
"Sebel tahu nggak mas!" wajah Rumi cemberut. Dia membanting tubuhnya di kursi kerja milik. Sementara Juna datang lebih dulu dan sedang scrolling gawai miliknya.
Juna mendengarkan dengan sabar, "Nehan lagi?"
"Hemm."
"Semalam dia ngoceh ndak karuan. Ngomong muter-muter,"
"Bilang aku seenaknya keluar rumah diluar jam kerja, harusnya pamit dulu, membuat ibu khawatir, kasihan Ken yang nunggu di rumah."
"Dia lupa kalau dulu dia pernah melupakan anaknya karena wanita lain."
Juna memandang wajah Rumi penuh cinta, tanpa mengatakan apapun. Hanya diam dan mendengarkan tanpa memotong atau menyela. Senyum terus menghiasi wajahnya.
"Ada yang salah ya dengan wajahku," jadi salah tingkah karena dipandangi tanpa berkedip.
"Nggak," masih senyum-senyum.
"Kok senyum-senyum?" Rumi membuka tas dan mengambil kaca rias kecil, melihat pantulan wajahnya pada kaca dan mematutkan riasannya, "nggak ada yang aneh kok."
"Aku kan sudah bilang, you are beautiful as always."
"Ih..." Rumi merona mendengar ucapan Juna.
"hahaha..." Juna tertawa lepas, "bersama kamu itu selalu menyenangkan."
Rumi membuang muka, tidak hanya karena malu tetapi juga sedang berusaha menahan debaran hati yang pasti terlihat jelas melalui wajahnya.
"Biarkan saja Nehan, mungkin dia butuh waktu untuk menerima kalau kalian tidak lagi memiliki ikatan."
Rumi mendengarkan sambil memberi puja-puji dalam hati kepada lelaki di depannya.
"Sembilan tahun lebih itu bukan waktu yang sebentar, pasti banyak kenangan yang sudah kalian buat berdua. Ada Ken juga diantara kalian. Kamu hanya harus memahami dan bersabar menghadapi Nehan."
Ah, kenapa mantan suaminya itu tak sedewasa lelaki yang sekarang duduk di depannya.
Tanpa sadar Rumi mulai membandingkan keduanya.
"Bagaimana proses pendaftaran peserta didiknya?"
Ya, lebih baik membicarakan tentang pekerjaan, daripada otakku mulai ngelantur kemana-mana, "semua sudah aku serahkan ke guru dan kepala sekolahnya, mas."
"Bagus lah, berarti nanti siang kita bisa makan bareng kan?!"
Rumi diam, bingung harus menjawab apa. Mas Han juga memintanya untuk bertemu, siapa yang harus dipilih.
"Kenapa diam, ada acara lain?" masih memandang Rumi lekat.
"Hemm," Rumi merasa tidak enak, "bukan begitu..."
"Terus..., bilang saja, ini tentang Han?"
__ADS_1
Rumi tersenyum kikuk, mau menolak tidak enak tapi menolak Nehan dia tidak tega.
"Oke, aku akan mengantarmu menemui Nehan."
"Hmm...apa?! Tapi..."
"Tidak apa-apa Rum, aku akan mengantarmu."
Mungkin ini yang terbaik. Agar Mas Han tahu batasan yang tidak lagi boleh dilanggar. Akhirnya Rumi mengangguk.
Lebih baik memberi kabar Mas Han dulu. Rumi mengirim sebuah pesan singkat yang memberi tahu Nehan kalau dia bersedia memenuhi ajakannya. Rumi minta untuk ditunjukkan dimana mereka akan bertemu. Tidak perlu dijemput apalagi berangkat bareng.
Aku jemput Rum
Apa yang kuharapkan, Mas Han langsung setuju? tidak akan mungkin.
Kita bertemu di lokasi atau tidak sama sekali.
Nehan membaca balasan dari mantan istrinya. Dengan siapa kamu akan datang Rum? Dengan bujang lapuk itu? Baiklah mari sedikit bermain.
Baiklah, temui aku di depot masakan Padang langganan kamu.
Kita lihat apa yang akan aku lakukan nanti kalau kamu datang bersama Juna.
Siang itu ketiganya bertemu di depot masakan Padang yang sering didatangi. Nehan duduk lebih dulu. Sedangkan Juna menarik kursi untuk diduduki Rumi.
"Terimakasih, mas."
Cih, sok sopan dan romantis—Nehan.
"Laki-laki itu harus memuliakan wanita, Han."
Berusaha untuk tidak tersinggung dan mengabaikan Juna, Nehan memilih untuk berbicara dengan Rumi.
"Aku mau setelah ini kamu ikut aku, kita berdua," tidak ada pilihan lain kecuali bersikap tegas.
Rumi melihat Juna, meminta pertimbangan dan pemandangan itu membuat Nehan sedikit naik darah.
"Apa dia suamimu, apa kalian sudah menikah?!" kenapa menjengkelkan sekali melihat Rumi yang seakan-akan meminta ijin pada sahabatnya.
"Mungkin sekarang belum, tapi siapa tahu suatu saat nanti Tuhan memang menjodohkan kami berdua."
Nehan mengabaikan Juna. Dia terus melihat Rumi.
"Selama kalian belum ada ikatan, aku juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendekati Rumi."
