
Nehan POV
Sudah hampir dua bulan ini aku mengikuti Lala. Menuruti apa maunya. Mencarikan sekolah terbaik dan tempat tinggal yang layak selama dia menjalani pendidikannya.
Aku menikmati waktuku setiap kali bersama Lala. Dia wanita ceria yang bisa menghidupkan suasana. Tapi meskipun tubuhku ada disini dan terlihat bahagia, sesungguhnya sebagian jiwaku tertinggal di Indonesia. Aku harus jauh dari Rumi dan anakku yang masih dalam kandungan.
Aku punya alasan tersendiri mengapa aku mengikuti Lala dan meninggalkan Rumi, karena aku melakukannya hanya untuk sementara. Aku akan kembali, sebisa mungkin aku harus mendampingi Rumi ketika melahirkan.
Seperti biasanya aku pergi tanpa memberi kabar, toh selama ini Rumi jarang bertemu denganku dan hanya sekali-sekali aku terpergok ibu. Aku lebih banyak mengamatinya secara diam-diam, selain itu aku tidak ingin dia berpikiran kalau aku tega meninggalkannya demi wanita lain.
Sebelum aku berangkat aku berpamitan dan meminta bapak untuk sekali-sekali mengunjungi Rumi, karena aku tetap ingin mengetahui perkembangan kondisi Rumi tiap harinya.
Bapak memang luar biasa, aku tidak tahu apakah bapak mengunjungi Rumi secara terbuka atau diam-diam seperti yang aku lakukan. Tapi yang jelas aku sering mendapatkan kiriman foto Rumi dari bapak. Ada beberapa foto yang aku pasang di laman berbagi gambar milikku, sayangnya Rumi tidak pernah mau membuat akun media sosial sepertiku.
Selama disini aku ingin menyiapkan semuanya dengan cepat agar aku bisa segera kembali pulang. Kalaupun ibu dan Lala berjalan-jalan menikmati pemandangan negara yang kami kunjungi, aku lebih memilih untuk tinggal di apartemen dan bekerja, bagaimanapun bisnis tetap harus berjalan. Yah...mungkin hanya sekali dua kali saja ikut mereka menikmati kota.
Seperti hari ini, Lala dan ibu sedang bersiap untuk keluar, "kamu tidak apa mas ditinggal sendiri di sini, nggak ada temannya lo," Lala mendekati aku dan meninggalkan sebuah kecupan manis di bibirku.
"Hmmm."
"Aku keluar sama ibu nggak akan lama, hanya ingin membeli sesuatu untuk aku kirim ke Indonesia."
Aku menautkan alis, "dikirim ke Indonesia, untuk siapa?"
"Ada deh, rahasia, paketku ini akan menjadi kejutan manis untuknya. Oh, iya, paklek juga akan ikut bersama kami, ada barang yang ingin dia beli. Kadang aku sebal dengan orang tua satu itu, di benar-benar benalu sejati, suka sekali mengganggu hidupku. Tunggu saja, suatu saat harta ayah dan ibuku yang dia kuasai akan aku ambil paksa."
"Biarkan saja, dia keluargamu satu-satunya. Aku akan memberimu lebih banyak dari yang dia ambil."
"Benarkah?" tubuh indah Lala mendekatiku, sambil tersenyum dia naik ke ranjang mendekati aku yang sedang memangku laptop. Dia ambil laptopku dan menggantinya dengan tubuhnya.
Tangannya melingkar di leherku, bibirnya mengecup sekeliling wajahku. Keberanian seperti ini yang tidak pernah aku dapatkan dari Rumi. Ini juga yang membuat aku ingin memiliki keduanya. Dua wanita yang aku cintai dengan cara yang berbeda.
"Kalau aku mengambil semua milikmu, apa kau akan membiarkan aku?" senyumnya begitu menggoda.
"Ambil saja, hartaku tidak akan habis hanya karena kau ingin mengambilnya."
"Kalau yang akan aku ambil Mbak Rumi dan anaknya?" pertanyaan apa ini.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Aku akan mengambil Mbak Rumi dan anaknya kemudian menjauhkannya darimu mas, jadi akan hanya ada kau dan aku."
Aku melepaskan diri dari rangkulannya, turun dari ranjang dan melihatnya dari tempatku berdiri, "jangan coba-coba!"
"Kalau aku minta kau untuk memilih, siapa yang akan kau pilih?" ada nada kesal terdengar dalam suaranya.
"Aku akan memilih wanita yang bersama anakku."
Dia membanting tubuhnya, "berarti kau tidak akan memilihku."
"Kenapa tidak? kau tinggal menyerahkan tubuhmu dan memiliki anak lagi denganku, tinggalkan semua mimpimu demi aku."
