
Author POV
Juna melihat ke belakang. Ada Nehan ikut menyangga tubuh Rumi yang lemas. Tak ada satupun yang berniat melepaskan tangan. Dua lelaki itu perang mental.
"Lepaskan aku," bisik Rumi.
Keduanya masih saling pandang, "tolong lepaskan aku, aku sudah bisa berdiri sendiri."
Juna segera melepaskan tangannya. Tapi tidak semudah itu untuk Nehan. Sampai akhirnya Rumi harus mengulang permintaannya lagi, "mas..." bisik Rumi sambil melihat Nehan kesal.
"Kenapa kamu ada disini mas?" tanya Rumi yang melihat Nehan berdiri di depannya.
"Aku merasa tidak enak membiarkan kalian berdua pulang sendiri. Karena itu aku mengikuti kalian. Sampai di rumah, ibu menceritakan semuanya."
Rumi menghela napas kemudian berjalan mendekati ranjang dimana Ken dirawat. Ken tidur dengan tenang, demamnya mulai turun.
"Salah satu ayah atau ibunya silahkan menyelesaikan administrasi ya," ucap perawat.
Nehan hampir beranjak ketika anaknya memanggil, "ayah."
"Anak ayah..." Nehan mengurungkan niatnya dan mendekati ranjang pasien, membelai rambut Ken yang hitam lebat.
Juna tertegun melihat tiga manusia di depannya, keluarga kecil yang harusnya bisa bahagia. Bolehkan dia masuk diantara mereka? Tapi Juna tidak mau terhanyut, dia berlari ke petugas administrasi untuk mengurus ruang rawat inap buat Ken.
"Silahkan ayah mau yang kelas berapa?"
Ayah...kata itu membuat hatinya mengembang hangat.
"Yang terbaik ya mbak."
"Baik, kalau kamar yang terbaik ada bed untuk penunggu. Biar ayah dan ibunya nyaman. Ada kulkas juga untuk menyimpan makanan plus televisi dan ada fasilitas internet gratis."
Juna mengangguk, dia ingin Rumi merasa nyaman.
"Akan langsung saya bayar di muka mbak, untuk perawatan selama sepuluh hari. Jika nanti pulangnya lebih cepat depositnya bisa untuk biaya obat dan lain-lain," Juna mengeluarkan sebuah kartu nama dari sakunya, "jangan menghubungi ibunya jika butuh biaya lain-lain, hubungi saja nomor ini."
"Nomor siapa itu?!"
"Tolong dikembalikan kartu nama itu, saya ayahnya. Untuk semua biaya saya yang akan tanggung."
"Maaf pak, untuk biaya kamar sudah dibayar selama sepuluh hari perawatan oleh Pak...Juna," ucap petugas sambil melihat tulisan di kartu nama.
"Untuk biaya lainnya silahkan hubungi ibunya, nanti ibunya akan menghubungi saya," ujar Nehan membuat perawat bingung.
Seperti Rumi akan mau menghubungi saja—Juna.
Enak saja, memang dirinya siapa, sok memberi kartu nama—Nehan.
"Baik mbak terimakasih, saya akan menyerahkan urusan yang lain pada ayahnya," dengan tenang Juna meninggalkan ruang administrasi.
Melihat itu Nehan jadi kelabakan, pasti Juna akan ke kamar menemui Rumi dan anaknya.
"Kurang apa mbak, biar cepat selesai, saya harus segera menemui anak saya," jadi tergesa-gesa kan...
"Bagaimana Ken, Rum?" tanya Juna setelah berada dalam ruang rawat inap. Pelayanan rumah sakit yang cepat membuat semua lancar.
Rumi tersenyum, "Alhamdulillah, jauh lebih baik."
"Sekarang anaknya sedang tidur," sambil menggerakkan mata memberi tanda kalau Ken terlelap.
"Mas..."
"Hem," keduanya saling pandang.
__ADS_1
"Terimakasih," Juna mengangguk. Apapun untukmu Rum.
"Kamu boleh pulang mas, istirahat. Kalau terlalu mendadak begini sulit cari penginapan, tidur saja di panti. Di kamar rahasia kita."
"Iya, lebih baik kamu balik dan istirahat," suara Nehan terdengar keras dari arah pintu.
"Sebentar...kamu tadi menyebut kamar rahasia kalian. Kamar rahasia apa Rum? Memang di panti ada kamar rahasia untuk kalian berdua?"
Rumi dan Juna saling pandang, tapi tidak ada yang ingin menjelaskan.
"Ya sudah aku balik dulu ya Rum. Aku akan tidur di kamar itu," nikmat rasanya membuat Nehan bingung.
Juna keluar kamar, berjalan dengan langkah pasti karena merasa memenangkan permainan kali ini.
"Rum...kamar apa Rum?"
"Apa sih mas?! Aku mau tidur dulu, capek."
"Iya tidur, tapi jawab dulu pertanyaanku."
Karena malas menjawab, Rumi merebahkan diri dan membiarkan Nehan memanggil namanya beberapa kali, sampai Rumi benar-benar tertidur pertanyaan Nehan tak terjawab.
Pagi sekali Ken terjaga, membuat Rumi ikut bangun. Melihat Nehan yang masih lelap terpaksa Rumi membangunkan laki-laki itu.
"Mas, bangun, mandi dulu," setelah sebelumnya Rumi sudah membersihkan tubuh anaknya kemudian mandi untuk menyegarkan diri.
"Hmmm."
"Bangun, sholat subuh dulu."
"Iya."
"Selamat pagi," dari arah pintu muncul Juna yang membawa beberapa tas plastik berisi makanan.
