
"Apa kamu menyukai Juna, Rum?" suaranya lemah bernada putus asa, dengan tatapan sayu yang membuat iba.
"Apa aku bisa bicara padamu sebagai teman, mas?"
"Sebagai teman yang bisa kamu curhati kalau kamu menyukai lelaki lain? Tidak Rum, aku nggak sanggup."
"Disitulah letak perbedaan kalian berdua, mas," Rumi melipat baju kotor kemudian memasukkannya kedalam tas plastik yang dia minta dari perawat.
"Tolong berikan pada sopirmu mas, biar dia bawa pulang baju kotor ini ke rumah," Rumi mengangsurkan tas yang ada di tangannya.
"Apa ada yang harus dibawa dari rumah?"
"Pesankan pada ibu untuk membawakan baju bersihku mas, sekalian bawa milikmu, itupun kalau kamu masih ingin ada disini."
"Tentu saja aku ingin ada disini Rum, sampai anakku pulang."
Andai aku bisa mengajakmu bicara tentang apa saja, pasti hubungan kita akan lebih baik—Rumi.
Nehan berjalan keluar. Sebenarnya dia bisa saja berkirim pesan atau bertelepon, tapi kepalanya pusing melihat keakraban Rumi dan sahabatnya. Istilahnya jika dia lengah sedikit benang layang-layang yang kini dia pegang ujungnya akan putus lalu layang-layang nya terbang terbawa angin dan dipungut orang lain.
Setelah menyerahkan baju kotor dan menyampaikan pesan-pesan dari Rumi kepada sopir pribadinya Nehan memutuskan untuk duduk sejenak menikmati udara pagi yang sejuk.
Dia tidak menyadari kalau setiap gerak-geriknya diperhatikan seseorang. Bagaimana dia bisa memperhatikan sekitarnya kalau sekarang ini pikirannya berpusat pada dirinya sendiri.
"Hai," tepukan di pundak membuatnya kembali sadar kalau sedang berada di tempat umum.
"Mau apa kau kemari?" kenapa harus bertemu dengan orang yang ingin kuhindari...
Juna tertawa, "kenapa, jadi sekarang kamu malas bertemu denganku?"
"Kita rival sekarang buat apa aku bicara dengan musuhku."
"Hanya anak kecil yang punya pikiran seperti itu. Ingat Han, kita bukan lagi anak kuliahan yang masih berusaha mencari jati diri. Harusnya kita tetap bisa ngobrol meskipun kita bersaing untuk mendapatkan cinta dari wanita yang sama."
"Bagiku bicara dengan saingan adalah salah satu cara untuk mengukur kekuatan. Aku akan mencari tahu diam-diam apa kelebihan dan kekurangannya."
"Seperti kalau kita ingin menang tender, menilai musuh dengan sikap tenang tapi menghanyutkan."
Nehan hanya melirik sekilas. Justru itu aku malas bicara denganmu—Nehan.
"Ya sudah, aku mau pergi dulu. Aku akan tetap menjadi sahabatmu seperti dulu, tapi aku tidak akan pernah mau lagi mengalah untuk persahabatan kita," Juna melenggang dengan tenang. Sementara Nehan mengepalkan tangannya karena menahan marah.
"Darimana mas, kok lama?"
"Cari udara segar di taman, terus ketemu sama seekor landak, kupikir landaknya tenang, ternyata sekalinya dia membuka diri langsung menancapkan duri."
Rumi bergegas mendekat, "mana yang kena duri landak mas?"
Tanpa sadar Rumi menyentuh wajah, membolak-balik tangan, memutar tubuh dan memperhatikan tiap bagian tubuh Nehan.
"Mana? nggak ada duri landak kok."
__ADS_1
Nehan mengambil tangan Rumi dan menyentuhkannya di bagian dada.
"Kena durinya di dada, mas?" sekali lagi Rumi berusaha mencari dengan membuka kerah kaos yang dipakai Nehan dan berusaha mengintip kedalamnya.
Nehan tersenyum menikmati tiap sentuhan dan kekhawatiran mantan istrinya.
"Bukan di luar Rum, tapi di dalam," tangan Rumi yang masih berada dalam genggaman ditarik sedikit melewati kerah kaos yang dia pakai, "durinya nancap di dalam Rum, di hati aku."
Untuk beberapa saat keduanya saling pandang. Setelah entah berapa lama mereka hanya terjebak dalam pertikaian. Ada setitik rindu yang kembali muncul di hati Rumi.
"Ayah, bunda, Ken mau liat ponbob."
Suara Ken membuyarkan kedekatan keduanya.
"Eh, anak bunda mau lihat tivi?"
"He'eh."
"Ayo sini," Rumi pura-pura sibuk menemukan chanel tivi yang memutar film kartun kesukaan Ken.
