Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 49


__ADS_3

Peristiwa yang terjadi dalam hidupku beberapa bulan ini menjungkir balikkan duniaku yang biasanya tenang. Tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benakku kalau rumah tanggaku bersama Mas Nehan mengalami cobaan seberat ini.


Puluhan pesan masuk berisi kata permintaan maaf dari Mas Han membuatku jengah. Masalah yang sebenarnya mudah malah menjadi runyam karena komunikasi yang tidak jalan. Kebohongan demi kebohongan yang dianggap wajar. Kata-kata mendiskreditkan aku dan ibuku yang dianggap biasa. Sesuatu yang tidak mau lagi aku tanggung.


Sekarang aku memilih untuk kembali ke titik nadir, titik nol, titik terendah dalam hidupku. Dengan sebuah tanggung jawab besar yang memaksaku untuk kembali memahami arti mencintai dan dicintai.


Sebelumnya aku tak pernah berpikir untuk meminta sesuatu pada Mas Han apalagi pada keluarganya. Aku menganggap cinta adalah kepercayaan absolut. Karena itu aku selalu pasrah dan percaya, meskipun Mas Han memberi aku rekening sendiri, memberi aku properti, aku sama sekali tak pernah menyentuhnya. Untuk apa? toh semua kebutuhanku sudah terpenuhi.


Bodoh, mungkin itu yang orang bilang. Punya suami kaya raya sedangkan aku tak memiliki apa-apa. Sekedar merenovasi rumah ibu saja tidak aku lakukan. Mengapa? karena ibu merasa itu tidak perlu dilakukan. Ibu juga memiliki sentimen tersendiri dengan kenangan bapak di rumah kami.


Sore ini terasa sunyi. Kerik jangkrik tertangkap jelas di telinga. Aku dan ibu duduk di ruang tamu. Pundak ibu aku jadikan sandaran kepalaku. Ah...seusia aku ini pun masih membutuhkan ibu untuk meringankan beban.


Ibu meletakkan tangannya diatas perutku, "apa yang akan kamu lakukan Rum?"


"Rumi akan baik-baik saja Bu."


"Jangan mengambil apapun dari keluarga Nehan Rum."


"Hmmm..." aku mengangguk untuk menegaskan jawabanku.


"Kamu baik-baik saja kan Rum?"


Aku menggeleng, "siapa yang baik-baik saja kalau rumah tangganya di ujung tanduk Bu?"


Tidak ada satu orang pun di kolong langit ini akan baik-baik saja ketika kehilangan sesuatu yang sudah terbiasa ada.


"Iya, ibu paham, meskipun ibu tidak tahu bagaimana rasanya."


"Rasanya seperti Rumi sedang mengejar dan menangkap angin Bu."


"Lelah, penuh usaha tapi ternyata apa yang Rumi usahakan selama ini sia-sia belaka."


"Terasa kehadirannya tapi tidak nyata adanya."


Waktu yang aku habiskan selama delapan tahun ini lenyap dalam sekejap karena ada hembusan angin kencang. Tenyata aku hidup dalam ruang hampa, ketika udara yang aku hirup habis, berakhir pulalah hidupku.


"Selama kamu hamil, kamu harus tetap menjaga kesehatan. Jangan pikirkan apapun, yang penting cucuku yang sekarang hidupnya bergantung padamu selalu sehat."


"Maafkan Rumi yang akan merepotkan ibu lagi."


Satu tangan ibu menepuk halus pundakku dan satunya membelai perutku penuh cinta.

__ADS_1


Kamarku pun terasa sepi, kehilangan Mbok Nah yang biasanya ada, memberi ruang kosong tersendiri dalam hati, memunculkan rindu akan riuhnya suasana dengan canda dan tawa yang biasanya hadir diantara kami.


Apa yang sekarang terjadi di rumah utama? Apa aku telepon saja Mbok Nah untuk mengetahui keadaan disana? Tidak...tidak...aku harus memulainya dari sekarang, pelan tapi pasti aku harus menghilang dari kehidupan Mas Han. Paling tidak membiasakan diriku sendiri dengan ketiadaannya.


Yang harus aku pikirkan sekarang adalah bagaimana aku akan melanjutkan hidupku. Ada satu nyawa yang akan menjadi tanggung jawabku nantinya.


Aku ambil ponsel, aku sentuh sebuah aplikasi pesan dan mengirim pesan pada Yuni, aku yakin dia bisa membantuku.


Yun, aku butuh bantuanmu


Kemudian aku sentuh ikon kirim. Ponsel aku letakkan begitu saja diatas ranjang. Baru saja terlepas dari tanganku, layar ponsel menyala terang. Aku pikir Yuni yang menghubungi aku, tapi ternyata aku keliru. Nama Sekar terpampang di layar, aku menimang beberapa kali, perlu aku terima atau tidak. Tapi karena rasa ingin tahu yang besar aku sentuh ikon warna hijau untuk menerima panggilan.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam...bagaimana kabarnya mbak?"


