Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 148


__ADS_3

Rumi memandang penuh cinta wajah dua manusia beda generasi di depannya. Sambil terus tersenyum diamati dua wajah itu bergantian.


Ternyata Ken sangat mirip dengan ayahnya. Terutama pada bagian mata dan alisnya yang berjajar rapi. Seumpama Nehan dirubah berpipi cabi pastilah plek ketiplek dengan anaknya.


Pipi dua lelaki itu ditusuk-tusuknya bergantian dengan jari sambil tertawa kecil. Tak pernah terlintas dalam bayangannya sejak perceraian hari itu dia akan kembali bersatu dengan lelaki ini.


Rasa sakit terlalu mendominasi bahkan untuk membayangkannya saja. Maka ketika Juna meminangnya tidak ada niatan untuk menolak. Baginya cinta tak begitu penting lagi, asalkan pasangannya setia itu sudah cukup.


Tapi semua berubah kala melihat Nehan terbaring tak berdaya. Bahkan untuk bernapas pun lelaki itu harus dibantu dengan alat.


Meskipun penasaran mengapa Juna akhirnya memutuskan untuk melepasnya, Rumi tidak punya keberanian untuk bertanya. Dia merasa tidak memiliki hak untuk meminta apapun, bahkan untuk sebuah penjelasan.


Apakah Juna tahu kalau dia sering melihat Nehan mejalani terapi fisik secara diam-diam?


Entahlah, kalau memikirkan hal itu sebenarnya dia menyesal setengah mati.


"Jangan ditusuk-tusuk begitu Rum. Pipiku bukan daging sate."


Nehan membuka mata sambil meringis.


"Berani sekali kamu membangunkan singa tidur," melirik ke arah jam dinding, "masih pukul tiga pagi kenapa sudah bangun?"


"Mengamati dua laki-laki yang menjadi kecintaanku."


"Kamu tidak hanya membangunkan aku, tapi membangunkan yang lain juga," menutup matanya lagi lalu berbaring menghadap keatas, jadi terlihat jelas ada yang menjulang dibalik kolor.


"Ya Allah mas?!" terkejut tapi ingin ketawa juga.


Rumi mengambil posisi duduk. Mengangkat si kecil dan memindahkannya di dekat dinding. Lalu dia berbaring tepat di sebelah suaminya.


Tubuh yang lama dia rindukan sekarang memeluknya erat dari belakang.


"Ada yang ingin aku tanyakan mas..."


Bicara berbisik agar si kecil tidak terganggu.


"Hemm..."


Tangan sudah mulai kemana-mana. Dan baru sadar kalau daster Rumi ada resleting di bagian depan.


"Jangan kemana-mana tangannya," menepuk kecil tangan Nehan.


"Sedikit."


Sedikit katanya tapi semua bagian tubuh Nehan menempel erat pada tubuh Rumi. Sekali-sekali juga bergerak menggesek merapat.


"Apa yang ingin kamu tanyakan Rum?"


Bagaimana bisa konsentrasi bertanya kalau semua bagian tubuhnya begidik karena ulah Nehan.


"Diam dulu, jadi lupa mau tanya apa..."


Nehan berhenti bergerak, "okay, baiklah."


Berhenti sebentar, belum juga ditanya Nehan mulai bergerak lagi. Ah...ya sudah lah.


"Apa yang kamu rasakan waktu kamu tertidur. Terus...kenapa itu tetap bisa tegak begitu padahal kakinya saja harus pakai tongkat."


Tidak juga menjawab, tangan Nehan malah makin kemana-mana, menyentuh, mengelus, mere_mas di tempat-tempat yang membuat des_ahan kecil dari bibir Rumi beberapa kali terdengar.


Tepukan kecil di tangan diulang sekali lagi.


"Jawab dulu, kamu malah sibuk sama yang lain."


"Itu dulu ya Rum. Aku sudah nggak bisa nahan lagi, kamu tahu kan berapa lama aku harus menahan diri."


Sekarang giliran bibir yang kemana-mana. Cuping telinga Rumi habis dil_umat. Gigitan kecil disana membuat Rumi makin melayang.

__ADS_1


"Tapi nanti cerita ya."


Sudah lah...kepalang tanggung, ceritanya nanti saja.


Rumi memutar tubuhnya mengubah posisi. Sekarang dia tidur berhadapan dengan Nehan.


"Jangan bersuara," bisik Nehan.


"Mana bisa, baru disentuh saja mulutku nggak bisa dikondisikan mas, apalagi..."


"Xixixixi..." keduanya terkikik perlahan.


Nehan mulai menyergap tubuh istrinya. Membawa tubuhnya ke atas tubuh Rumi. Tapi baru saja bergerak terdengar...


"Kriett..."


Pasangan pengantin baru itu langsung melihat sisi dinding tempat Ken tertidur.


"Rum, ranjangnya bunyi."


Rumi mengangguk, "namanya juga terbuat dari pipa besi mas."


"Aku lanjut ya, tanggung."


"He'em."


Nehan melanjutkan aksinya. Mencium kening, kedua mata, pipi lalu mema_gut bibir Rumi.


"Ehmmm," lagi-lagi ada suara yang tak bisa dikondisikan terdengar.


"Maaf," ujar Rumi meringis, "aku nggak tahan."


Nehan tersenyum dan membelai rambut istrinya, "gak papa," bicara tanpa mengeluarkan suara.


