Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 93


__ADS_3

Surat cerai sudah kupegang di tangan. Tidak ada drama berlebihan yang dilakukan Mas Han. Kalau mendengar cerita dan pengalaman orang lain proses ceraiku tergolong cepat, karena kami berdua memang sama-sama menyetujuinya.


Meskipun kami sudah berpisah Mas Han rutin menanyakan kabarku dan Ken. Dia juga lelaki yang sangat bertanggung jawab. Kalau masalah mengunjungi memang tidak sering, tapi yang penting dia tidak melupakan kami berdua.


Bapak juga termasuk yang selalu menanyakan kabar Ken, kadang juga datang berkunjung. Bisa dibilang aku lebih sering dikunjungi bapak dari Mas Han. Bapak bilang Mas Han sedang sibuk, tapi kalau aku lihat sepertinya hubungan bapak dan Mas Han tidak sedang baik-baik saja.


Kalau aku bertanya tentang kabar ibu, bapak terkesan enggan menceritakan. Bapak bilang ibu makin jarang di rumah—sejak dulu begitu sih—tapi sekarang kata bapak makin sering. Ibu jadi sering bepergian ke luar kota. Entahlah, lagi pula kabar ibu tidak begitu menarik bagiku.


Pagi ini Mas Han memberi kabar, kalau nanti dia akan berkunjung. Selain merindukan Ken yang sekarang sudah memasuki usia tujuh bulan, dia bilang ada yang ingin dia tanyakan pada mbok Nah.


Kami sudah sepakat tidak akan mempersulit jika Mas Han ingin berkunjung, dia memang mantan suamiku, tapi bagaimanapun tidak ada yang namanya mantan anak. Dia juga meminta ijin mengajak Ken jalan-jalan.


Mendengar keinginan Mas Han aku seperti mendapat durian runtuh. Ken bisa menghirup udara segar, aku bisa konsentrasi mempersiapkan penerimaan murid baru untuk jenjang TK dan SD di yayasan kami.


Oh, iya...anak suster Eny sekarang sudah berusia tiga belas bulan, gadis kecil itu mulai belajar berjalan. Sejak pembukaan panti, Mas Han belum pernah sekalipun mengunjungi tempat kerjaku ini sih..., kalau suatu saat nanti dia memutuskan untuk berkunjung, aku akan meminta dia melihat Lalita, pasti dia akan terkejut.


Mas Juna makin sering tidur menginap di kamar Pak Dul, biar tidak mondar-mandir katanya. Setelah pembangunan gedung sekolah yang hampir selesai kelar, dia akan konsentrasi ke proyek yang lain, tinggal menunggu proses finishing saja.


"Ting" suara notifikasi pesan berbunyi. Mungkin Mas Han sudah sampai rumah ibu dan meminta ijin untuk membawa anaknya jalan-jalan.


Ternyata aku salah, aku lihat pop up pesan yang muncul di layar ponsel tertulis nama Sekar.


Aku lihat saja pop up pesan yang muncul, tanpa aku sentuh karena aku enggan membuka pesan dari wanita itu.


"Ting," notifikasi pesanku kembali berbunyi, dari pengirim yang sama. Kali ini aku baca sekilas pesan yang tertulis pada pop up yang muncul.

__ADS_1


Jangan merasa menang kamu, tunggu kedatanganku.


Hanya tulisan itu yang terlihat, melihat kalimatnya yang memprovokasi, akhirnya aku buka pesan dari Sekar karena tak bisa menahan rasa penasaranku.


Pesan pertama


Hai mbak, apa kabar? pasti kamu sekarang sedang senang karena bisa menguasai Mas Han untuk dirimu sendiri.


Wanita gila, apa maksud pesannya ini. Lalu aku buka pesan kedua


Jangan merasa menang kamu, tunggu kedatanganku. Aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup tenang mbak. Kamu sudah merenggut laki-laki yang kucintai, jadi aku juga akan mengambil orang yang kamu cintai.


Wah, ternyata dia beneran sudah stress. Mana ada orang waras mengirim pesan dengan nada ancaman yang sangat jelas seperti ini. Aku segara screen shot pesan dari Sekar. Benar saja tak lama kemudian pesan itu menghilang. Dia memang berniat buruk padaku, untung saja aku tadi sempat mengambil tangkapan layar isi pesannya.


