
Nehan POV
H-3
Hari ke tiga sebelum hari besarku. Sekar ingin aku menemaninya seharian. Dia begitu sentimentil menyambut pernikahan kami.
"Temani aku hari ini."
Aku duduk di teras rumah Sekar. Sejak semalam dia tak berhenti meneleponku untuk datang hari ini.
"Aku sibuk, ada beberapa meeting yang harus aku hadiri."
"Aku takut."
Sinar mata wanita yang duduk di sebelahku ini memang menunjukkan kekhawatiran.
"Apa yang kamu takutkan?"
"Aku merasa semua sungguh tidak masuk akal."
"Serba tergesa-gesa."
"Sikapmu juga membingungkan mas. Beberapa waktu yang lalu, kamu begitu membenciku, bahkan mencekik dan hampir membunuhku."
"Kenapa tiba-tiba kamu sebaik ini padaku sekarang?"
Aku menghela napas, berusaha membuang beban yang menggelayut dalam hati. Aku enggan menjawab pertanyaannya, aku hanya ingin dia kuat menghadapi hari-hari selanjutnya.
"Kamu akan baik-baik saja."
Aku mengambil tangan Sekar menggenggamnya erat untuk menghalau perasaan bersalahku yang tiba-tiba muncul.
"Bersamaku atau tanpa diriku kamu akan baik-baik saja. Kamu wanita muda yang kuat La."
"Jadilah wanita mandiri seperti dulu, waktu aku mengenalmu pertama kali. Jangan gantungkan hidupmu pada siapapun. Aku akan selalu ada untuk kamu apapun bentuk hubungan kita nanti."
Netra wanita itu mengembun. Buliran bening mulai mengalir.
"Hiks, jangan pernah tinggalkan aku mas. Aku benar-benar mencintai kamu. Jangan pernah menjauh dariku. Kalau kamu benci padaku, pukul saja aku, siksa aku tapi jangan pernah pergi dariku."
Tubuh Sekar perlahan mendekat, menggeliat kemudian sembunyi dalam pelukanku dengan nyaman.
Sekarang giliran air mataku menetes, maafkan aku. Maafkan aku atas semua kesalahan yang pernah atau akan aku buat. Kubelai rambutnya, kuelus punggungnya. Tangisnya makin deras sampai membasahi kaos yang kupakai.
"Maafkan aku la."
Dia menggeleng pelan. Gerakan kepalanya membuat dadaku berdetak lebih kencang. Tangannya yang memeluk erat pinggangku membuat bagian bawah tubuhku berdenyut.
"Jangan minta maaf terus. Aku jadi makin takut, kamu seperti akan melakukan kejahatan padaku."
"Kata Siti, kamu orang baik mas. Yang harus aku lakukan hanya mempercayaimu dan semua akan baik-baik saja."
"Bodoh, Siti tidak mengenalku. Kamu mengenalku lebih baik. Kamu tahu betapa jahatnya aku sebagai lelaki, dan betapa bodohnya aku sebagai seorang ayah."
Percakapan kami makin lama makin dalam. Aku ingin membuang beban dan rasa bersalahku.
"Aku memang bodoh mas, karena mencintaimu aku jadi buta. Tapi aku tak peduli, aku rela mengorbankan semuanya untukmu."
"Dulu sebelum aku bertemu denganmu, cita-citaku hanya ingin kuliah ke luar negeri, hanya itu."
"Tak pernah memikirkan atau membayangkan ada yang lebih indah dari pada menjadi seorang sekretaris lulusan universitas bergengsi dari luar negeri."
__ADS_1
"Kamu adalah cinta pertamaku mas, kamu tahu."
Sekar mendongak, kemudian melepaskan pelukannya. Dia memberi jarak pada tubuh kami. Matanya tersenyum memandangku.
Jantungku berdetak makin kencang. Siapa yang tidak akan tertarik dengan wanita cantik seperti dia. Pesonanya mampu membuat para pria tak berkedip.
