
Pulang ke rumah setelah menjalani perawatan selama beberapa hari membuatku lega, tapi meskipun aku bisa lebih bebas beraktifitas karena tidak ada lagi pengawasan dokter, aku tetap harus berhati-hati, memastikan agar tidak terlalu lelah.
Sampai hari ini aku tetap menjaga agar Mas Han tidak mengetahui kalau aku hamil. Misalnya ibu telepon pasti dia mengira kebohongannya sukses dan tidak ketahuan. Mbok Nah juga aku wanti-wanti jangan sampai membocorkan rahasia. Aku bilang pada abdiku biar Mas Han tahu dengan sendirinya.
Aku tidak tahu apakah Sekar mengetahui kalau aku sakit atau tidak, tapi selama aku rawat inap sampai sekarang, dia tidak pernah sekalipun menjengukku. Mungkin Mas Han tidak bercerita karena khawatir terjadi perselisihan jika kami bertemu.
Ibu dan bapak masih tergolong baik, ibu pernah menjengukku sekali, beliau datang dengan petuahnya yang bagiku lebih mirip nyinyiran. Sedangkan bapak, beliau tetap menjadi ayah yang sangat luar biasa, bisa dikatakan sejak aku dirawat, ayah melihatku hampir setiap hari.
"Nah, pastikan Rumi tidak terlalu lelah, aku tidak mau menantuku itu sakit lagi."
"Iya Ndoro sepuh, tapi Ndoro Putri ya seperti itu, tidak mau diam. Apalagi dua Minggu lagi acara Ndoro Sekar digelar, tapi jangan khawatir saya akan jaga dua puluh empat jam."
"Bapak mau kemana, pagi-pagi sudah sampai sini saja," aku keluar setelah sempat mendengar obrolan dari Mbok Nah dan bapak dari balik dinding. aku khawatir Mbok Nah keceplosan.
"Ya mau kesini, kamu sudah sehat Rum?"
"Sudah pak, ini mau ke rumah bapak buat ngecek barang yang mau dipakai acara tujuh bulanan."
"Ndak usah repot Rum, biar ibumu saja yang cek. Nehan sudah belanja semua kebutuhan tujuh bulanan itu."
"Iya, Mas Han sudah bilang saya kok pak, untungnya saya belum belanja apa-apa."
Bapak memandangku tak berkedip, aku tahu kalau sedang diamati, "kamu kok pucet ya Rum, kamu yakin baik-baik saja?"
"Baik pak, Rumi sudah baik," jawabku supaya bapak tenang, meskipun aku sayang pada bapak, tapi hatiku belum tergerak untuk memberitahu kalau aku hamil.
"Kabarnya Han akan pergi keluar Rum, ada klien baru katanya, aku berharap ekspansi usahanya bisa sukses."
Aku tersenyum, ya semoga. Tapi masalahnya aku tidak tahu tentang rencananya keluar negeri.
Ketika mentari senja menyapa dan deru suara mobil yang aku kenal memasuki halaman rumah, aku menanti pemiliknya untuk berbicara padaku, menjelaskan semua yang membuat rasa percayaku terkikis untuknya.
Aku duduk di sofa dalam kamar, minuman hangat dan kue sudah tersedia di atas nampan di meja. Mbok Nah yang menyiapkan semuanya, akhir-akhir ini aku jadi malas melaksanakan tugas-tugas kecil seperti itu.
Aku biarkan suamiku mandi dulu. Aroma sabun yang dulu menjadi favoritku sekarang menjadi biasa saja, mungkin juga karena pengaruh hormon atau bayi yang kukandung.
"Rum, aku akan pergi untuk beberapa hari ke depan, ada klien baru yang mengajak bekerjasama mengembangkan usaha ke luar negeri."
"Ya, aku tahu."
Mas Han mengerutkan alis, "dari siapa?"
__ADS_1
"Bapak, terus terang sekarang aku lebih mempercayai informasi dari orang lain daripada darimu mas."
"Apa maksudnya itu Rum?"
"Ya...maksudnya sesuai dengan yang aku katakan mas."
Aku berdiri membuka jendela kamarku, kumatikan AC dan kubiarkan angin taman masuk menyegarkan hatiku.
"Apa ada yang ingin kamu sampaikan padaku mas?"
"Tentang?"
"Apa saja, semuanya, bagaimana kalau tentang Sekar?"
"Kenapa dengan anak itu?"
