
Nehan POV
Aku baru bangun waktu pintu apartemen yang kutempati beberapa bulan terakhir ini terbuka. Bu Ajeng berdiri disana, dengan gaya sombong nya. Kalau aku tidak ingat pesan ibu, saat ini rasanya aku ingin membawa wanita tua itu ke pinggir balkon dan mendorongnya ke bawah.
"Kowe ki piye toh, kok sakarepmu dewe, Sekar ditalak, karepmu ki opo."
[Kamu ini bagaimana, kok semaunya sendiri, Sekar diceraikan, maumu itu apa]
Lagak bicaranya seperti biasa, angkuh dan arogan. Aku membiarkannya mengoceh, tanpa menanggapi sedikitpun. Matanya mengikuti gerakku yang mondar mandir antara ruang tamu dan pantry.
"Nehan!" bentaknya.
Aku berhenti, memandangnya tak berkedip, "iya Bu, ada apa?"
"Kamu makin lama makin kurang ajar ya, aku yang__"
"Merawat dan membesarkan Nehan?" sambarku, kesabaranku diujung rambut, "harusnya ibu membuang saja Nehan, kalau membesarkan Nehan begitu merepotkan."
Matanya membulat penuh, memang baru kali ini aku membantahnya. Mungkin dia terkejut, atau mungkin dia tidak mengira waktu pemberontakan ku sudah tiba. Aku yakin dia paham suatu saat akan ada karma untuknya.
"Sejak kapan kamu berani menjawabku?" mata garangnya meredup. Rupanya pemberontakan ku cukup mengejutkan baginya.
"Selama ini saya hanya menahan diri saja," jawabku singkat.
Aku kembali sibuk dengan cangkir teh yang akan aku suguhkan untuknya. Bagaimanapun aku masih punya sedikit rasa menghargai pada wanita tua ini. Kalau rasa hormat ku sudah menguap entah kemana sejak aku mengetahui kematian ibu kandungku.
"Silahkan diminum Bu," aku letakkan secangkir teh hangat di atas meja.
"Sejak kapan kamu mau tinggal disini?"
"Sejak saya bercerai dengan Rumi," ujarku hampir berbisik.
"Nah, mumpung kamu sedang membahas masalah itu. Sekarang ibu mau tanya, Rumi sudah kamu ceraikan, terus kenapa Sekar juga kamu talak. Harusnya kamu itu malah lebih mencintai Sekar, biar punya keturunan yang bibitnya sepadan, bukan seorang wanita yang berasal dari keluarga miskin."
Kenapa wanita ini selalu membahas topik yang sama. Topik yang paling aku benci. Membuatku tak bisa menutupi amarah dan langsung terlihat lewat wajah.
"Apa ibu harus terus membahas masalah itu. Kenapa ibu begitu membenci Rumi, apa karena Rumi berasal dari keluarga miskin atau karena senyum Rumi mirip seseorang?"
Wanita tua ini diam, wajahnya pucat. Aku tak berniat untuk menenangkannya kali ini, aku ingin tahu ekspresi apa yang akan dia tunjukkan setelah ini.
"Apa maksudmu?"
Dia memilih untuk pura-pura bodoh. Aku tersenyum sinis, "saya tidak punya maksud apa-apa, saya hanya heran kenapa ibu memperlakukan Rumi lebih buruk daripada seorang abdi."
"I...ibu...hanya tidak suka saja," dia mengangkat kepala dan lurus menatapku, "kamu seperti tidak tahu saja. Ibu tidak pernah suka wanita miskin!"
__ADS_1
"Padahal ibu juga memungutku dari seorang perempuan miskin," bisikku pada diri sendiri.
"Apa katamu Han?"
"Bukan apa-apa Bu."
"Kamu harus menuruti ibu Han. Kamu harus kembali menikah dengan Sekar."
Masih tetap mau memaksakan kehendakmu, hah!
"Han tidak mau!" jawabku tegas tanpa basa-basi, "Han ingin kembali menikahi Rumi, mengubah takdir seorang wanita miskin untuk mendapatkan selayaknya yang dia terima dari lelaki yang mencintainya."
"Han!" ibu memegang tanganku. Aku dalam posisi berdiri ingin kembali menuju pantry.
Karena terkejut, kuputar posisi tanganku berganti tangan ibu yang sekarang kucengkeram.
"Berhenti memaksa Nehan, Bu. Mulai saat ini dan seterusnya Nehan akan selalu menahan diri. Tapi kalau ibu terus mendesak jangan salahkan Nehan kalau akhirnya melawan!" mataku tajam menatap mata tua di depanku tanpa ampun. Dia harus tahu dan mulai bersiap siapa yang akan dihadapinya sekarang.
Ibu menggoyang tangannya berusaha melepaskan diri, "lepaskan tangan ibu Han, sakit..."
Aku melepas tangan Bu Ajeng kemudian berlalu menuju pantry. Wanita itu memegangi tangan tuanya yang aku yakin sekarang pasti memerah.
"Kamu bukan anakku. Kamu bukan Nehan yang aku besarkan..." aku masih bisa mendengar kalimat terakhir darinya sebelum Bu Ajeng keluar apartemen.
