Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 133


__ADS_3

Rumi meringkas baju miliknya, ibu, dan Ken dan menyimpannya ke beberapa tas. Selain itu juga menyiapkan kebutuhan rutin mereka untuk beberapa hari.


Bu Narmi juga melakukan hal yang sama begitu juga dengan Mbok Nah.


"Pak Dul datang jam berapa Rum?"


"Nanti jam delapan Bu, sekarang masih menyiapkan semua kebutuhan anak-anak panti untuk beberapa hari ke depan."


"Suster Eny jadi tidak ikut?"


Rumi mengangguk, "kalau suster Eny ikut siapa yang akan mengatur panti."


"Lita?"


"Kali ini Lita tidak akan ikut, aku khawatir kalau kedua anaknya tiba-tiba diajak pergi tanpa pamit, Mas Han akan menggila. Rencana saya untuk menghilang sementara bisa gagal Bu."


"Hmmm...memilih satu dari dua lelaki saja, ribet begini," ujar Bu Narmi berlalu meninggalkan kamar Rumi.


"Bukan karena itu kita liburan Bu, tapi karena memang kita nggak pernah liburan, kan..."


"Iya, terserah kau sajalah."


Pak Dul datang tepat waktu. Keluarga kecil itu segera berangkat agar tidak terlalu sore sampai di tujuan.


Setelah dua jam perjalanan sampailah mereka di tempat yang mereka tuju. Hawa sejuk menyambut Rumi. Di sekitar danau suasananya masih rindang pepohonan membuat udara sekitarnya menjadi segar.


Fila tiga kamar yang disewa juga sengaja dipilih yang letaknya tepat di sisi danau. Hanya membuka jendela atau pintu, pemandangan indah akan menyambut mata yang memandang.


Perjalanan yang tadi ditempuh membuat yang lain lelah. Ken tidur ditemani Bu Narmi, Mbok Nah tidur di kamar paling belakang, biar dekat dapur katanya. Begitu juga dengan Pak Dul, dia memilih kamar yang bersebelahan dengan Mbok Nah, biar gampang keluarnya lewat pintu belakang kalau mau cek mobil dan sebagainya.


Rumi sendiri tidur di kamar utama. Kamarnya luas dengan fasilitas lebih lengkap. Kamar mandinya juga terletak di dalam. Berbeda dengan dua kamar sebelumnya.


Dalam kamar utama terdapat dua bed, yang memang sengaja Rumi minta satu ekstra bed untuk tempat tidurnya. Biar tempat tidur besarnya dibuat tidur ibu dan anaknya.


Selesai menata barang bawaan di almari Rumi memutuskan keluar. Jaket dan syal melengkapi tampilannya. Bukan apa-apa meskipun siang hari hawanya terasa dingin.


Mengelilingi danau sendirian seperti ini sambil menikmati pemandangan membuat hatinya jauh lebih tenang. Ada baiknya juga untuk sementara menjaga jarak dari dua lelaki itu.


Apalagi Rumi memang hampir tidak pernah pergi berlibur. Terakhir hanya jalan-jalan bersama mantan suaminya waktu Ken masih bayi.


Ternyata menyenangkan punya waktu khusus untuk diri sendiri. Sekali-sekali memang ternyata dibutuhkan liburan seperti sekarang. Memberi penghargaan pada diri sendiri karena selama ini sudah bekerja keras untuk tetap kuat menghadapi semua masalah dan cobaan.


Tapi Rumi tidak tahu kalau keputusannya pergi diam-diam, membuat seseorang kelabakan setengah mati mencarinya.


...***...


Nehan mempercepat langkahnya menuju ruang kerja Rumi. Dia tidak bisa lagi menunggu dan menerima Rumi yang mengabaikannya. Kalaupun dia bersalah dia akan meminta maaf, tapi jangan harap dia diam saja diabaikan.


Waktu dia membuka pintu dan masuk dalam ruangan melihat Rumi tidak ada Nehan tidak curiga sama sekali. Ah...mungkin Rumi sedang melihat anak-anak panti, begitu pikirnya.

__ADS_1


Nehan malah menghabiskan waktu meneliti seluruh ruangan.


Mana ruangan itu, kamar rahasia yang pernah aku dengar dari Rumi dan Juna.


Nehan mengamati dengan seksama, bagian dinding, sekeliling meja, melihat rak mulai dari atas sampai bawah, tidak ada yang aneh. Bisa saja Rumi dan Juna berbohong untuk membuatku cemburu.


"Cih, tipuan murahan."


Kalau mantan istrinya berpikir dia akan merasa kalah lalu mengundurkan diri, dia salah.


Karena tidak menemukan apa-apa, Nehan memilih keluar ruangan. Menuju tempat Lita berada di jam-jam seperti ini. Biasanya dia masih ada di asrama bersama suster Eny menikmati kudapan pagi.


"Ayah," benar perkiraannya, gadis kecil itu berlari ke arahnya sambil menggenggam biskuit kesukaannya.


