Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 110


__ADS_3

Nehan POV


H-4


Empat hari lagi. Persiapan hampir lima puluh persen. Acara ini belum kami buka pada ibu. Bapak mengikuti semua instruksiku, begitu juga dengan Sekar. Wanita itu menjadi luar biasa patuh padaku dengan segala tingkah konyol merajuknya.


Hari ini Sekar meminta waktu untuk mengunjungi ibu. Aku tak bisa menolaknya lagi, karena sudah beralasan beberapa kali.


"Biar bapak yang memberitahu ibu."


Itu alasanku beberapa hari yang lalu waktu dia bilang ingin memberi tahu ibu sebelum hari pernikahan.


"Kita tidak perlu mengunjungi ibu, nanti malah merepotkan."


Itu alasanku di lain waktu, ketika Sekar berusaha mengajakku bertemu ibu untuk meminta restu.


"Aku ingin minta restu, apa susahnya sih meluangkan waktu sebentar saja ke rumah bapak. Aku janji tidak akan bilang kalau pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi."


Kali ini mode merajuknya mencapai level tingkat dewa.


"Ya sudah, bersiaplah, nanti sore aku akan menjemputmu."


"Ingat, kamu tidak boleh memberi tahu ibu. Biar dia tahu sendiri waktu bapak menyiapkan tempat buat akad nikah," aku mengingatkan Sekar dengan nada tegas.


"Iya, yang penting kita minta restu sama ibu. Dia itu ibumu lo mas, orang yang melahirkan dan membesarkanmu."


Aku tahu dia bermaksud mengambil hatiku dengan bicara seperti itu. Padahal kalau di belakangku Sekar berbicara hal yang buruk tentang ibu.


Setiap kali aku mendengar perbincangan Sekar kalau bertelepon dengan ibu membuatku mual. Dia akan berbicara manis dan sopan penuh drama. Tapi segera setelah pembicaraan selesai dia selalu menggerutu tentang betapa mengganggunya ibu dalam hidupnya.


Sejak aku memasang alat perekam, aku mendengar banyak hal yang menarik. Kadang membuatku marah, tertawa kadang juga jijik atau aku terbakar gairah.


Pernah suatu saat aku mendengar dia buang angin dengan suara keras. Lalu memuji kecantikannya sendiri karena berhasil menaklukan aku lagi.


Atau disaat yang lain aku mendengar dia mendesah memuaskan dirinya sendiri. Sesuatu yang sering dia lakukan dulu ketika kami masih menikah, dan itu membuatku terbakar gairah. Aku akui semuanya menjadi hiburan tersendiri buatku.


Seperti saat ini, aku mendengar dia sedang bermonolog.


Musti dandan yang cantik karena mau ketemu calon mertua.


Beberapa kali terdengar suara dua benda yang terbuat dari kaca bersentuhan hingga menghasilkan suara berdenting. Aku pikir itu adalah alat kosmetik yang menyentuh kaca meja rias.


Meskipun nyebelin, dia adalah ibu dari calon suami keduaku. Haha...menikah untuk kedua kali dengan lelaki yang sama, siapa yang akan menduga hal ini terjadi dalam hidupku.


Aku terus mendengarkan dia berbicara sambil tetap berusaha berkonsentrasi pada jalanan di depan.


Mbak Siti...


Dia memanggil asisten rumah tangganya.


Tolong potongkan buah, perutku lapar, tapi kalau aku makan sekarang nanti bakal terlalu kenyang.


Baik Bu...

__ADS_1


Rupanya dia minta buah potong untuk mengganjal perut. Pede sekali dia, memang siapa yang mau ngajak dia makan. Lihat saja nanti. Aku akan mengajaknya pulang sebelum waktu makan malam. Biar dia kelaparan.


Sudah cantik belum mbak?


Sekarang dia pasti sudah selesai dandan.


Cantik Bu.


Pastilah aku cantik, kalau nggak mantan suamiku nggak akan mau kembali lagi sama aku. Benar kan?


Iya Bu, benar.


Itu memang benar, aku tak akan menyangkal dia memang perempuan muda yang cantik.


Tapi kenapa ya mbak aku merasa nggak percaya diri.


Aku mengubah pengaturan volume headset menjadi sedikit lebih keras.


Jangan sedih begitu Bu. Memangnya *kenapa nggak pede Bu.


Entahlah aku merasa ada yang aneh. Semuanya terlalu mudah, padahal sebelumnya bapak begitu marah padaku.


Bapak itu orang baik Bu, percaya sama bapak*.


Mendengar kalimat Siti hatiku tersentuh. Aku melepas headset dan melemparnya sembarangan. Aku harus kuat, demi anak-anak. Aku tidak boleh dilemahkan oleh rasa iba. Sekar bukan wanita baik sama denganku. Aku adalah lelaki yang menyakiti ibu dari anak-anakku.