Aku segera menghubungi Mas Han, dia harus tahu kalau mantan istri sirinya mengancam ku.


Halo, assalamualaikum Rum


Cepat sekali dia menjawab.


"Waalaikumsalam salam mas, bagaimana kabarnya mas?" basa-basi dulu.


Alhamdulillah, baik. Ada yang kamu butuhkan Rum? ini aku sedang perjalanan ke rumah ibu.


Kebetulan sekali, "nggak ada yang penting sih mas, cuman kalau nanti kamu habis jalan-jalan sama Ken, bisa nggak kita ngobrol sebentar?"

__ADS_1


Bisa Rum, bisa. Bisa banget, memang hari ini aku sengaja meluangkan waktu buat Ken...dan kamu tentunya—maksudku kalau kamu membutuhkan sesuatu.


"Baik mas, nanti aku ingin ngobrol sebentar."


"Mas, omong-omong kapan kamu terakhir menghubungi Sekar?" tanyaku, hanya sekedar untuk memenuhi rasa penasaran.


Kapan ya, lupa sih, kayaknya waktu aku menjatuhkan talak, dua atau tiga bulan yang lalu. Kenapa Rum?


"Nggak...nggak papa, nanti saja ngobrolnya," aku akan sekalian menunjukkan pesan yang tadi kuterima.


Okay, sampai nanti Rum. Assalamualaikum


"Waalaikumsalam mas."


Sambungan telepon kututup dengan menyisakan beberapa kekhawatiran. Dulu aku mengenal Sekar sebagai wanita cerdas yang mengerti apa maunya dan bagaimana dia harus meraih keinginannya. Itu dulu, sekarang aku khawatir kalau sakit hati akan mampu membuatnya melakukan apa saja.


Kepalaku yang tadinya baik-baik saja, sekarang jadi sedikit pusing. Sepertinya aku butuh istirahat. Saat-saat seperti ini ruang rahasia yang disediakan Mas Juna untukku sangatlah bermanfaat. Aku menyentuh salah satu buku dan menggesernya sedikit, almarinya bergeser dan sebuah pintu terbuka.


Tempat tidur berseprei abu menyambutku, aroma Pinus menguar memenuhi ruangan rahasia ini. Hawa sejuk dari pendingin ruangan membuat mataku mengantuk. Hebatnya lagi, aku tetap bisa mengawasi semua bagian panti melalui CCTV. Karena tertarik ingin tahu apa yang dilakukan oleh karyawan aku menunda tidurku.


Ternyata asik juga mengamati orang lain diam-diam begini, ada rasa berdosa tapi juga penasaran luar biasa. Aku melihat Pak Dul yang sedang membersihkan kaca mobil menggunakan kemoceng, bapak satu ini dedikasinya dalam pekerjaan memang luar biasa.


Petugas kebersihan kelihatannya sedang istirahat, sedang duduk di salah satu bangku yang nyaman buat rebahan. Karena penghuni panti belum banyak, hanya ada beberapa anak yang dititipkan keluarganya karena orang tua yang tidak bertanggung jawab, atau ditinggal pergi kerja ke luar negeri jadi masih mudah diatur. Mereka sedang bermain di ruang TV.


Sebelum aku putuskan untuk istirahat, sekali lagi aku mengamati lingkungan panti. Kali ini aku melihat suster Eny sedang berjalan melintasi halaman, sepertinya dia mau keluar pagar. Mungkin dia ingin membeli sesuatu, begitu pikirku. Tapi ketika kakinya hampir melangkah keluar, dia memutar tubuh dan bersembunyi di balik pintu gerbang, sebentar kemudian mengambil langkah cepat memutar untuk kembali ke dalam.

__ADS_1


Aku sedikit terkejut melihat tingkahnya. Dia seperti sedang melihat sesuatu dan ingin menghindarinya. Apa ya yang kira-kira dia lihat. Aku tunggu beberapa saat, ternyata ada pengunjung yang sedang berbicara dari dalam mobil. Aku fokuskan pandanganku pada kamera CCTV yang diletakkan diatas pintu gerbang. Seorang wanita, sepertinya aku kenal wanita itu. Aku amati sekali lagi, aku perbesar resolusi gambarnya, meskipun agak pecah, sekarang aku yakin siapa yang ada dalam mobil. Dia Sekar, iya...wanita itu ada disini.


__ADS_2