
Tubuh atletis itu berjalan mendekatiku. Sebuah pemandangan yang indah—tentu saja, jika aku belum bersuami. Di belakangnya ada seorang wanita berjalan cepat mengikuti langkah-langkah panjang Mas Juna. Begitu aku ingat siapa wanita itu, segera aku berteriak histeris.
"Yuni...," tanganku terulur siap menerima pelukannya. Kami berdua tersenyum lebar.
Aku hampir berdiri dari kursi roda ketika ibu menepuk pundakku keras, "mau kemana?!" matanya melotot sampai mau keluar.
Aku cemberut tapi aku menurut, aku kembali meletakkan pantatku yang tadi sempat sedikit terangkat, "maaf lupa."
"Tunggu disini, biar mereka yang datang!" ucap ibu masih dengan nada marah. Namanya juga lupa.
"Sayang," Yuni memelukku erat, rindu rasanya karena lama kami tak jumpa. Mas Juna memperhatikan kami dengan wajah berhias senyuman.
Aku mengawasi penampakan temanku. Begitu rapi dan berwibawa, "kamu cantik sekali, mana celana jeans yang dulu sering kau pakai?" godaku.
"Masih kupakai kalau aku sedang ingin menikmati pemandangan dari ketinggian," ucapnya diselingi tawa, ternyata dia tidak berubah.
"Ibu, biar saya yang mendorong anak ini, ibu masuk saja dalam kamar istirahat."
"Kamu tambah cantik Yun," Ayuni memang pernah ke rumahku beberapa kali karena itu ibu mengenalnya, "ibu titip ya."
"Nak Juna, tak tinggal dulu ya."
"Kamu ngapain diatas kursi roda begini," Yuni celingak-celinguk seperti mencari sesuatu, "mana Raden mas Nehan yang membuatmu tergila-gila itu? sampai kamu mengabaikan pangeran tampan baik hati yang ada di belakangmu, ha!" matanya mengerling ke arah mas Juna.
"Waktu itu aku mengalah untukmu, karena kamu nangis-nangis curhat ke aku bilang cinta sama si pangeran tampan," aku melihat Mas Juna, "mas nggak tahu kan kalau Yuni jatuh cinta sama mas?"
Kami bertiga terbahak menertawakan masa lalu, bagaimana sampai akhirnya aku jatuh ke pelukan Mas Han dan mengapa cinta Mas Juna bak gayung tak bersambut.
"O...jadi dia nggak pernah nembak kamu?"
"Aku sama Mas Juna nggak pernah beneran pacaran, dia nggak pernah benar-benar bilang mau nggak kamu jadi pacar aku?" yang dibicarakan sedang asik menikmati lemonade yang ada di depannya.
"Mas, seger ya?" air liurku hampir menetes.
"Kamu mau?" Mas Juna segera berdiri memesankan aku minuman yang sama.
Karena kami akhirnya berhenti di kantin, banyak juga kudapan yang membuatku berselera. Mataku bergerak bebas melirik tiap kue yang dipajang. Sayangnya aku berada di kursi roda jadi tidak bebas memesan.
Entah bagaimana, Mas Juna tahu apa yang aku mau, dia tidak hanya memesankan lemonade untukku, tapi kemudian mendorongku mendekati stal kudapan yang aku lirik, "pilih apa yang kamu mau."
"Beneran?"
Mas Juna mengangguk, dia membiarkanku memilih banyak jajanan tanpa melarang.
__ADS_1
"Kalian masih tetap mesra sampai sekarang, aku iri tahu," Yuni mencebik.
Moodku membaik, kehadiran dua sahabatku ini menjadi booster, aku melupakan semua masalah yang akhir-akhir ini membelit kepalaku, membuatnya serasa mau pecah.
"Omong-omong, bagaimana kalian berdua bisa bersamaan kemari?" siapa tahu dua orang ini sekarang sedang menjalin sebuah hubungan khusus, kalau iya, aku akan turut bahagia untuk keduanya.
"Aku ingin mendirikan yayasan pendidikan di sini, Rum," jelas Yuni, "aku jatuh cinta pada desamu ini. Ini tadi aku berencana mencari lokasi yang tepat untuk membangun gedung yang aku butuhkan."
"Kamu ternyata beneran anak Sultan deh Yun," jawabku kagum, "anak Sultan yang baik hati, masih mau berkegiatan sosial dari pada uangnya buat beli barang branded."
"Aku sudah dapat banyak keuntungan dari yayasan yang aku miliki sebelumnya, itu memang aku peruntukkan bagi anak dengan strata ekonomi atas, sama seperti aku," Yuni tertawa kecil.
"Kalau yang disini memang aku peruntukkan untuk yayasan sosial. Aku berterimakasih sama kamu, dulu kalau aku berkunjung kemari aku merasakan kasih sayang ibu, sesuatu yang aku nggak dapat di rumah."
Aku bahagia mendengar kalimat Yuni. Ternyata orang sederhana seperti kami—aku dan ibu, bisa memberi arti lebih untuk orang lain.
Mas Juna tidak mengatakan apapun, dia hanya menjadi pendengar dan terus melihatku lekat.
"Terus bagaimana kalian bisa bebarengan kemari?" tanyaku penasaran.
