
Hari keempat di rumah sakit aku diperbolehkan pulang. Selama itu pula Mas Han tidak beranjak dari rumah sakit. Dia tidur di kursi yang diletakkan di lorong depan kamar, mandi di toilet umum, masuk kamar sekali waktu untuk melihat Ken waktu aku tertidur. Kadang aku pura-pura tidur agar dia bisa melihat anaknya.
"Sudah yakin nggak ada yang ketinggalan Rum?" tanya Yuni membantu meringkas barang bawaan ku.
"Terimakasih ya Yun," ucapku penuh haru.
"Buat?" Yuni menjawabku dengan pertanyaan.
"Semuanya," aku duduk tenang di pinggir kasur sambil memangku Ken.
"Tole biar saya yang gendong Ndoro," aku melihat Mbok Nah sudah siap dengan gendongan jaritnya.
"Aku juga ikut kalian ya," pinta Mas Han tidak tahu malu.
"Ngapain ikut kami?!" sembur Yuni.
"Aku kan nggak bawa mobil Yun, terus aku pulangnya gimana dong?"
"Bukan urusan kita."
Kalau mau jujur sebenarnya kasihan juga sama Mas Han tapi aku benar-benar tidak ingin bertoleransi lagi kali ini.
"Kamu ikut aku saja, nanti langsung aku antar ke stasiun kereta biar kamu bisa pulang," jawab Mas Juna yang juga ada dalam kamar
"Siapa bilang aku mau pulang!" pandangan Mas Han beralih padaku, "bapak akan datang Rum."
Aku tahu, bapak sudah mengirim pesan padaku, bahkan aku juga sudah memberi tahu bapak tentang nama baby Ken.
"Aku akan ikut ke rumah ibu sekarang, nanti aku pulang bareng bapak."
Aku tetap tak menjawab, "ayo Yun kita pulang."
Yuni berjalan bersisihan denganku. Barang bawaan dibagi rata antara Mas Han dan Mas Juna. Ken berada di gendongan Mbok Nah yang berjalan bersama ibu di barisan paling belakang.
"Kenapa kamu memberi nama anak kita tanpa bertanya padaku Rum?"
Bisa nggak sih dia diam.
"Aku kan punya keinginan yang sama untuk memberi nama si tole."
__ADS_1
Aku nggak! Kenapa sih tempat parkir jauh sekali. Aku malas mendengar Mas Han terus saja bicara.
"Kalau boleh tahu apa arti nama anak kita, Rum?"
Cari sendiri di internet—tentu saja semua itu aku ucapkan dalam hati saja.
Tiba-tiba Yuni berhenti, membuat semua orang terkejut. Dia memutar badan menghadap Mas Han sambil berkacak pinggang, "Mas, kamu bisa diam nggak sih?! bebal banget jadi orang!" mata Yuni melotot, "dari tadi Rumi kan tidak menjawab pertanyaan kamu! tempat parkir yang biasanya deket terasa jauh tahu nggak!" Yuni memutar kembali badannya kemudian terus berjalan, "gedek aku dengernya, udah nggak dijawab masih juga terus bicara."
Aku mengambil tangan Yuni dan menepuknya pelan, "malu di dengar orang, anggap saja itu yel-yel yang membuat kita makin semangat buat jalan, biar cepat sampai di tempat parkir."
Sampai di tempat parkir juga begitu. Setelah meletakkan barang bawaan di bagasi mobil milik Yuni, Mas Han tidak juga beranjak mengikuti Mas Juna.
"Ngapain masih berdiri disini?" lagi-lagi Yuni mengeluarkan bisa dari mulutnya, "nggak paham juga?! Jangan berlagak bodoh deh mas, nggak lucu tahu! memalukan, aku enek lihat tingkah kamu dari kemarin!"
Mas Juna menepuk pundak Mas Han, "ayo, ikut aku saja, kita ngobrol di mobil."
"Laki-laki sekelas suami kamu bertingkah idiot seperti itu sangat memalukan tahu Rum!" selama perjalanan Yuni masih saja membahas sikap Mas Han.
"Kamu musti tegas Rum, kalau kamu mau cerai musti kasih sikap yang tegas, nggak usah plin-plan."
"Kalau memberi saran yang baik nona," rupanya Mbok Nah yang sedari kemarin diam saja memendam rasa kurang suka dengan sikap Yuni kali ini, maklumlah Mbok Nah sudah seperti ibu buat Mas Han.
"Pokoknya kalau memberi saran kudu hati-hati Non, biar Ndoro saya berpikir dulu dengan tenang,"
"Ya sudah terserah, saya cuman kasih saran."
