
"Bagaimana kabarmu Rum?"
"Baik."
"Anak kita?"
"Ken? Ken baik, sehat, lucu."
"Sudah bisa apa dia sekarang, Rum?"
"Yah, seperti bayi lainnya yang berusia dua bulan."
"Beruntungnya kamu Rum, bisa terus bersamanya. Sedangkan aku?"
Obrolan seperti itu terus mengalir selama perjalanan pulang ke rumah ibu. Ternyata ketika aku tenang, Mas Han juga menanggapi ku dengan tenang. Tapi aku tak berani menjawab pertanyaannya yang terakhir.
"Rum..."
"Hmmm," pandangan aku arahkan lurus ke depan.
"Aku ingin menginap di rumah ibu boleh? kamu egois kalau hanya kamu saja yang merasakan tidur bareng Ken."
Aku blingsatan, harus menjawab apa aku sekarang. Langsung menolaknya mentah-mentah jelas tidak mungkin, aku tidak mau dia emosi dan menabrakkan mobilnya ketika aku ada di dalam sini.
"Mmm...bagaimana ya mas, aku tidak tahu, ibu mengijinkan atau tidak," pakai nama ibu saja untuk dijadikan alasan, biar aman.
"Kalau begitu nanti aku akan ijin sama ibu."
Ibu nanti kalau Mas Han minta ijin, tolong jangan diijinkan ya...doaku dalam hati.
"Semoga Allah menggerakkan hati ibu untuk mengijinkan aku tidur bersama Ken."
Ya Allah, jangan dengarkan doa orang yang ada di sebelahku ini.
"Kamu ikut berdoa ya Rum, supaya ibu mengijinkan aku."
"Mmm...apa, oh...ah, iya, Insyaallah aku akan ikut berdoa."
Tapi doanya beda gak papa kan mas, yang penting aku mengiyakan untuk ikut berdoa. Aku menutup mata kemudian membuka kedua telapak tangan berlagak berdoa.
"Terimakasih ya Rum, sudah bersedia ikut mendoakan aku."
"Eh, hahaha, sama-sama mas, ehem," jadi kikuk. Aku bohong kan demi kebaikan, Allah pasti ngerti.
Karena ngeladenin ngobrol, Mas Han tidak menyadari kalau ada motor yang nyelonong motong jalan, "ya Allah mas," aku mencengkeram jok mobil yang kududuki, "mas siapa tadi?" setelah mendongak, aku baru menyadari kalau kami berhenti mendadak hampir depan rumah.
Aku bergegas turun, eh...ternyata ibu berdiri depan mobil sambil berkacak pinggang, "bagus, hampir saja ibu jatuh, kalau tadi ibu nggak lihat ada Nehan dan kamu di dalam, sudah ibu lempar mobil ini pakai batu."
"Ibu..." mas Han meraih tangan ibu, "sini motornya Han yang masukkan."
Ibu berhenti dan menungguku berjalan sejajar, "kenapa dia kesini?"
"Kangen anaknya katanya."
"Sudah sesore ini baru datang?"
"Dia mau minta ijin menginap sama ibu."
__ADS_1
Ibu menarik tanganku agar berhenti, "kamu bagaimana?"
Aku merubah rencanaku pada detik terakhir karena ada sebuah rencana melintas di otakku, jadi dengan ragu aku menjawab, "aku mau ijinkan sih Bu, karena aku juga punya rencana lain buat Mas Han."
"Rencana apa, jangan aneh-aneh kamu, ibu nggak mau kalau rencanamu membahayakan tole dan diri kamu sendiri."
"Insyaallah nggak, cuman sedikit balas dendam saja."
"Rum, jangan macem-macem!" ibu berteriak lantang sekali, membuat mas Han melihat kearah kami.
"Rumi macam-macam apa Bu?" wajah Mas Han mengkerut.
Aku bergegas mendekat, "nggak kok, ibu mengijinkan kamu buat menginap mas."
"Benar Bu?" wajah Mas Han begitu ceria.
Meskipun wajah ibu menunjukkan ekspresi yang berkebalikan, tapi ibu tidak melarang atau menolak keinginanku.
"Aku mau mengeluarkan tas dulu ya Rum," aku mengangguk.
Aku menghela napas, mungkin rencanaku ini agak jahat buat Mas Nehan, tapi paling tidak dia akan memiliki kenangan bersamaku dan Ken sebelum surat panggilan pengadilan datang.
"Nanti malam aku tidur bareng ibu ya," ucapku pada ibu yang duduk di depan mesin jahit, sedangkan Mas Han berada di kamar mandi.
"Mana bisa, kamu punya Ken yang harus kamu susui," ah, benar juga.
"Kalau begitu biar Mas Han tidur di kamar Mbok Nah."
"Terus Mbok Nah tidur bareng ibu gitu."
"Iya, ibu keberatan?" tanyaku memastikan.
Ken aku ambil, "hai anak bunda, mmm...sudah wangi."
"Terimakasih ya Mbok, nanti malam Mbok mau kan tidur sama ibu?"
"Woo, saya tidur dimana saja oke Ndoro putri." sambil menunjukkan tanda oke dengan jari.
Ibu diam saja tidak menjawab, "karena ibu tidak mengatakan apa-apa, aku anggap ibu setuju ya."