Suasana menjadi tidak nyaman. Rumi berada diantara dua lelaki yang ingin menunjukkan kepemilikannya. Saling beradu argumen meskipun tidak saling pandang.
Rumi menyentuh tangan Juna, "kali ini biar aku ikuti apa maunya Mas Han. Kalian berdua adalah sahabat, tidak sepantasnya bersikap seperti ini."
Mata Nehan menyala melihat dua orang di depannya saling bersentuhan. Mau meluapkan emosi tidak mungkin. Dia tidak ingin Rumi membencinya. Tapi kalau dibiarkan rasanya panas sekali hati ini. Lagi pula kenapa bujang lapuk itu tidak menghindari tangan Rumi.
__ADS_1
"Baik, kamu boleh pergi sama Nehan. Nanti beri tahu aku lokasinya, akan aku jemput kamu kalau urusan kalian sudah selesai," Rumi mengiyakan.
Apa?! dia kan bisa pulang bareng aku. Aku bisa mengantarnya—Nehan.
"Nggak perlu repot, aku yang mengantar mantan istriku pulang," sekarang Nehan beralih melihat Juna.
"Bagaimana kalau kita serahkan saja semuanya pada yang bersangkutan?" Juna berdiri. Membelai rambut Rumi lembut dan berpamitan, "aku pergi dulu, tapi seharusnya kamu tidak selalu mengikuti permintaan Nehan. Biar dia bisa segera menyadari dimana dia berada."
"Kamu...!" Nehan hampir bangun dari duduknya, tapi kemudian duduk lagi karena Rumi melotot padanya.
"Apa itu tadi, kenapa dia menyentuhmu semaunya?"
"Tangan, rambut, saling pandang?!" Nehan tidak tahan untuk tidak meluapkan emosinya.
"Kami juga pernah saling berpelukan, kenapa...mau marah, sakit hati?! Seperti yang Mas Juna bilang tadi, kamu harus tahu dimana posisimu sekarang, mas."
Jangan terpancing, tujuanmu hari ini adalah menunjukkan rumah baru pada Rumi.
"Sudahlah, kita makan dulu, baru setelah itu kamu ikut aku."
Sisa waktu dihabiskan dengan benar-benar makan, tanpa ada suara diantara keduanya, tidak ada topik pembicaraan yang pas untuk dipilih. Siapa yang tahu apa yang berkecamuk di hati masing-masing.
Perjalanan menuju rumah baru yang dibeli Nehan pun dihabiskan dengan saling diam. Untungnya meski letaknya tidak di pusat kota tetapi rumah itu mudah dijangkau.
Sebuah gerbang tanpa pagar menyambut keduanya. Nehan memarkir mobilnya di halaman tanpa mengalami kesulitan. Terlihat kalau dia sudah sering mengunjungi rumah itu.
"Siapa yang kita kunjungi mas?" Rumi mengedarkan pandangan. Rumah ini sepertinya jarang tersentuh manusia. Daun-daun yang warnanya menguning jatuh memenuhi halaman. Dari jauh kelihatan ubin teras yang penuh debu. Tidak mungkin Nehan mengajaknya mengunjungi seseorang di rumah yang kotor seperti ini.
"Ayo," Nehan mengulurkan tangan. Lama Rumi membiarkan tangan itu menggantung di udara. Karena tahu Rumi menolak akhirnya Nehan mengalah dan membiarkan Rumi jalan sendiri.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, mas. Siapa yang kita kunjungi?"
"Kita tidak mengunjungi siapa-siapa Rum."
"Aku hanya ingin menunjukkan rumah ini padamu."
Raut keheranan sangat kentara terlihat di wajah Rumi, "rumah ini, padaku?"
"Kita akan menempati rumah ini setelah kita mengulang pernikahan kita lagi nanti," Nehan mengucapkannya dengan percaya diri, meskipun nanti Rumi menolaknya, tetapi tidak ada keraguan sedikit pun pada sikapnya.
"Percaya diri sekali kamu mas."
Rumi duduk di undakan yang ada di teras, ingin tertawa tapi hatinya tersanjung juga. Tidak tega tapi ada rasa marah yang tak bisa dihindari.
"Aku tersanjung mas. Tapi harusnya kamu melakukan ini bertahun lalu. Menjadikan aku ratu dalam duniamu. Bukan dayang-dayang yang hanya melayanimu, tanpa bisa melakukan apapun keinginanku. Bahkan rumah kita dulu harus sama persis dengan rumah bapak dan ibu."
"Aku senang melihatmu melakukan ini. Tapi semua terlambat, bagiku masa lalu adalah tabungan kenangan yang tak perlu dibuka. Kita punya Ken, dan itu cukup bagiku. Berikan pada pasangan hidupmu nanti mas. Aku dan Ken sudah terbiasa dengan semua yang sederhana seperti sekarang ini."
Nehan tercenung, tidak tahu lagi harus berkata apa. Dia ambil tangan Rumi dan meletakkan kunci rumah diatasnya.
"Buang saja kunci rumah ini kalau kau tidak mau!"
__ADS_1
Lelaki itu berdiri. Melirik Rumi yang tidak beranjak dari tempatnya duduk.
Buang saja kunci itu. Toh aku bisa mengganti kuncinya dengan yang baru kalau suatu saat nanti kau menerima pinangan ku. Asal kau tahu aku tak akan mundur sebelum aku melihatmu diikat oleh lelaki lain.