
Pak Dul berjalan di belakangku. Di tangannya penuh dengan kotak-kotak bekal berisi berbagai macam makanan yang tadi disiapkan Mbok Nah. Ketika sampai kamar, wajah Sekar terlihat lebih segar.
Semua bekal aku tata diatas meja tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, aku tahu mata Sekar mengikuti semua gerak-gerikku.
"Selamat pagi mbak, maaf aku merepotkan. Aku pikir lain kali mbak nggak perlu repot seperti ini lagi."
"Kenapa? karena suamiku menyediakan semua kebutuhanmu!?" mataku tajam menatap Sekar, begitu sensitifnya aku sekarang. Tanganku berhenti menata kotak bekal karena teralihkan oleh ucapannya.
"Mas Han tidak akan mengerti kebutuhan wanita hamil. Meskipun dia mengunjungimu secara rutin dia tidak akan tahu apa yang harus dibawa."
"Ah...iya, kamu tinggal bilang dan memintanya, aku lupa, kamu punya mulut, jadi bisa meminta apapun dan suamiku dengan bodohnya akan menuruti semua maumu, itu kah maksudmu?!"
"Ya, seperti itu, aku bisa minta langsung padanya, dan dia akan menuruti semua permintaanku," seperti biasa, suaranya terdengar sangat percaya diri, tapi ada nada sumbang yang tertangkap telingaku, mungkin dia juga sama terlukanya denganku.
Aku tersenyum sinis, "apa kamu tidak berpikir, itu karena aku membiarkannya?"
Dia kehilangan kata, "mbak Rum, aku tidak pernah ingin berkonflik denganmu, mari kita jalani rumah tangga kita dengan tenang."
"Begitu juga denganku, lain kali kamu tinggal mengucapkan terimakasih saja padaku ketika aku melakukan sesuatu untukmu, jangan mengatakan apapun selain ucapan terimakasih, dan jangan memancing di air keruh kalau kamu tidak ingin menyulut amarahku."
"Aku benar-benar berharap kamu sehat selama mengandung anak kami."
"Ini anakku mbak!" suaranya membuatku terkejut, dia lupa atau pura-pura lupa kalau punya perjanjian dengan kami.
"Kamu punya perjanjian dengan kami," aku berjalan mendekati wanita yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit itu.
"Aku pikir mbak wanita yang baik."
"Aku wanita baik Sekar, tapi kebaikan setiap manusia berbatas tipis dengan kesabaran dan kewajaran, juga dengan siapa aku berhadapan."
Tangannya memegang perutnya, aku tahu matanya mengembun. Dia sendiri yang masuk dalam jurang kerumitan ini. Aku hanya berusaha menerima kehadirannya sambil tetap ingin mempertahankan milikku. Apakah aku salah ketika sekarang aku bersikap sedikit kejam?
"Aku akan biarkan suamiku berbagi cinta denganmu, tapi hanya delapan bulan ke depan, sampai anak kami lahir. Perjanjian yang kamu tanda tangani dengan kami dihadapan saksi memiliki kekuatan hukum. Jadi jangan main-main denganku!"
Aku berjalan ke arah pintu, meminta Siti untuk masuk, karena sejak kami berdebat tadi dia tahu diri dan keluar kamar.
"Siti, aku mau pergi dulu, rawat Bu Sekar baik-baik," aku memandang Sekar, "kalau butuh sesuatu jangan sungkan untuk menghubungi aku."
"Heh...!" Sekar tersenyum sinis.
"Aku pergi dulu."
Delapan bulan Rum, tinggal delapan bulan, kamu bisa melakukannya.
...***...
Hampir tiga bulan berlalu. Aku tahu Mas Han selalu menemui Sekar diam-diam dan aku abaikan semua itu, agar aku tidak makin sakit hati.
Kandungan Sekar masuk usia tiga bulan akhir menjelang empat bulan. Dalam adat Jawa yang masih kami jaga, harusnya ada syukuran untuk merayakan empat bulanan kehamilan Sekar, dan rencananya aku ingin mengundang ibu untuk datang, sekaligus menceritakan kalau aku akan memiliki anak meskipun dari perempuan lain.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu mengundang ibu untuk menginap disini Rum, syukurannya juga akan diadakan secara sederhana saja."
"Tapi aku ingin ibu tahu mas, satu-satunya keluargaku hanya ibu, biar ibu tahu kalau dia akan punya cucu meskipun aku peroleh dengan cara mengadopsi—meskipun ayah anak itu adalah kamu."
"Tidak perlu Rum, cukup bapak dan ibuku saja serta keluarga dekat yang hadir, kamu sadar tidak sih kalau tidak banyak yang tahu tentang pernikahanku dengan Sekar."
"Kita tidak perlu memberi tahu ibu kalau Sekar adalah wanita yang sudah kamu nikahi, mas, aku hanya ingin berbagi hari bahagia dan memberi tahu ibu, kalau anak yang dikandung Sekar akan aku adopsi sesuai perjanjian yang kita buat."
"Tidak Rum, kalau perlu kamu bilang sama ibu kalau anak itu anak kita, anak yang kau kandung sendiri."
Apa? apa aku tidak salah dengar? Buat apa coba membohongi ibu mertuanya sendiri. Otaknya pasti terkontaminasi polusi udara yang setiap hari dia hirup.
"Apa mas? buat apa membohongi ibu aku mas? masa mas minta aku membohongi orang yang melahirkan dan merawatku, kamu gila mas!"
Mas Han menghela napas, dan membanting tubuhnya ke sofa, "aku tidak mau ibu membenciku Rum, kamu tahu bagi ibu kebahagiaanmu adalah segalanya. Kalau ibu tahu aku menikah lagi, apa yang dipikirkan ibu tentangku?"