"Berhenti berpura-pura mas, aku pernah memberi kamu kesempatan untuk bersikap adil dan terbuka!" teriakku.
"Aku terbuka Rum, kamu selalu bersamaku kan, setiap aku mengunjungi anak itu, kamu selalu ada bersamaku."
"Oh iya? Aku tidak akan menghalangimu lagi untuk mengunjunginya mas...aku cuman minta kamu jujur sama aku!" air mata...jangan jatuh sekarang, jangan di depan lelaki ini.
Aku ambil ponselku dengan tangan gemetar, aku tunjukkan sebuah gambar, hanya satu, karena hanya ini bukti yang aku punya, "ini gambar siapa mas?"
Mas Han menyipitkan mata, "itu gambar Sekar."
"Siapa laki-laki yang bersamanya?"
"Aku, tapi wajar kan Rum aku bersamanya, toh kami sudah menikah. Kalau kamu lupa, kamu yang memberi ijin kami menikah."
"Iya! aku bilang iya...! itu kesalahan terbesarku, tapi aku tidak akan pernah menyesalinya. Karena dari pernikahan itu aku jadi tahu siapa kamu yang sebenarnya."
"Sejak awal juga aku sudah bilang kan, kalau aku tidak akan melarangmu mengunjunginya, aku hanya ingin kamu jujur mas," emosiku tak bisa lagi kubendung.
Aku terduduk di sofa, air mataku kembali mengalir, aku mengumpat dalam hati, dasar air mata sialan, tidak sudikah kau sembunyi untuk kali ini saja.
"Rum..." Mas Han mendekatiku, mengambil tanganku dan menciumnya berkali-kali, "aku tidak pernah membohongimu, itu karena aku tidak sengaja bertemu dengannya."
Bagaimana dengan panggilan sayang, kalau aku saja sejak awal tak pernah kau rubah panggilanmu padaku—inginnya aku berteriak tapi aku tak mampu.
"Kamu menganggap aku bodoh mas? Karena aku selalu percaya? jadi kau seenaknya membodohi aku?"
__ADS_1
"Apa perlu aku bertanya sama Situ?" meskipun aku tahu Siti menyimpan rahasia kalian rapat-rapat.
"Apa Siti yang mengatakan semuanya padamu?"
"Bukan itu intinya mas, Siti orang yang baik, saking baiknya sampai dia melindungi pembohong seperti kalian."
Air mataku terus mengalir, tidak mau berhenti.
"Aku akan keluar dulu Rum, memberimu waktu agar kau menenangkan diri."
"Mas," teriakku.
Mas Han terus berlalu setelah mengambil kunci mobil diatas meja, "Mau kemana kamu mas...mau menemui wanita itu?!" teriakku putus asa.
"Biasanya kamu akan memelukku mas, menunggu dan menenangkanku," bisikku lirih pada diri sendiri, air mataku makin deras dan tak mau berhenti.
Perutku terasa sakit, aku merasa ada gelombang bergerak di dalamnya, aku menangis makin keras, "maafkan bunda sayang.
Aku berjalan perlahan menuju tempat tidur, bersusah payah naik ke atasnya, mengambil ponsel dan menghubungi Mbok Nah.
"Mbok...tolong, perut saya sakit lagi."
Tidak aja jawaban, tapi teleponku langsung ditutup.
"Ndoro Putri kenapa?"
Mbok Nah membawa minyak kayu putih ditangannya.
"Jangan diolesi pakai minyak kayu putih mbok, katanya nanti bayinya bisa kepanasan," entah benar atau tidak—yang aku rasa memang itu hanya mitos, tapi aku takut kalau anakku benar-benar kepanasan.
"Apa lagi yang dilakukan Ndoro Kakung, Ndoro?"
Aku menggeleng, aku sudah tak berminat untuk bercerita. Aku hanya ingin menenangkan gejolak dalam perutku.
"Saya ingin pulang ke rumah ibu mbok," ucapku, saya ingin menenangkan diri, saya takut kalau disini terus, saya akan stress dan kandungan saya terganggu.
"Kalau begitu, saya akan bilang sama Ndoro Sepuh saja, kalau kita tidak pamit nanti Ndoro sepuh nyari, waktu acara tujuh bulanan.
Ah...aku menghela napas. Aku pegang perutku erat, sekarang aku paham sikap posesif yang aku lihat pada diri Sekar jika berhubungan dengan anaknya. Maafkan bunda sayang.
...***...
__ADS_1