
Aku menimang baby Ken, aku bisikkan kata-kata permintaan maaf karena masih belum bisa menerima kehadiran ayahnya. Aku tahu Ken punya hak penuh untuk merasakan kasih sayang ayahnya, tapi aku harap dia mengerti kalau bundanya butuh waktu untuk menerima luka yang terlanjur ada.
Ibu berjalan masuk kamar mandi tanpa mengucap sepatah kata. Aku tak mengalihkan pandanganku dari Ken, merunduk dan melihat pipi serta bibir Ken yang bergerak aktif menghabiskan stok ASI milikku.
"Ndoro Putri baik-baik saja?" suara Mbok Nah menarikku kembali ke dunia nyata yang sebentar tadi entah aku berada dimana.
"hmm," aku mengangkat kepala, meskipun sulit tapi aku berusaha tersenyum, "iya mbok, saya baik-baik saja," napas beratku pun berhembus lepas. Hebat Rum, kamu tidak menangis, kali ini aku memang berhak menerima pujian bukan?!
Ibu juga menanyakan hal yang sama setelah keluar dari kamar mandi, "Rum..."
"Saya baik-baik saja ibu," sahutku dengan tersenyum.
Ibu duduk di sebelahku untuk beberapa saat tanpa bersuara, tanpa mengatakan apapun. Setelah yakin kalau aku memang baik-baik saja, ibu beranjak keluar meninggalkan aku.
Samar-samar aku mendengar ibu berbicara pada Mas Han. Tidak ada teriakan keras, tidak ada emosi, tidak terdengar nada amarah pada suara ibu. Aku tak merubah posisiku, tetap seperti tadi, menyusui baby Ken dan menatapnya lekat, pusat duniaku, pusat hidupku dan harapan terbesarku.
"Mbok..."
"Iya Ndoro..."
"Saya lapar," ternyata menyusui itu membutuhkan banyak energi, bahkan lebih banyak dari menghadapi laki-laki yang sekarang entah masih di depan kamar atau sudah pergi.
"Walah...," Mbok Nah keluar kamar mungkin mencari ibu.
Tak lama kemudian keduanya masuk, "tenang saja sudah ada yang berangkat beli makanan."
Aku memandang ibu dan Mbok Nah bergantian, "siapa yang berangkat, kan ibu sama mbok Nah ada disini," jangan-jangan..., "ibu aku tidak mau memakan apapun yang dibelikan Mas Han," mataku melotot dengan nada sedikit marah.
"Heh, ibu bilangi ya..." ibu duduk di sebelahku, "dia itu beli bukan buat kamu, tapi buat anakmu, makan saja dari pada kamu lapar, kasihan tole butuh makanan, lah kalau ASI mu sudah disedot habis, tole lapar, kantin rumah sakit belum tentu buka, makanan yang dibawakan Yuni juga sudah habis semalam. Biar saja dia yang beli."
Aku diam saja tidak menjawab ibu, tapi aku mengambil ponsel dan menghubungi Yuni.
"Yun, halo, Assalamualaikum...kamu kesini sekarang, bawa makanan besar sama kecil yang bikin kenyang."
"Haduh, gila kamu, aku masih ngantuk."
"Kamu mau anakku kelaparan? please..."
"iya...iya, ah, tunggu bentar, aku hubungi Juna dulu, semalam kan aku pulang bareng Juna, mobilku masih di Rumah Sakit."
"Hmm, aku tunggu."
Ibu melirikku dan menggelengkan kepala. Aku memilih tidak peduli. Aku berusaha untuk berinteraksi sesedikit mungkin dengan Mas Han.
__ADS_1
Karena baby Ken tertidur aku kembali meletakkannya di bed, boks untuk bayi aku biarkan kosong, baru saja tubuh mungil itu lepas dari pelukanku, terdengar suara tangisan yang memekakkan telinga...
"Oa...oa...oa."
Jadi ingin tertawa mendengar suaranya, melengking tinggi banget.
"Oa...oa...oa."
"Iya, sabar ini bunda mau gendong, sabar..."
"Brak," terdengar suara keras pintu terbuka.
"Kenapa nangis, kenapa nangis Rum?"
"Oa...oa...oa," mataku melirik tajam, nggak tahu banget sih, aku kan mau menyusui, dia harusnya pergi dong.
"Rum, nangis itu disusui anaknya," ucap ibu, aku terus melirik pada Mas Han, emang nggak ngarasa atau sengaja sih!
"Oa...oa...oa."
