
Seminggu berlalu, Rumi sibuk dengan semua keperluan untuk pertunangannya. Meskipun Rumi seorang janda tapi Juna adalah perjaka tulen. Jadi semua harus istimewa sesuai dengan porsi Juna.
Seserahan yang istimewa. Perhiasan istimewa. Bahkan hidangan untuk tamu juga harus istimewa.
Rumi merasa sangat tersanjung. Bahkan dulu ketika orang tua Nehan melamarnya dia tidak diperlakukan seistimewa ini.
"Aku tidak layak diperlakukan seperti ini mas," ucap Rumi kala Juna memintanya untuk memilih sepasang cincin yang akan mereka kenakan, "aku seorang janda."
"Bagiku kau lebih istimewa dari wanita manapun. Kalau aku memilih seorang gadis, aku tak akan menerima bonus tambahan sebagai hadiah saat aku menempuh hidup baru."
"Bonus...hadiah, maksudnya?"
"Yah mana ada gadis yang akan memberiku bonus bayi selucu Ken."
Rumi tersipu mendengar ucapan Juna.
"Ada-ada saja kamu mas."
Ada satu hal yang Juna lakukan tapi Rumi tidak tahu. Sejak Rumi memberitahunya kalau dia menerima pinangannya, Juna terus berusaha menghubungi sahabatnya tetapi gagal.
Semua pesan, sambungan telepon dan kunjungannya ke apartemen Nehan tidak membuahkan hasil. Pernah sekali Juna mengunjungi rumah orang tua Nehan, para abdi bilang kalau Nehan tidak ada.
Kemana anak itu. Dia tidak mau kealpaan Nehan akan menjadi bumerang bagi hubungannya dengan Rumi kelak. Meskipun hanya sekali Juna ingin memberi sebuah batasan tegas atas hubungan mereka bertiga.
Selain Juna, yang paling sibuk dengan semuanya adalah ibu. Sibuk menyiapkan kebutuhan untuk menerima tamu, juga sibuk mengatur hati karena dia tahu Rumi masih menyimpan rasa untuk mantan menantunya.
"Kamu yakin dengan keputusanmu, Rum?"
Rumi tersenyum, waktu itu ketika ditanya ibu, "yakin Bu, bukannya aku yang sama sekali tidak menyukai mas Juna. Ibu kan juga tahu itu."
"Aku hanya harus membiasakan diri dan menerima fakta kalau mulai sekarang ada orang lain yang harus aku jaga perasaannya, harus aku cintai kurang dan lebihnya, harus aku pahami wataknya. Cinta tak selamanya menjamin kita akan bahagia. Aku sudah merasakannya selama sembilan tahun bersama mas Han, Bu. Hanya bermodalkan cinta saja tak cukup menjamin kita akan hidup bahagia."
Ibu manggut-manggut mendengar jawaban Rumi yang panjang lebar, "semoga kamu bahagia dengan pilihanmu sekarang nak."
Tapi dengan cinta dan bersama orang yang tepat, kamu akan lebih mudah merasakan bahagia itu, Rum.
__ADS_1
Acara tinggal menghitung hari, persiapan hampir seratus persen. Tinggal menunggu hari-H saja. Semakin mendekati hari nya Rumi semakin yakin dengan pilihannya, tentu saja itu menurut pemikirannya. Dia tidak pernah merindukan Nehan, apalagi mengharapkan kehadirannya.
Ketika semua baik-baik saja buat Rumi dan Juna, itu tidak berlaku untuk Nehan. Dia terus berusaha berkomunikasi dengan mbok Nah. Dia tahu kalau sekarang ibu mertuanya sedang sibuk menyiapkan pertunangan putri satu-satunya dengan sang sahabat.
Hatinya galau, kakinya gatal untuk datang dan mencegah Rumi melakukan kebodohan. Bagaimana bisa mencintai seseorang tapi menerima pinangan orang lain. Tapi semua dia urungkan, karena dia tahu luka seperti apa yang dia tinggalkan di hati Rumi.
"Kamu yakin membiarkan Rumi melanjutkan rencananya dengan Juna?"
"Iya, aku tidak punya hak lagi atas Rumi, apalagi membawanya kembali dalam pusaran hitam yang dulu pernah aku buat, pak."
"Kamu memalukan!" suara bapak yang sedikit tinggi mengejutkan Nehan.
"Maksud bapak?"
"Aku tidak pernah membayangkan kalau anak laki-laki yang aku besarkan bisa seloyo ini. Hanya meratapi nasibnya, tidak mau melakukan apa-apa, kerjanya cuma melamun dan termenung setiap hari, seperti orang yang tidak punya pekerjaan saja."
"Kalau kamu merasa bisa merebutnya lakukan sesuatu, jangan hanya diam dan pasrah seperti orang bodoh."
"Kalau kamu maunya menerima kenyataan dengan dalih ingin membuat Rumi bahagia, padahal belum tentu anak itu akan bahagia karena dia masih mencintai kamu, maka lanjutkan hidupmu. Kamu seorang laki-laki yang punya tanggung jawa besar untuk memastikan hidup karyawanmu terjamin. Kamu punya Ken dan Lita yang membutuhkan seorang ayah yang kuat, bukan ayah yang letoi hanya karena patah hati."
