
Senja mulai hadir. Matahari sebentar lagi bersembunyi di ujung barat cakrawala. Rumah ibu riuh dengan orang mondar-mandir. Mendekor rumah, menyiapkan tenda. Memasang bunga-bunga berwarna putih sesuai tema yang diinginkan.
Memang tidak ada perayaan mewah. Hanya sebuah pernikahan sederhana. Tapi aura bahagia jelas terpancar dari rumah sederhana itu.
Meskipun ibu memasang wajah cemberut. Banyak doa yang terucap dari bibirnya. Segunung kekhawatiran akan kebahagiaan anaknya terkikis oleh untaian doa yang tak henti terucap.
Rumi berdiam diri di kamar. Ternyata menikah untuk kedua kalinya tetap mendebarkan meskipun dengan lelaki yang sama.
Setelah selesai mengatur ini-itu, ibu masuk ke kamar Rumi.
"Rum..."
"Bu..."
Ibu mendekat dan memeluk Rumi erat. Terdengar isak perlahan. Dada ibu perlahan mulai basah oleh air mata.
"Maafkan Rumi bu, Rumi bukan anak yang baik. Ibu pasti kecewa sama Rumi. Tapi Rumi tidak bisa meninggalkan Mas Han. Waktu Mas Han kecelakaan dunia Rumi ikut runtuh bu."
Ibu menepuk punggung Rumi.
"Siapa bilang kamu bukan anak yang baik. Satu-satunya kebahagiaan ibu adalah ketika melihat kamu bahagia nak."
"Apalagi kamu memberi ibu Ken dan Lita secara bersamaan. Meskipun Lita lahir dari rahim orang lain, tapi gadis kecil itu ada karena ijinmu. Mereka melengkapi hidup ibu."
Tepukan dan belaian lembut membuat hati Rumi lebih tenang.
"Jangan benci mas Han ya Bu. Dia lelaki yang baik. Saya yakin dia tidak akan menyakiti Rumi lagi."
"Ya...ya."
Malam makin larut. Beberapa orang memang masih sibuk melakukan persiapan. Bagian masak masih ramai di dapur. Tapi ibu memilih untuk masuk kamar dan beristirahat. Tidur di sebelah Ken yang juga terlelap.
Rumi merebahkan badannya. Ingin tidur tapi acara besok pagi membuat dia gugup setengah mati. Mengantuk tapi mata tak mau terpejam.
Pas saat mata hampir mau tertutup terdengar bunyi 'kletek-kletek' di jendela.
"Siapa itu?" bisik Rumi. Takut juga, jangan-jangan ada orang yang punya maksud tidak baik. Karena diluar kan memang berkumpul banyak orang.
"Aku..." bisik suara dari luar.
"Aku...siapa?!"
Rumi berdiri mendekati jendela.
"Aku, Rum..."
"Mas Han?"
Rumi membuka sedikit jendela kamarnya. Disana berdiri Nehan. Dengan celana kolor dan kaos oblong yang ditutup jaket.
"Hai," tersenyum sambil melambaikan tangan.
"Astaghfirullah...mas..., ngapain kesini malam-malam?"
"Kamu kan nggak boleh kesini sampai besok pagi."
"Kita sudah seminggu tidak bertemu Rum."
"Ya Allah mas, baru juga seminggu."
"Sebaiknya kamu pulang mas, kalau ibu tahu bisa ngamuk lo..."
Nehan memasang wajah memelas, "sekarang beda sama pernikahan kita pertama dulu Rum."
"Karena aku sudah pernah merasakan semuanya sama kamu, aku jadi lebih nggak sabar buat peluk kamu lagi."
"Aku boleh masuk ya Rum..."
"Sebentar saja...peluk terus pergi, janji Rum...ya, sebentar...saja."
Rumi tidak menjawab, hanya kepalanya bergerak-gerak, bola matanya diputar-putar.
"Kamu kenapa Rum? kepalamu pusing...hmm, kenapa? aku lompat masuk ya..."
Kali ini Rumi menggeleng, jarinya menunjuk ke arah belakang Nehan.