Sekar memandangku lekat. Aku tahu dia menginginkan bibirku dari caranya melihatku. Dia mendekatkan bibirnya, untuk beberapa detik aku terhipnotis. Aku hampir membiarkan bibir itu menyentuh bibirku, tapi kemudian bayangan Lita melintas. Pipi bakpaonya membawaku ke dunia nyata. Lalu ada Ken dan bundanya tersenyum ke arahku.
Aku melihat Sekar dengan kesadaran penuh. Wanita ini masih menungguku dengan mata terpejam.
"Kamu ngapain?" aku sentil dahinya pelan.
Sekar membuka matanya malu-malu, pipinya memerah.
"Ehem, nggak kok."
"Mmm ini, mmm...aku kelilipan," ucapnya sambil mengucek mata.
"Aku tak akan menyentuhmu sekarang, aku sudah bilang kan."
"Iya...iya, aku tahu."
"Sudah pergi sana, katanya sibuk banyak meeting."
Aku terkekeh, "ya sudah, istirahat saja, tidak usah memikirkan sesuatu yang berat."
"Aku ulangi lagi La. Jangan terlalu percaya padaku. Aku bukan lelaki baik-baik."
Aku pergi meninggalkan Sekar yang masih duduk di teras. Aku serius dengan ucapanku, aku bukanlah lelaki baik-baik. Jangan sakit hati atau berharap padaku, karena itu percuma. Kamu hanya akan seperti memeluk angin jika mencintaiku, karena aku raga yang tak lagi punya rasa.
Sampai habis hari ini Sekar masih terus mengganggu. Ada saja alasannya untuk menghubungi aku. Telepon terakhir dia ingin kami keluar malam nanti dengan embel-embel aku boleh menginap kalau lelah.
Masalahnya Nehan yang sekarang sudah berubah. Kalau dulu aku akan bersorak kegirangan ketika Sekar memintaku menginap. Kini fokusku sudah berubah, jauh berbeda.
Galeri ponsel kubuka, paling tidak foto-foto ini bisa menjadi pengobat rindu selama kami belum bertemu. Melihat foto Ken dan Rumi lalu beberapa foto Lita yang sempat kuambil malah membuat hatiku tambah berat.
Aku lirik jam tangan yang melingkar di pergelangan, masih pukul lima sore. Aku menyerah, aku minta sekretaris ku untuk memasuki ruangan.
"Iya pak...?"
"Tolong bersihkan berkas yang ada diatas meja."
"Aku akan ke luar kota, jadwal ulang semua meeting untuk besok. Kalau memang tidak bisa ditunda, wakilkan saja aku dengan orang lain."
"Baik, pak."
Aku menyambar kunci mobil yang tergeletak diatas meja. Sekretaris ku termasuk karyawan yang handal dan bisa dipercaya, jadi aku pasrahkan semua padanya. Aku berlari menuju tempat parkir lalu memacu mobilku kencang.
Senyumku mengembang melihat rumah yang kurindukan sudah di depan mata. Pintu depan sudah tertutup tetapi lampu masih menyala. Aku buka pagar dan berjalan melintasi halaman.
Kelambu jendela tersingkap sedikit. Itu membuatku melayang, sekilas aku melihat Rumi mengintip dari balik jendela.
Jalanku makin cepat. Pintu mulai melebar sedikit demi sedikit. Wajah itu menyambutku, wajah yang sangat kurindukan itu berdiri di sisi pintu dengan senyum merekah.
"Kok malah kesini?"
Mata bulatnya membundar. Oh...kalau boleh ingin aku tenggelamkan tubuh itu dalam pelukanku.
"Kangen anak-anak," jawabku.
Malu dan tidak pantas rasanya kalau aku bilang kangen bundanya. Dia adalah wanita yang bukan milikku lagi.
__ADS_1
Kami masih berdiri di depan pintu saling bertukar pandangan dan senyuman. Mungkin aku salah, tapi aku sudah bersamanya selama sembilan tahun, dari matanya aku tahu dia juga merindukanku.
"Boleh aku masuk."
Rumi tertawa kecil, "aku jadi ingat waktu kita janjian pertama kali di kosan," lagi-lagi dia tertawa, "kita hanya saling berdiri seperti ini di depan pintu."
