan Zaka Yang bisa diganggu di pagi hari hanya untuk sarapan. Keduanya memang akan sarapan nanti di kantor biasanya.


"Tuan Huang ingin sarapan? Apa hanya sekedar memenuhi panggilan Nona Wafa saja? Huh, Nona Wafa ini pasti adalah wanita istimewa," gumam Ying Lie.

__ADS_1


Ying Lie sampai di dapur dan menyampaikan apa yang dikatakan oleh Zaka Yang. Wafa sangat senang mendengarnya. Benar saja, tidak lama setelah itu Pian dan juga Zaka Yang datang ke ruang makan.


"Ada kamu memanggil kami?" tanya Bian.


"Kita sarapan bersama. Lihatlah, Grietta sangat lahap sekali makannya. Ayo, Tuan Zaka. Anda juga ikut sarapan bersama kita. Ayo Pak Bian, duduklah!" seru Wafa semangat.


Sebenarnya Bian ingin menolak. Namun karena melihat antusias dan juga tahu jika Wafa yang memasak semuanya, juga menyiapkan bekal untuknya, malam Bian pun tidak tega menolaknya.


"Tapi Nona Wa—"


Ucapan Zaka Yang terhenti ketika Bian mengangkat tangannya. "Baiklah, saya akan sarapan bersama kalian. Ayo, Zaka, kit sarapan bersama juga." jawab Bian dengan senyuman.


"Apa? Bahkan Tuan Huang ini menerima ... Tidak! Ini tidak benar! Pasti ada sesuatu diantara mereka!" batin Zaka Yang bergejolak karena tingkah laku Tuannya yang berubah setiap kali bersama dengan Wafa.


Suasana pagi terasa sangat hangat karena kehadiran Wafa. Beberapa pelayan di sana sangat menikmati pemandangan itu. Persis seperti keluarga bahagia yang di mana ada seorang ayah, ibu dan juga anak sedang sarapan bersama.


Sesekali Bian melirik ke arah Wafa yang sejak tadi sibuk menyuapi Grietta. Sementara piringnya masih penuh dengan sarapannya. "Wafa," panggilnya.


"Iya, Pak Bian?" sahut Wafa menoleh ke arah Bian.


"Sejak tadi kamu sibuk menyuapi Grietta. Kemarilah, buka mulutmu dan biarkan aku menyuapimu, aaaa ..." Bian sudah siap menyodorkan sendoknya ke arah bibir Wafa.


Perlakuan Bian itu membuat Wafa memandang pria yang saat ini sedang ingin menyuapinya. Untuk yang ketiga kalinya, Wafa menatap mata Bian. Rasa gugup seketika muncul. "Um, tapi Pak sa—" belum selesai bicara, Bian kembali menyodorkan sendoknya.


Terpaksa Wafa menerima suapan itu. Bian menjelaskan kepada Wafa untuk tidak perlu khawatir karena dirinya memakai sendok yang ada di atas piringnya Wafa. Jadi, sendok yang sebelumnya dipakai menyuapinya itu bukanlah bekas makan Bian.


Semakin dilihat, Zaka Yang semakin meradang. Dalam pandangan matanya, apa yang dilakukan oleh Bian itu adalah suatu hal yang romantis. Itu sangat menyiksa dirinya karena selama hampir 30 tahun juga dirinya belum memiliki seseorang yang dicintainya. Setelah itu, Wafa melanjutkan menyuapi Grietta dan Bian juga menyuapi Wafa sampai sarapan masing-masing mereka habis.

__ADS_1


__ADS_2