"Kenapa sih Rum kamu?!"
Karena Rumi terus melakukan gerakan yang sama, akhirnya Nehan mengikuti arah telunjuk Rumi.
__ADS_1
Dengan cepat kepalanya diputar ke belakang.
"Mau lompat kemana, han?!"
Ternyata tepat di depan wajahnya ibu berdiri sambil berkacak pinggang.
"Eh, ibu...mboten kok Bu. Hanya ingin lihat Rumi sebentar."
"Selamat malam mas."
Rumi menutup jendela kamarnya perlahan.
"Rum..." tangannya berusaha meraih daun jendela tapi terlambat, Rumi sudah menutup jendela kamarnya.
Nehan memutar tubuh, "saya pulang dulu ya Bu."
"Seperti anak kecil, sudah punya dua anak, tapi tingkahmu sering aneh," ibu menggeleng melihat tingkah mantan menantu yang sekarang menjadi calon menantunya lagi.
"Permisi Bu."
Nehan berusaha untuk berlalu dengan cepat, tapi sayang kakinya tidak bisa diajak kompromi karena masih memakai tongkat untuk penyangga. Langkahnya terseret-seret dipaksakan.
Aduh...ini kaki bikin malu.
Dari jauh ibu hanya menahan tawa.
Bagaimana aku bisa memisahkan kalian dengan cinta sebesar itu.
Ibu kembali masuk ke kamarnya dengan tawa berderai, beberapa orang yang mendengar tawa ibu bertanya heran.
"Kenapa tertawa mbakyu?"
Tanya sala satu tetangga yang membantu di dapur.
"Ada maling ketangkap basah."
"Maling...mana malingnya mbak yu? jenengan tidak apa-apa kan?!"
"Ndak apa-apa. Malingnya sudah pergi takut sama saya, orang malingnya Nehan."
"Wo alah...kirain siapa mbakyu."
...***...
Ibu mendampingi selama perias menyelesaikan tugasnya. Beberapa kali Rumi tampak meneteskan air mata. Sampai-sampai periasnya harus berhenti dan memperbaiki makeup di wajah Rumi.
"Berhenti dulu nangisnya. Kasihan mbaknya nggak selesai-selesai."
"Iya," jawab Rumi hampir tidak terdengar.
"Iya mbak Rum, biar saya selesaikan dulu paesnya nangisnya nanti saja."
Diluar mulai terdengar suara-suara.
"Mbakyu penghulunya sudah datang," Mbok Nah mengintip dari balik pintu kamar.
"Wo alah, iya...iya."
"Sebentar ya Rum, ibu tinggal dulu."
Bu Narmi menjinjing jaritnya sedikit biar jalannya lebih cepat.
"Monggo-monggo duduk dulu, mantennya masih dirias."
"Iya jeng, santai saja."
"Mbak Narmi itu manten lakinya sudah datang," teriak seseorang.
Rumi mendengarkan semuanya dari dalam kamar.
"Sudah mbak Rum tinggal pakai kerudungnya," perias menyelesaikan tugasnya tepat waktu.
Rumi memandang wajahnya di cermin. Hampir sama seperti waktu pertama menikah dulu tetapi sekarang terlihat lebih matang. Dia tak pernah membayangkan kalau akan memakai kebaya putih lagi setelah memiliki anak dengan lelaki yang sama pula.
"Ayo mbak."
Perias manten menuntun Rumi keluar kamar. Di depan pintu berganti ibu yang menggandeng Rumi untuk duduk di tempat yang disediakan.
Nehan yang semula duduk tertunduk. Segera berdiri waktu melihat Rumi keluar. Wajahnya memancarkan ketakjuban yang tidak bisa ditutupi. Senyum terus tersungging di bibirnya.
__ADS_1
Bapak ikut bahagia melihat anaknya bahagia. Apalagi wanita yang akan dinikahi anaknya kali ini adalah wanita yang sama yang menjadi menantunya selama sembilan tahun.
"Kamu cantik," bisik Nehan ketika Rumi sudah duduk disisinya.
