Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 82


__ADS_3

"Ruangan ini ternyata nyaman juga," ucapku pada Mas Juna yang sedang duduk santai di depanku, "apalagi ada kamar rahasia yang bisa dijadikan tempat buat sembunyi dan istirahat," aku tertawa kecil saking senangnya.


"Yah, itu kan karena aku mikirin kamu, kalau pas lagi kebetulan ngajak Ken kemari terus butuh menyusui atau menidurkan Ken, ada tempat yang aman dan nyaman."


"Kamar itu juga kedap suara, sirkulasi udaranya juga bagus meskipun tersembunyi, pokoknya aku sudah pikirkan semua matang-matang sebelum menggambar dan mengajukan pada Yuni."


Aku manggut-manggut selama mendengarkan. Merasa senang dan beruntung memiliki teman sebaik mereka berdua.


"Yuni sama sekali nggak keberatan gitu?"


"Sama sekali nggak, bahkan dia yang minta ditambahkan berbagai fasilitas buat ruangan kamu ini."


"Termasuk juga kamu bisa mengamati seluruh area gedung dari CCTV."


Karena penasaran dan ingin mencoba, aku menghidupkan layar untuk melihat seluruh bagian gedung, ternyata masih belum semua terpasang CCTV.


"Kelihatannya belum semua bagian ada CCTV nya," mataku mengamati sambil mengingat satu-persatu lokasi yang pernah aku kunjungi.


"Lah emang belum, kan belum jadi seluruhnya. Hanya beberapa bagian saja yang sudah terpasang, termasuk bagian depan, supaya kamu tahu kalau ada tamu datang."


Aku manggut-manggut, "Yuni bilang nggak kapan panti ini akan mulai dioperasikan?"


"Dia minta sama aku buat masang plakatnya segera sih, bentar lagi mungkin."


"Rum," Mas Juna memanggilku dengan nada ragu.


"Hmm," aku menengok sekilas kemudian kembali melihat layar yang ada di depanku.


"Beberapa hari yang lalu, Nehan nginap di rumah ibu kan Rum?"


Aku melihat Mas Juna, kelihatan sekali kalau pertanyaan tadi diucapkan dengan hati-hati. Aku mengangguk mengiyakan.


"Boleh aku tanya sesuatu yang sedikit pribadi Rum?"


Aneh, biasanya kalau mau tanya tinggal tanya kan, "boleh, sejak kapan aku melarangmu bertanya mas, walaupun itu menyangkut masalah pribadi."


"Aku jadi ngerasa gimana gitu, emang mau nanya apa sih?"


"Pertanyaannya sensitif ya?"


Mas Juna menarik napasnya panjang.


"Jangan lupa dikeluarin napasnya mas, aku nggak mau dituduh membunuh karena kamu mati lemas."


Laki-laki tampan di depanku ini tersenyum dipaksakan. Ternyata kalau diperhatikan dengan baik dia memang lebih tampan dari Mas Han. Kulitnya putih bersih, kalau suamiku kan hitam manis. Ah...mikir apa sih! aku menggelengkan kepalaku.

__ADS_1


"Ayo, mau nanya apa?"


"Tentang Juna yang menginap di rumah ibu Rum."


Aku menunggu dia melanjutkan kalimatnya, "iya, kenapa dengan menginapnya Mas Nehan, nggak ada yang salah dengan hal itu bukan?"


"Toh Mas Han masih suamiku."


"Nah, itu masalahnya Rum!?" suaranya keras setengah berteriak.


Aku menjingkat karena kaget, "astaghfirullah mas, kamu membuat aku kaget tahu Mas."


"Ngomongnya keras sekali," sungutku.


"Ya itu Rum, itu yang ingin aku tanyakan."


Aku berdiri meninggalkan kursi kerjaku. Berjalan menuju mas Juna yang duduk di sofa tamu dan memilih tempat berhadapan dengannya.


"Apa yang sebenarnya ingin kamu tanyakan sih mas?"


"Rum, apa kamu tidak jadi bercerai dari Nehan?"


Oh...jadi karena itu. Aku tersenyum, "jadi kok, aku bahkan sudah kirimkan gugatan cerainya."


Badan Mas Juna langsung lemas jadi lebih rileks, duduknya nyaman, helaan panjang napasnya menunjukkan kelegaan.


Bukannya aku bodoh atau naif. Aku tak seperti dulu lagi. Aku tahu kalau Mas Juna menyukaiku, kelihatan sekali dari sikap dan perhatiannya. Tapi bagiku saat ini yang terpenting adalah Ken.


"Rum!!" teriak seseorang dari luar.


Kami mendengar ada orang yang berteriak dari depan, "Mas, itu sepertinya suara Mas Han."


Mas Juna berlari mendekati layar yang menampilkan keadaan di luar.


"Nehan datang Rum."


"Rum!!" suara itu terdengar lagi.


"Aku harus keluar mas."


"Jangan keluar Rum...Rum!!"


Aku keluar ruangan meninggalkan Mas Juna, mengabaikan teriakannya yang memintaku untuk tetap di dalam.


Mata Mas Han merah. Dia menggenggam sesuatu di tangannya. Ketika dia melemparkan benda itu ke wajahku, ternyata benda itu adalah buntalan kertas.