"Dengar, ayah tidak membesarkanmu hanya untuk menjadi lelaki yang tidak memiliki tanggung jawab. Pikirkan omongan bapak!"
Nehan terkejut melihat sikap bapak, tidak biasanya bapak bersikap seperti itu. Benar kata bapak, aku seperti orang bodoh yang tak berguna sekarang ini.
Setelah bapak pergi Nehan setengah berlari masuk kamar, mengambil ponselnya dan saat itu dia tahu ada satu pesan masuk beberapa saat lalu.
Ndoro, den Juna minta pertunangan dilakukan besok pagi, karena semua sudah siap, den Juna tidak mau menunda lagi.
Nehan melihat waktu pada jam dinding yang menempel di kamar. Masih pukul sepuluh malam, masih ada waktu kalau dia bergegas.
Tanpa menyiapkan apapun, karena di mobilnya selalu ada baju ganti dan kebutuhan harian, Nehan menyambar kunci mobil dan berlari menuju garasi. Ponsel diselipkan di saku belakang celananya, akan dia keluarkan nanti ketika sudah dalam mobil.
Bapak menggeleng melihat tingkah anaknya, "pergilah, sakit hatilah lalu lanjutkan hidupmu nak."
Malam yang dingin menjadi saksi sekencang apa Nehan memacu mobilnya. Dia memutuskan masuk gerbang tol untuk memangkas waktu perjalanan.
__ADS_1
Kondisi tol yang sepi membuat Nehan lupa dengan kecepatan yang dicapai mobilnya, dia lupa kalau beberapa hari ini dia hampir tidak tidur sama sekali, Nehan hanya ingin segera sampai. Beberapa kali matanya tertutup tapi dia berusaha bertahan, tidak ada niat untuk berhenti beristirahat.
Dia baru menyadari kalau keputusannya salah ketika tiba-tiba matanya terbuka dan di depannya ada sebuah truk yang jaraknya sangat dekat.
Nehan berusaha menghindari kendaraan besar di depannya. Suara decit rem mobil sangat memekakkan telinga. Di matanya muncul berkelebatan bayangan orang-orang yang dia cintai, bapak, ibu, abdi setia, anak-anaknya, dan..."Rum," bisik Nehan perlahan.
Nehan membanting kemudinya ke salah satu arah. Beberapa detik kemudian terdengar suara benturan keras, "duarrr".
Mobil Nehan melayang ke udara kemudian terbanting kembali keatas aspal karena bertabrakan dengan pembatas jalan. Mobil itu baru berhenti setelah terseret beberapa meter. Pandangan Nehan perlahan kabur dan kegelapan menyambutnya.
Teriakan sirine ambulance membuat hati orang yang mendengar bergetar. Nehan terluka parah. Darah dimana-mana. Tangan, kaki dan banyak bagian tubuhnya yang terkoyak. Kepalanya mengalami cidera paling parah hingga membuatnya kehilangan kesadaran. Dia dibawa ke rumah sakit terdekat.
Petugas kesehatan yang menolongnya berusaha bertindak cepat dan tepat untuk menyelamatkan korban. Tapi melihat luka yang diderita, kemungkinan kecil korban akan selamat.
"Cari ponselnya dan temukan no telepon yang bisa dihubungi."
"Baik, pak."
Petugas membongkar tas yang ditemukan dalam kendaraan, tapi barang yang dicari tidak ada. Sementara petugas medis berusaha membuka pakaian Nehan, suara sret...sret...karena bertemunya gunting dan kain terus terdengar.
"Ponsel sudah ditemukan."
Petugas kesehatan menyerahkan ponsel yang ternyata terletak di saku celana. Tadi Nehan lupa mengeluarkan ponselnya dari saku celana, tapi karena hal itu ponselnya tidak hancur.
Petugas patroli jalan tol yang menolong Nehan mencari salah satu nomor kontak yang diperkirakan milik keluarga, yang bisa dihubungi. Melihat usianya pasti korban memiliki istri. Diketiklah pada pencarian dengan tulisan mama, tidak ditemukan, ibu juga tidak ditemukan. Ketika petugas mengetikkan istri, muncullah disitu kontak dengan nama "istriku cintaku sakitku".
Melihat nama kontak yang tertera membuat petugas yang melihat membatin, "apa-apaan, kontaknya panjang bener. Nama depan nama belakang. Fokus-fokus kasihan korbannya."
"Segera hubungi keluarganya pak. Kita harus bergegas, sementara ini korban akan langsung masuk ruang operasi untuk menyelamatkan nyawanya."
"Siap."
Pukul dua belas malam, Rumi yang tidak bisa tidur karena gugup mendengar ponselnya berdering.
Tidak banyak yang dia dengar, hanya ada kalimat, "tuan Nehan sekarang sedang berada di rumah sakit karena terjadi laka lantas di..."
__ADS_1
Rumi lemas, dunianya runtuh, kakinya gemetar. Tapi itu hanya untuk beberapa detik, kemudian dia berlari menuju kamar ibu untuk mempersiapkan keberangkatannya menuju rumah sakit.
...***...