Rumi hanya menunduk. Bukan apa-apa memalukan kalau sampai ada orang lain yang mendengar.
"Sepertinya ini manten lakinya sudah ndak sabar."
Yang digoda hanya senyum-senyum tak tahu malu.
"Baik langsung dimulai saja, ya..."
Akad berjalan lancar. Nehan mengucapkan kalimat ijab dengan satu kali tarikan napas. Rumi hanya terus mengeringkan air matanya yang sudah dihentikan.
Acara meminta restu menjadi momen yang begitu mengharu biru. Ibu tidak bisa menahan perasaan bahagia sekaligus sedih dan khawatirnya. Tapi pada akhirnya dia hanya bisa mendoakan kebahagiaan Rumi, anaknya.
Setelah ijab selesai, tidak ada seremonial khusus. Para tamu yang hadir, tetangga kanan kiri, kerabat jauh dan keluarga dekat langsung menikmati hidangan yang disediakan.
Rumi dan Nehan si penganten baru, sesekali berkeliling dan berpindah untuk menemui satu persatu tamu yang hadir.
Meskipun kadang masih tertatih karena masih harus memakai tongkat. Rasa lelah sama sekali tidak dirasakan oleh Nehan.
"Rum," Nehan menyenggol bahu Rumi, "itu."
Nehan menunjuk satu arah yang ternyata disana berdiri Juna, sambil tersenyum.
"Aku kesana dulu ya, mas."
Nehan menahan tangan Rumi dan menggenggamnya erat, "tidak, tunggu saja dia disini."
"Tck...nggak usah cemburu, toh aku memilih kamu," sanggah Rumi.
"Bukan itu, aku nggak percaya diri kalau kamu bertemu lagi dengan mantan tunanganmu itu."
"Hai, selamat ya Han," Juna menyalami Nehan hangat.
"Rum," tangan Juna terulur, tubuhnya mendekat hampir memeluk Rumi ketika sebuah benda panjang menempel di dada Juna.
"Wanita ini istriku jangan main peluk saja."
"Okay, turunkan dulu tongkatmu."
"Tck..." Nehan berdecih lalu menurunkan tongkatnya.
"Selamat ya Rum. Ingat, kalau laki-laki labil ini menyakitimu lagi. Aku akan selalu ada untuk kamu."
"Jangan berharap!" sergah Nehan.
Dari arah agak jauh, Yuni berlarian mendekat, "kok aku ditinggal."
Juna tersenyum melihat Yuni yang berjalan cepat. Dasar wanita ceroboh hampir saja dia jatuh karena tersandung kakinya sendiri.
"Hai, hati-hati..." Juna menangkap tubuh yang hampir jatuh itu tepat di pinggang Yuni.
"Hahaha..., it's okay, lepaskan."
"Selamat ya, Rum," Yuni memeluk erat sahabatnya, "kalau Raden mas edanmu ini buat masalah lagi, cari saja aku."
"Kalian ini," gerutu Nehan.
"Kemana kalian akan bulan madu?" tanya Yuni.
"Ayah..." teriak Ken dengan suara lucunya.
"Bagaimana bisa bulan madu, itu ada tuyul dua," jawab Rumi tertawa.
"Cari waktu bisa saja diatur," ujar Juna, "kalau perlu bareng kita."
"Kalian?" mata Nehan membundar.
"Ya kami. Aku dan Yuni."
"Alhamdulillah..." Nehan memeluk Juna erat lalu berubah mendekati Yuni yang mendapat kepalan tinju ketika Nehan akan mendekat.
"Kami hanya liburan."
"Iya...apapun itu."
Empat sahabat itu berbincang panjang. Pengalaman hidup membuat persahabatan mereka makin erat. Memang tidak mudah untuk menerima keadaan yang kadang tidak sesuai dengan harapan. Tapi semua jalan patut dicoba.
__ADS_1
"Kalau mau kasih kado bulan madu boleh juga. Tapi aku nggak mau nginap di satu lokasi bareng kalian," bisik Nehan pada Juna yang dibalas dengan tawa lepas.
...***...