__ADS_1


"Apa maksudnya itu!" teriak Mas Han keras.


Sekilas aku bisa melihat tulisan pengadilan di buntalan kertas itu. Ah, berarti ini panggilan pengadilan dari pengajuan ceraiku.


Entah apa saja yang diucapkan suamiku itu, aku hanya fokus untuk menenangkan emosinya, apalagi aku melihat ada darah menetes dari kepalan tinjunya. Aku tidak mau kejadian seperti waktu itu—yang hampir membuatku terbunuh—terulang lagi.


Perlahan aku maju mendekatinya. Berusaha mengingatkan kalau kami pernah membicarakan hal ini. Aku bilang kalau hubungan kekeluargaan tidak akan berubah. Dia juga tetap bisa melihat anaknya. Satu-satunya hal yang berubah adalah status hubungan yang sudah bukan suami istri lagi jika proses perceraian selesai.


Tapi semua buyar ketika Mas Juna keluar ruangan.


"Jadi karena dia kamu mengajukan permohonan cerai!" emosinya meluap lagi.


Mas Juna ah...kenapa dia musti keluar sih. Mas Han makin marah melihat keberadaan kami berdua. Untuk sesaat dia kelihatan bingung mencari sesuatu.


"Mana Yuni?" teriaknya, "mana Yuni...Rum!" Mas Han mengulangi pertanyaannya.


Dalam keadaan bingung dan tidak tahu harus menjawab apa, aku memalingkan wajahku pada Mas Juna untuk meminta perlindungan. Aku terkejut ketika Mas Juna memahami keinginanku. Dia membawa tubuhku ke belakang tubuhnya dengan satu kali tarikan.


"Rum, kalau dia mendekat kamu lari masuk ke dalam," bisiknya tepat di telingaku.


Tiba-tiba Mas Han menerjang memberi Mas Juna satu pukulan kemudian pukulan-pukulan lain yang bertubi-tubi. Seharusnya aku menurut pada perintah Mas Juna, tapi aku tidak tega meninggalkannya dipukuli seperti itu. Aku juga tidak ingin ayah dari anakku melakukan tindakan kekerasan dan melukai orang lain.


"Berhenti!!" teriakku sambil berdiri diantara keduanya, aku tidak ingat apa yang terjadi, tapi aku merasa tubuhku melayang ke belakang dan, "Duk," kepalaku menghantam sebuah benda runcing. Rasanya sakit sekali, pandangan mataku gelap. Aku mendengar Mas Juna memanggil nama Mas Han berkali-kali tapi aku tak bisa membuka mata.


Ada rasa khawatir muncul di hatiku. Ada apa dengan Mas Han, kenapa Mas Juna memanggilnya berkali-kali, jangan-jangan dia masuk ke dunia halusinasinya lagi. Kenapa mataku tidak bisa dibuka ini.


Jelas kurasakan kalau tubuhku diangkat seseorang, sepertinya Mas Juna yang mengangkat tubuhku. Masuk dalam mobil sampai kemudian dalam perjalanan, aku rasa yang memelukku dan memanggil namaku berkali-kali juga Mas Juna.


Ketika aku membuka mata malah Mas Han yang ada di depanku. Mas Han meminta maaf padaku, katanya dia tidak sengaja. Aku memaafkannya dan akan selalu begitu, karena dia ayah anakku.


"Apa kita tidak bisa membicarakan gugatan mu lagi Rum. Aku berjanji akan meninggalkan Lala."


Mas Han kembali membicarakan gugatan ceraiku, aku menggeleng, "maafkan aku, mas."


"Kamu bukanlah satu-satunya alasan aku mengajukan gugatan, kamu tahu itu kan mas!"


"Ya, aku tahu," aku yakin Mas Han tahu, aku juga yakin kalau Mas Han tidak bisa melakukan apapun tentang itu.


Aku tengok kanan kiri, ada sesuatu yang kurang, ada sesuatu yang harusnya ada disini. Harusnya kami bertiga. Ah...kepalaku sakit lagi karena aku bergerak terlalu banyak mencari sosok yang satu ini.


Mana Mas Juna, apakah dia tidak boleh masuk? kenapa aku tidak mendengar ketika mereka melarangnya masuk? Aaa....kenapa aku jadi memikirkan laki-laki lain sih. Untung saja badanku lemas kalau nggak tanganku pasti sudah memukul kepalaku berkali-kali.


Untungnya Mas Han tidak menyadari. Aku juga berpura-pura tidak tahu kalau Mas Han memandangku lekat. Aku tidak ingin pulang berdua. Siapa yang tahu apa yang dilakukan Mas Han kalau kami hanya berdua.


Mas Han memegang tanganku erat, aku biarkan dia begitu. Aku memejamkan mata pura-pura tidur. Terdengar suara tirai yang bergerak, ternyata sekat yang menutupi tempat tidur pasien terbuka.

__ADS_1


Wajah yang aku tunggu dari tadi muncul dari balik kelambu. Kami saling pandang. Mas Han makin mengeratkan genggaman tangannya, dia menundukkan kepala kemudian mengecup keningku lama. Aku melihat Mas Juna berbalik memutar badan. Dalam diam aku berteriak, jangan pergi!!...temani aku disini, tapi dia tetap pergi meninggalkan kami.


...***...


__ADS_2