Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 84


__ADS_3

"Mau sampai kapan kamu akan terus mengalah, Rum."


Ibu membersihkan luka di kepalaku setelah aku membersihkan diri dan ganti baju. Rambutku di cuci untuk menghilangkan darah kering yang tersisa. Ibu membasuhkan handuk basah agar sisa darah dari lukaku lenyap.


"Ibu tidak mau melihatmu terluka lagi seperti ini."


"Rumi, tadi jatuh Bu, semuanya terjadi bukan karena disengaja."


Tangan ibu terus bergerak mambasuh rambutku dengan handuk kecil yang dibasahi air hangat.


"Berhenti membela Nehan."


Bau sampo masuk ke indera penciumanku, baunya wangi, "ibu mencampurkan sampo pada air di baskom ini?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Rum."


Rupanya ibu masih belum mau mengalah. Aku sudah mendengar ibu menggerutu sejak aku datang.


"Rumi memang jatuh karena tidak sengaja Bu."


"Kamu masih tidak mau berterus terang dan menceritakan yang sesungguhnya pada ibu?"


Bagaimana sih ibu, aku kan sudah bilang yang sebenarnya. Aku hanya tidak ingin bercerita detailnya saja.


"Rumi tidak bohong Bu."


Ibu berhenti membasuh rambutku. Meletakkan handuk besar di punggungku dan mengeringkan rambutku menggunakan handuk kecil secara perlahan.


Ah, ibu membuat aku jadi merasa bersalah. Aku merasa seperti benar membohongi ibu.


"Rumi memang jatuh karena Mas Han, tapi itu karena tidak disengaja Bu."


Ibu membanting handuk kecil yang tadi dipakai mengeringkan rambutku ke dalam baskom yang penuh berisi air. Kecipak air mengenai wajahku dan membuat lantai kamarku menjadi basah.


"Mbok Nah, tolong keringkan lantai di kamar Rumi," teriak ibu sambil membawa baskom keluar.


Mbok Nah masuk ke dalam kamar, "Ken mana mbok?" aku khawatir kalau Ken ditinggalkan sendiri, bayiku itu mulai banyak bergerak.


"Bersama uti nya, Ndoro."


Aku meraih tangan Mbok Nah dan memintanya duduk di sebelahku, "Mbok berhenti memanggil saya Ndoro Putri. Saya tidak suka panggilan itu."


"Tapi saya sudah terbiasa, Ndoro."


"Dengar ya mbok. Panggilan pengadilan agama sudah sampai pada Mas Han. Proses perceraian kami sudah berjalan Mbok. Kalau Mbok masih ingin bersama saya, tolong ganti panggilannya. Saya ingin melupakan semua rasa sakit saya. Melupakan semua hinaan ibunya Mas Han kepada saya dan kepada ibu saya."


Tangan Mbok Nah kupegang erat.


"Apa Ndoro putri tega meninggalkan Ndoro Kakung setelah mengetahui kondisi mentalnya?"


"Ini bukan masalah tega atau tidak tega mbok, tapi Mas Han sudah beberapa kali membahayakan hidup saya. Saya khawatir pada Ken. Jadi untuk sementara biarkan kami berpisah. Siapa yang tahu dengan masa depan kami nanti bagaimana. Bisa saja kan kami kembali bersama."


Sekilas aku melirik ibu yang melewati depan kamar sambil membawa Ken di gendongan.


"Baik, saya akan pikirkan panggilan apa yang paling pas buat Ndoro Putri."


Sekali lagi ibu melewati kamar, kalau tadi dari arah belakang ke ruang depan, kali dari depan ke arah belakang rumah.


"Ya sudah, Mbok boleh laporan sama ibu. Kalau mau ngerumpi bawa dulu Ken kemari ya," ucapku sambil tersenyum.


Mbok Nah tertawa kecil, "bagaimana Ndoro Putri tahu kalau saya sedang ditunggu sama Uti nya Ken."

__ADS_1


"Ya tahu lah, itu ibu mondar-mandir depan kamar dari tadi."