"Berarti saat ini aku anggap pendekatan ku untuk yang pertama kali setelah kita bercerai, boleh?!"
Rumi memajukan bibirnya, "enaknya saja. dua hari lagi mas mau menikahi Sekar, ingat!"
"Aku masuk saja lah, belum mulai sudah ditolak," jadi sebal tidak bisa diajak berkhayal.
"Beri kesempatan kek buat aku berusaha."
Rumi mencibir, "jadi mau punya dua istri lagi. Tapi kali ini dibalik, Sekar istri pertama terus aku istri kedua begitu?"
"Ngomong apa sih kamu!" siapa juga yang mau menikah dua. Aku meletakkan pantatku di kursi.
"Boleh aku lihat Ken?" aku lepas sepatu, Rumi mengambilkan sendal yang biasa kupakai.
"Anaknya sudah tidur, jangan diganggu."
"Hanya lihat saja...nggak bakalan bangun kan kalau cuman lihat."
Aku berjalan ke kamar mandi. Membersihkan kaki dan cuci muka. Kasihan Ken kalau aku membawa setan jalanan. Maksudku debu dan kotoran dari jalan, aku tak mau anakku sakit gegara aku.
Kamar Rumi menjadi tujuanku setelah dari kamar mandi. Waduh, anakku kalau tidur modelnya sudah seperti pembalap saja. Muter begitu badannya, kepala dimana kakinya dimana. Itu gimana bundanya mau tidur kalau si kecil jadi penguasa kasur begitu.
Aku dekati Ken yang lelap, kucium pipi gembul yang seharian ini aku rindukan.
"Mana ibu?" tanyaku, ketika Rumi menyusul dan berdiri di belakangku.
"Sudah tidur, cape katanya, banyak jahitan yang harus diselesaikan."
Aku duduk di kursi rias sedangkan Rumi berdiri di tempat yang sama.
"Kamu bicara sama ibu, bilang jangan jahit lagi, sudah sepuh waktunya istirahat."
"Mana mau ibu," sekarang Rumi bersandar di kusen pintu sambil bersedekap.
"Menjahit itu seperti hobi buat ibu. Kalau yang lain hobinya berkebun, pelihara ikan, burung, kucing kalau ibu jahit."
"Aku mau membelikan kalian rumah, rencananya yang dekat tempat kerja kamu saja, biar cepat kalau pulang pergi."
"Buat apa, rumah ini cukup buat kami."
"Biarkan aku melakukan sesuatu untuk kalian. Selama ini aku menjadi lelaki bodoh yang hanya memikirkan diri sendiri. Merasa cukup ketika melihat kamu dan ibu tertawa bahagia, padahal kalian berdua memang orang-orang sederhana yang gampang bahagia."
"Karena itu aku jadi buta dan merasa nggak perlu melakukan apapun buat kalian."
"Aku seperti lupa, bahwa memenuhi semua kebutuhanmu bukan hanya menjadi sebuah kewajiban tetapi juga kebanggan. Aku tahu sekarang sedikit terlambat, tapi aku tetap ingin melakukannya."
"Aku ingin anak-anakku bangga padaku dan tahu kalau ayahnya selalu ingin membahagiakan bundanya meski tanpa diminta."
Rumi mendekat dan menyentuh bahuku, "semua sudah berlalu mas, sekarang kamu konsentrasi dengan pernikahan yang tinggal dua hari lagi."
Jawabannya menyebalkan lagi. Aku mendekati Ken lalu dengan sengaja menguyel-uyel pipi anakku. Biar dia bangun sekalian. Benar saja mata kecilnya terbuka, bibirnya mencebik lucu lalu suara melengking tangisan Ken memecah kamar.
Rumi memukulku keras, matanya melotot. Ken segera digendong, "keluar, aku mau menyusui."
Badanku langsung lemas. Harusnya aku bisa duduk di sisi Rumi yang menyusui. Ah...penyesalan memang selalu datang di akhir. Dengan gontai aku menuju ruang tamu dan merebahkan tubuhku di kursi panjang sampai akhirnya mataku terpejam dan terbuai mimpi.
__ADS_1
...***...