
Malam ini aku tak bisa tidur. Ada sesuatu yang hilang dan membuatku tak mampu memejamkan mata. Ibu terlelap di sebelahku. Aku memutuskan untuk turun dan mengambil air kemudian sholat malam, menghalau semua pikiran yang datang dan terus datang.
Dulu ketika ayah masih ada, kamar mandi terletak diluar rumah. Aku ingat, aku selalu minta ayah mengantarkan aku ke belakang karena takut. Waktu ayah meninggal, kamar mandi dipindahkan ke dalam, karena tidak ada lagi yang akan mengantarkan aku kalau ingin ke kamar mandi.
Sekarangpun ternyata aku juga masih takut ke kamar mandi sendiri. Selama delapan tahun ini aku tak perlu keluar kamar untuk ke belakang, sekarang harus ke kamar mandi sendiri.
Kenapa gelap begini? Mana sakelar lampu untuk menerangi dapur dan kamar mandi? Tempatnya dipindah atau aku yang lupa? Aku meraba seluruh sisi dinding. Ibu kenapa sih dapur dan kamar mandi penerangannya kalau malam harus minimalis begini.
Suasananya juga senyap sekali. Suara jangkrik terdengar nyaring dari sekeliling rumah. Beberapa kali juga terdengar suara lolongan anjing yang melengking tinggi. Ya Allah, perasaan dulu rumahku tidak seseram ini. Aku jadi merasa ada yang mengikuti langkahku di belakang. Aku merasa ada bayangan berkelebat di belakangku.
"Astaghfirullah, ibu," berkali-kali aku berteriak kecil karena terkejut. Aku takut tapi aku juga malu kalau harus minta diantar ke kamar mandi.
Katakutanku tak tertolong lagi ketika ada suara nyaring dari samping rumah tempat ibu menyimpan barang tak terpakai, "Klonthang...cit...cit...cit, waong...."
"Ibu..." teriakku, aku jongkok dilantai dan menutup kedua telingaku.
Air mataku kembali jatuh, "Mas Han...huhuhu..." isak tangis kutahan. Aku tak mau semua orang bangun, tapi aku benar-benar takut.
Aku duduk di lantai sambil sandaran di dinding ruang makan menuju dapur. Menangis perlahan, bayangan Mas Han yang sekarang sedang tidur dengan wanita lain makin jelas di mataku.
Hawa dingin yang tadi sama sekali tidak terasa, sekarang menggigit tulang. Kepala kurebahkan diantara lutut. Aku boleh menangis kan? Semua orang bilang aku harus kuat, harus sabar, tapi tidak ada korelasi antara sabar dan tidak menangis bukan? Sabar bukan berarti tidak boleh menangis kan? Jadi sekarang aku akan menangis lagi, karena aku takut ke kamar mandi.
"Kamu kenapa Rum? sini..." ibu mengambil tanganku dan menuntunku duduk di kursi. Kemudian menyentuh sakelar lampu yang tadi tidak kutemukan.
"Kamu masih takut ke kamar mandi? wo alah, nduk...nduk, wes tua kok masih takut ke belakang."
"Dapurnya gelap, kamar mandi gelap, aku gak bisa lihat apa-apa, ada bayangan hitam sliwar sliwer terus dari tadi, siapa yang gak takut coba, ibu jangan ketawa, gak lucu!" celotehku kesal.
"Ha...ha...ha, sampai kejer nangisnya."
"Nggak, aku nangis biasa aja, sekarang juga sudah berani."
"Ya sudah, tadi tak pikir kuntilanaknya datang lagi nangis di dapur, wes ibu mau ke kamar dulu."
"Apa Bu, kuntilanak?" ibu berjalan sambil diam-diam mematikan lampu.
Lap...,gelap kembali datang, "ibu...jangan dimatikan lagi lampunya, ibu..." teriakku.
__ADS_1
...***...
Setelah sholat subuh aku melirik ponsel yang tergeletak diatas meja, baterainya sudah penuh. Tapi aku masih belum ingin menghidupkannya.
Aku menuju almari, membuka dan mencari training punyaku dulu, setelah ketemu dan kucoba pakai ternyata masih cukup. Lari pagi dulu biar segar.
Mentari mengintip malu-malu waktu aku keluar. Cahayanya jingga seperti warna lipstik perawan mencari cinta. Udara pun membuat paru-paru penikmat tembakau akan bersih seketika.
Pagar kayu setinggi pinggang menimbulkan suara khas ketika aku membukanya. Mobil aman di parkir depan rumah. Jalanan masih sepi, jadi bisa kunikmati seperti milikku sendiri.
Aku berlari semauku, kadang ke tengah atau ke pinggir dan berlagak memberi jalan pada orang lain untuk lewat. Padahal tidak ada siapapun yang lari bersamaku. Aku pulang setelah beberapa kali putaran. Ibu menyapu halaman ketika aku sampai di rumah.
