
Di depanku sekarang ini duduk Mas Juna dan Yuni. Aku pun telah menceritakan semua tentang Suster Eny dan Sekar. Keduanya mendengarkan dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah. Kadang tersenyum senang kadang menampakkan wajah prihatin.
"Aku musti gimana?" tanyaku meminta pendapat.
"Lihatlah Rum, mereka berdua pantas menerima hukuman seperti ini, menyakiti kamu dan akhirnya mereka juga tersakiti," ucap Mas Juna.
"Musti laporin ke polisi lah. Biar perempuan gila mantannya Nehan itu menerima ganjaran yang pantas buat dia," jawab Yuni yang selalu emosi dan pendek pikir.
Tidak semudah itu menjerat Sekar. Tidak ada bukti yang mengarah padanya. Bisa-bisa Suster Eny yang akan menanggung kesalahan itu sendirian.
"Nggak semudah itu Yun. Kita nggak bisa menjerat Sekar hanya dengan perkataan Suster Eny. Nyatanya yang terlihat bersalah hanya suster Eny saja. Dia yang menyembunyikan bayi itu dan merawatnya secara diam-diam, bahkan menukarnya dengan jenazah bayi lain."
"Iya juga sih, Rum."
"Target kita Sekar, tentu saja Suster Eny harus menerima konsekuensi dari tindakan yang dia lakukan. Tapi otaknya Sekar, aku juga ingin dia menerima akibat dari perbuatannya," ucapku.
"Begini saja," Mas Juna mengeluarkan suara setelah beberapa saat tadi terdiam, "kita tunggu Nehan."
"Kita memang punya tiga otak untuk berpikir, tapi tambah satu otak lagi harusnya akan menambah ide," lanjut Mas Juna.
"Masalahnya yang punya otak ke empat belum tentu bisa menggunakan otaknya dengan akal sehat, Jun. Ini tentang anaknya, kita nggak bisa terlalu berharap pada mantan suami Rumi. Suster Eny nggak mati dibunuh aja nanti waktu ketemu sudah bagus," cecar Yuni.
"Iya juga sih."
Keheningan kembali melingkupi kami. Masing-masing berkutat dengan pemikiran yang berbeda. Aku sendiri jadi bingung musti bagaimana menghadapi masalah ini.
"Kita butuh pengakuan," ucapku.
"Kalau Sekar mengakui semua kesalahannya, dia juga akan berbagi tanggung jawab bersama Suster Eny, kalau tidak, secara kasat mata hanya suster Eny yang bersalah dan Sekar adalah korbannya."
Mas Juna dan Yuni mengangguk membenarkan semua ucapanku. Tiba-tiba terlintas ide cemerlang di kepalaku, tapi rencana ini bisa sukses kalau ada keterlibatan Mas Han. Dengan syarat laki-laki itu harus mampu mengendalikan emosinya.
"Aku punya ide."
Bersamaan Mas Juna dan Yuni memandangku, "apaan?" tanya Yuni.
"Mas Han harus bisa merayu Sekar untuk mengakui kejahatannya."
"Bagaimana caranya?" Mas Juna bertanya karena memang tidak mudah membuat seseorang mengakui kesalahan yang dilakukan apalagi sesuatu yang memiliki konsekuensi hukum kriminal.
"Itu urusan Mas Han. Kita tunggu yang bersangkutan datang. Yang penting kamu harus bisa menyampaikan semua ini tanpa membuat Mas Han emosi, kamu musti cari cara mas, atau semuanya nggak akan berjalan sesuai harapan," pintaku pada satu-satunya lelaki yang ada disini sekarang.
"Hmmm," wajahnya menunjukkan keseriusan menanggapi permintaanku.
Obrolan kami lanjutkan membicarakan tentang urusan panti. Yayasan harus siap jika Suster Eny akhirnya nanti harus menerima hukuman.
Mendekati waktu makan siang, Mas Han membuka pintu ruangan ku. Dia terkejut melihat kami telah berkumpul disitu. Matanya menatap kami keheranan. Sedangkan Mas Juna dan Yuni serempak melihat ke arah pintu.