Aksi itu kembali dilanjutkan. Nehan kembali menyentuh tiap bagian dari tubuh Rumi. Mulai wajah turun kebawah. Leher jenjang Rumi pun tak lepas dari se_sapan bibir Nehan.


"Kenapa?" memasang wajah memelas, "aku pengen lihat itu," menggerakkan mata ke arah dada.


Tanpa bersuara Rumi memberi kode dengan menggerakkan matanya.


"Kalau tiba-tiba Ken bangun lihat kita polos, nggak lucu mas."


"Haduh..." suara Nehan memelas.


Kali ini Rumi mengawali melanjutkan apa yang mereka lakukan tadi. Karena tidak mungkin dilepas, daster Rumi hanya diangkat keatas.


"Aku masuk ya Rum," bisik Nehan.


Rumi mengangguk cepat.


"Ergh..." keduanya memejamkan mata men_ikmati perpaduan jiwa, menggapai rasa yang pernah hadir dan sempat lama menghilang.


Tapi lagi-lagi terdengar suara.


"Kriettt..." ketika Nehan mulai menggerakkan tubuhnya.


"Nggak bisa Rum."


Nehan mulai kehilangan gairahnya.


"Kita pindah tempat."


Nehan memutar pandangan. Lampu kamar yang remang-remang sekarang sengaja dimatikan. Dengan penerangan yang minim Nehan menarik Rumi untuk turun dari ranjang.


Tanpa membuang waktu Nehan mengangkat tubuh Rumi saling berhadapan. Punggungnya menempel pada dinding sebagai penyangga.


Meskipun tadi sempat terhenti, tapi nyatanya dua anak manusia itu masih menggelora. Sentuhan demi sentuhan membuat keduanya makin panas terbakar.

__ADS_1


Des_ahan dan leng_uhan bersahutan terdengar dari bibir keduanya. Memang ditahan sih, tapi meski begitu masih saja ada suara terdengar.


"Mas...ehmmm," bisik Rumi berkali-kali.


"hemmm." desah Nehan bergelung peluh dan gairah


Suara itu terdengar dari keduanya begantian seiring dengan gerakan yang makin cepat. Ditengah gejolak dan hampir tercapainya nirwana...


"Hua...Hua..., bunda gelap...Hua bunda mana."


Rumi dan Nehan menghentikan gerakannya. Napas keduanya masih terengah-engah. Rambut acak-acakan. Rumi melompat turun dan membenahi daster yang melekat di tubuhnya. Dengan gerakan cepat Nehan menyentuh sakelar lampu dan ruangan pun terang benderang.


Si kecil dalam posisi duduk sambil sesenggukan. Rumi segera mengambil anaknya dan digendongnya erat. Sementara Nehan duduk di kursi rias dengan wajah masih memerah.


"Rum...Rum!!"


"Buka pintu, kamu tumbenan sih, pintu pakai dikunci segala."


Ditambah lagi suara ibu terdengar berteriak sambil terus mengetuk pintu, "Ken kenapa?"


Lengkap sudah penderitaan bukan malam pertama kali ini. Dengan lesu dan langkah gontai Nehan membuka pintu kamar.


"Ken kebangun Bu..."


"Loh...kamu kok disini?" wajah bingung ibu membuat Nehan makin linglung.


"Ya Allah Gusti...ibu lupa kalau kalian nikah lagi."


Melihat Rumi menggendong Ken sambil mengayun dan melihat menantunya. Memperhatikan keduanya dalam kondisi acak-acakan.


Ibu tersenyum simpul, "maaf, Han. Ibu lupa kalau Rumi sekarang sudah tidak sendiri lagi."


Ibu berlalu keluar kamar.


Sambil tertawa ibu sempat menggoda, "yang sabar ya...hahaha."


Nehan menyambar handuk yang tergantung. Rumi melirik suaminya yang cemberut dan tak bisa mengkondisikan ekspresinya.


Kesalnya sampai ke ubun-ubun. Mandi sebelum subuh begini dinginnya minta ampun. Tapi kepuasan jauh dari jangkauan.


Setelah mandi dan kembali ke kamar. Wajah Nehan tak lagi kecewa. Dia mendekati anaknya yang kembali tidur.


Rumi mendekat dan memeluk suaminya dari belakang.


"Jangan marah ya...Ken kan anak kamu sendiri."


"Hei siapa yang marah?" Nehan memutar tubuh Rumi, memeluk dan menyandarkan kepala di dada.


"Aku bahagia, ternyata begini rasanya menunaikan kewajiban jika sudah punya anak."


"Asik, penuh tantangan, mendebarkan, menjengkelkan tapi sekaligus menambah gairah. Sebuah perpaduan yang menarik untuk diceritakan tetapi sulit untuk dilakukan."


"Sampai-sampai aku harus menyelesaikan semuanya di kamar mandi."


"Maaf..." Rumi membelai rambut suaminya.


"Aku malah memikirkan kamu. Aku bisa menuntaskannya di kamar mandi, sedangkan kamu?"


"Aku tidak apa-apa mas."


"Rum, kita harus segera pindah."


"He'eh."


Tidak bisa diteruskan seperti ini. Kalaupun tidak bisa langsung pindah, paling tidak harus ada rencana untuk bulan madu. Haruskah pergi bersama Juna dan Yuli?


...***...

__ADS_1


__ADS_2