Nehan menundukkan tubuh dan membentangkan tangannya lebar, "hai, anak ayah," sambil tertawa menerima tubuh kecil itu dalam gendongan.


"Anak makan apa?"


"Roti mari, ayah mau?" tawar si kecil menunjukkan biskuit dalam genggamannya.


Nehan menggeleng, "mmm...mmm, anak ayah wangi bener," sambil menciumi tubuh Lita, wangi bayi aroma tubuh si kecil membuatnya gagal menahan diri untuk menciuminya berkali-kali.


"Hahahaha... geli, ayah," Lita menjauhkan mukanya dari hadapan sang ayah.


"Ibu mana?"


"Di dalam," jemari Lita menunjuk ke arah asrama.


Tok...tok


"Suster?" Tanpa masuk ke dalam Nehan memanggil nama suster Eny agar keluar. Bagaimanapun dia harus tetap menjaga kesopanan.


"Selamat pagi, tuan," sapa suster Eny menundukkan kepala.


"Apa kamu tahu Bu Rumi kemana?"


Seperti biasa dengan tatapan tajam, suster Eny menjawab pertanyaan Nehan. Kadang Nehan berpikir kalau perawat anaknya ini tidak punya rasa takut dan terlalu berani.


"Saya tidak tahu tuan, tapi hari ini ibu memang ijin untuk tidak hadir."


"Apa?!"


Bergegas Nehan memindahkan anaknya dalam gendongan suster Eny, "Lita gendong ibu dulu ya. Ayah mau mencari bunda."


"He'eh," balita itu mengangguk lucu.


"Kemarin bunda bicara sama ibu, ayah. Bunda bilang sekarang Lita nggak diajak dulu, takut ayah kangen."


Nehan melihat tajam wanita di depannya, "kemana perginya ibu?" Nehan mengulang pertanyaannya.

__ADS_1


"Maafkan saya tuan." jawab suster Eny kukuh tidak ingin memberi tahu, meskipun bersikap sopan menjawab sambil menundukkan kepala, tapi bagi Nehan jawabannya adalah sebuah pemberontakan.


"Baik, saya akan cari sendiri."


Sebelum pergi Nehan menggendong anaknya sekali lagi. Mencium pipinya kanan kiri, menyerahkan kembali balita itu pada perawatnya lalu bergegas meninggalkan panti.


Mobil dilajukan kencang, tidak boleh membuang waktu. Bisa saja wanita yang dicintainya itu pergi menghilang dan tak kembali. Meskipun pikiran itu terlalu berlebihan sih, tapi bisa saja itu terjadi.


Sampai di depan pagar rumah ibu, kaki Nehan lemas. Dia disuguhi pemandangan yang tidak diharapkan. Pintu rumah tertutup rapat, pagar pun digembok, satu hal yang jarang dilakukan ibu.


Kemana mereka? Dengan siapa? Apakah berlibur? Ataukah diculik Juna, sahabatnya?


Nehan mengeluarkan ponsel dari sakunya, yang terlintas pertama di otaknya adalah Pak Dul. Dia baru ingat kalau tadi Pak Dul tidak terlihat di panti.


Ditunggu beberapa kali dering Pak Dul tidak juga mengangkat teleponnya, akhirnya Nehan menyerah. Pasti Pak Dul yang membawa Rumi dan keluarganya.


Lalu dia ingat Juna. Nehan paham betul kalau dia akan bersedih jika nanti ternyata Juna tahu kemana Rumi pergi. Tapi dia tidak tahu lagi harus bertanya pada siapa.


Halo...


"Halo, Jun...kamu dimana?"


Aku sedang ada di rumah, kenapa?


"Apa Rumi bersamamu?"


Hahaha...kalau iya kenapa?


"Sialan kamu!" Nehan menaikkan volume suaranya, "Rumi ada bersama dengan kamu atau tidak!!"


Hei, jangan teriak, kupingku sakit. Berarti Rumi tidak ada di rumahnya. Begitu?


"Jangan basa-basi Jun!"


Berarti benar...biarkan dia Han. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri.


"Ada apa ini? Apa yang kamu tahu dan aku tidak tahu Jun? Kenapa Rumi butuh waktu untuk menenangkan diri? Harusnya dia mengatakan semuanya padaku, bukan orang lain!"


Han, aku paham cinta bisa mengubah sikap seseorang. Berhentilah bersikap seperti ini Han. Beri Rumi ruang untuk bernapas. Kalau kau seperti ini terus dia bisa lari ke pelukan laki-laki lain.


"Maksudmu lari ke pelukanmu, begitu?!"


Ya, bisa saja.


"Sialan kamu Jun, jangan harap aku akan membiarkan itu terjadi!"


Jangan bicara seperti itu, Han. Siapa tahu takdir membawa hembusan angin ke arah mana. Aku tutup, Han. Maaf, aku sedang sibuk.


"Jun...Jun! sialan!!"

__ADS_1


Nehan pulang dengan hati kacau. Tapi dia bertekad entah bagaimana caranya, dia harus tahu dimana Rumi berada sekarang.


...***...


__ADS_2