Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 142


__ADS_3

Nehan membuka mata, rasanya sakit karena ada cahaya yang bergerak ke kanan dan kiri tiba-tiba masuk pada pupilnya.


"Alhamdulillah pak, respon pasien bagus. Tapi tetap saja karena tertidur begitu lama, pasien harus belajar lagi untuk mengaktifkan syaraf motoriknya. Nanti akan ada terapis yang datang secara berkala."


Apa?!...tidur? lama?


"Terimakasih dokter," bapak menyalami dokter dengan wajah lega dan sumringah.


"Pak," suara parau Nehan terdengar pelan, "dimana ini?"


Bapak tersenyum, "apa kamu tidak ingat apa-apa?"


Nehan menggeleng.


"Ya sudah tidak apa-apa, kamu akan mengingatnya pelan-pelan."


"Terakhir saya pergi berniat menemui Rumi."


Bapak menepuk lengan Nehan, "istirahatlah."


Wajah lelah bapak berganti cerah. Senyum terus menghiasi bibirnya.


Nehan kembali memejamkan mata. Sedikit demi sedikit potongan ingatan berkelebat di depan mata seperti film yang berputar.


Truk itu berada tepat di depanku, aku ingat sekarang.


"Berapa lama Nehan disini pak?"


"Beberapa Minggu, istirahat saja dulu. Bapak juga ingin istirahat jangan banyak bicara."


Nehan kembali memejamkan matanya. Sekujur tubuhnya terasa ngilu. Beberapa bagian bahkan terasa seperti ditusuk-tusuk jarum. Kepalanya pusing, mual menyerang perutnya.


Kenapa semua baru terasa sekarang?


"Pak mintakan dokter obat nyeri dan mual."


"Tidurlah Han," bapak menggenggam tangan Nehan, "bertahanlah barang sebentar, dokter sudah memberi kamu obat yang dibutuhkan."


"Rumi...apakah Rumi pernah mengunjungiku pak?"


"Ya tentu saja, bersama calon suaminya."


Hening, karena Nehan kembali menutup mata dan mulutnya.


Kenapa Tuhan membiarkan aku hidup...


...***...


Pesan dari bapak diterima Juna beberapa saat lalu. Juna memandang Rumi yang sedang duduk di depannya.


Apa yang akan kamu lakukan saat aku memberitahu kalau Nehan sudah bangun Rum?


"Alhamdulillah...beneran mas?! Mas Han sudah bangun. Terimakasih Ya Allah," sambil sujud syukur mencium lantai.


"Kita kesana sekarang ya mas...sekarang ya...aku tidak sabar bertemu dengan suamiku...ah maaf mantan suamiku," sambil menarik-narik tangan Juna.


Juna menggelengkan kepala.


Tidak-tidak, Rumi tidak akan melakukan itu...


"Ya Allah mas, akhirnya mas Han bangun dari tidur panjangnya," sambil menangis dan memeluknya.


Tapi tetap saja dia meneteskan air mata untuk Nehan.


Bolehkah dia merahasiakannya saja?"

__ADS_1


"Rum."


"Hmmm?" Rumi mendongak memberikan senyum termanis untuknya, "ada apa, mas?"


"Mas lapar? belum makan? Apa sebaiknya kita keluar makan dulu?"


Juna menggeleng.


Juna yakin bapak tidak mengirim pesan untuk Rumi. Karena dia mewanti-wanti bapak untuk selalu mengabarinya lebih dulu.


"Nehan sadar Rum."


Tangan yang tadi sedang menuliskan sesuatu seketika berhenti. Wajahnya menunduk menghadap pada kertas didepannya. Tidak tertangkap ekspresi apapun oleh Juna.


"Alhamdulillah," tangan itu kembali bergerak.


Hanya itu? hanya itu?!


"Kamu tidak ingin menjenguknya Rum?"


Rumi menatap wajah tunangannya, "apakah kamu mengijinkan mas?" tersenyum, kemudian kembali menunduk melanjutkan yang tadi sempat terhenti.


Untuk beberapa saat hening menyelimuti keduanya. Lalu Rumi meletakkan bolpen dan mendekati Juna yang duduk di sofa.


"Kita ambil Lita dan menjemput Ken yuk. Aku ingin Mas Han melihat anak-anaknya," duduk lalu memeluk lengan Juna.


"Boleh."


Aku kira kau tak akan memintaku melakukan itu Rum.


Suasana begitu ribut dalam mobil selama perjalanan ke rumah sakit. Lita dan Ken bercanda dengan suara lucu mereka. Mbok Nah senyum terus dari tadi. Bagaimanapun Nehan sudah seperti anak baginya. Sedangkan ibu hanya diam mengamati dua orang yang duduk di kursi kemudi dan sebelahnya.


"Kamu tidak bawa sesuatu untuk Nehan, Rum?"


