Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 22


__ADS_3

Kamar kami dilingkupi kebisuan. Aku dan Mas Han tenggelam dalam imajinasi masing-masing. Terus terang bayangan wajah Sekar masih memenuhi ruang di otakku. Hati ini sebenarnya tidak tega melihat betapa pias wajah anak itu tadi.


Aku memandang suamiku. Bayangan setan bertanduk masih menggelayut di belakang kepalanya. Entah sebesar apa bara amarah berkobar di dadanya.


Aku memangkas jarak, mendekat hanya sekedar untuk tahu deru napas mas Han apakah masih memburu.


"Mas..."


"Hmmm," matanya tidak beralih dari benda pipih mengkilat di tangannya, meskipun nada suaranya sudah normal tapi mas Han terkesan cuek dan tidak peduli.


"Masih marah?" tidak ada jawaban. Sepertinya aku harus menahan diri dulu untuk tidak membahas apapun yang bersangkut paut dengan Sekar.


Bagaimana ini? Bukannya aku membenarkan apa yang dilakukan oleh Sekar. Tapi sekarang anak itu kebutuhannya pasti lebih dari sebelumnya. Dia butuh ditemani, diperhatikan, aku juga ingin terlibat langsung dengan janin yang sekarang ada dalam kandungan anak itu.


Ketika terlintas akan ada bayi diantara kami, wajahku menghangat, kalau ada yang melihat pasti sekarang wajahku yang bersih berubah menjadi pink karena darahku mengalir lebih cepat dari sebelumnya.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" entah sejak kapan mata teduh mas Han lurus menatapku. Wajahnya masih tanpa ekspresi, tapi pertanyaannya menjadi pembuka jalan bagiku untuk membicarakan tentang Sekar.


"Membayangkan anak yang akan kita miliki nanti mas," wajahku kubuat sebahagia mungkin. Aku tahu kebahagiaanku adalah kelemahannya.


"Sebahagia itukah kamu?" ekspresinya berubah, sekilas terlihat wajah kesal dan sedih muncul bergantian.


"Ehem..." senyum merekah kupasang di bibirku, pertahankan ekspresi bahagiamu Rum.


Tarikan napas dalam dan berat menerobos masuk dalam lubang pendengaran ku, semarah itukah kamu mas?


Mas Han menggeser tubuhnya mendekatiku, tangannya terulur dan aku membawa diriku masuk kedalam pelukannya yang selalu hangat.


"Kamu masih marah, mas?" tanyaku membuka percakapan.


"Masih," ujarnya singkat.


"Tapi aku bisa menahannya Rum, toh anak yang dikandung wanita itu adalah anakku."


"Namanya Sekar mas," karena anak itu mengandung, aku ingin menerima dia dengan sepenuh hatiku. Untuk sekarang aku akan mengakui keberadaannya, akan kupanggil dia dengan namanya.


Mas Han mengangkat kepalanya berusaha memandangku, aku mendongak menatap wajahnya, "kenapa?" tanyaku.


"Sejak kapan kamu bisa menerima kehadirannya, bahkan sekarang kau ingin aku memanggilnya dengan benar, menggunakan namanya?"


"Sejak aku tahu dia hamil," jawabku. Mas Han kembali menenggelamkan kepalaku pada dada bidangnya.


"Baiklah, sekarang aku bisa meraba kemana arah perbincangan kita ini."


Aku tersenyum, oh...suamiku memang selalu sepintar ini.


"Kamu ingin aku bersikap sebagai suami siaga, Rum?"


Aku mengerutkan alisku, suami siaga? oh...tidak Mas.

__ADS_1


"Bukan suami siaga Mas, tapi ayah siaga," enaknya saja suami siaga, kamu harus siaga untuk anak kita, bukan untuk ibunya. Apakah aku kejam jika menginginkan itu?


"Apa bedanya, karena anak kita masih ada dalam kandungan ibunya, berarti yang harus aku perhatikan ibunya, iya kan?"


Benar juga, tapi tidak tepat seperti itu, "mirip seperti itu tetapi bukan begitu."


"Maksudnya?"


"Kamu tidak boleh ke rumah Sekar sendirian, seperti perjanjian kita yang memang keinginanmu," aku menekankan kata keinginanmu karena waktu itu memang keinginan mas Han, "kita akan mengunjungi Sekar berdua."


Tidak ada jawaban, tidak ada reaksi berlebihan, Mas Han hanya makin mengeratkan pelukannya. Aku anggap suamiku setuju dengan semua keinginanku.


"Aku ingin tidur, Rum. Aku masih kesal dengan kejadian tadi siang. Aku akan berusaha menghilangkan amarahku karena kamu, dan karena anak yang dikandung wanita itu."


"Namanya Sekar, mas," koreksiku lagi.


Malam memeluk kami makin erat, seerat kungkungan tubuh Mas Han pada tubuhku. Aku tahu lelakiku sedang berusaha meredakan amarahnya dengan mencari kenyamanan melalui diriku, dan aku...akan selalu ada untuknya. Kecuali jika dia menginginkan aku untuk pergi.


...***...


Ibu duduk didepan kami. Matanya memandang kami tak berkedip. Cepat sekali kabar tentang kejadian kemarin siang sampai ke telinga ibu. Tapi yah...apa yang kuharapkan, kejadian kemarin berhubungan dengan Lek Broto.


"Tega sekali kalian melakukan hal seperti itu sama Sekar."


Aku melirik suamiku, memberi tanda dengan kedipan mata agar dia tidak menjawab apapun kalimat ibu. Sekali saja Mas Han membuka mulutnya, dia pasti akan meledak. Harusnya semalam aku bisa memprediksi kedatangan ibu, bodoh sekali aku.