"Ada apa ini semua kumpul disini?" tatap mata heran tak bisa disembunyikan oleh Mas Han.
Sebelum menjawab pertanyaan mantan suamiku, kamu bertiga saling pandang. Sesuai kesepakatan, Mas Juna yang akhirnya membuka suara.
"Duduk dulu Han," ucap Mas Juna sambil menepuk sisi sofa yang kosong.
"Aku pikir kami hanya akan bicara berdua," Mas Han bicara dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
"Itu sih maumu," Yuni bicara dengan wajah jutek, "dasar Raden mas edan," bisiknya lagi sambil memalingkan wajah.
"Aku dengar Yun," Mas Han menyahut sambil melotot.
"Sudah Yun," akhirnya mas Juna menengahi.
Mas Han duduk tepat di sebelah Mas Juna. Wajahnya berubah tegang melihat kami yang saling pandang tapi belum ada yang mau bicara.
"Ada apa sih, kayaknya tegang gini?"
Aku dan Yuni melihat Mas Juna bersamaan. Semoga Mas Juna punya cara yang pas buat menyampaikan masalah yang sangat sensitif seperti ini.
"Rum," Mas Juna melihatku, "apa nggak sebaiknya kita panggil Suster Eny sekalian?"
Aku menggeleng cepat. Sekarang saja di otakku muncul bayangan-bayangan buruk menakutkan. Padaku saja yang dia bilang cinta bisa melakukan kekerasan. Apalagi pada suster Eny yang orang lain dan jelas-jelas berbuat jahat ada keluarganya.
"Oke, kalian berdua harus siap bantu aku kalau Nehan nggak terkendali."
"Kalian ini bicara apa sih, membuat aku bingung, menjengkelkan tahu!" suara itu keras setengah membentak. Aku gemetar mendengarnya.
"Kalau nggak ada yang mau ngomong, mendingan aku pergi. Lebih baik aku ke rumah ibu melihat Ken. Dari pada bersama orang-orang yang tidak jelas seperti kalian," Mas Han tiba-tiba berdiri akan melangkah pergi.
"Sebentar Han," Mas Juna meraih tangan kekar mantan suamiku.
"Ini yang kami khawatirkan dari tadi. Kami takut kalau kamu tidak bisa menahan diri terus emosi."
Muka Mas Han makin tegang, dia membanting pantatnya kembali diatas sofa.
"Gak usah berbelit-belit, tinggal ngomong saja."
Aku menahan napas mendengar pembukaan Mas Juna.
"Tentang Ken? Kenapa Ken, Rum?!"
Tuh kan mode paniknya langsung on. Wajahnya langsung merah padam, badannya diangkat setengah berdiri dari yang tadi duduk.
"Duduk dulu Han, kalau kamu seperti ini, kami jadi ragu bicara sama kamu. Kamu harus janji dulu untuk mengendalikan diri."
"Kalau kamu muter terus begini ngomongnya, aku malah emosi tahu nggak!" mulai bentak-bentak, suaranya tinggi dan keras.
Aku melirik mas Juna yang sedang menarik napas, "ini tentang anakmu dengan Sekar, istri sirimu. Anak itu masih hidup."
Dua alis Mas Han beradu, "anakku dengan Sekar, apa maksudmu?"
"Kalau bercanda jangan keterlaluan kamu," suaranya ditekan, matanya menatap lurus Mas Juna.
"Dia masih hidup Mas," pandangan Mas Han beralih padaku.
"Apa maksudmu Rum?"
"Dia ada disini mas, di panti ini."
Dia bingung, melihat kami satu persatu dengan wajah bingung. Setelah beberapa saat, Mas Han berdiri langsung berlari menuju pintu.
Mas Juna segera menyambar tangannya dan menahannya keluar ruangan. Dua laki-laki itu saling tahan.