Dan kehadiranku–Rumi


Dan kehadiranmu Rum–Juna


Dan kehadiranmu anakku–ibu


Selama berjalan menuju ruang ICU Rumi memeluk lengan Juna sangat erat. Beberapa kali Juna melirik tunangannya. Dia tahu wanita itu sedang mencari kekuatan darinya.


Tangan yang memeluk erat itu diturunkan, Juna menautkan jemari tangannya. Sekarang keduanya saling menggenggam.


Ibu dan mbok Nah mendorong kereta bayi Lita dan Ken. Tidak terbayang kalau dua balita itu dibiarkan jalan sendiri. Bisa-bisa dua orang tua itu kelelahan karena mengejar balita yang berlarian.


Di depan ruang ICU bapak sudah menunggu. Tadi sebelum berangkat Juna menyempatkan untuk mengabari bapak.


"Pak," seperti biasa Rumi mencium tangan keriput milik bapak sebagai tanda menghormati. Sedang Juna menundukkan sedikit kepalanya.


"Bagaimana keadaan Nehan, kang mas?" ibu mulai heboh dengan ke-kepoan-nya.


"Alhamdulillah jeng, sudah sadar tapi masih belum bisa apa-apa. Bahkan untuk membuka mata katanya membuat perutnya mual."


"Boleh kami melihat pak?" Juna bertanya.


Juna paham kalau ada yang sedang menahan gejolak perasaan. Sejak beberapa saat yang lalu tangan yang digenggamnya berkeringat dan meremas makin erat.


"Boleh, dari kaca."


"Ayo, Rum," suara Juna mengagetkan Rumi.


"Hah...iya, ayo mas."


"Anak-anak biar disini dulu Bu. Saya tidak mau anak-anak ketakutan melihat ayahnya masih penuh perban."

__ADS_1


"Iya Jun, kamu lihat dulu sama Rumi."


Juna dan Rumi berhenti di depan sebuah kaca yang memperlihatkan ruang ICU dari luar. Tangan Rumi kembali memeluk lengan Juna. Kali ini Juna menyambut pelukan itu dengan melingkarkan tangannya mengelilingi tubuh Rumi. Kepala wanita itu menyandar pada bahu bidang tunangannya.


"Dia akan baik-baik saja."


Rumi mengangguk.


"Ingin masuk kedalam?"


Rumi menggeleng.


"Yakin?"


Rumi mengangguk, tidak keluar sedikitpun suara.


Juna menghela napas. Dia tahu kalau Rumi menahan air matanya.


"Menangis lah."


Lagi-lagi Rumi menggeleng.


Juna melepaskan pelukannya. Dia memutar tubuh membuat keduanya saling berhadapan. Juna menunduk sedikit hingga dia bisa menjangkau netra hitam Rumi dan memandangnya.


Ada kilat cahaya disana. Menyimpan sejuta rasa yang selama ini ingin dia lihat ada untuknya. Kilat cinta yang tersimpan dalam.


Rumi tersenyum, "kenapa?"


Juna menggeleng, "kamu cantik."


Juna memajukan wajahnya berusaha menggapai dahi didepannya, tapi reflek Rumi menarik tubuhnya menjauh.


"Maaf."


Juna menarik tubuh mungil Rumi masuk dalam pelukannya, "it's okay."


...***...


Rasanya tidak nyaman, Nehan membuka mata karena ingin mengubah posisi tubuhnya, tapi ternyata itu tidak mudah. Dia harus menekan bel agar dibantu mengubah posisi ranjangnya pada posisi duduk.


"Ada yang bisa dibantu pak?"


"Saya ingin duduk."


"Baik. tapi tidak boleh duduk tegak ya, bisa pusing lagi nanti."


Nehan mengangguk. Perawat mengambil remote dan bed di bagian kepala sampai punggung bergerak perlahan.


Perawat juga membantu memindah bantal sehingga posisi tidurnya lebih nyaman.


"Terimakasih."


Tepat setelah perawat berlalu dari hadapannya. Terpampang lah pemandangan dua orang saling berpelukan.


Nehan diam seribu bahasa. Hatinya hancur, tapi bisa apa dia, Rumi sudah menjadi milik orang lain.


Untung saja muncul pemandangan lain. Ibu melambaikan tangannya ke arah Nehan sambil mengendong Ken. Dan bapak mengangkat Lita. Dua orang yang sedang berpelukan tadi saling melepas. Melihat kikuk ke arah pasien yang ternyata berada pada posisi duduk.


Juna kembali memeluk bahu Rumi dan menarik Rumi ke belakang, memberi kesempatan pada yang lain untuk melihat.


Nehan tersenyum, hatinya menjadi hangat melihat dua anaknya ikut datang menjenguk.


Benar kata bapak. Aku tidak punya waktu untuk patah hati. Aku punya dua anak yang membutuhkan ayahnya. Dan aku memiliki karyawan yang membutuhkan kehadiranku.


...***...

__ADS_1


__ADS_2