"Aku bukan wanita bodoh seperti mbak Rumi, yang menuruti semua permintaanmu mas," dia menjauhi ranjang tempat kami semalam bercinta, mengambil tas bertali panjang yang menggantung di kursi.
"Hati-hati kalau bicara, Rumi bukan wanita bodoh!" selama ini Rumi hanya mengikuti apa mauku, karena memang seperti itu caranya mencintaiku.
"Huh, bela saja terus," Lala membuka lebar tangannya, mendekatiku dan memelukku erat. Dia selalu tidak terduga, ketika aku pikir dia akan marah dia selalu melakukan hal sebaliknya, "aku pergi dulu, baik-baik disini menunggu aku kembali."
Sepeninggal Lala ada beberapa meeting yang harus aku lakukan. Meskipun kantor aku tinggal selama beberapa bulan, tidak boleh ada satu hal pun yang terbengkalai. Setelah semua selesai aku mengambil ponsel dan melihat beberapa foto kiriman bapak, betapa aku merindukanmu Rum.
...***...
Sudah dua hari perasaanku selalu tidak enak. Wajah Rumi selalu saja membayang di depan mataku. Apa ada sesuatu yang akan terjadi denganmu Rum, atau anak kita... andai aku tahu berapa usia kehamilanmu sekarang. Mungkin sebaiknya aku tanya bapak.
"Sarapan dulu mas," Lala sedang sibuk menyiapkan makan pagi, tapi aku tidak berselera.
"Kamu makan saja dulu."
"Kenapa sih sedari kemarin kayak nggak punya semangat gitu, ingat sama yang di Indonesia?" aku melirik sekilas, "padahal yang disana belum tentu ingat lo, mungkin saja malah mendoakan mas terkena musibah."
Selalu saja membicarakan yang buruk tentang Rumi, "berapa kali aku bilang, aku tidak suka kamu menjelekkan Rumi, hati-hati kalau bicara!" makin tidak berselera makan jadinya, "mulutmu lama-lama seperti ibu, aku tidak suka itu!" ucapku tegas dan penuh penekanan.
Seperti biasanya Lala mendekatiku, memegang tanganku melingkarkannya di pinggang, "maaf, bukan maksudku begitu," kemudian selalu diakhiri dengan pelukan hangat dan kecupan manis.
"Makan Yuk," tanganku ditariknya, aku sudah akan mengikuti Lala ketika ponselku berbunyi nyaring.
"Sebentar," aku berlari mengambil ponsel, "halo, assalamualaikum, bapak."
"Apa pak?! baik...baik, saya akan segera pulang."
__ADS_1
Aku bergegas masuk kamar mengambil tas dan meringkas beberapa lembar baju. Untung perlengkapan untuk perjalanan tidak pernah aku bongkar, berdasarkan pengalaman jadi kalau harus cabut mendadak semua siap.
Lala berlari menyusulku ke kamar, "mau kemana kamu mas?"
"Pulang."
"Aku masih butuh kamu temani disini, mas. Aku belum terbiasa, tidak nyaman rasanya kalau hanya dengan ibu dan paklek, lagi pula mereka menginap di tempat yang berbeda."
"Aku harus pulang la, Rumi akan melahirkan!" jawabku singkat.
"Kamu belum mengecek penerbangan mas, nggak bisa buru-buru begini."
"Bisa, aku sudah biasa," aku memasang tas punggungku, berdiri di depan Lala kemudian mengecup dahi dan bibirnya sekilas, "baik-baik disini, aku akan menghubungimu."
"Kamu tidak bisa meninggalkan aku mas," tanganku dipegang erat, "aku dulu pun melahirkan tanpa kamu tunggu, jadi tidak ada salahnya kalau Mbak Rumi sekarang juga mengalami hal yang sama," matanya dipenuhi embun, maafkan aku la.
"Maafkan aku, kamu bukan Rumi. Aku tidak bisa meninggalkan Rumi sendiri. Kamu wanita mandiri yang bisa hidup tanpa aku, tapi Rumi tidak, dia akan selalu membutuhkanku."
"Mas..." aku melepaskan genggaman Lala dan berjalan menuju pintu, "mas...!"
Suara Lala menghilang dibalik pintu yang tertutup, semoga aku masih keburu untuk menemani Rumi melahirkan. Kalaupun tidak, aku tidak sabar melihat anakku untuk yang pertama kalinya.
...***...
Pede bener kamu Han...
Rumi tidak bisa hidup tanpa kamu?!
Rumi bisa hidup tanpa kamu Han, sangat bisa.
Bukan begitu readers...?
Harus begitu!!!
💪💪💪
Jangan lupa buat like, komen, share juga boleh hehehe...
Terimakasih buat nitijen yang sudah kasih hadiah dan vote ya...
__ADS_1
Penulis tidak menolak kok, kalau yang lain ikut kasih hadiah dan vote.
Happy reading gaess 🥰😘❤️