Memalukan, kenapa tadi bisa sedekat itu—Rumi.
"Bunda kelewatan ponbobnya."
"Eh, kelewatan ya."
Nehan senyum-senyum melihat mantan istrinya yang salah tingkah.
Rumi memukul kepalanya beberapa kali dan pemandangan itu tak luput dari penglihatan Nehan.
"Jangan dipukul, ini kepala dari orang yang aku cintai, kenapa kamu memukul kepala ini," gegas Nehan mendekat dan cekatan menahan tangan Rumi yang memukul kepalanya sendiri.
"Cih, lebay, yang aku pukul kan kepalaku sendiri," sungut Rumi.
"Sini," tangan yang masih dalam genggaman tadi ditarik lembut menuju sofa, tangan itu baru dilepas ketika tubuh Rumi sudah mendarat di sisinya.
"Aku ingin bicara."
Karena tidak memiliki tempat untuk melarikan diri ataupun alasan untuk menolak, Rumi mengikuti Nehan, tapi dia memutuskan untuk pindah posisi duduk. Rumi memilih duduk di depan Nehan karena merasa lebih nyaman.
"Kenapa pindah, tadi sedekat itu juga biasa saja."
"Ih," Rumi melengos.
"Aku berencana untuk pindah kesini Rum," ekspresi Nehan kelihatan sangat serius. Tidak ada tanda-tanda bercanda sama sekali.
"Kamu serius, Mas?"
"Terus bapak mau kamu tinggal sendiri, bagaimana dengan perusahaan bapak. Kamu dibutuhkan disana mas, jangan karena ego kamu mengorbankan banyak hal."
Nehan menghela napas dan memandang Rumi lekat, "pusat duniaku ada disini, kamu, Ken, Lita semua disini."
__ADS_1
"Aku berencana menyewa profesional untuk menjalankan perusahaan."
"Ya... kalau itu sudah kamu pikirkan masak-masak aku nggak bisa bilang apa-apa lagi sih mas."
"Semoga apa yang kamu inginkan dan rencanakan berjalan lancar."
Ting
"Ada pesan mas, dibuka dulu."
"Biar saja, Rum."
"Dibuka dulu, mas. Siapa tahu penting."
Dengan malas Nehan membuka pesan yang masuk. Dari rumah sakit tempat Sekar dirawat.
Maaf pak, nyonya Sekar Lalita berusaha melakukan percobaan bunuh diri. Kami membutuhkan wali untuk menenangkan.
"Kenapa mas, kenapa kamu jadi diam begitu," Nehan menyerahkan ponselnya pada Rumi.
"Astaghfirullah, lebih baik kamu kesana deh mas. Dia nggak punya siapa-siapa lagi. Lek Broto sekarang juga masih dalam pengamanan polisi."
Nehan bergeming dalam diamnya, "dia akan aku jadikan masa lalu Rum."
"Membuat seseorang menjadi sebuah masa lalu tidak akan menghapuskan jejak orang itu dalam hidup kita. Sebaiknya kamu kesana."
"Ken..."
"Ken akan baik-baik saja bersamaku."
"Kamu yakin?"
"Ya."
"Kabari aku segera kalau kau membutuhkan sesuatu atau ada yang terjadi pada Ken," Rumi mengangguk pasti.
Apapun alasannya harus ada seorang pendamping bagi pasien yang sedang sakit seperti itu.
Nehan mengambil ponselnya. Melakukan penggilan singkat kemudian mendekati Ken, "ayah pergi sebentar ya sayang, cepat pulang ya," sambil mencium pipi anak kesayangannya.
Lalu dia berjalan ke arah Rumi, menyentuh bahu dan mendekatkan dahinya kemudian mengecupnya singkat. Rumi tak sempat menolak, hanya diam mematung. Setelah Nehan pergi baru Rumi tersadar kembali.
"Selalu mengambil kesempatan."
Belum lama sepeninggal Nehan, Ken menangis keras. Ketika Rumi menyentuh dahi kecilnya, tangannya serasa terbakar. Mata Ken mulai terbalik keatas, hanya terlihat warna putih disana.
"Ken, sayang jangan begini nak...Ken," Rumi memencet bel darurat berkali-kali. Beberapa perawat dan dokter yang merawat Ken segera masuk ke dalam.
Kali ini Rumi tidak tahu harus melakukan apa. Dia mengambil langkah mundur untuk memberi tempat bagi tenaga medis merawat bayinya. Kakinya kembali lemas, dia duduk di lantai sambil menangis tanpa bisa menahan air matanya.
Kalaupun engkau ingin bercanda denganku Allah, jangan kau jadikan anakku sebagai bahan candaanmu.
__ADS_1
...*** ...