Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 60


__ADS_3

Aku baru bangun dari tidurku. Tidur siang yang berkualitas membuat tubuhku segar. Masih setengah sadar aku mendengar ibu tertawa-tawa dengan seseorang.


Diam-diam aku melihat dari balik kelambu siapa yang membuat ibu sampai tertawa seperti itu.


"Jadi Rumi jatuh dari atas bukit?" tanya ibu.


"Iya Bu, bunyinya bug...bug...bug meluncur kebawah gitu, celananya lumpur semua, kotor banget. Pas waktu kering modelan pantatnya mengerikan, kaya retak-retak gitu celananya."


"Hahaha..., tapi dia nggak pernah cerita sama ibu, anak itu memang nggak pernah ngerepoti ibu sama sekali."


"Ibu tahu siapa yang sering ngikuti dia kemana-mana waktu kuliah?"


"Pasti kamu, kamu kan perhatian sama Rumi, dari ceritamu tadi ibu tahu kalau kamu suka merhatiin Rumi diam-diam."


"Ibu salah, saya memang suka merhatiin Rumi, tapi ya itu diam-diam. Yang suka ngikuti Rumi kemana-mana ya Nehan. Kalau dari dulu saya tahu Nehan gak bisa jaga Rumi dengan baik seperti ini, mending saya serobot, mending kehilangan sahabat deh, nyesel saya Bu."


Aku diam di balik dinding. Masa-masa itu memang indah. Bagaimana aku tidak jatuh cinta dengan Mas Han coba, dia selalu ada untukku, membantuku kalau aku kesulitan, bersedia mengantar aku kemana-mana.


Aku kira cinta kami akan berakhir selamanya, tapi nyatanya cinta kami lapuk seperti kayu yang terkena hujan dan panas ketika menghadapi ujian, bukannya lulus, hubungan kami malah jadi hancur seperti ini.


"Sebentar ya Jun, ceritanya nanti disambung lagi. Ibu mau lihat itu anak, masa belum bangun juga, jangan-jangan pingsan itu anak," aku bergegas berjalan menuju kamar mandi, malu kalau ketahuan nguping pembicaraan orang.


"Eh kamu sudah bangun, Rum," sapa ibu yang melihatku berjalan cepat.


"Iya, tunggu sebentar Bu, Rumi mau mandi dulu."


"Nggak perlu cepat-cepat jalannya, nanti jatuh."


"Iya...iya."


Selesai mandi dan bersiap, aku dengar ibu dan mas Juna yang sedang berada di ruang tamu masih saling bicara.


"Saya yakin Nehan tidak akan menyerah dengan mudah Bu, dia pasti akan mengganggu Rumi dengan mengikutinya kemana-mana."


"Tapi sekarang beda, tidak bisa seperti dulu lagi, dia punya wanita lain disana. Ibu yakin wanita itu tidak akan membiarkan Nehan pergi terlalu lama."


"Ayo, aku sudah siap," ibu dan Mas Juna seketika diam melihat kemunculanku yang tiba-tiba.


"Tunggu sebentar," ibu masuk lagi dalam kamar, padahal kami sudah siap di ruang tamu.


"Nah, kita musti bawa ini."


"Ibu! apaan ih, aku nggak mau duduk disitu," kan malu, dilihat orang gak lucu masa jalan-jalan pakai kursi roda, bakal jadi tontonan orang lah.


"Sudah, gak usah bantah," ibu menyerahkan kursi roda itu pada Mas Juna, "Jun masukkan mobil."


"Baik Bu."


"Nanti yang dorong aku ibu ya," pintaku, apa kata orang nanti, kalau ketemu sama orang yang kami kenal aku didorong seseorang yang bukan suamiku.

__ADS_1


"Iya, gampang itu."


Mas Juna siap di kursi kemudi. Kursi roda diletakkan di kursi bagian belakang. Aku dan ibu duduk di kursi bagian tengah.


"Saya jadi seperti sopir pribadi ya bu, hehehe..." Mas Juna meringis kecut.


"Maaf ya mas, merepotkan," jadi merasa tidak enak melihat Mas Juna yang terpaksa mengantarkan kami jalan-jalan.


"Jangan merasa ndak enak Rum, aku senang kok," wajahnya dipaksa tersenyum, "tapi aku lebih senang kalau ada salah satu yang duduk di depan," kali ini bibirnya tersenyum lebar, "kamu juga boleh Rum."


"Nanti ibu saja yang duduk depan, jangan Rumi. Kalau Rumi duduk depan ndak nyaman," aku hanya tertawa kecil mendengar semuanya.


"Yah Bu...kandas harapan saya Bu," wajah Mas Juna dibuat menjadi sedih, lucu dilihatnya.


Cahaya matahari menembus kaca mobil di sisi tempatku duduk. Waktu masih menunjukkan pukul tiga sore, saat yang tepat untuk jalan-jalan.


Mall yang kami datangi bukanlah mall besar seperti di kota. Tapi paling tidak bagi orang kampung seperti kami, tempat perbelanjaan seperti ini cukup menghibur untuk menghilangkan kebosanan.


Mas Juna mencari tempat parkir yang dekat dengan pintu masuk. Memudahkan ketika nanti ibu mendorongku.