Tanpa melihat kepergiannya, aku bergumam sendiri, "aku memang bukan anakmu, bahkan kamu adalah pembunuh ibuku."
...***...
Hari ini Ken aku ajak ke panti, tentu saja bersama Mbok Nah. Aku pikir Ken perlu dilatih untuk ikut aku bekerja, jika nanti ada kejadian yang tidak diharapkan.
"Anak bunda mimik susu dulu ya."
"Mbok Nah tolong ambilkan botol Ken."
"Baik Ndoro."
Tas diletakkan di sofa. Sebenarnya aku bisa mengambil sendiri, tapi aku terlanjur duduk nyaman memangku Ken di kursiku.
"Mbok Nah, kalau mau lihat-lihat silahkan, keliling panti. Biar Ken sama saya dulu."
"Nanti saja Ndoro Putri. Saya mau nunggu tole mimik dulu, saya tidurkan baru saya akan berkeliling panti."
"Tidak kangen sama Pak Dul, biasanya jam segini dia sedang ngelus-ngelus Paijo."
"Walah baru tadi semobil."
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu Mbok Nah ayun-ayun Ken ya, biar cepat tidur, saya mau melihat-lihat anak-anak panti."
Berkeliling panti jam 10 pagi begini cukup menyenangkan. Memang anak-anak yang usia sekolah, semua sedang sekolah. Tapi yang batita pasti sedang bermain. Untuk sementara karena sekolah milik yayasan belum buka, maka anak usia sekolah masih sekolah di luar lingkungan panti.
Memasuki ruang bermain membuat senyumku mengembang. Suster Eny sedang bercanda bersama anak-anak. Sedangkan Lalita dibiarkan bermain di bawah.
Aku mendekati Lita, panggilan anak suster Eny.
"Halo sedang main apa?"
Gadis kecil itu memegang boneka model barby khas kesukaan anak perempuan.
"Eta," jawabnya lucu sambil menunjukkan boneka di tangannya.
"Boneka ya."
Aku membelai rambutnya, parasnya benar-benar mirip Mas Han. Kenapa Mbok Nah belum bilang apa-apa ya, Minggu lalu mereka bertemu waktu piknik bareng.
"Selamat siang Bu."
Suara suster Eny menyapaku sopan.
"Selamat siang, lebih tepatnya masih pagi ya," aku tersenyum.
Dia mengangguk. Aku menyentuh pipi Lita, "dia bayi yang sehat, beruntung sekali anak ini bertemu dengan orang sebaik anda."
Aku menatap matanya, ada sesal dan sedih disana. Tangannya kusentuh, "kok jadi melow begitu wajahnya."
Suster Eny tersenyum, "saya bukan orang baik Bu. Banyak hal yang saya sesali dan suatu hari nanti ingin saya perbaiki. Tapi kalau saya lihat Lita, saya takut kalau saya akan dipisahkan, saya tidak mau Bu, saya sangat menyayangi anak saya, dia anak saya Bu."
Apa yang sudah kamu lakukan suster Eny, "siapa yang akan memisahkan kalian berdua?"
"Bahkan orang tua kandungnya sekalipun tidak berhak melakukan itu."
"Ibu menolong saya dari lembah hitam. Saya tidak mengira ada yang mau menerima saya bekerja setelah apa yang saya lakukan dulu. Saya tidak takut dengan karma atau pembalasan yang dilakukan oleh manusia Bu, yang saya takutkan adalah amarah Tuhan karena kelakuan saya dulu."
Hatiku trenyuh mendengar ucapannya. Aku yakin suatu saat nanti suster Eny akan bicara jujur padaku. Kalau saat itu tiba, aku akan membantu semampuku. Pastilah sulit untuk terbuka seperti yang diceritakannya sekarang.
"Suster Eny tidak harus bicara sekarang, sedikit banyak saya tahu kenapa Suster dulu mengundurkan diri dari tempat kerja yang lama. Tapi yang saya tahu Suster tidak melakukan kesalahan apapun, hanya sedikit mencurigakan saja, kenapa tiba-tiba resign."
"Suatu saat saya akan cerita, suatu saat saya akan membalas semua kebaikan yang ibu lakukan untuk saya dan Lita. Semoga pertaubatan saya diterima oleh Tuhan."
Siang ini tambah satu lagi misteri yang membuat aku penasaran. Tapi aku yakin suatu saat semua akan terbuka, satu persatu. Kalau sekarang aku memilih diam menyembunyikan kematian ibu kandung Mas Han yang kutahu dari Mbok Nah, itu hanya karena aku tidak mau Mas Han makin terluka. Kalau waktunya tepat, Mas Han berhak tahu semuanya.
Begitu juga dengan gadis kecil anak suster Eny. Ada yang mengganggu pikiranku, entah mengapa aku yakin kalau anak itu punya hubungan dengan Mas Han. Bahkan orang bodoh sekalipun akan langsung berpikir sama denganku. Melihat kemiripannya, sulit menyangkal kalau keduanya ada hubungan darah. Tapi hal itu belum tentu juga sih, namanya juga tebakan karena saking penasarannya diriku.
__ADS_1
...***...