"Bilang sama ibu, kalau Mas Han sudah menerima panggilan pengadilan. Tadi Rumi terluka karena Mas Han bertengkar sama Mas Juna dan Rumi ada di tengah-tengah."


Mbok Nah manggut-manggut mendengarkan.


"Mbok Nah, kalau sudah ngobrolnya, tolong bantu saya!" teriak ibu dari kamar belakang.


"Hihihi...saya kesana dulu ya. Ibu nyonya sudah panggil-panggil. Saya bawakan Ken kemari sebentar lagi."


Mbok Nah berlalu sambil terus tertawa kecil, "rubah juga panggilan ibu Nyonya buat ibu, pilih saja salah satu," teriakku. Telingaku selalu merasa aneh kalau Mbok Nah memanggil ibu seperti itu.


...***...


Pagi ini aku bangun masih dengan sakit kepala yang menyiksa. Kemarin aku pikir setelah bangun tidur sakit kepalaku akan berkurang, tapi ternyata aku salah.


Kepala bagian belakang di sekitar luka juga sepertinya membengkak. Mungkin karena efek obat bius yang menghilang sejak semalam, sekarang nyerinya makin terasa.


"Assalamualaikum," suara Yuni terdengar di pintu depan.


Kemarin setelah semalaman mendengarkan ibu mengomel. Sekarang aku harus mendengarkan suara cempreng Yuni, yang pastinya nggak kalah seru dari omelan ibu semalam.


Salamnya belum juga dijawab, orangnya sudah muncul dalam kamar, "ditinggal sebentar saja sudah begini kejadiannya, bagaimana aku bisa tenang lihat hidupmu coba," membanting tas ke atas tempat tidur.


Aku tersenyum mendengar gerutuannya.


"Nggak usah sok cantik kamu, senyum-senyum," Yuni berjalan mendekat menyentuh kepalaku dan menundukkannya sedikit, "sampe bengkak begini."


Aku meringis kesakitan, "Yun, makin sakit kalau kamu seenaknya sentuh-sentuh begini!"


"Coba kalau aku yang jadi istrinya, aku habisin itu emaknya sama Nehan nya sekalian. Ndoro...Ndoro, Ndoro opo?! bilangnya bangsawan kelakuan preman."


Tuh kan, aku musti mengingatkan diri sendiri untuk menyediakan headset kalau sayangku yang satu ini datang.


"Bisa-bisanya kamu nawarin makan sama orang yang lagi marah-marah!" matanya hampir keluar dari tempatnya.


Ternyata kali ini aku salah, "sudah, nggak usah marah-marah, nggak perlu, cuman buang-buang energi. Nanti malah kamu jadi ikutan sakit karena tensinya naik."


"Ibu masak apa, sepertinya aku butuh banyak energi buat dongkol sama laki kamu itu," Yuni keluar kamar, "Bu," teriaknya, "masak apa pagi ini?" aku menutup telinga Ken dengan tanganku. Untungnya Ken termasuk bayi yang suka tidur, jadi suara sekeras apapun tidak mudah mengganggu tidurnya.


Sebaiknya aku memejamkan mata sebentar siapa tahu pusingku sedikit berkurang.


"Rencananya Minggu depan aku akan membuka panti kita," suara gemelinting sendok beradu dengan piring terdengar nyaring di telingaku, membuatku terpaksa kembali membuka mata.


Nggak pengertian banget, nggak lihat apa aku berusaha untuk tidur.


"Tapi kalau kamu merasa minggu depan masih belum sehat, kita undur saja sampai kamu mampu menghandle panti."


"Enak masakan ibu?" tanyaku, aku jadi ingin ikut makan melihat Yuni menikmati makannya.


"Hmm, masakan ibu nggak pernah gagal."


Menu tepo tahu ibu pagi ini sepertinya begitu memanjakan lidah Yuni.


"Buka saja, Minggu depan pasti sudah jauh lebih baik. Ada sidang juga yang musti aku datangi. Sepertinya sih agendanya masih mediasi."