"Yo nek ora ono Sekar, kowe bocah loro iki wes tak kon pisahan, lah nyapo aku ngingoni mantu gabuk." (Kalau tidak ada Sekar, kalian berdua ini sudah ibu minta untuk berpisah, apa gunanya punya menantu kalau mandul).


Hawa tubuhku memanas, sesekali aku melihat Mas Han yang duduk di sampingku menggeretakkan rahangnya. Buku-buku tangannya juga memerah karena kepalan yang mengeras.


"Ngapunten ibu." (Maaf ibu).


Biar aku yang menjawab mas, tahan dirimu, ingat ini demi anak kita yang sedang dikandung Sekar. Aku menginginkan untuk merawat anak itu.


"Halah...kamu bisanya cuman minta maaf Rum, tapi selalu saja sikapmu yang Ndak bener itu kamu ulang-ulang lagi."


"Bu!" Mas Han berdiri, suaranya tinggi.


Aku menyambar tangan suamiku, menggenggamnya erat, memandangnya dengan tatapan memohon belas kasihan, "sebaiknya mas berangkat, biar Rumi yang menemani ibu."


"Tapi Rum, harusnya ibu tidak mengucapkan kata-kata seperti itu."


"Kamu melawan ibu, Han?!" teriak ibu makin marah, "lebih baik kalian bercerai kalau kamu berani sama ibu Han!"


Aku memutar tubuhku, menggenggam tangan ibu mertuaku, "jangan ibu, Rum mohon, Rum janji akan memperbaiki hubungan Mas Han dan Sekar."


Aku memandang Mas Han, mataku mengembun menahan tangis, "tolong mas."


Mas Han mendengus kesal, dia menyambar tas dan jas nya, kemudian melangkah keluar dengan cepat.

__ADS_1


"Han, sini kamu...berani kamu sama ibu!!" ibu masih berteriak-teriak memekakkan telinga. Para abdi yang tadinya ada di rumah utama, segera pergi menyembunyikan diri di rumah belakang.


"Kamu!" ibu menyentakkan tanganku dengan keras hingga terlepas.


Aku mundur beberapa langkah, menundukkan kepalaku, berusaha menghindar dari amukan ibu yang tak pernah menganggap aku benar selama ini


"Lihat itu...lihat itu!" teriak ibu, tangan ibu menunjuk-nunjuk ke arah Mas Han yang berjalan keluar. Tubuhku terjingkat karena terkejut mendengar suaranya yang memekakkan telinga, reflekku membuatku mundur beberapa langkah, "itu semua karena pengaruh darimu, tahu kamu!"


Aku melakukan apa yang selama ini aku lakukan. Menelan semua ungkapan caci dan menelannya bulat-bulat, kemudian memendamnya di bagian perut yang paling bawah. Aku tak akan pernah menyimpannya dalam hati karena aku tak mau terluka.


"Ibu tidak mau tahu, kamu harus memperbaiki hubungan Sekar dan Nehan, karena hanya kamu yang bisa melakukannya, ngerti kamu!"


Ibu meninggalkan aku yang berdiri dengan kepala tertunduk. Ketika aku berhasil mengumpulkan keberanian untuk mengangkat wajah, ibu sudah hilang dibalik dinding. Tubuhku terasa ringan, hampir terjatuh kalau saja tanganku gagal meraih pegangan kursi untuk menahan.


"Ndoro Putri," Mbok Nah menyangga tubuhku dari belakang dan membantuku duduk.


Pak Dul berdiri di sisi Mbok Nah.


"Ngunu kuwi Dul nek bayeke diombeni susu kebo, nek ngamuk nyundang-nyundang ra karuan." (Ya begitu itu Dul, kalau waktu bayi diberi minum susu kerbau kalah marah nyeruduk kesana kemari).


"Ojo ngunu kowe Mbok, kuwalat kapok." (Jangan begitu mbok kualat kapok)


"Tak kandani ya Dul, wong modelan Ndoro Sepuh ngunu kuwi ora malati." (Saya beri tahu ya Dul, orang model Ndoro Sepuh itu tidak membuat kualat)


Hatiku yang hancur sedikit terhibur mendengar obrolan Pak Dul dan Mbok Nah, keduanya sudah seperti Nunung dan Basuki buatku, pelawak dari Srimulat.


"Lo alah yo kamu kualat mbok, kalau menantunya cerita," mata Pak Dul dikedip-kedipkan ke arahku.


"Wo...iya...ya, Ndoro Putri kan menantunya ya Dul."


Apa-apaan mereka berdua ini. Bisa saja mencari bahan buat bercandaan. Tak urung aku jadi tersenyum.


Mbok Nah memijit tanganku perlahan, "Ndoro Putri harus ingat pesan saya, harus kuat karena sebenarnya posisi Ndoro Putri dan Ndoro Sepuh itu sama."


"Anggap saja, Ndoro sepuh itu mercon bantingan, suaranya saja yang keras, cethar...cethor...cethar...cethor tapi nyalanya cepat hilang."


"Pesan saya jangan sampai Ndoro Kakung tahu," bisik Mbok Nah padaku. Aku tersenyum.


Andai benar Ibu hanya mercon bantingan. Masalahnya mercon bunyinya tak bermakna. Tapi kalau suara yang dihasilkan ibu, bisa membakar hati dan pikiran. Kalau kupingku ini bukan buatan Allah pasti sudah meleleh sejak dulu karena sering mendengar kalimat yang membuat panas.


...***...


Hai...readers selamat membaca episode dua puluh dua ya...


Semoga selalu menghibur.


Kritik dan saran sangat diharapkan. Kalau berkenan beri like dan komen.


Thank You...🥰😘❤️

__ADS_1


__ADS_2