Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 81


__ADS_3

Nehan POV


Aku hilang akal. Bagaimana dia bisa bersikap semanis kemarin kalau ternyata dia sudah mendaftarkan gugatan cerai untukku.


"Aaa...," aku pukul kemudi mobilku berkali-kali.


Tenangkan diri Han, kamu akan melakukan perjalanan jauh. setelah agak tenang aku baru melajukan mobil. Mengendara dengan pikiran kacau membuat aku ugal-ugalan. Beberapa kali aku harus mengerem mendadak karena tak melihat ada yang lewat atau memotong jalan.


Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu empat jam, aku menempuhnya hanya dalam tiga jam.


Tempat yang aku tuju adalah panti setengah jadi tempat Rumi bekerja. Rasanya aku ingin meledak. Aku tidak ingin kehilangan lagi siapapun atau apapun. Aku sudah pernah merasakan kehilangan terbesarku, meskipun aku tak pernah tahu aku pernah kehilangan apa.


"Rum," teriakku di depan pintu sebuah ruangan yang sudah jadi, "Rum, keluar!!"


Rumi keluar dengan senyum di bibirnya, dia berjalan mendekatiku, tapi kemudian senyum itu menghilang.


Aku lemparkan kertas yang sudah jadi buntalan dari tanganku, "apa ini!" kertas itu tepat mengenai wajah Rumi. Matanya sampai terpejam terkena lemparan kertas dariku.


Dia merunduk mengambilnya dengan tenang.


"Apa maksudnya itu!" teriakku.


"Mas, tenang dulu. Kamu kemarin sudah janji untuk tidak berpikiran buruk pada apapun atau siapapun."


"Jadi ini maksudmu?!"


"Kamu ingin aku hidup dengan baik, karena kamu ingin pisah dariku!"


"Kita sudah pernah membicarakan ini mas, aku sudah pernah menyampaikannya padamu," Rumi berjalan mendekat.


"Jangan mendekati dia Rum," Juna keluar dari ruangan yang sama. Hatiku makin panas, pasti karena laki-laki ini dia meminta cerai dariku.


"Jadi karena dia kamu mengajukan permohonan cerai!" bentakku. Jarak kami makin dekat.


"Bukan, bukan karena siapa-siapa, tapi karena aku mas, aku yang ingin," Rumi mengulurkan tangannya, "tenangkan dirimu mas, kita masih bisa saling komunikasi, kamu masih bisa mengunjungi Ken kapan saja."


"Tanganmu berdarah mas, biar aku lihat luka di tanganmu itu."


"Tapi aku tidak mau pisah sama kamu dan Ken, Rum! Kamu memisahkan aku dari anakku."


"Tidak ada yang akan memisahkan kita mas, hanya status kita saja yang beda."


Tiba-tiba aku menyadari sesuatu, "mana Yuni?" mataku nyalang mencari Yuni. Kalau Yuni tidak ada berarti mereka berdua saja dalam ruangan itu, " mana Yuni, Rum!!"


"Mas, tenang," Rumi menghentikan langkah. Apa kamu takut sama aku Rum?


"Kenapa kamu berhenti?! Mana Yuni!!"


Rumi menengok kebelakang, ke laki-laki itu. Jangan lakukan itu Rum, kamu milikku, kamu tidak boleh melihat laki-laki lain. Tanpa sadar aku merangsek ke depan. Tapi sebelum aku berhasil meraih Rumi, Juna menarik dan membawa Rumi ke belakang tubuhnya.


"Lepaskan istriku Jun, berarti kalian dari tadi di dalam ruangan itu hanya berdua hah?!"


Mengintip dari balik punggung, Rumi mencoba menjelaskan, "kami bekerja mas, jangan punya pikiran macam-macam."


"Laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan hanya berdua untuk bekerja, hah!"


"Jadi benar karena dia kamu minta cerai?!" otakku tak lagi ditempatnya. Apalagi waktu aku melihat Juna menghadap Rumi dan membisikkan sesuatu. Aku berlari mendekat dan kulayangkan satu pukulan telak tepat mengenai rahang laki-laki itu.