"Kami tadi tidak sengaja ketemu di jalan, terus si Juna cerita kalau kamu lagi ada disini, sakit katanya, lalu dari Mbok nah kita tadi tahu kalau kamu lagi hamil."
"Kalau dia, aku nggak tahu darimana awalnya dia tahu kamu sakit," Yuni melirik orang yang duduk di depan kami.
"Yang penting aku tahu, nggak penting dari siapa."
Mas Han mengangkat alisnya ke arahku, "beli segitu banyak dari tadi nggak ada yang disentuh," bicara sambil menunjuk kudapan dengan matanya.
"Cuman pengen, nggak mau makannya, masih suka mual," jawabku menahan perutku yang seperti diaduk.
"Yun makan!" dengan entengnya Mas Juna meminta Yuni untuk makan jajanan yang ada di depanku.
"Ogah...enaknya sendiri, kalau kamu mau, makan sendiri jangan suruh aku dong, nggak tahu apa, kalau aku rajin diet," sembur Yuni.
"Mas aja deh yang makan," pintaku, "sebagian lagi kita bawa ke kamar biar dimakan Mbok Nah dan Pak Dul."
Tanpa banyak kata atau menjawab, Mas Juna makan beberapa kue, kemudian meminta kresek pada penjual untuk meringkas sisa jajanan yang ada dan menyimpannya, "nanti kita berikan waktu balik ke kamar."
"Ayo kita balik, aku sudah terlalu lama disini, tapi aku senang ketemu kamu lagi," Yuni mengambil kursi rodaku dengan cekatan dan dia mendorongku keluar kantin.
"Kamu tahu siapa yang mau membantuku untuk merencanakan dan menyelesaikan gedung yang mau aku bangun?" kami masih melanjutkan perbincangan sambil berjalan.
"Mas...Juna?" tebakku ragu-ragu.
__ADS_1
"Yap...dia akan sering kemari, aku selalu sibuk dengan urusanku yang lain, untuk pembangunan yang disini aku percayakan pada si pangeran tampan, siap kan kamu Jun?!"
Meskipun tidak menjawab tapi Mas Juna juga tidak menolak.
"Sepertinya kalian akan sering bertemu setelah ini, apalagi Raden mas mu sedang nggak nungguin kamu kan?!"
"Jangan ngawur kalau ngomong, Yun."
"Si Juna masih mencintaimu, kelihatan dari matanya, berbinar waktu memandangku."
"Dan aku wanita bersuami."
"Yang ditinggalkan karena punya istri baru," sambar Yuni melanjutkan kalimatku yang belum selesai dan sukses membuatku terdiam.
"Sudah, nggak usah dipikirin laki-laki model begitu, sekali dia bohong dia akan terus bohong."
"Tapi aku masih berharap rumah tanggaku bisa diselamatkan Yun."
"Hahaha...suatu saat kamu akan lelah menanti, kalau saat itu datang, kamu hubungi aku, aku punya rencana besar untukmu."
"Rencana apaan?"
"Ntar aja kalau semua sudah beres baru kita berunding lagi."
"Jun kamu lanjutin deh ngedorong putri manja nih ke kamar, aku mau lanjut dulu," Yuni memelukku sebelum meninggalkan kami, "jaga diri ya sayang, salam buat ibu."
"He'eh, sukses terus buat kamu."
Mas Juna menggantikan Yuni mendorongku, kami baru berjalan ketika Yuni sudah hilang dari pandangan. Ayuni Wasesa, aku akan menanti apa rencanamu untukku, karena kamu wanita yang luar biasa.
Setelah kursi rodaku yang mendorong Mas Juna, senyap menemani kami. Aku tidak tahu harus ngobrol tentang apa, mungkin itu juga yang dirasakan Mas Juna.
Mbok Nah berdiri di depan pintu kamar sambil berkacak pinggang ketika kami mendekat, Mas Juna segera memberikan bungkusan jajanan sebelum Mbok Nah sempat membuka suara, "buat mbok dan Pak Dul."
"Jangan kira saya akan jadi baik sama Aden karena kue ini ya, itu mata Aden kelihatan banyak bintang kalau melihat Ndoro putri saya."
"Mbok tahu tidak dari mana asalnya bintang dimata saya," mbok Nah tidak menjawab, "dari pantulan Ndoro Putrimu yang aku pandang mbok, dia yang memancarkan cahaya bintang, karena itu mata saya bercahaya setiap melihatnya."
"Huh gombal," Mas Juna tertawa.
Dari dalam keluar ibu sambil menggerutu, "kalau mau jadi Tom and Jerry sana cari taman bermain, jangan disini...ribut aja kalau ketemu," ucap ibu sambil mendorongku masuk kamar.
Sebelum kami benar-benar masuk kamar ibu masih sempat berucap, "untuk kamu Jun...sekarang kamu harus menjauhi anak saya, bagaimanapun dia wanita bersuami, jaga kehormatannya, kunjungi dia dengan wajar, jangan menunjukkan wajah mesum di depanku."
__ADS_1
"Ibu," bisikku sambil mencubit tangannya. Tapi singa betinaku tetaplah seekor singa, aku di dorong masuk dan pintu ditutup dengan keras.
...***...