"Baik."


"Semoga kamu selalu sehat mbak...begitu juga dengan kandunganmu,"


Alisku mengkerut apa maunya anak ini, aneh...


"wo...wo...mbak, jangan suudzon dulu, aku tulus mendoakan."


Kenapa aku nggak yakin dengan ketulusanmu?!


"Ada apa, aku ingin istirahat."


"Aku ingin menagih janjimu."


Janji?


"Kenapa nggak jawab mbak, jangan pura-pura lupa mbak."


"Janji?"


"Kamu harus mau merawat anakku mbak!!" suara teriakan terdengar memekakkan telinga ku.


Aku menjauhkan telepon dari telingaku, kenapa dia berteriak seperti itu?


"Itu bukan urusanku lagi!' jawabku tenang dan tegas.

__ADS_1


Aku matikan ponsel, dasar gila, kenapa dia terus menggangguku. Kalau sekarang segala sesuatu tidak berjalan sesuai dengan rencananya apa itu salahku?!


Suara mesin jahit menghilang seiring terdengarnya suara ibu, "siapa yang telepon Rum?" mungkin ibu mendengar pembicaraanku meskipun sebentar.


"Bukan siapa-siapa Bu," aku tak mau ibu lebih khawatir daripada sekarang. Aku sudah cukup menyusahkan.


Derit kursi mesin jahit memecah ruangan, sebelum kepala ibu muncul dibalik pintu kamar, "jangan angkat kalau itu dari keluarga Nehan, kalau perlu ganti nomor hape mu," ibu melangkah masuk dan duduk di sisi ranjang.


Diambilnya bantalku dan digebuk beberapa kali, "biar kamu tidak mimpi aneh-aneh," kemudian bantal itu diletakkan dengan posisi dibalik.


"Rumi belum bisa mengganti nomor telepon Bu, ada nomor orang-orang yang harus Rumi hubungi sebelum Rumi benar-benar melupakan Mas Han dan keluarganya," aku rebahkan tubuh, entah bagaimana, badanku lebih nyaman setelah bantal dibalik.


"Rumi musti menghubungi Yuni dulu, barangkali anak itu bisa membantu memberi Rumi pekerjaan sementara ini. Rumi menyesal dulu tidak mendengarkan nasehat ibu untuk memanfaatkan ilmu yang sudah Rumi dapat."


Ibu tersenyum, menarik tubuhnya dan duduk di kursi rias, memberiku tempat lebih luas untuk berbaring. Aku memutar tubuh menghadap ibuku.


"Waktu itu kamu ngebetnya pengen kawin, keyakinanmu pada Nehan membuat ibu juga yakin kalau kalian bakal baik-baik saja. Kalau kenyataannya sekarang begini, ya sudah, mau bagaimana lagi."


"Tapi sekarang ibu seneng, dan tidak lagi menyesal menyekolahkanmu tinggi-tinggi, akhirnya ilmu yang kamu dapat bakal bermanfaat."


Ibu berdiri, mendorong kursi rias masuk dalam kolong meja, "ibu mau melanjutkan jahitan dulu, sedih boleh, tapi jangan terpuruk, ingat anakmu butuh ibu yang sehat secara fisik dan mental."


Aku tersenyum dan mengangguk. Ya, ibu benar sedih boleh, terpuruk?! jangan!.


Cahaya kembali muncul di layar ponselku, kali ini nada dering pesan terdengar. Aku merasakan getarannya, aku raba ternyata tertindih kepalaku di bawah bantal.


Aku bergegas melihat, siapa tahu jawaban dari Yuni. Ah...ternyata bukan, ada satu notifikasi pesan baru di nomor kontak Sekar. Apalagi maunya anak ini?


Aku serius dengan ucapanku mbak, kamu harus merawat anak ini.


Benar-benar sudah gila dia. Aku abaikan pesan gila itu. Tapi lagi-lagi muncul pop up pesan dari Sekar.


Tidak sulit bagiku untuk tahu alamatmu mbak. Aku bisa tanya Lek Broto.


Apa maksudnya, apa dia mengancam ku?


Kalau kamu tidak mau merawat anak yang ku kandung ini, aku akan membuangnya di tong sampah. Dan mbak akan merasa bersalah seumur hidup mbak. Aku tidak mau rencanaku untuk kuliah terganggu. Mbak...mbak, jawab!!!


Aku menutup aplikasi pesan kemudian mematikan ponselku. Dasar perempuan gila, aku pikir dia wanita yang cerdas. Ternyata dia tak lebih dari seorang wanita muda labil yang egois dan semaunya sendiri. Tapi kemudian sesosok gadis kecil yang memegang tanganku kembali terbayang, gadis kecil yang mengucapkan kalimat, "bunda, jangan biarkan aku pergi."


...***...

__ADS_1


__ADS_2