Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 101


__ADS_3

Nehan POV


Betapa terkejutnya aku mendengar semua yang dikatakan Rumi dan ketiga temannya. Tenggorokanku tercekat sampai aku kehabisan kata-kata.


Membayangkan wanita yang menjadi tempat ku berbagi selain Rumi selama hampir dua tahun belakangan ini membuat aku jijik. Apalagi kelicikannya sudah dia rencanakan sejak lama.


"Aku ingin bertemu anakku."


Kalau aku menuruti kata hatiku, inginnya aku langsung keluar ruangan dan mencari anak yang dimaksud.


Otakku rasanya mendidih, membayangkan kehidupannya selama ini. Kalau kuhitung kurang lebih dia berusia tiga belas bulan. Lebih tua empat bulan dari Ken.


Apakah dia berkecukupan. Apakah orang bayaran Sekar merawatnya dengan baik. apa yang dipikirkan wanita itu sampai tega mengorbankan anaknya untuk mencari perhatianku.


Lagi pula apa yang ada di pikiran perawat suruhan Sekar sampai dia menginginkan anakku untuk diambil dan dia rawat sendiri.


"Aku akan panggil orangnya mas, kamu harus bisa tahan diri ya."


Rumi memegang tanganku dan menepuknya perlahan. Maafkan aku Rum, harusnya aku tak pernah tertarik untuk memiliki Sekar, aku pandang orang yang kucintai tapi sekarang sudah menjadi mantan istriku ini.


Rumi membuat panggilan. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka dan disana lah dia berdiri dengan menggendong seorang gadis kecil. Dia...anakku.


Mataku jadi kabur. Kakiku lemas, bayi yang waktu itu sempat aku tunggu dengan sabar bersama Rumi, yang aku kira sudah meninggal, sekarang sedang digendong seseorang di depanku.


"Anak kita Rum," ucapku terbata, tenggorokanku penuh sampai terasa tercekat. Rumi mengangguk, dia juga terharu matanya berkaca-kaca.


Aku mendekati bayi yang sedang dalam gendongan perawat. Aku ambil gadis kecilku.


"Siapa namanya?" tanyaku.


"Lalita."


Wanita itu menjawab dengan suara pelan hampir tak terdengar.


"Sayang."


Aku menyentuh pundak mungil yang sedang membelakangi aku. Waktu gadis kecil itu berpaling dan melihat tepat ke mataku, tubuhku langsung luruh jatuh terduduk. Air mataku tumpah, dia begitu mirip denganku.


Rumi ikut duduk di bawah bersamaku, membelai bahuku. Juna dan Yuni berdiri diam membeku.


"Kamu harus bisa menguasai dirimu mas."


"Kalau kamu seperti ini Lita jadi bingung, dia bisa nangis dan takut sama kamu."


Aku mendongak melihat anakku memeluk erat orang yang menggendongnya. Menyembunyikan wajahnya dibalik bahu perawat itu.


Untuk saat ini aku hanya ingin memeluk anakku saja. Aku akan berurusan dengan perawat itu nanti.


Aku mendekat mengambil alih untuk menggendong bayi ini dari belakang. Ketika aku sentuh, gadis kecilku menengok lagi dan makin mengeratkan pelukan.


"Ibu," bayiku memeluk wanita yang menggendongnya makin erat.


"Itu ayah sayang."


Perawat yang menggendongnya berusaha untuk memberi pengertian. Tapi karena masih terlalu kecil, anakku malah makin menyembunyikan wajahnya.


Aku berjalan memutar berdiri di belakang wanita yang menggendong Lalita. Merundukkan tubuhku sedikit untuk mensejajarkan kepalaku dengan kepala anakku.


"Hai sayang," sapaku.


Gadis kecilku melirikku tanpa mengucap sepatah kata.


"Disapa kok diam saja?" tanyaku menahan diri.


Kalau tak ingat anakku sedang digendong oleh wanita yang mencurinya dan memanggilnya dengan sebutan ibu, ingin rasanya aku menarik wanita ini dan menyeretnya menuju kantor polisi.

__ADS_1


"Gendong ayah ya sayang," wanita itu bicara lagi.


"Ayah?" tanya gadis kecilku.


Rupanya dia belum pernah mengenal sebutan ayah.