"Bhug, lepaskan istriku," dia terhuyung tapi tangannya masih sempat menarik Rumi kembali dibalik punggungnya.

__ADS_1


"Rum, kamu masuk kedalam," ucap Juna tepat di depanku. Kurang ajar, dia benar-benar tidak menganggap aku ada.


Aku tarik kemeja Juna menjauh dari istriku. Aku pukul lagi berkali-kali.


"Mas, berhenti mas!"


"Han, berhenti," Juna terjengkang ke belakang karena tendangan kakiku, "ugh, Han, berhenti, tanganmu berdarah kita obati lukamu dulu."


Aku pukul dia sekali lagi, "ugh, Han berhenti!"


Akhirnya Juna meladeni pukulan yang aku berikan. Kali ini kami benar-benar baku hantam.


"Berhenti," teriak Rumi. Tiba-tiba saja Rumi berdiri diantara kami. Tepat ketika aku mengayunkan tangan untuk memukul Juna.


"Aa...," Rumi berteriak keras. Dia terhuyung ke belakang. Aku melihat Rumi jatuh menyentuh tanah.


"Rum," aku berlari meninggalkan Juna, mendekati Rumi yang tergeletak diatas tanah. Waktu aku mendekat aku melihat darah menggenang dari bagian kepala.


Aku mundur beberapa langkah. Aku tahu Juna berlari mendekati Rumi. Tapi aku tidak bisa bergerak. Aku melihat bayangan anak kecil menangisi seorang wanita yang bersimbah darah.


Seluruh bagian tubuhku jadi dingin, bergetar, dan aku ketakutan. Kakiku tidak mau kuangkat, seperti ada sesuatu yang menahannya di tempatku berdiri.


"Han...Han, sadar, Rumi butuh bantuan," samar-samar aku dengar Juna berteriak, "Han..sialan kamu, Rumi terluka!" teriak Juna lagi dengan suara tinggi, "setan kau Han...Han!"


Bayangan anak kecil tadi menghilang. Suara Juna membawaku kembali pada gambaran Rumi yang tergeletak dengan darah mengalir di area kepala. Aku memandang tangan dan bajuku yang juga penuh darah.


"Ya Allah," gumamku pelan.


Aku berlari ke arah Rumi, "Rum, maafkan aku, Rum..." mata Rumi terpejam, dia tidak bergerak. Aku menatap Juna.


"Jun tolong aku."


"Siapkan mobil, aku akan mengangkat Rumi, kita ke rumah sakit!"


"Tapi kenapa kamu yang musti gendong?"


"Ga usah banyak bacot kamu, cepetan. Mobil kamu yang ada diluar, dasar setan. Kunci mobil kan kamu yang bawa."


Benar juga, aku biarkan Juna membopong Rumi. Aku berlari menuju mobil dan membukakan pintu.


Juna duduk di belakang menjaga Rumi. Pakaian Juna penuh noda darah. Sialan kenapa jadi dia yang memeluk Rumi.


"Nunggu apa kamu?! jalan!!" teriak Juna padaku.


Sialan kamu Jun. Kamu memanfaatkan situasi tapi kali ini akan aku biarkan demi Rumi, jadi aku lajukan mobil dengan kencang.


"Rum...," aku melirik dari kaca spion Juna menepuk-nepuk pipi Rumi.


"Jangan sentuh istriku Jun."


"Heh...nyetir saja kamu yang bener."


Memasuki pelataran rumah sakit dan setelah menghentikan mobil, aku segera berlari ke belakang, membuka pintu dan mengambil alih membopong Rumi.


"Tutup pintu mobilnya, tolong parkirkan sekalian Jun!" aku tak mau kalah langkah lagi.


Aku berlari memasuki Instalasi Gawat Darurat sambil berteriak, "tolong mas...tolong!"


"Kenapa ini pak?" seorang perawat membawakan sebuah brankar dan memintaku menidurkan Rumi disitu.

__ADS_1


Dari arah belakang Juna mendahului aku mengikuti perawat yang menolong Rumi, "dia jatuh mas, kita nggak tahu kepala bagian mana yang luka tapi darahnya banyak sekali."