Juna meletakkan makanan diatas meja dan berjalan mendekati Ken.
"Bagaimana Ken, Rum?"
Apa-apaan Juna, "lain kali kalau masuk ruangan orang lain ketuk pintu dulu. Siapa tahu orang yang di dalam sedang melakukan sesuatu."
"Mandi, mas!" ketus Rumi, kalau tidak dihentikan pasti akan panjang kalimatnya.
"Iya," seperti kerbau dicocok hidungnya, Nehan langsung masuk ke kamar mandi tanpa ada bantahan sedikit pun.
"Hai Ken," kamu tahu Ken ayahmu menyebalkan.
"Hai, Om Juna bawa apa? Ken lapal."
"Sebentar ya," Juna bergegas mengambil tas plastik yang diletakkan diatas meja.
"Tidak ada larangan makanan kan Rum?!" bicara sambil melihat Rumi yang baru disadari ternyata pagi ini terlihat cantik sekali.
"Tidak ada mas," senyum menghiasi wajah mulus itu.
"Kamu tahu Ken, bunda pagi ini cantik sekali bukan?!" tangan Juna sibuk membuka bungkus roti lapis dengan selai coklat.
"Bunda setiap hali cantik, om," bibirnya mulai belepotan makan roti coklat kesukaan anak-anak.
"Rum!!!" suara teriakan dari kamar mandi mengacaukan ketenangan pagi ini.
Juna memandang Rumi yang menghela napas.
"Apa mas?"
__ADS_1
"Bawakan handuk."
Gimana sih mas Han...Rumi melirik Juna, "handukmu dimana, mas?"
"Lupa aku tinggal di mobil, pinjam handukmu dulu."
Enak saja, "nggak boleh saling pinjam handuk," jawab Rumi. Waktu masih menikah saja handuk masing-masing.
"Mau yang lain, Ken?" Juna berusaha mengalihkan perhatiannya. Permainan ini sepertinya akan melelahkan.
"Sekali saja, Rum..."
Merasa sungkan Rumi melihat ke arah Juna lagi.
"Berikan saja handukmu, nanti aku belikan yang baru," akhirnya Juna buka suara karena jengah mendengar teriakan Nehan.
"Nggak usah, biarkan saja mas."
"Atau pinjamkan saja handuknya Ken."
"Rum, mana...aku nggak bisa pakai baju kalau badanku basah," teriak Nehan lagi masih dari dalam kamar mandi.
Ampun deh, Rumi berdiri mengambil handuk Ken untuk diberikan pada Nehan.
"Mana?" tangan Nehan melambai diantara pintu yang terbuka sedikit.
Setelah keluar kamar mandi, masih ada lagi permintaan Nehan yang absurd banget, "Rum, aku gak bawa baju ganti, rasanya nggak nyaman. Minta tolong kamu telepon mbok Nah buat titipkan baju aku ke Pak Dul, bisa nggak Rum? Biar diantarkan kesini nanti."
Alis Rumi bertaut, merepotkan sekali lelaki yang satu ini. Juna menghela napas melihat tingkah sahabatnya.
"Makannya dilanjutkan ya jagoan, om mau keluar sebentar."
"Ciap om," keduanya ber-high five sebelum Juna meninggalkan kamar.
"Kamu kenapa sih mas, kan bisa telepon sopir pribadi kamu buat ambil baju di rumah ibu, sopir kamu juga sudah tahu dimana rumah ibu kan..."
"Aku tahu, cuman biar Juna ngerti saja, kalau kamu masih menyimpan pakaianku di rumah ibu. Biar dia tahu juga kalau aku masih dianggap keluarga dan masih suka menginap di rumah ibu."
"Kamu kekanakan sekali sih mas. Kamu pikir Mas Juna nggak tahu itu?" Nehan mengendikkan bahu tanda tidak peduli kemudian mendekati anaknya.
"Sedang makan apa nak?" tanya Nehan sambil menowel pipi Ken.
"Makan roti ayah, ayah mau?" menyodorkan roti yang sedang digenggam, Nehan menggeleng.
Tiba-tiba, "Ini!"
Juna melemparkan kaos dan celana ke arah Nehan.
"Pakai punyaku, jangan suka merepotkan orang lain."
Meskipun malas, terpaksa dipakai juga pakaian milik Juna. Nehan melirik Rumi yang terus tersenyum melihat sikap Juna.
Jangan melihat lelaki lain seperti itu Rum, kamu membuatku hancur kalau terus melihatnya dengan tatapan mata kagum mu itu—Nehan.
Kali ini Nehan merasa menyesal dengan semua perlakuannya pada Rumi di masa lalu. Rasa sakit yang dirasakan Rumi dulu sekarang berbalik padanya seperti sebuah bumerang.
Makin dia berusaha untuk menerima kalau Rumi bukan lagi miliknya, semakin kuat rasa tak ingin melepaskan muncul.
Dia hanya bisa melihat dari belakang ketika Rumi mengantar Juna pulang sampai pintu. Memang hanya sampai pintu tapi sakitnya menusuk sampai jantung. Dengan gontai Nehan mendekati Ken dan berbisik, "bantu ayah memenangkan bunda lagi ya sayang."
Ken mengangguk lucu, "iya ayah," meski mungkin dia tidak tahu apa maksud perkataan ayahnya.
Orang bijak bilang,
__ADS_1
"Hargai yang kamu miliki hari ini karena disitu ada kebahagiaan. Orang yang tak bisa menghargai apa yang dia punya maka dia akan merasakan sakitnya kehilangan."
...***...