Aku merasakan ada sentuhan lembut di bahuku. Rumi menyodorkan lolipop padaku, kemudian memberi kode untuk memberikan permen itu pada anakku.


Lolipop itu aku ambil dan paham apa yang musti aku lalukan.


"Mau ikut," lolipop itu aku lambaikan.


Dia mengangguk, "oyipop buat ita?" suara kecilnya menusuk hatiku. Hampir saja aku kembali menangis tapi kutahan.


"He'eh, tapi ikut dulu," aku mengulurkan tangan.


Kepala kecilnya mengangguk. Aku meraih tubuh mungil itu dan mendekapnya erat. Aroma bayinya menguar memenuhi hidung kemudian masuk ke rongga hatiku.


"Siapa namanya?" tanyaku sambil membawanya duduk di sofa. Aku pangku gadis kecilku. Mataku fokus pada wajahnya. Tanganku membelai rambut hitamnya yang tebal. Duniaku serasa berhenti, seperti tidak ada orang lain di sekitarku. Hanya ada aku dan gadis kecilku.


"Aita," jawabnya.


Tangannya mengulur menyerahkan kembali lolipo yang dia pegang, "buka," pintanya.


Aku buka plastik yang membungkus lolipo itu.


"Suka permen?" tanyaku. Dia segera memasukkan permen ke dalam bibir mungilnya.


"Tuta," jawabnya sambil terus merasakan manisnya permen, bibir dan pipinya mulai basah karena air liur. Aku jadi ingin terbahak melihatnya.


"Rum ada tisu?" tanyaku.


Mantan istriku mengangguk dan menyerahkan kotak tisu di depanku. Aku bersihkan bibir dan pipinya yang basah dan lengket.


"Maafkan saya pak," suara itu menarikku kembali pada kenyataan.


"Kamu wanita yang waktu itu bertemu denganku di restoran," dia mengangguk.


"Jangan pisahkan saya dengan Lita pak."


Berani sekali dia meminta itu. Aku berdiri, hampir membuat anakku jatuh dari pangkuanku. Untung aku sadar dan kembali menggendongnya.


"Berani sekali kamu meminta itu," kutekan suaraku serendah mungkin. Aku tidak mau anakku ketakutan.


"Tolong pak, saya sudah merawatnya sejak bayi."


"Itu tidak akan terjadi kalau kamu tidak menculiknya!" suaraku meninggi.


Tubuh kecil yang ada dalam gendonganku terkejut dan seketika memandangku. Bibirnya mencebik lucu, tapi matanya berkaca-kaca.


"Maaf sayang, kaget ya?" aku berusaha menenangkannya kembali.


Aku menyerahkan anakku pada Rumi, "Rum, titip!" ucapku setengah memerintah. Tak sudi aku melihat wanita yang sudah menculik anakku menggendongnya lagi.


Rumi segera menerima anakku. Perawat yang menculik anakku diam tapi matanya mengikuti gerak tanganku ketika aku menyerahkan Lita pada Rumi. Matanya tajam seperti tidak terima.


"Kenapa kamu lakukan itu?" tanyaku.


"Saya merasa kasihan pada bayi yang waktu itu saya tolong kelahirannya. Dalam pikiran saya terlintas, kalau sekarang saja ibunya tega menjadikan dia alat untuk meraih keinginannya, bagaimana bayi kecil itu bisa hidup bahagia, karena selamanya dia hanya akan diperalat oleh ibunya sendiri."


"Rum, bawa anakku keluar!"


Mataku masih tak lepas dari perawat yang ada di hadapanku. Juna dan Yuni sudah keluar ruangan beberapa saat yang lalu. Keduanya rupanya tahu diri dan tak ingin terlalu ikut campur urusan keluargaku.


"Aku disini mas, aku tidak mau kamu melakukan sesuatu di luar kendali," Rumi membantahku. Meskipun apa yang dia katakan benar, tapi aku harus melakukan ini. Aku tak mau anakku melihat kekerasan yang akan dilakukan ayahnya.

__ADS_1


"Keluar Rum, atau kamu ingin Lita melihatku marah?" mataku tajam menatap Rumi.


Karena merasa tidak punya pilihan akhirnya Rumi memilih untuk keluar ruangan.


"Jangan menyakiti suster Eny mas. Ingat dia sudah merawat Lita dengan baik," Rumi memberi penekanan pada kalimatnya.