"Kamu egois mas, demi harga diri dan nama baik, kamu sampai ingin membohongi ibu aku!"
"Kalau aku yang kamu bohongi, aku masih bisa terima mas, tapi kalau ibu? kamu keterlaluan!"
"Aku suamimu Rum, sudah tugasmu untuk menjaga nama baikku. Lagi pula sejak kapan aku membohongi kamu, aku selalu mengikuti semua perkataan dan keinginanmu, termasuk menikahi Sekar."
Sejak kapan? sejak kapan?!
"Kamu selalu bohong mas, jangan kamu kira aku tidak tahu semua kunjunganmu ke rumah wanita itu?!" teriakku, kali ini aku tak bisa lagi menahannya. Dia ingin membohongi ibu, orang yang melahirkan aku.
Air mataku tumpah, sialan, sebenarnya aku tak ingin lagi menangis, apalagi di depan Mas Han atau Sekar.
"Kamu selalu membohongi aku, huhuhu..., semua kunjungan rahasiamu, semua kebohongan mu aku tahu," aku menangis sejadinya.
Mas Han cepat menghampiriku memegang tanganku yang tentu saja dengan cepat aku tepiskan, "aku tidak pernah mengunjungi Sekar diam-diam, siapa yang bilang, jangan mudah percaya sama omongan orang Rum," kali ini dia berusaha memelukku dan itu membuatku mundur beberapa langkah.
"Berhenti mas, jangan dekati aku, selama ini aku berusaha menahannya, tapi kali ini kamu keterlaluan, jangan dekati aku."
Aku mengambil tas, memasukkan ponsel, mengambil jaket dan keluar kamar.
"Rum kamu mau kemana, Rum...!"
Teriakan Mas Han memenuhi rumah, membuat beberapa abdi melihat pertikaian kami. Mbok Nah seperti biasa mengejarku, kali ini langkahnya lebih cepat, karena jaritnya dijahit dalam model modifikasi dengan bentuk rok.
"Ndoro Kakung...Ndoro, sebaiknya biarkan Ndoro putri sendiri dulu," aku tidak menghentikan langkahku menuju teras, biar Mbok Nah yang bicara sama Mas Han.
"Mbok, tolong ikuti Rumi."
"Baik Ndoro," Mbok Nah menyusul langkahku, entah siapa yang memberitahu, Pak Dul sudah siap dengan mobilnya di depan teras rumah.
"Monggo Ndoro putri," Pak Dul membuka pintu mobil dan mempersilahkan aku untuk masuk.
Air mataku masih belum mau berhenti. Betapa egoisnya laki-laki. Tapi pendapatku langsung berubah ketika Pak Dul lagi-lagi memberiku sapu tangan untuk menyusut air mata yang tak mau berhenti mengalir.
__ADS_1
"Ndoro mau jalan-jalan atau duduk-duduk saja atau mau kemana?"
"Saya tidak tahu Pak Dul, saya bingung," sapu tangan masih aku pegang, entah sudah berapa sapu tangan milik Pak Dul yang pernah kupakai.
"Walah...Ndoro putri ini pakai bingung segala, buang semua yang membuat hati susah Ndoro..., apa Dul ngunu kuwi istilahe?"
"Istilah apa to mbok?"
"Halah itu loh...oh iya saya ingat, hempaskan saja semua yang membuat hati susah, begitu Ndoro."
Aku tersenyum, ini akibatnya kalau terlalu sering melihat sosial media. Memang semua orang di rumah bebas untuk menggunakan sambungan internet, selain memudahkan komunikasi juga bisa dijadikan ajang untuk mencari hiburan.
"Nah, wanita yang begini ini mbok, yang membuat lelaki susah mup on, gampang banget dibuat senyum."
"Opo maneh kuwi mup on." [apa lagi ini mup on]
"Ya nggak gampang sedih gitu lo mbok, kalaupun sedih ndak berlarut-larut."
"Ooo...begitu toh."
"Saya mau jalan-jalan ke toko buku saja Pak Dul, siapa tahu nemu buku bagus tentang bunga."
"Siap laksanakan Ndoro Putri."
Benar apa kata Mbok Nah, hempaskan semua hal yang membuat kecewa. Kebahagiaanku yang utama. Bodoh amat orang mau bilang apa, tapi kalau itu tidak sesuai dengan jalan pikiran dan pemahamanku jangan harap aku akan mengikuti semudah itu.
...***...
Kami tiba di salah satu toko buku yang ramai pengunjung karena terkenal dengan koleksi bukunya yang cukup lengkap.
"Mbok Nah, kenapa sekarang jaritnya dijahit model rok begitu?" tanyaku tersenyum.
"Biar mudah kalau dibuat jalan cepat, karena akhir-akhir ini Ndoro Putri sering keluar rumah."
"Yah...bagaimana lagi mbok, keadaan mengharuskan saya melakukan itu."
"Wah ternyata asik juga pergi ke toko buku, banyak buku warna-warni," mata Mbok Nah memandang takjub pada buku yang berjajar rapi dan memiliki warna bagai pelangi.
"Mbok mau belajar baca?" tanyaku.
"Saya bisa baca sedikit-sedikit Ndoro," jawabnya hampir berbisik.
"Mau saya belikan buku?" tanyaku dan Mbok Nah mengangguk malu-malu.
Aku sedang mengikuti Mbok Nah memilih buku yang ingin dia beli waktu aku dengar seseorang memanggil namaku, "Rum..."
Kepalaku tengok kanan-kiri berusaha menemukan sumber suara, "Mas Juna..." kenapa akhir-akhir ini aku jadi sering bertemu dengan lelaki yang punya nama lengkap Arjuna Buwana ini secara tak sengaja?
...***...
__ADS_1