Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 79


__ADS_3

Pagi ini Keandra Nisham dan Nehan Nawang Nugroho terlihat tampan. Keduanya memakai kaos kembar dengan tulisan daddy dan son.


"Kok kepikir beli kaos couple mas?" aku sudah berjanji untuk bersikap baik hari ini.


Eh, dia tidak menjawab malah menyerahkan kaos yang sama untukku, "ibu buat kamu, pakai ya."


Aku harus terlihat senang kan, "Ya Allah mas, lucu banget, ada tulisan bunda," aku membolak-balik kaos sambil memasang wajah suka, "aku pakai ya, tapi kok beda, kamu daddy, punya Ken son, punyaku kok bukan mom, mommy atau apa gitu yang kebarat-baratan?"


"Aku sendiri nggak tahu, nemunya itu, pakai saja nggak usah protes."


Aku mengangguk, entah memang senang, atau pura-pura senang yang jelas aku jadi ikut bersemangat, aku akan melakukan yang terbaik hari ini.


Ternyata bagus juga kalau dipakai. Aku mematut diri di depan kaca. Ah, sudah cantik, keburu yang nunggu kelamaan, aku memutar tubuhku cepat, "bruk," badanku bertubrukan dengan mas Han, "aduh, maaf mas."


Dia menatapku lekat, pandangannya gelap, suaranya rendah, "jangan senggol Rum, dari pada kamu membangunkan macan tidur."


"Aku kan sudah bilang minta maaf, lagian aku memang nggak sengaja kok."


Mas Han makin mendekati aku, bagian belakang tubuhku menubruk meja rias, tak ada tempat bagiku untuk menghindar. Tubuhku condong ke belakang, hanya tanganku berada di atas meja sebagai penyangga tubuh.


"Aku mohon agar kamu mundur mas," aku takut.


Mas Han mengalah dan manarik tubuhnya menjauh, "maafkan aku."


Aku bergegas keluar kamar, berusaha bersikap wajar di depan ibu dan mbok Nah, "anak bunda sudah ganteng, kita kembaran ya sayang, tuh ayah juga," aku mengambil Ken dari gendongan Mbok Nah dan menghadapkan Ken pada ayahnya.


"Hai, ayah, bunda sama Ken sudah siap, berangkat yuk."


"Hmm, ayo," dia cemberut, gondok mungkin karena tadi aku tolak dengan halus.


Dia mengulurkan tangannya. Oke...aku sambut, aku bagikan senyum manis. Dia mengambil Ken dari gendongan ku. Tangan kanan menggendong Ken, tangan kiri merangkul pundakku.


Rupanya dia mulai mencoba melakukan kontak fisik. Karena tujuanku agar dia nggak pernah bisa melupakan hari ini, maka kubiarkan dia melakukan itu.


Kami berjalan sejajar. Dia membukakan mobil, sebelum masuk aku sempatkan menengok ke belakang. Aku melihat dua ekspresi yang berbeda dari dua wanita kesayanganku. Mbok Nah menunjukkan senyum bahagia, sedangkan ibu memamerkan ekspresi heran, aneh, mmm...entahlah aku tak bisa menjelaskan.


Di dalam mobil pun begitu, dengan berbagai alasan dia berusaha menyentuhku.


"Aku undurkan sedikit ya Rum, kursinya," tubuhnya mendekat.


"Nggak mas segini saja nyaman."


Lagi-lagi dia mendekat, "aku pasangkan sabuk pengamannya ya," wajahnya sangat dekat dengan wajahku, bahkan aku bisa merasakan hangat napasnya.


Aku bereaksi sekedarnya, menganggukkan kepala dan mengucapkan terimakasih. Aku dudukkan Ken Persia di dadaku.


"Kan bawa kursi buat bayi, dipakai saja kursinya, aman kok," alasan agar aku tidak memangku Ken tentunya.


"Jangan, aku khawatir, Ken terlalu kecil buat duduk sendiri."


"oh, begitu ya."


Tidak semudah itu kamu mengelabuhi ku mas.


"Mau kemana kita?" tanyaku.


"Perjalanannya agak jauh, ada lokasi yang bagus buat foto-foto, kita kesana saja. Udaranya sejuk, pemandangannya asri banget."


"Boleh," ucapku senang.


"Hari ini aku ingin mengambil foto Ken banyak-banyak, beberapa Minggu lagi aku harus pergi agak lama," dia melirikku, seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi dibatalkan. Sebenarnya aku tahu kemana arah pembicaraannya, tapi aku memilih untuk diam, kali ini tidak boleh ada yang lain, hanya akan ada kami bertiga.


