Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 37


__ADS_3

Perjalanan menuju rumah ibu sangat nyaman, bahkan aku hampir tidak membuka mata, berkali-kali tertidur, bangun sebentar kemudian tidur lagi.


Jam tanganku menunjukkan angka sembilan ketika sampai di depan pagar rumah. Tidak ada mobil Mas Han, berarti dia tidak datang kemari, atau mungkin dia sudah balik lagi—siapa yang tahu


Mbok Nah menuntunku berjalan. Sedikit berlebihan memang, tapi aku selalu menikmati perhatian yang diberikan abdiku ini.


"Assalamualaikum, Bu..." teriakku lantang. Wah...sepertinya adek bayinya senang sampai di rumah Mbah Uti, tenagaku muncul berkali lipat.


"Waalaikumsalam, wo...bocah kok, ibuk khawatir tahu...semalam Nehan datang, wajahnya pucat, teriak, nangis katanya kamu pergi dari rumah."


"Dia pikir kamu kesini, waktu dilihat kamu Ndak ada, dia bersimpuh di kaki ibu minta maaf Ndak bisa jagain kamu dengan baik."


Aku menghela napas, "apalagi yang dia bilang Bu?"


"Dia bilang, kalau dia punya salah sama kamu tapi dia ndak bilang waktu ibuk tanya apa salahnya."


"Wes, sudah ngomongin Nehannya, ibu mau marah sama kamu. Ponsel dimatikan, gak tahu kamu ada dimana, ibuk nelepon kamu tidak bisa," aku kena pukul berkali-kali di lengan, meskipun tidak sakit sih.


Aku celingak-celinguk mencari sosok yang sedang kami bicarakan, tapi tadi di depan rumah mobilnya tidak ada.


"Nyari siapa? nyari Nehan? semalam langsung pergi lagi dia, katanya dia mau nyari kamu."


"oh...," aku ber oh ria, "jam berapa dia datang Bu?"


"Sekitar jam sebelas malam, tinggal sebenta, minta maaf sambil nangis-nangis terus pergi lagi," jawab ibu ringan.


"Sebenarnya kamu ini ada apa sih Rum?" tanya ibu dengan tatapan menyelidik.


"Suatu saat Rumi akan cerita bu, tapi tidak sekarang."


Ibu mengikuti aku masuk kamar, "kamu istirahat dulu, gih."


"Ini mbok Nah ya?"


Mbok Nah gugup menjawab sambil menundukkan tubuhnya, "iya Nyonya, saya mbok Nah."


"Hahaha...Nyonya...nyonya meneer," tawa ibu meledak, aku tersenyum.


"Panggil ibu saja mbok," ucapku


"Saya ndak mau kurang ajar, Ndoro," bisik mbok Nah.


"Assalamualaikum, mbakyu, bagaimana kabarnya?"


Mbok Nah melotot pada Pak Dul, "Dul, memang nyonya ini siapamu, mbakyu...mbakyu."


"Baik, Pak Dul, hari ini bawa ganti tidak?"

__ADS_1


"Bawa mbakyu."


Pak Dul mendekati Mbok Nah dan berbisik, "kami sudah akrab."


Sekarang ganti ibu yang berbisik, "iya, kami sudah akrab, kalau mbok juga ingin akrab dengan saya, panggil apa saja kecuali nyonya atau Ndoro, merinding saya dengarnya."


"Hmmm...dasar kalian ini," aku meninggalkan gerombolan aki dan Nini itu. Meskipun perjalanan dibuat senyaman mungkin, tapi nyatanya tubuhku masih terasa lelah.


Aku keluarkan ponselku dari dalam tas, kutimang-timang sambil berpikir apa yang akan aku lakukan. Membukanya atau membiarkannya dalam kondisi mati saja.


Akhirnya aku putuskan untuk membiarkannya saja. Aku rebahkan diri diatas ranjangku yang empuk meskipun bukan kualitas terbaik, dan hanya butuh waktu sepersekian detik, dunia mimpi menyambutku.


"Rum, bangun...," aku membuka mata ketika mendengar ibu memanggil namaku.


"Hmmm..." Rumi pengen istirahat Bu.


"Buka mata sebentar saja, terima telepon dari suamimu, dia mau pergi katanya, tidak baik mengabaikan suami sendiri, ayo..."


Aku menerima ponsel dari tangan ibu dengan malas, "halo, assalamualaikum Mas."


"Rum..." suaranya keras sekali memekakkan telinga ku.


"Kamu apa-apaan, sedari kemarin aku bingung mencarimu, aku cari keliling rumah, aku masuk ruang kerjaku, kamu tahu betapa takutnya aku?"


"Aku langsung berangkat ke rumah ibu waktu aku tak menemukanmu di mana-mana, bahkan aku mencarimu ke rumah Sekar dan rumah bapak sama ibu, sampai di rumah ibu semalam kamu pun tak ada, kamu tahu tidak betapa takutnya aku!"