Setelah Rumi keluar aku berjalan mendekati suster Eny. Tanganku mengarah tepat ke lehernya. Kutekan lehernya sampai menempel pada sandaran sofa.


"Yang mencegahku untuk membunuhmu sekarang ini adalah Lita," kuberi sedikit tenaga pada cengkeraman tanganku, dia terbatuk beberapa kali.


"Jangan berulah!"


"Aku bisa membunuhmu kalau aku mau!"


Kulepaskan tanganku. Wanita itu memandangku dengan tatapan tajam. Dia menggosok lehernya beberapa kali.


"Saya tidak takut pada tuan. Tapi saya sudah berjanji pada Bu Rumi untuk membantu membongkar kejahatan Nyonya Sekar."


"Bagus, jangan coba-coba untuk membawa anakku lari lagi. Atau kau dan Sekar akan mati di tanganku!"


Wanita itu meringis, "dan Lalita akan memiliki ayah seorang kriminal."


Wanita ini pandai, dia menyadari titik kelemahanku meskipun baru bertemu denganku sebentar saja.


"Saya masih belum mengurus semua surat yang berhubungan dengan legalitas Lalita. Saya menyadari saya tidak bisa memberikan yang terbaik buat dia. Jadi silahkan tuan mengurus semuanya."


"Rupanya kamu tahu diri," aku tersenyum sinis.


"Pergi dari sini, jangan berani melakukan apapun pada anakku. saat ini aku akan mengijinkan kamu tetap merawatnya, tapi bersiaplah untuk melepaskan Lita ketika aku memintanya."


Wanita itu berdiri, sebelum beranjak dia masih sempat berkata sambil menatapku, "saya tidak pernah menyesal membawa Lalita. Kalaupun setelah ini saya harus mendekam di penjara saya terima. Karena lalita lah yang mendorong saya untuk bertaubat dan menjadi pribadi yang lebih baik."


Dia pergi keluar dengan langkah pasti, tanpa keraguan apalagi gemetar ketakutan. Bahkan wanita itu sempat merapikan bajunya sebelum melangkah keluar.


Aku membuang napasku kasar. Kenapa hidupku jadi seperti ini setelah bertemu Sekar dan mengkhianati Rumi?


"Aku harus bagaimana Rum?" tanyaku, waktu Rumi masuk.


"Kita susun rencana dulu bareng Yuni sama Mas Juna."


Ketika mendengar nama Juna disebut, aku jadi ingat kalau sahabatku itu terlalu sering bertemu mantan istriku.


"Karena kamu menyebut nama Juna, aku jadi ingat. Sebenarnya ngapain sih anak itu sering ketemu sama kamu?"


"Kami kan emang kerjanya barengan mas."


"Barengan apa, dia ada disini cuman karena gedung ini dia yang kerjakan. Sebenarnya nggak perlu dia juga kok yang ngawasi proyek ini."


"Nggak usah cemburu, Rumi sekarang wanita bebas," suara Juna terdengar dari arah pintu, Yuni menyusul masuk dibelakangnya.


"Ini semua gegara ulah kamu tahu, kita jadi musti repot menyelesaikan masalah yang kamu buat," Yuni ngedumel sambil membanting pantatnya di sofa.


"Aku nggak minta!" jawabku tak mau kalah, tuh anak kalau ngomong sama aku makin lama makin judes saja.


"Aku juga ngelakuin ini bukan karena kamu!" suaranya langsung nyolot, "sahabatku saja itu yang selalu ingat masa lalunya. Kalau aku dalam posisi Rumi, aku malah seneng melihat kamu menderita."


"Apa kamu__"


"Mas sudah, kamu butuh bantuan mereka berdua."


"Terus apa rencana kita buat Sekar?" akhirnya Mas Juna membuat kami kembali ke topik bahasan utama.


"Aku punya ide sih, tapi nggak tahu bisa dijalankan atau nggak."


Rumi menyampaikan idenya secara gamblang. Ini akan menjadi sesuatu yang sulit. Bertemu lagi dengan Sekar dan harus berpura-pura manis bukanlah hal mudah. Apalagi aku harus merayu agar Sekar menerima dan percaya lagi padaku. Butuh waktu dan pengorbanan. Semoga aku kuat dan mampu menahan godaan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2