"Iya, asal tujuanmu bukan sesuatu yang bisa menimbulkan masalah."
"Nggak lah Bu, percaya sama Rumi." percakapan kami terhenti, ketika tidak terdengar lagi suara kecipak air di kamar mandi.
"Mbok Nah," mas Han sudah selesai mandi rupanya, wajahnya terlihat segar dan bahagia.
"Ndoro Kakung, lama tidak jumpa," ada rindu juga dalam suara dua orang ini.
"Terimakasih ya, mbok sudah merawat anak saya dengan baik."
Mas Han menghadap padaku, "hai anak ayah."
Mendengar suara ayahnya Ken bergerak lincah, tangannya menggapai ingin digendong. Mungkin karena insting atau karena sudah pernah berjumpa jadi Ken ingin ikut ayahnya.
"Mau gendong mas?" tanyaku.
"Boleh?" dengan suara ragu tapi wajahnya bersemangat.
__ADS_1
"Boleh lah," aku memindahkan Ken ke tangannya.
Mas Han membawa Ken ke kamar, menidurkannya diatas kasur kemudian bercanda berdua. Perpaduan suara ayah dan anak itu tak ayal membuat hatiku tentram tapi sekaligus terenyuh.
"Kamu yakin dengan keputusanmu Rum?" tanya ibu.
"Iya, Bu," ibu menghela napas, mungkin ibu juga merasa sedih mendengar menantu dan cucunya bercanda, "ya sudah, semoga menjadi makin baik kedepannya."
"Aamiin."
Menunggu ayah dan anak bercanda membuatku lelah. Aku putuskan aku saja yang tidur di kamar ibu, paling tidak mengistirahatkan mata dan tubuh. Aku terbangun tengah malam. Setelah melihat jam, aku terkejut dan mengambil langkah cepat ke kamarku. Ibu sudah lelap di sisi pojok nempel dinding. Palingan ibu sudah memprediksi kalau aku bakal turun malam-malam.
Kamarku sunyi. Ketika aku masuk, aku melihat Ken dan ayahnya sudah tidur. Mas Han tidur dengan posisi miring di pinggir, sedangkan anakku menjadi penguasa kasur. Sebenarnya mereka berdua ini tadi bercandanya bagaimana sampai model tidurnya nggak karuan begini.
Kursi rias aku dekatkan dengan tempat tidur. Aku angkat tanpa menimbulkan suara. Aku pandangi keduanya dengan baik. Besok aku akan membuatmu bahagia mas, sampai kamu tak akan mampu melupakan kenangannya. Aku mengambil Ken dan membawanya ke kamar ibu.
Keesokan paginya suara teriakan Mas Han memenuhi rumah, "anakku...anakku mana Rum, anakku?" wajahnya panik, dia berlari ke dapur dan ke kamar mandi, melihat tiap ruangan dengan cepat
"Kamu kenapa Han?" tanya ibu yang sama kagetnya denganku.
"Kenapa mas?"
"Anakku Rum...anakku mana, dia baik-baik saja bukan?!"
"Mas...mas, tenang, tarik napas," Mas Han menurut.
"Anakku tidak apa-apa kan Rum?"
"Tidak apa-apa, dia tidur di kamar ibu," dia bernapas lega.
"Aku takut," keringatnya memenuhi wajah.
Aku mengangsurkan segelas air ke tangannya, "minum dulu," jadi iba melihatnya, "kamu mandi gih mas, kita jalan-jalan ya."
"Jalan-jalan?! kamu yakin Rum?"
"He'eh, kita jalan-jalan untuk yang pertama kali bertiga tanpa orang lain."
"Ya sudah, aku mandi dulu, siapkan semua keperluan kita yang harus dibawa."
Semangat sekali kamu mas, maafkan aku kalau jalan-jalan kali ini adalah yang pertama tapi juga untuk yang terakhir kali kita lakukan sebagai keluarga.
Semua siap, kursi bayi untuk diletakkan di mobil juga aku bawa, entah nanti terpakai atau tidak. Bekal makanan, bekal susu buat Ken semua siap. Aku sengaja membawa bekal susu dan botol karena aku tidak mau mengekspos payudaraku saat menyusui.
"Siap Rum?"
"Siap mas," aku memberi senyum manis ku.
"Aku ingin kita seperti ini Rum terus dan selamanya."
Aku diam, dengan adanya Lala? maafkan aku mas, aku tidak bisa.
Biarkan pertalian rasa yang pernah mengikat hati kita menjadi kenangan. Dusta yang kau jadikan pemanis hubungan membuatku kehilangan harga diri dan rasa percaya diri.
Apakah aku harus terus bertahan ketika kebohongan demi kebohongan kau anggap sebagai hiasan cinta? Kali ini aku ingin pergi dengan elegan, menganggap kehilanganmu hanya menjadi salah satu fase pendewasaan diri dalam hidupku.
Maafkan Rumi pak. Rumi memilih untuk tumbuh dan berkembang di kebun yang lain, karena Mas Han memelihara mawar lain di kebun milik Rumi, dia menumbuhkan, menyirami dan merawat mawar itu dengan hati-hati. Jadi Rumi putuskan, Rumi akan pergi karena Rumi bukan lagi ratu dalam rumah tangga kami.
__ADS_1
...***...