"Walah, harusnya kamu itu bangun tidur terus nyapu, bersih-bersih rumah, lah kok malah playon gak karuan."
"Ndoro Putri kalau di rumah tidak pernah nyapu mbak yu, apalagi bersih-bersih rumah, abdinya banyak, Ndoro Putri ndak perlu melakukan apapun kalau di rumah."
"Benar begitu Pak?" wajah ibu berubah cerah, "Alhamdulillah, semalam saya susah memejamkan mata, Rumi kelihatan susaah...saya khawatir, saya pikir dia tidak diperlakukan dengan baik, tidak bahagia."
"Jangan khawatir mbakyu kami semua sayang sama Ndoro Putri."
Aku memutuskan untuk mandi karena keringat membasahi tubuhku, nanti aku akan meminta ibu untuk memanggil tetangga yang biasa cuci baju dan bersih-bersih. Selama aku disini ibu harus lebih banyak istirahat.
"Ibu nurut sama Rumi ya, Rumi akan sewa orang untuk membantu di rumah."
"Buat apa, ibu hidup sendiri, rumah juga gubuk, gak usah bayar pembantu, eman duwite."
"Kalau begitu selama Rumi disini saja. Rumi ingin, ibu hanya mendampingi Rumi, nggak boleh melakukan apapun."
"Ya sudah, sepertinya kamu jadi manja karena biasa hidup gaya juragan."
"Hahaha...apa itu gaya juragan?" ada-ada saja.
"Ya itu, senengnya nyuruh-nyuruh."
"Hahaha...biar saja, kasihan pegawainya kalau nggak dikasih kerjaan Bu, kalau diberhentikan sama Mas Han karena dianggap gak becus kerja gimana?"
"Pinter jawab kamu, huh!" senangnya, ternyata menggoda ibu bisa memberi suasana ceria, makanya Pak Dul terus menggoda ibu.
__ADS_1
Pak Dul sudah pulang. Ibu sibuk dengan kegiatan hariannya, aku kembali sendiri dalam kamar. Aku raih ponsel dan kuhidupkan. Notivikasi pesan berbunyi puluhan kali.
[Mas Han] 11.20 : Rum, kamu kemana?
[Mas Han] 11.22 : Rum, jawab!
[Mas Han] 11.25 : Rum, aku belum makan siang.
[Mas Han] 11.30 : Rum, kamu mau aku mati kelaparan ya!!!
Dan masih banyak lagi pesan dengan isi senada masuk dalam ponselku. Hanya ada satu pesan dengan isi berbeda.
[Mas Han] 19.01 : Kamu membuat aku marah Rum, kamu tidak ada di rumah. Aku pergi...
Tanganku gemetar, ponselku hampir jatuh tapi bisa kutahan, aku letakkan ponsel diatas meja, memandangnya dan tidak tahu harus berbuat apa.
Pesan terakhir semalam pukul tujuh, kemudian tidak ada pesan lain lagi yang masuk. Bagiamana ini, apa yang harus aku lakukan? Apa Mas Han benar-benar marah? Andai dia tahu apa yang diucapkan ibunya padaku, dia pasti akan mengerti. Apakah aku harus menceritakannya? Apa aku harus meneleponnya? Sementara ada puluhan panggilan masuk tak terjawab di ponselku.
Tidak, aku tidak akan melakukan apapun. Aku harus bisa menahan diri. Kemarahan ibu mertuaku harus kuhindari, aku memang tidak tahu dimana dan apa yang sedang dilakukan suamiku sekarang. Tapi aku yakin dia baik-baik saja.
Thing.
Satu pesan masuk, muncul notifikasi pesan masuk dari Mas Han. Aku tidak langsung mengambil ponselku, apalagi membuka pesannya. Tapi akhirnya aku penasaran juga.
[Mas Han] : Tunggu aku, jangan kemana-mana, aku tahu kamu ada dimana.
Ibu...aku berlari menemui ibu yang asik di dapur. Tangannya menggenggam ponsel dan seperti baru saja mengakhiri pembicaraan dengan seseorang.
"Ibu terima telepon dari siapa?"
"Dari menantu ibu, lah. Dia tanya, apa kamu sudah sarapan, terus tanya, ibu minta dibawakan oleh-oleh apa? Menantuku itu memang baik. Katanya, telepon kamu tapi sepertinya HP mu mati. Baru saja ibu menghidupkan HP suamimu telepon."
"Oh...begitu ya Bu," haduh ibu...gagal sudah rencana jual mahalku.
...***...
Gak usah jual mahal, meskipun dijual murah nggak rugi kok Rum, kan sudah dibayar lunas waktu akad.
__ADS_1