__ADS_1
"Mana anakku, aku ingin melihat dia, mana anakku!!" teriak Mas Han berusaha melepaskan diri dari pegangan Mas Juna.
Karena badannya yang tinggi besar kekuatan Mas Juna hampir tidak berarti. Kelihatan kalau Mas Han akan lolos Mas Juna teriak.
"Kalian berdua jangan diam saja. Bantu aku menahan ini!"
"Kami harus apa?" teriak Yuni.
Aku jadi bingung sendiri, aku berusaha memegangi bagian belakang pakaiannya dan itu juga tidak berarti. Tiba-tiba Yuni berbisik tepat di telingaku.
"Nggak mau," teriakku keras.
"Kalian ngapain bisik-bisik begitu, bantu aku!" aku kembali mendengar suara Mas Juna.
"Lepaskan aku Jun, akan aku hajar kamu, kalau tidak mau melepaskan aku!" gerak Mas Han makin tidak karuan. Tangannya meraih kerah dan baju Mas Juna agar bisa terlepas.
"Nggak ada cara lain Rum!" teriak Yuni padaku.
Aku masih sempat menggeleng dan bingung antar mengikuti bisikan Yuni atau tidak. Ketika Mas Han berhasil meraih gagang pintu dan membukanya. Aku segera berdiri di depan Mas Han dan memeluk tubuhnya erat.
Aku lingkarkan tanganku di pinggang suamiku. Menyalurkan ketenangan untuk meredakan amarahnya. Mengalirkan kembali getaran rasa yang dulu pernah ada.
Untuk beberapa saat berikutnya Mas Han masih bergerak. Tapi setelah menyadari aku memeluknya, dia jadi tenang. Tubuhnya lebih rileks.
"Dengarkan dulu ceritanya sampai selesai," bisikku.
Aku sandarkan kepalaku di dadanya. Sebenarnya aku enggan melakukan ini, tapi mau bagaimana lagi, semua cara musti dicoba bukan.
"Ada apa sebenarnya Rum?" suaranya melemah tidak seperti tadi.
Aku menjauhkan tubuhku. Memberi jarak agar aku bisa melihat sorot matanya. Tangannya aku sentuh dan kugenggam kemudian kuajak duduk kembali.
Dia menurut, napasnya masih tersengal tapi sudah lebih tenang.
"Lanjutkan Mas," ucapku pada Mas Juna.
"Semuanya ulah Sekar, Han."
Tangan Mas Han mengepal. Matanya kembali merah. Kali ini aku didorong Yuni untuk duduk tepat di sebelah mantan suamiku.
Yuni memberi aku kode sambil menggerakkan mata menuju tangan Mas Han yang menggenggam. Aku menggeleng tapi Yuni melotot.
Akhirnya tangan Mas Han kugenggam. Mas Juna melirik tangan kami tapi tidak komentar apapun.
Tangan yang kugenggam berganti menggenggam tanganku. Dan pemiliknya melihat padaku.
"Segera cerita dong Mas Juna," pintaku. Lama-lama dengan posisi seperti ini tidak enak sendiri.
"Jadi awalnya Sekar membayar seseorang untuk menahan anakmu dengan alasan sakit, agar kamu fokus pada anaknya dan mengabaikan Rumi yang waktu itu juga hamil. Tapi sayangnya dia jatuh cinta pada anakmu dan akhirnya menukar anakmu dengan bayi yang sudah meninggal, agar bisa dia ambil dan rawat sendiri."
Tubuh Mas Han melorot. Matanya terpejam dan butiran bening mengalir perlahan membasahi pipinya. Tangannya melepas tanganku dan menutupi wajahnya.
Ternyata mantan suamiku ini punya sisi yang lembut ketika berhubungan dengan anak-anaknya. Aku memandangnya dengan perasaan yang campur aduk. Aku merasa kasihan dengan semua hal yang menimpanya. Aku jadi ingat tentang ibu yang melahirkannya, bagaimana aku akan bercerita tentang ibu, atau apakah dia sudah tahu?!
...***...
__ADS_1