Aku ikut berlari tapi Juna menahanku, "sebaiknya kamu menjauhi Rumi dulu, tenangkan dirimu dulu, pikirkan baik-baik apa yang sudah kamu lakukan hari ini. Jangan khawatirkan Rumi, aku akan menjaganya dengan baik."


Hah...enak saja, aku melihat mas perawat yang mendorong brankar, "mas butuh wali kan?!"


"Iya pak, siapa diantara bapak berdua yang keluarga pasien?"


Aku menyahut, "saya suaminya."


"Baik, bapak ikut saya, bapaknya yang satu lagi tolong urus administrasi ya."


Ekspresimu membuat aku ingin tertawa Jun. Bagaimanapun aku masih suami Rumi, "Rum," aku berlari mengikuti jalannya brankar ke ruang tindakan.


"Jun, tolong bantu urus administrasi ya!"


Wajah Juna bengong, tapi aku yakin dia akan membantu.


"Maaf pak kita bersihkan dulu lukanya, kita lihat dari mana darah ini berasal."


Aku diminta untuk menandatangani berkas. Katanya luka di bagian kepalanya harus dijahit. Untung tidak ada memar, hanya ada luka terbuka. Aku juga diberi penjelasan kalau luka di daerah kepala memang darah yang keluar lebih banyak meskipun lukanya kecil. Dan Rumi pingsan karena shock bukan karena cidera berat.


Aku hanya mengangguk. Selama perawat melakukan tindakan, bayangan anak kecil yang menangisi seorang wanita bersimbah darah kembali menyergapku. Siapa anak kecil itu, kenapa tangisannya mengiris dadaku, seperti aku sendiri yang mengalami. Apakah peristiwa itu ada atau khayalanku saja?


Aku baru sadar ketika Rumi menyentuh tanganku, "Mas."


"Rum...," aku peluk Rumi, dan menangis, "Hiks...maafkan aku Rum, maafkan aku."


"Pak, semua tindakan medis sudah selesai. Tapi biar nyonya tinggal disini dulu sambil kami observasi, barangkali ada gejala lain yang muncul. Semoga tidak ada apa-apa ya, hanya luka luar tadi saja."


"Iya dokter," aku bahkan baru sadar kalau dokter selesai merawat luka Rumi.


Konsentrasi ku kembali pada Rumi, "maafkan aku, tadi aku benar-benar tidak sengaja."


"Aku tahu."


"Apa kita tidak bisa membicarakan gugatan mu lagi Rum. Aku berjanji akan meninggalkan Lala."


Rumi menggeleng, "maafkan aku, mas."


"Kamu bukanlah satu-satunya alasan aku mengajukan gugatan, kamu tahu itu kan mas!"


Ibu...aku mendesah, "ya, aku tahu," aku tak bisa melakukan apa-apa kalau itu tentang ibu.


"Apapun yang ibu lakukan, kamu harus tetap menghormatinya, mas. Bagaimanapun ibu sudah merawatmu dengan baik."


Aku mengernyit, kalimatmu aneh Rum. Sama seperti yang disampaikan ibu, aneh. Aku jadi kembali ingat kata-kata ibu waktu kami bertengkar saat akan menjemput kamu pulang. Waktu itu ibu bilang, bapak menampar ibu karena perempuan lain, siapa perempuan itu?


"Apa kamu tahu sesuatu yang aku tidak tahu Rum?"


"Maksudmu, mas?"


"Nggak Rum...nggak, kamu istirahat saja dulu ya."


Mbok Nah...wanita tua itu pasti tahu semuanya. Aku melihat Rumi dengan tatapan dalam. Kali ini akan kubiarkan dulu masalah gugatan itu.


Aku harus mencari tahu, ada apa dengan anak kecil dan wanita yang tewas bersimbah darah. Bayangan itu kini melekat di otakku dan tak mau pergi.


Tapi bagaimanapun tak akan semudah itu kamu lepas dariku Rum...Tak akan kubiarkan kamu jauh selangkah pun dariku.

__ADS_1


...***...


__ADS_2