Kali ini aku memilih menjadi seorang pendengar. Nanti kalau sudah sampai rumah aku akan bicara dengan Yuni, sepertinya aku bakal butuh banyak bantuan dari anak itu.
Setibanya di rumah aku langsung masuk kamar. Mbok Nah meletakkan Ken di kasur, menyenangkan sekali mencium bau rumah setelah beberapa hari tidur di rumah sakit. Ibu langsung membongkar barang-barang yang ada dalam tas, meminta Mbok Nah untuk mencuci yang kotor dan ibu menyimpan pakaian yang bersih di almari. Yuni duduk di sebelahku sambil memandang baby Ken sambil senyum-senyum.
Aku menunggu sampai ibu selesai beberes dan keluar kamar baru aku membuka pembicaraan, "kamu kalau ngomong di depan orang tua, tahan diri kenapa, cara berpikir mereka tidak seperti cara berpikir kita."
"Dan cara berpikirku tidak seperti kamu. Kamu terlalu lama menunggu, terlalu banyak pertimbangan, sekali-sekali melakukan sesuatu secara spontan itu menyenangkan, memberi kepuasan tersendiri."
"Kemudian menyesalinya," aku memotong kalimat Yuni, "aku tidak mau. Bercerai itu harus melalui banyak pertimbangan, nggak segampang waktu kawin, apalagi sekarang ada Ken diantar kami."
"Jadi kamu masih akan mempertimbangkan untuk bersama Nehan. Gila kamu ya! Harga diri kamu itu sudah diinjak-injak Rum! Dia bahkan nggak ada untuk kamu waktu kamu berjuang melahirkan anaknya antara hidup dan mati. Jangan bilang itu karena kamu juga dia bisa begitu, karena persetujuanmu! Nggak, dia harusnya punya hati nurani, dia enggak!!"
Aku menghela napas, membiarkan Yuni meluapkan kekesalannya, "yang bilang aku mempertimbangkan untuk terus bersama mas Han siapa sih?!"
__ADS_1
"Omongan kamu tadi, aku menyimpulkannya seperti itu!" wajah putih Yuni memerah.
"Jangan marah-marah melulu, ntar kalau ini anak yang lagi tidur bangun, kamu yang aku suruh susuin."
"Sebal aku sama kamu."
"Aku akan meminta cerai Yun. Biar Mas Han yang menceraikan aku."
"Sampai rambut kamu beruban, dia kagak bakalan nyerein kamu Rum."
"Tapi itu yang akan aku minta, aku akan beri dia waktu empat puluh hari untuk menalak aku. Kalau sampai masa nifas ku habis dia belum menjatuhkan talaknya, baru aku yang akan mengajukan perceraian ke pengadilan."
"Lama Rum, empat puluh hari? Kamu yakin tidak akan berubah pikiran?"
"Ya, aku yakin, aku akan biarkan dia mengejarku dulu, membiarkan dia merasa memiliki harapan untuk terus bersamaku, lalu aku akan menghancurkan harapannya kemudian."
"Kamu yakin sekali kalau kamu masih begitu berharga di hatinya Rum? Jangan membuat aku jadi sedih dong Rum, bahkan dia tidak ada waktu kamu melahirkan."
"Kamu salah Yun, aku tahu benar suamiku, aku masih sangat dia inginkan karena dia menganggap aku miliknya, tapi dia juga terlanjur menancapkan tanda kepemilikan pada istri keduanya, dia tidak akan mau kehilangan salah satu dari kami Yun. Baginya kehilangan salah satu dari kami adalah sebuah kegagalan, dia tidak akan mau itu karena itu akan sangat melukai harga dirinya."
"Aku akan membantumu Rum, melakukan semua yang aku bisa, bahkan aku akan menyediakan pengacara terbaik untukmu."
Aku tertawa kecil, memeluk Yuni erat, "makasih ya...hehehe."
"Kamu kan tahu aku anak Sultan, kalau suamimu itu orang kaya, aku lebih kaya dari dia karena aku punya kasih sayangmu dan ibu."
...***...
Sahabat sejati itu adalah orang yang ada untuk kita disaat kita susah dan senang.
Kalau ada hanya waktu kita senang dan ngilang waktu kita susah namanya benalu.
Kalau ada hanya waktu kita susah dan ngilang waktu kita senang namanya dinas sosial.
Happy reading gaess 🥰
Jangan lupa like komen and vote, share juga boleh.
terimakasih yang sudah memberi hadiah dan vote ya
__ADS_1
lope you all 🥰😘❤️