"Aku tidak marah Rum, aku takut kamu pergi dari aku," suaranya melemah.


"Terus apa tadi, teriak-teriak di telepon, telingaku sampai sakit."


"Aku mau berangkat Rum."


"Ya tinggal berangkat, di rumah banyak orang yang bisa membantumu menyiapkan semua yang harus kamu bawa."


"Mana bisa begitu, aku harus ketemu kamu dulu."


Tiba-tiba ada permintaan untuk video call, aku segera matikan teleponnya. Aku buka kirim pesan pada aplikasi yang sama.


Aku ijinkan kamu pergi mas, semoga berhasil.


kemudian aku sentuh ikon kirim.


Tidak ada lagi kata kompromi. Aku ingin egois meski hanya sekali. Mengesampingkan semua rasa tak enak hati.


Nada dering kembali terdengar, aku sentuh ikon merah yang muncul di ponselku. Kembali nada dering terdengar, kali ini diiringi suara teriakan ibu dari mesin jahitnya, "Rum...angkat telepon dari suamimu!" tak lama kemudian Mbok Nah tergopoh masuk kamar.


Mengelus perutku sambil berbisik, "jangan kaget ya anak ganteng, anak ayu, anggap ini latihan dengar suara Mbah utimu yang merdu."

__ADS_1


Aku tersenyum kecil memukul tangan abdi kesayanganku, "jangan gitu, nanti tak bilangan ibu lo...," sementara aku bercanda dengan Mbok Nah nada dering telepon terus berbunyi memenuhi rumah.


"Rum...angkat___"


"Iya ibu...iya," aku menyentuh ikon berwarna hijau dengan wajah cemberut, kamera aku balik sehingga wajah mbok Nah yang muncul pada layar ponsel Mas Han.


Mbok Nah yang tidak sadar kalau wajahnya terekam, memandang wajahku yang tepat menghadap kamera dengan mata bulat dan mulut sedikit terbuka, "Rum...kenapa wajah Mbok Nah yang nongol," teriak Mas Han marah.


"Sama saja kan, yang penting aku sudah mau mengangkat teleponmu mas."


"Rum, please...aku mau lihat kamu, besok pagi-pagi aku berangkat."


"Nggak mas...kumpulkan dulu rindumu untukku, yakinkan dirimu bahwa kamu tidak akan bohong lagi padaku, baru aku akan pertimbangkan, aku mau bertemu kamu lagi apa tidak.


Kamu harus tahu mas, aku juga bisa menentukan apa mauku, tidak selamanya aku hanya akan menurut padamu. Aku menyimpan jiwa pemberontak dalam lembutnya sikapku. Rasakan kamu! aku kembali merebahkan tubuh, kali ini dengan senyum terkembang.


...***...


Nehan POV


Menyebalkan! sekarang dia berani membantahku, aku banting telepon genggam yang baru saja aku gunakan untuk menghubungi Rumi.


"Sialan aaarrgghh...!" teriakku jengkel.


"Kenapa, mbak Rumi tidak mau menerima teleponmu?" Sekar mendekatiku.


Istriku yang satu ini selalu punya cara mengganggu moodku yang sudah buruk, tapi juga mampu mengubahnya menjadi sesuatu yang menarik dan menggairahkan.


"Sudah, letakkan dulu ponselnya."


Kali ini kekesalanku tak terbendung, perpaduan antara harga diriku yang terluka dan amarah.


Jelas harga diriku terluka, selama ini Rumi selalu menurut padaku dan aku ingin dia seperti itu sampai akhir.


Kalau amarah? aku sendiri tak mengerti mengapa aku harus marah, aku bisa memenuhi kebutuhan lahir dan batinku dengan Sekar, apa karena sekarang aku baru menyadari kalau aku bisa kehilangan Rumi kapan saja?!


Sekar mendekatiku, tubuhnya dibalut baju model overall setinggi lutut yang kainnya jatuh. Dia begitu seksi dan indah, mungkin karena aku begitu lama mendambakan seorang anak, jadi di depan mataku Sekar begitu sintal dan berisi dengan perut buncitnya.


Dia memeluk tubuhku dan mencium bibirku, tapi ketika bayangan wajah Mbok Nah tadi menggantikan wajah Rumi yang ingin kulihat muncul di depan mataku, aku jadi sebal, "jauhkan tubuhmu Sekar," gairahku tiba-tiba menguap entah kemana.


"Kamu jarang menyentuhku sayang, kamu tahu betapa aku selalu ingin menerkammu?"


Aku mengambil kunci mobil dan meninggalkan istri mudaku sendiri.


"Sayang...sayang!" teriaknya, aku tak peduli, banyak yang harus aku siapkan untuk kepergian ku besok pagi. Ternyata hidupku selama ini sudah terlalu bergantung pada Rumi.


Kamu harus ikut pulang denganku apapun yang terjadi setelah aku kembali Rum, aku tak peduli.

__ADS_1


...***...


__ADS_2