"Kamu nggak tanya aku kemana Rum?"


"Nggak, yang penting dimanapun kamu berada, semoga kamu selalu sehat dan selamat mas," mulutmu manis juga Rum, tersenyum dalam hati.


"Terimakasih Rum."


"Sama-sama mas."


"Aku nggak mengira kita bisa melalui masa-masa sulit kemarin, sekarang hubungan kita sudah hangat lagi."

__ADS_1


Aku tidak menjawab tapi senyum tak pernah hilang dari bibirku.


"Kamu sebahagia itu ya, senyum terus dari tadi," ternyata aktingku hebat juga ya.


"Heem."


Tempat wisata yang diceritakan Mas Han memang benar-benar indah. Terletak di lereng gunung yang berhawa sejuk. Seluruh bagiannya ditanami oleh berbagai macam jenis bunga. Selain menyuguhkan pemandangan alam juga disediakan berbagai macam permainan.


"Kita cari gazebo ya Rum, sini Ken aku yang gendong."


Sekali lagi Ken diambil dari gendonganku, seperti tadi dia memeluk tubuhku. Setelah berjalan beberapa saat menuju sebuah gazebo, dia merubah letak tangannya, sekarang dia menggenggam tanganku erat.


Dia membimbingku menaiki lereng yang agak tinggi untuk mencapai lokasi gazebo. Tangannya tak melepaskan ku sedetik pun.


Ternyata tepat di depan gazebo ada sebuah restoran yang menyajikan berbagai jenis makanan berbahan daging kelinci, "kamu tunggu disini ya, aku pesankan makanan di resto depan itu, kamu mau apa, sate, sup, apa?"


"Apa saja lah, semua juga boleh, seporsi-seporsi."


"Oke nanti kita saling cicip ya."


"Iya."


Menikmati daging kelinci di tengah hawa sejuk begini adalah yang terbaik. Daging kelinci bisa memberi sensasi hangat pada tubuh setelah kita memakannya. Ditambah dengan rasa masakannya juga lumayan lezat, aku benar-benar menikmati hari ini.


"Setelah makan kita foto-foto ya Rum."


Aku mengangguk cepat, "fotokan aku sama Ken yang banyak ya mas, nanti bergantian."


"Foto kita bertiganya bagaimana Rum?"


"Kita bisa minta tolong orang nanti," jawabku.


"Benar juga."


Aku mengambil giliran pertama untuk difoto. Mas Han memintaku untuk mencoba berbagai macam gaya bersama Ken.


"Ken diangkat dong Rum, nanti aku ambil fotonya dari samping," perintahnya.


"Nggak, cepet kok jepretnya percaya sama aku."


Baru beberapa menit mengangkat bayi gembulku ini tanganku mulai terasa ngilu, "ayo mas, katanya cepet."


"Cahayanya kurang bagus Rum, kelihatan gelap," aduh, kan capek. Aku memutar badan, "begini bagaimana?" tanyaku.


"Pemandangannya kurang bagus kalau menghadap situ Rum," masih belum cocok juga. Dasar kang Poto amatir.


"Terus gimana dong?" keburu lecek ini wajahku, Ken juga keburu ngantuk habis minum susu.


"Kamu berjalan agak kesana ya, jangan membelakangi matahari," teriaknya, jaraknya mengambil foto dengan tempatku berdiri memang cukup jauh.


"Nggak usah jauh-jauh ambilnya, nanti aku sama Ken kelihatan kecil."


"Nggak akan, percaya sama aku."


Setelah melalui perdebatan panjang dan pindah beberapa kali ke beberapa tempat berbeda, akhirnya Mas Han memperoleh banyak fotoku dan Ken.


"Sekarang kita tukar tempat, kamu yang foto sama Ken, ya."


"Iya, keburu Ken mengantuk."


Dengan semangat Mas Han membawa Ken dalam gendongannya. Benar saja anakku itu mulai mengantuk. Setiap kali aku menghitung, satu...dua...tiga, pose si kecil nggak ada yang benar.


"Mas dibangunkan dulu Ken nya," pintaku.


Mas Han mencoba membangunkan Ken dengan menepuk pipi sambil digendong, "crek," satu foto aku dapat. Mas Han tampak dari samping, tangannya menepuk pipi Ken, tapi yang dibangunkan tetap tidur.


"Rum, belum siap aku nya, sekali lagi."


Kali ini Mas Han mengayun Ken ke atas, tapi tetap saja matanya terpejam, kepala Ken menunduk ke bawah. Aku tertawa melihat anakku yang tidak bisa lagi membuka matanya. Akhirnya Mas Han menimang Ken sambil duduk. Aku ambil banyak foto di posisi ini.