Aku turun dari mobil dengan terus meyakinkan diriku sendiri, Sekar berhak atas semua pembalasan yang akan lakukan. Bukan demi siapa-siapa tapi demi kebaikannya sendiri, agar dia sadar apa yang pernah dan akan dilakukannya bukanlah hal yang benar.


"Iya pak."


Belum ada semenit Sekar muncul dengan mode manjanya, "kok nggak masuk dulu mas?" tangannya segera mengait lenganku.


"Kita musti cepat, aku ada janji lagi nanti setelah dari tempat bapak," sedikit bohong tidak akan berpengaruh banyak pada dosaku yang sudah menggunung.


Dia menurut, tanpa protes wanita itu masuk ke mobil. Sekar menghubungi ibu dalam perjalanan.


Sampai rumah bapak, sesuai dugaanku, ibu menyambut kami dengan senyum ramah. Calon mantu kesayangannya yang datang, pastilah ibu akan bersikap manis.


"Ayo sini masuk."


Senyumnya lebar merekah. Bahkan pada Rumi yang dulu adalah menantunya, tak pernah ibu tersenyum selebar itu


Keduanya saling menyambut dengan memberi pelukan hangat dan ciuman di pipi.


"Piye kabarmu Nduk?" sambut ibu.


"Sekar baik Bu."


"Wah, ya ini yang ditunggu ibu dari dulu. Kalian berdua datang tanpa ada gangguan dari orang ketiga."


Apa katanya?


"Rumi bukan orang ketiga Bu," sinisku.

__ADS_1


"Buat ibu, Rumi adalah orang ketiga."


Mataku melirik ibu. Aku harus bersikap sopan karena ada Sekar.


Ketika aku melihat dengan lebih teliti, ada sesuatu yang aneh di wajah ibu. Ada beberapa plester yang warnanya hampir sama dengan kulit menempel kecil-kecil di sana-sini. Begitu juga pada tangannya.


"Ibu kenapa?" Sekar menyentuh tangan dan wajah ibu dengan lagaknya yang sok memberi perhatian.


"Jatuh di kebun mawar bapakmu."


"Harusnya kebun mawar itu dimusnahkan dan digantikan dengan tanaman yang hasilnya bisa dikonsumsi," gumam ibu hampir tak terdengar.


"Jangan coba-coba sentuh kebun mawar itu!"


Suara bapak terdengar dari arah kamar. Rupanya bapak tadi ada di dalam sana. Ibu melengos mendengar itu.


"Bagaimana kabarmu Han?" bapak memberiku pelukan dan menepuk pundakku beberapa kali.


Sekar mendekati ibu dan menggandengnya duduk bersebelahan.


"Sekar mau bicara Bu."


Aku memperhatikan tingkah Sekar dan ibu dengan ekor mataku. Tapi bapak mengagetkan dengan menepuk pundakku dan mengajakku menjauh.


"Biarkan mereka bicara, kamu ikut bapak. Kita ke taman tengah. Udara di kebun sejuk sekali kalau sore begini."


Aku mengangguk dan mengikuti bapak.


"Siapapun yang menggantikan ternyata tetap mengikuti ritual yang biasa dilakukan mbok Nah ya pak," ucapku ketika melihat di atas meja taman sudah ada teh hangat dan kudapan sore yang bisa kami nikmati.


"Itu bukan ritual si Nah, semua itu bapak yang minta."


Aku terkekeh, "ya, tentu saja, seorang abdi tidak akan melakukan sesuatu tanpa perintah majikannya."


"Han," bapak memberiku tanda untuk duduk.


"Persiapan untuk acara sudah hampir selesai."


"Bapak menyewa satu meja untuk akad dan beberapa kursi untuk tamu."


"Karena acaranya berada di tengah kebun mawar yang sudah warna-warni jadi bapak tidak memesan dekor atau hiasan dalam bentuk apapun, hanya nanti ada penutup meja dan kursi sebagai pemanis."


"Terserah bapak saja, yang penting tempatnya harus di sana pak," aku memandang lurus ke tengah taman yang lampunya mulai dihidupkan.


"Barangkali Sekar mau memesan warna untuk penutup meja dan kursi?"


"Tidak perlu pak, bapak saja yang ngatur bagaimana enaknya."


Semua beres, sesuai dengan rencana. Aku tidak ingin memberi tahu ibu kapan tepatnya acara digelar karena aku tidak ingin memberi ibu kesempatan untuk mengundang banyak orang.


Yang jelas aku tidak akan memberi tahu siapapun tentang kedatangan Rumi dan dua anakku pada hari H nanti. Biarkan itu menjadi kejutan manis buat Sekar.


...***...

__ADS_1


__ADS_2