"Rum...," teriak ibu tidak sabar, ibu melihat posisi kami, "Han kamu keluar dulu, Rumi mau menyusui anaknya."
"Lah...kenapa saya disuruh keluar Bu?"
"Oa...oa...oa."
"Saya nggak mau keluar, lagian itu dulu juga milik saya kok, sampai sekarang saya masih punya surat tanda kepemilikannya."
"Kalian berdua ini!" ibu berteriak marah, ''ya sudah, biar anakmu yang mati kelaparan.
Dengan jengkel aku membuka stok makanan anakku. Harusnya ini tidak boleh keluar, eh...sekarang malah off site, dua manusia yang melakukan pelanggaran malah cengar-cengir. Yang kecil langsung melahap kemudian menyedot isinya kuat-kuat, yang tua bingung salah tingkah.
"Tutup matanya," semburku sambil melotot.
"Aku sudah pernah lihat, sering bahkan," jawab Mas Han nyengir.
"Tutup matanya!" seruku jengkel.
"Ngalah Han, kalau bukan karena anakmu, kamu sudah ibu usir dari kamu datang tadi."
"Iya Bu, maaf," baru deh dia mau memutar badannya.
Untuk yang kedua kalinya terdengar suara pintu terbuka.
__ADS_1
"Brak," apaan sih, nggak bisa apa buka pintu pelan-pelan, kasihan pintunya.
"Rum, ini__" Yuni berhenti, dia melihat Mas Han.
Tapi rupanya otaknya sedang waras, dia hanya melihat kemudian cuek dan berjalan ke arahku, "nih makanannya, mulai yang ringan sampai berat, yang enek sampai yang seger, semua ada lengkap."
Yuni mendekat sambil tersenyum lebar, "eee, lagi nyusu ponakan Tante."
Lagi-lagi terdengar suara "brak", masuklah Mas Juna sambil membawa beberapa kresek, "Yun susu sama minumannya lupa."
"Heh, mau kemana kamu!" teriak Mas Han kencang sekali.
"Eh ada kamu Han, ini mau kasih Rumi minuman," bicara sambil terus nyelonong.
"Berhenti kamu, Rumi lagi membuka itu nya, kamu nggak boleh lihat."
Mas Juna sudah berdiri di depanku, sedangkan aku sedang menyusui, hampir seluruh bagian penyimpanan stok ASI si tole meleber keluar, antara terkejut dan bingung aku berusaha menutupi sebisaku, "Yun tolongin aku, Carikan aku tutup apa kek," malunya setengah mati.
"Emang kenapa? palingan bentuknya...ehm...gitu aja," mata Mas Juna melirik sebentar, kemudian dia menggeleng dan memejamkan matanya, dengan tergesa dia memutar badan mendekati ibu, "ibu sudah makan?"
"Nggak lapar, nafsu makan ibu ilang lihat kelakuan kalian," sambil menghembuskan napas kuat-kuat.
Ya Tuhan malunya, makhluk yang membuat bundanya malau malah tidur dengan nyaman sambil terus menggigit putingku mau melepaskan, "sayangnya bunda, lepas dong, bunda malu ini," bisikku lamat-lamat.
Dengan segala upaya, dibantu ibu dan Mbok Nah akhirnya tole mau melepaskan bagian tubuh keramatku.
Aku ambil kresek yang dibawakan Yuni dan aku lihat satu persatu isi di dalamnya, "kamu memang my best pren deh Yun, hehehe..."
"Yang aku bawakan tadi tidak kamu makan Rum?"
"Maaf, nggak Sudi, bisa mules ntar temen aku," jawab Yuni.
"Itu aku beli dari uang halal Yun, nggak bakalan bikin sakit."
"Uangnya halal kelakuannya haram."
"Mulut kamu Yun, dari dulu kaya cabe level 100, pedes," kata Mas Han memelas.
Aku mulai menikmati makanan yang aku buka satu persatu. Benar kata Yuni, ada cake coklat, kue pastel, lemper, nasi campur lengkap.
"Yang aku belikan juga dilihat Rum, siapa tahu kamu suka."
"Eh, dibilangin nggak tertarik," mulut cabe Yuni terus saja menjawab kalimat-kalimat Mas Han.
__ADS_1
Aku enggan melihat wajah suamiku, melirik pun tidak. Baby Ken sedang ditimang ibu dan ditemani mas Juna. Mbok Nah berada di sebelahku, membantuku menyiapkan alat makan. Aku ingin kamu juga merasakan apa yang aku rasakan mas, merasa sendiri ketika dikelilingi oleh banyak orang.
...***...