"Sudah ah Rum, aku capek."

__ADS_1


Aku mengangguk, "kita duduk lagi sambil lihat foto-foto hasil jepretan kita."


"Sebentar, kita minta tolong orang buat fotokan kita bertiga," aku mengangguk. Lengkap sudah kami sudah memiliki banyak foto hari ini.


Sebagian besar foto-foto itu membuat kami tertawa. Ketika sampai pada foto hasil jepretan ku, tawaku menghilang.


Foto-foto itu menunjukkan betapa sayang Mas Han pada anaknya. Ada foto ketika dia melihat anaknya yang tertidur dipangkuan sambil tersenyum. Ada foto ketika dia menciumi Ken gemas karena tidak mau membuka mata. Yang terkahir aku melihat kami foto bertiga. Air mataku tak bisa kubendung lagi.


"Hiks...hiks...hiks, maafkan aku mas."


Mas Han meletakkan Ken di kursi duduknya yang dari tadi kutenteng. Dia memelukku hangat, tidak ada naf_su dalam pelukannya kali ini, hanya sebuah pelukan kasih sayang. Tangannya menepuk dan membelai punggungku perlahan.


"Kamu kenapa nangis?"


"Maafkan aku mas, hiks...hiks...hiks, jangan pernah membenciku apa pun yang terjadi ya," pintaku. Aku menenggelamkan wajahku pada dada Mas Han. Merasakan hangat dan aroma tubuh ini untuk terakhir kali, "Huhuhu...huhuhu..., sedu sedanku makin keras."


"Sshhh," Mas Han berusaha menenangkan aku, "aku tak akan pernah bisa membencimu Rum, aku mencintaimu, sekarang bahkan bertambah dengan hadirnya Ken, meskipun__"


Aku menengadahkan wajahku, menyentuh bibirnya dengan jemariku, "stop mas, hari ini hanya akan ada kita."


Mas Han mengangguk, aku kembali menenggelamkan wajahku di dada bidang suamiku. Bersembunyi disana dari peliknya hidup ini untuk yang terakhir kali. Mengapa urusan hati bisa serumit ini, kalau cinta ya cinta saja. Harusnya aku bisa menerima suamiku ini apa adanya bukan? Tapi kembali lagi, semua dusta itu terlanjur melukaiku.


...***...


Epilog


Drama selama makan...


"Oa...oa...oa," suara Ken melengking memenuhi telingaku.


"Tolong ditenangkan dulu dong mas, anaknya," ujarku kesal. Masa menimang bayi menangis saja tidak bisa, padahal ini kan anaknya.


"Iya, ini sudah ditimang Rum," wajah Mas Han memelas.


"Aku mau hangatkan susunya dulu, tadi kan keluar dari kulkas," bodohnya aku, kenapa nggak aku hangatkan dari tadi.


"Susunya bisa saja basi Rum, langsung susui dari kamu saja kan bisa."


"Nggak mau," enak saja, itu sih maunya kamu, biar bisa lihat juga.


"Oa...oa...oa."


"Aduh Rum, kasihan Ken, nangis begini, lagian kamu mau sembunyikan apa sih, aku sudah lihat, menyentuh bahkan merasakan milikmu itu selama hampir sembilan tahun Rum," justru itu! Aku makin cemberut.


"Oa...oa...oa."


"Rum," seru Mas Han lagi, akhirnya aku menyerah.


"Hadap sana," sungutku, "ga boleh lihat!"


"Iya...iya ini aku putar badan," dia memutar badan membelakangi ku, aku juga melakukan hal yang sama, "aku sering rindu lo Rum sama kamu, memangnya kamu nggak?"


"Nggak," jawabku jutek.


"Idih, galak bener!"


Tiba-tiba aku merasakan hembusan napas di tengkukku, "Rum, boleh pegang dikiiit aja Rum," Mas Han mengintip dari balik kepalaku.


Aku sontak berteriak, "mas...!!" mataku melotot sampai hampir keluar, "aku kan sudah bilang kamu gak boleh lihat!" teriakku.


"Iya...iya, ini aku balik badan lagi."


Dasar laki-laki, nggak peduli tempat kalau ada maunya. Tapi maaf ya, kamu sudah tidak masuk dalam list ku lagi mas.


...***...


Happy reading gaess.


Semoga tetap setia membaca kisah Rumi sampai end ya...


Terimakasih bagi yang sudah mau memberi like, poin dan vote.

__ADS_1


I lope you all 🥰❤️😘


__ADS_2