Awal masuk mall memang ibu mendorongku. Wajah ibu terlihat cerah dan bahagia. Ada saja yang dibicarakan. Hampir semua yang dilihat tidak luput dari komentar ibu.


"Bajunya bagus ya Rum," waktu ibu melihat gamis dengan motif batik yang diberi kerlap-kerlip, "tapi mau dipakai kemana kalau ibu beli itu, malah ditertawakan tetangga," setiap kali ibu berkomentar, aku hanya tertawa.


"Bu, ayo masuk ke resto ayam yang di sana itu," Mas Juna menunjuk salah satu restoran ayam cepat saji yang terkenal, tapi tentu saja ibu belum pernah makan di tempat itu.


Ketika makanan yang dipesan datang, komentar ibu membuat aku tak bisa menahan tawa, "heleh wong ayam tepung ae kok larang men," tapi ayamnya di makan sampai habis tinggal menyisakan tulang, "besok di masakin ibu Rum, lebih murah, jadinya juga lebih banyak."


"Ya beda lah Bu rasanya," jawabku, saos dan bumbunya saja kan buatan pabrik.


"Weh...ya enak punya ibu, nanti ayam tepungnya di kasih sambal korek, mak nyus Rum."


"Nanti kalau sudah masak saya diundang makan ya Bu," mas Juna malah membuat ibu makin besar kepala.


"Ya iya...biar kamu tahu masakan ibu itu enak."


"Kalau masakan ibu enak, saya sudah tahu Bu, Ken sering sarapan di rumah."


Aku merengut mendengar kalimat Mas Juna, jadi ingat jatah sarapanku yang sering berkurang karena Mas Juna dan Yuni.


"Iya, saking seringnya makan di rumah sampai aku jadi kurus karena jatahku musti dibagi sama kamu sama Yuni, mas," sungutku.


"Walah lebay, kamu kurus karena makanmu rewel. Ayo, dihabisin ayamnya," ibu menyorongkan ayam yang masih tersisa di piringku.


"E...anakku gerak tahu Bu, kayak grundul-grundul gitu," aku tertawa karena geli merasakan gerakan anakku.


"Itu tandanya dia suka sama makanannya, ayo dihabisin. Kasihan thole nya yang didalam, makannya kurang terus karena ibunya anyi-anyi."


"Ibu ih...kalau ngomong, bukannya aku anyi-anyi, pilih-pilih makanan Bu, tapi memang karena tidak berselera aja," berusaha membela diri, tapi memang begitu kenyataannya.

__ADS_1


Sedang asik menikmati makanan sambil ngobrol, tiba-tiba terdengar suara ramai di salah satu bagian mall tepat diluar restoran cepat saji tempat kami makan.


Karena penasaran kami mendekati kerumunan. Akhirnya Mas Juna yang mendorong kursi rodaku karena ibu beralasan tangannya capek dorong terus.


"Ada apa mas, rame-rame disini? sepertinya ada sekuriti yang terlibat juga," selidik Mas Juna penasaran dan bertanya pada salah satu pengunjung yang ikut berkerumun.


Kami hanya melihat seseorang mengenakan jaket, topi, plus kaca mata hitam digelandang petugas sekuriti.


"Sepertinya aku mengenali jaket dan topi yang dipakai orang itu Mas,"


"Yakin kamu Rum?"


"Sepertinya sih Mas," kemudian sekilas aku melihat wajah orang yang digelandang itu mirip dengan Mas Han suamiku, tapi tidak mungkin kan...


...***...


Epilog


"Bapak jangan menuduh saya sembarangan ya, saya ini pengusaha muda yang berpengaruh di kota saya lo."


"Tapi ada yang lapor kalau tingkah bapak mencurigakan, jadi bapak harus memberi penjelasan kepada kami di kantor," petugas memegang tangan orang yang ditangkap itu.


"Saya hanya mengikuti istri saya dan ibu saya. Istri saya lagi ngambek makanya pergi dari rumah."


"Tadi ada salah satu pemilik toko yang lapor kalau bapak mengendap-endap di tokonya."


"Ya, saya mengendap-endap karena mengikuti istri saya diam-diam pak."


"Sudah!! tidak usah banyak alasan, jelaskan semuanya di kantor. Siapa nama bapak tadi?!" bentak petugas sambil berjalan.


"Nehan...Nehan Nawang Nugroho."


"Baiklah Pak Nehan, ikuti kami dan jelaskan semuanya di kantor!"


"Pak...pak...apa-apaan ini!!"


...***...


Nah lo...Han 😂😂😂.


Terimakasih yang sudah selalu mengikuti kisah Nehan dan Rumi ya readers, kalau mau membaca kisah yang lain boleh lo mampir di novel "Ketika Kisah Kita Ternyata Abadi".


Kalian akan bertemu dengan Pria dan Gadhis di sana. Perjuangan untuk mendapatkan cinta pertama yang berliku-liku ditengah dendam dua keluarga.


Jangan lupa untuk like, share dan komen ya...


Komen apapun bebas, tapi please...please...please dengan bahasa yang sopan 😊.


Penulis juga tidak menolak vote dan hadiah kok...🥰❤️😊 sampai bertemu di episode selanjutnya ya...

__ADS_1


__ADS_2