"Oke, kita buka Minggu depan, dan aku yang akan mengantar kamu datang ke pengadilan agama."


Yuni berhenti menyendok makanan yang terdiri dari lontong, tahu, kacang kedelai goreng, kecap, cabe iris, dan seledri yang di campur jadi satu itu.


"Emang kemarin si Juna diapain sama ibu?"

__ADS_1


Aku mengernyitkan dahi. Mas Juna, diapain ibu?


"Nggak diapa-apain kok, memang kenapa?" tanyaku heran.


"Tadi pagi waktu aku ajak kesini dia menolak, biar amarah ibu reda dulu, begitu katanya."


"Oh, mungkin Mas Juna mikirnya ibu marah sama dia karena aku terluka. Padahal sebenarnya marahnya sama Mas Han sih."


"Aku sudah mengira pasti begitu."


Yuni kembali menyendok makanan yang hampir habis dari mangkoknya.


"Kita lihat saja berapa lama dia bisa betah nggak ketemu kamu," ucap Yuni sambil nyengir.


"Apa sih! kalian ini pembicaraannya seputar itu terus."


"Eh, Juna juga sering ngomongin masalah itu sama kamu?"


"Biasa saja kali ngomongnya, nggak usah pakai tanda mata begitu," ngomong pakai melotot., "aku juga bilang sama dia, buat cari perawan saja, bukan aku yang bekas orang."


"Gila kamu, ngomongnya begitu amat, kasihan tahu, dia sering nanya-nanya sama aku lo, kalau pas lagi ngobrol berdua."


"Masih banyak yang ingin aku capai dulu Yun, setelah nanti urusanku sama Mas Han kelar. Aku juga mau fokus sama Ken," aku menepuk badan anakku gemas. Bisa-bisanya dia tetap terlelap, padahal bunda dan Tante Yuni nya dari tadi ngobrol rame sekali.


"Tapi Rum, semua itu bisa diraih__."


"Biar Rumi nyenengin hatinya dulu Yun, biarkan dia meraih apa yang dulu nggak sempat diraih," suara ibu keras mematahkan kalimat Yuni.


Kami berdua saling pandang, menutup bibir dan tertawa kecil.


"Dengar aja ibu kamu."


"Ya dengar lah, ibu nggak akan semudah dulu mencari dan menerima menantu baru."


Aku menyenggol lengan Yuni, menggerakkan kepala memberi tanda agar Yuni menjawab.


"Iya, Bu, maafkan Yuni ya...Yuni pasti akan jagain Rumi kok," menjawab dengan suara keras


"Si Juna juga sih kayaknya Bu, bersedia buat jagain Rumi," kali ini berbisik tepat di depan wajahku. Tapi kemudian teriakan keras Yuni terdengar karena jariku menyasar lengannya. Biar saja sampai warnanya ungu karena kucubit.


...***...


Gimana sih ya, rasanya nggak banget mengharapkan sebuah hubungan baru ketika urusan kita dengan yang lama belum kelar.


Jangankan untuk memulai, melupakan yang lalu saja prosesnya bisa hitungan tahun. Iya nggak sih...


Apalagi sakit yang tertinggal adalah paket lengkap. Suami plus keluarganya.


Jadi biarkan Rumi bebas dulu, berdamai dengan masa lalu yang belum tentu hilang di masa depan. Baru memikirkan untuk menjalin sebuah hubungan baru.


Bahkan banyak wanita yang tetap memilih sendiri ketika pernikahan pertamanya gagal.


Happy reading gaess


Buat kalian semua, anggap saja sebuah kegagalan itu adalah keberhasilan yang tertunda, termasuk dalam masalah percintaan. Siapa tahu percintaan kita akan sukses di masa datang setelah kita mengalami sebuah kegagalan yang menyakitkan.


lope you all🥰❤️😘


Like, komen, vote, dan share ya...


Biar akunya semangat buat up cerita 🤗🤩

__ADS_1


Kalau mau berbagi poin atau koin boleh juga


Thank U ya...


__ADS_2